
Suasana keluarga William sedikit berbeda. Yuph...ada sedikit kesibukan di sana. Hari ini adalah hari seperti yang di rencanakan Dania. Acara penyambutan William atas kesembuhannya pasca operasi, laki-laki yang hampir tiga puluh tahun ini selalu mencintai dan dicintainya.
Semua undangan hampir memenuhi halaman belakang rumah yang telah di sulap menjadi tempat perhelatan. Acara yang menurut keluarga William itu amat sederhana, namun ternyata sukses menghadirkan decak kagum setiap tamu undangan.
"Permana...." ucap William yang saat itu baru saja datang dengan menggandeng seorang perempuan cantik.
Setelah melepas jabat tangan dan peluk erat, keduanya saling melempar senyum bak merayakan sebuah kemenangan.
"Menantu ku mana?" bisik William.
"Dalam perjalanan..." jawab Permana yang juga berbisik.
"Oya, kenalkan. Ini istri ku. Sonia..."
Mendengar namanya di sebut, Sonia yang sejak tadi tengah memutar mata menilik setiap sudut tempat perhelatan langsung mengalihkan perhatiannya kepada laki-laki yang berdiri di hadapannya. Sonia mengangguk sambil mengurai senyum.
"Hei, besan ku sudah datang rupanya..." ucap Dania yang melangkah cepat menghampiri Permana. Namun langkah Dania terhenti sejenak ketika melihat perempuan yang berdiri di sebelah Permana.
"Nyonya Dania...?" ucap Sonia sedikit sungkan. Sikapnya pun menjadi rikuh.
"Kau...?" ucap Dania dengan mata yang membulat sempurna.
Dania Flashback On
Di sebuah cafe. Dania duduk sambil menikmati secangkir teh hangat. Sesekali matanya menatap ponsel yang berada tak jauh darinya. Sekali waktu Dania pun menatap pintu cafe. Rupanya ia tengah menanti seseorang.
Tak lama, seorang perempuan paruh baya dengan kacamata berwarna gelap berdiri di ambang pintu. Matanya berputar mengitari ruangan. Kemudian terbitlah senyum dari sudut bibirnya. Ia pun langsung melenggok menghampiri Dania.
"Nyonya...." sapa Sonia sambil tersenyum tipis dan duduk di hadapan Dania.
"Tidak perlu basa-basi lag..." ucap Sonia sedikit angkuh.
"Mengapa nyonya melarang putri saya menjalin hubungan dengan putra anda? Begitu sombongnya anda hingga memperlakukan putri saya seperti itu..."
"Saya tidak melarang Mirza untuk mencintai Andrea. Saya hanya memberikan pandangan yang berbeda kepada Mirza tentang cintanya. Itu saja. Saya rasa itu wajar, karena saya menginginkan yang terbaik untuk anak saya..."
"Jadi menurut Nyonya, anak saya tidak baik...?"
"Saya tidak mengatakan seperti itu. Saya hanya ingin anak saya dapat yang terbaik. Itu saja..."
"Cih, saya yakin anak Nyonya tidak akan mendengarkan anda. Karena saya tahu putri saya adalah cinta matinya Mirza. Sekali lagi jangan halangi keduanya..."
"Nyonya...nada anda seperti ancaman? Heh...!Begini saja. Kita sama-sama berdoa dan berusaha agar masing-masing mempunyai pasangan sesuai dengan keinginan kita. Maksud saya, saya tidak akan melarang hubungan keduanya. Tapi Nyonya juga tidak berhak melarang saya untuk memberikan pilihan kepada Mirza. Bagaimana?"
.
.
.
.
Suasana hening sejenak. Sonia Sepertinya tengah menimbang untung dan ruginya.
"Baiklah. Saya setuju..."
"Tapi saya punya syarat..."
"Egh..."
Mata Sonia kembali menatap Dania. Ia penasaran tentang syarat yang akan di sampaikan Dania.
