150 Cm

150 Cm
Episode 66. Permintaan Permana...



Mobil mewah Mirza parkir di areal parkir AA Hospital. Beberapa pegawai yang melihat dan atau berpapasan dengan Mirza pun menjura takzim. Mereka tahu betul siapa sosok laki-laki tampan yang melangkah memasuki rumah sakit. Pun demikian, tak jarang dari pegawai yang memasang mode cemas pada wajahnya. Karena mereka pun tahu bagaimana tabiat laki-laki pemilik MA Group itu.


Sementara itu, Arumi yang berjalan beriringan dengan Mirza menjadi sedikit rikuh. Bagaimana tidak, jura-takzim itu pun diberikan kepada Arumi. Mungkin mereka pun tahu status Arumi saat ini.


Tangan Mirza menggaet lengan Arumi. Ia membawanya dalam irama langkahnya.


"Sabar ya, sayang. Semua akan baik-baik saja..." ucap Mirza.


"Arumi pun berharap demikian"


Tak lama kemudian, keduanya tiba di depan ruang IGD. Dan mata keduanya pun langsung terkunci pada sosok Sonia dan Arya yang tengah duduk bersebelahan.


"Mami...."


Arumi langsung memeluk Sonia dengan erat. Keduanya terisak.


"Maafkan mami, Ar. Mami tidak menjaga ayah mu dengan baik"


"Tidak, Mi. Mami sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih. Arumi yakin ayah akan baik-baik saja..." ucap Arumi mencoba menguatkan Sonia.


Kata penguatan itu meluncur begitu saja. Dan tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. Karena sejatinya Arumi pun merasakan kesedihan dan juga sama bersalahnya seperti yang Sonia rasakan saat ini.


"Sudahlah. Lebih baik kita berdoa. Semoga ayah baik-baik saja" ucap Arya seraya merentangkan kedua tangannya bermaksud memeluk Arumi.


Melihat hal itu secepat kilat Mirza menghentikannya.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Mirza dengan mata hampir membulat sempurna.


"Memeluk Arumi. Dia kan adik ku" ucap Arya datar.


"Adik darimana? Dari Hongkong..."


"Bapak cemburu ya..."


"Tidak. Aku hanya ingin calon istri ku di sentuh laki-laki lain.."


"Beuh...mantap"


"Meledek...? Ingin nilai kuliah mu F?"


"Waduh, bapak mainnya ancaman..." ucap Arya sambil menggaruk tak gatal.


"Maaf, Ar. Bukannya aku tak menyayangi mu. Tapi karena bodyguard mu begitu galak melarang ku..."


"Kau...!" ucap Mirza.


Mata Mirza begitu membulat sempurna. Tatapannya terkunci pada sosok Arya yang masih cengengesan.


"Benar-benar ingin nilai F ya...?" ancam Mirza.


"Ampun, Pak. Bercanda..."


"Bercanda...? Sungguh bukan pada tempatnya"


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka. Dan Faaz berdiri di sana. Tatapannya langsung terkunci pada Arumi.


"Bagaimana ayah, Kak...?" tanya Arumi sambil menghampiri.


"Sudah sadar. Kami akan terus melakukan yang terbaik. Em, sepertinya operasi ayah harus segera dilakukan. Tapi kita lihat dahulu perkembangan ayah beberapa jam ke depan..."


"Apa kami bisa menemui ayah?"


"Tunggulah hingga ayah dipindahkan ke ruang perawatan terlebih dahulu. Saat ini dokter masih melakukan observasi lanjutan..."


"Baiklah...." Arumi lesu.


"Bersabar dan berdoalah, Ar.." ucap Faaz.


"Terima kasih, nak Faaz.." ucap Sonia dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan sungkan. Faaz akan melakukan hal yang terbaik tuk ayah..."


Faaz pun berlalu. Ia hanya melemparkan tatapannya sejenak seraya mengangguk ke arah Mirza yang tengah memasang mode dingin. Pun demikian, Mirza tetap menyimak segala penuturan sahabatnya itu dengan seksama.


Hingga Faaz benar-benar pergi dan sosoknya tak tampak lagi, barulah Mirza menghampiri Arumi dan Sonia yang berdiri tepat di depan pintu.


Sementara itu, di balik sebuah dinding. Faaz menyandarkan tubuhnya. Sesekali ia mengintai dari baliknya. Faaz hanya ingin memastikan bagaimana kondisi Arumi saat itu.


Faaz menghela nafas. Tangannya terkepal. Beberapa kali menghentak dinding. Dadanya bergemuruh saat melihat gadis 150 Cm itu menitikkan air mata. Dan yang lebih membuat hatinya bak dihuni badai adalah saat melihat gadis yang diam-diam ia puja itu berada dalam dekapan Mirza.


"Arumi....." ucapnya lirih.


Ada gemuruh hebat dalam dadanya saat matanya kembali menyaksikan kebersamaan Mirza dan Arumi.


"Dokter Faaz..."


Faaz terkesiap. Matanya langsung mengarah pada si sumber suara.


"Ya, suster Tiara...."


"Pasien di kamar 212, membutuhkan bantuan..."


"Oya, baiklah. Mari kita ke sana..." ucap Faaz.


Dan sekali lagi matanya mengarah pada Arumi dan Mirza yang tengah duduk bersebelahan. Setelah itu, barulah Faaz melangkah berlalu. Langkahnya begitu cepat menuju kamar pasien yang dimaksud.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sadar namanya disebut, Arumi langsung mengalihkan perhatiannya pada si empunya suara. Tepat di tengah lorong, berdiri seorang laki-laki paruh baya.


"Papa Edward...." ucap lirih nyaris tak terdengar.


"Nak, bagaimana keadaan ayah mu?"


"Masih di ruang IGD. Mungkin sebentar