"Andrea tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. Kesalahan seperti membuat berita palsu, membuat citra Mirza buruk, berselingkuh dan lain-lain. Bagaimana...?"
"Setuju. Dan saya percaya Andrea gadis yang baik-baik..." ucap Sonia sambil berlalu.
Melihat itu Dania hanya tersenyum. Matanya menatap kepergian Sonia sambil sesekali menghela nafas panjang.
Dania Flashback Off
"Saya..." ucap Sonia terhenti. Wajahnya menyimpan malu mengingat perilaku putrinya yang tak sesuai harapan.
"Kalian saling kenal..." ucap Permana yang ditanggapi Dania dengan senyum khasnya.
"Saya sudah lupa apa yang pernah kita bicarakan dahulu..." bisik Dania membuat senyum Sonia mengembang. Wajah Sonia tampak lega. Hilang sudah kekhawatirannya. Ia pun tak henti-hentinya mengumbar senyuman.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sementara itu di sisi lain rumah. Tepatnya di sebuah balkon, Mirza tengah berdiri menatap pada keramaian. Matanya menilik setiap sosok yang hadir berharap gadis yang tengah di nantinya telah berada diantara kerumunan. Namun nihil. Mirza menyimpan kecewanya ketika gadis itu tak ia jumpai. Bahkan kelebat bayangannya pun tak tertangkap mata.
Mirza menghela nafas. Sesekali matanya melirik pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sekali waktu juga ia menatapi layar ponselnya. Berharap ada pesan atau panggilan dari sang gadis. Namun lagi-lagi Mirza harus menelan kekecewaan saat melihat layar ponselnya bak tak bertuan.
"Arumi dimana kau..? Apakah kau mengingkari janji mu? Apakah ketidakhadiranmu merupakan jawaban sesungguhnya atas perasaan ini. Apa hari ini juga aku harus kehilangan mu? batin Mirza.
"Bro...Kenapa di sini? Biasanya kau larut dalam keramaian..."
"Sedang tak selera, El. Entah mengapa? Mungkin karena Arumi tidak ada..."
"Ternyata kau sungguh-sungguh jatuh hati pada Arumi?"
"Menurutmu...?"
"Dengan sepenuh hati..."
"Seperti itulah aku.." ucap Mirza sambil mengurai senyum penuh makna.
🌸🌸🌸🌸🌸
Gerimis mulai menyapa bumi. Titiknya rajin membuat irama pada kaca jendela seiring guruh yang datang silih berganti. Sementara itu langit kian kelabu dan sepertinya enggan kembali cerah.
"Berapa lama lagi, Pak Kirman?"
"Tidak sampai lima belas menit, Mbak..."
Mendengar itu, Arumi langsung merapikan pakaian dan riasan wajahnya. Dan benar saja sepuluh menit kemudian, mobil langsung parkir tepat dekat teras teras rumah dimana semua tamu turun.
Dengan gontai Arumi memasuki halaman belakang yang telah disulap bak gedung. Mata Arumi mengitari seisi ruangan. Matanya mencari sosok yang mungkin dapat dengan cepat ia kenali.
POK....
Sebuah tepukan mampir pada bahu Arumi. Sontak Arumi mengalihkan perhatiannya pada si empunya tangan.
"Berani sekali gadis abnormal seperti mu datang ke acara ini...?"
"Emang ada tulisan dilarang hadir untuk ku? Seingat ku yang punya rumah justru mengundangku. Lalu letak salahnya dimana?"
"Cih...pintar sekali kau berkilah, Arumi" ucap Shereen.
"Lalu kau sendiri, mengapa ada di sini? Apa kau membeli undangannya?"
"Hei...! Aku anak dari salah satu pengusaha di kota ini. Jadi wajar dan pantas jika aku ada di sini?
"Yakin kau pantas berada di sini...?"
"Kau...!" ucap Sheren sambil mengangkat tangan dan hampir mendarat pada wajah Arumi. Beruntung sebuah suara sukses menghentikan maksud Shereen.
"Shereen... Jaga sikap mu?" ucap Putra Jaya--ayah dari Shereen setengah teriak.
"Pa, Arumi yang memulainya..." dusta Shereen.
"Oya...Ternyata memang benar kata orang, kesempurnaan fisik mempengaruhi perilaku seseorang"
"Tuan Mirza...?!" ucap Putra Wijaya saat laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya.
"Angkuh sekali ucapan mu, tuan Putra Jaya. Apa hidup mu sudah sesempurna itu?" tambah William.
"Maaf, Tuan..." ucap Putra Jaya tak ingin memperpanjang masalah, karena ia tahu bagaimana efek bagi perusahaannya nanti.
Putra Jaya pun, langsung menarik lengan putrinya itu agar menjauh dari tempat itu.
"Maaf, Tuan. Kami pamit. Terima kasih atas undangannya...."
Langkah Putra Jaya begitu cepat sehingga Shereen sedikit kesulitan mengimbanginya.
"Tunggu...!"
"Ya, Tuan Mirza..." ucap Putra Jaya saat laki-laki tampan itu mencegah langkahnya dan menghampirinya.
"Bukankah kau salah satu mahasiswa ku..."
"Iy-ya, Pak eh...Tuan" ucap Shereen gagu. Wajahnya mendadak berubah pasi.
"Ada apa, Tuan..." tanya Putra Jaya.
"Ah, tidak apa-apa. Terima kasih atas kehadirannya..." ucap Mirza sambil memutar tubuhnya. Ada kilat tajam di matanya.
"Kau ini tidak berhati-hati, Shereen. Beruntung tuan Mirza tidak menyinggung hal perusahaan papa"
"Maaf, Pa. Tapi...mengapa gadis abnormal itu ada di sini? Apa benar keluarga William mengundangnya. Pa, bisakah kita disini sebentar lagi? Shereen penasaran dg Arumi..."
"Ah, sudahlah. Jangan memperpanjang masalah dengan mereka. Kamu tahu kan bagaimana posisi perusahaan papa dibanding perusahaan mereka? Jangan buat mereka tersinggung. Dan satu lagi jangan ganggu gadis itu. Karena bisa jadi ia berkaitan dengan keluarga William. Kau tidak ingin kan perusahaan kita gulung tikar?"
"Ya, Pa. Maaf..."
"Aneh sekali. Mengapa Arumi ada di sini? Apakah Arumi... anak haram keluarga William? Atau...ada hal lainnya? Misal.akan dijadikan pembantu atau gundik? Ah, aku harus menyelidikinya..."
.
.
.
.
Mata Mirza memutari seisi ruangan. Ia kembali kehilangan Arumi. Kemudian senyum Mirza terbit dari sudut bibirnya saat matanya menemukan sosok Arumi yang tengah berbincang dengan Dania, William, Sonia dan Permana. Mirza pun langsung melangkah dengan tergesa. Ia tak mau kembali kehilangan gadis yang sudah meluluhlantakan hatinya itu.
TAP...!
Tangan Arumi disambar Mirza disela langkah panjangnya. Tanpa menghentikan langkah Mirza terus mengait tangan Arumi. Bahkan matanya pun tak dibiarkan menatap kedua orangtuanya sedikitpun.
"Hei...Anak nakal!" ucap William.
"Mau dibawa kemana, Za...?" tany Dania setengah teriak.
"Duh, maaf Permana. Arumi diperlakukan demikian..."
"Tidak apa-apa. Saya mengerti situasi Mirza saat ini.."
"Lagi bucin parah sepertinya..."
"Hahaha...." tawa ketiganya pecah.
Namun berbeda dengan Sonia. Ia tak enak hati atas tindakan bodohnya dahulu. Sesekali ia hanya tertawa kecil dan menimpali celoteh jahil William atau Permana.
"Duh...malu sekali. Ingin rasanya aku kabur saja dari tempat ini. Aku tak sanggup menatap wajah Nyonya Dania. Bodohnya aku..." batin Arumi.
Sementara itu, Arumi yang tengah berusaha mensejajari langkah panjang Mirza terlihat bak gadis yang tengah di seret oleh security karena tertangkap mencuri sebatang coklat di swalayan.
"Hadeeuh....nieh cowok kok ga lihat situasi apa. Di sini kan ramai. Kenapa harus menarik ku seperti ini sih..?" batin Arumi.
"Tuan Mirza...Mengapa anda repot-repot menarik seorang pembantu seperti itu?" ucap seorang laki-laki.
"Egh...."
Mirza menghentikan langkahnya. Dadanya bergemuruh. Tangannya mengepal hebat membuat Arumi sedikit meringis menahan sakit karena tangannya dalam kepalan Mirza. Mirza memutar tubuh ke arah si empuanya suara. Kilat matanya sudah mengisyaratkan aura membunuh.
Melihat situasi itu, laki-laki yang sudah mengeluarkan pendapat tanpa tahu yang sebenarnya itu bergidik. Wajahnya berubah jadi tak enak. Karena dia tahu, dia telah melakukan kesalahan.
"Ulangi perkatanmu..." ucap Mirza dingin namun terasa begitu menusuk sampai tulang sum-sum.
"Maaf, Tuan..."
"Ulangi...!" ucap Mirza berang.
"Tuan Mirza...Mengapa anda repot-repot menarik seorang pembantu seperti itu?" ulang laki-laki itu yang tak lain Handoko, pemilik sebuah perusahaan yang tengah mengajukan proposal kerja sama. Kali ini katanya begitu lirih karena rasa percaya dirinya pun telah luruh bak daun berguguran.
"Lancang...! Jaga bicaramu...!" tangan Mirza terangkat bermaksud memberi tamparan pada Handoko. Namun tangan Arumi menahan ayunan tangan Mirza.
"Tidak perlu, Pak..."
Mirza menatap Arumi. Seketika aura membunuhnya lenyap bak tertiup angin. Mirza kembali tenang saat melihat bola mata indah itu menatapnya.
"Kau beruntung kekasihku ini mampu mencegah kemarahan ku..."
"Kekasih...?" gumam beberapa orang yang menyaksikan.
"Dengar tuan Handoko...Gadis yang kau sebut sebagai pembantu ini adalah kekasihku, dia gadisku calon istri ku...!"
"Uwaaahhh..."
Suasana pun menjadi gaduh. Terdengar suara kasak-kusuk di antara tamu undangan. Tak jarang juga terdengar percakapan yang mempertanyakan Arumi. Bermacam tatapan pun menghujani Arumi yang berdiri tak jauh dari Mirza. Beberapa paparazi pun mulai mengabadikan momen langka itu karena selama ini tak pernah ada statement dari pemilik MA Group itu tentang masalah pribadinya walau banyak gadis yang selama ini bersiliweran mengisi sisi kanan-kirinya.
Setelah merasa cukup, Mirza pun menggaet tangan Arumi dan meninggalkan tempat tersebut.
.
.
.
.
William yang melihat kekakuan putra semata wayangnya itu tepok jidat.
"Dasar anak nakal... Tapi aku suka dengan caranya memposisikan Arumi. Bagaimana Permana jika kita langsungkan saja acara akad nikahnya maalm ini juga. Hahaha..."
"Wah, boleh juga itu. Pasti lebih seru. Hahaha..." timpal Permana.
"Dasar orangtua tak punya akhlak. Senangnya menertawai anaknya.."
"Ini kebahagian, sayang. Apa salah nya menikahkan meraka..."
"Ya tapi tidak malam ini juga, Pa.." ucap Dania sambil mengusap lengan William.
"Ingin ku potong jatah malam papa..." bisik Dania membuat William menatap Dania dan membuat ekspresi memohon.
"Hadeuh...ku kira cuma Mirza yang bucin ternyata papa nya juga. Kenapa? Dapat potongan ya? Hahaha..." ucap Permana.
"Egh..."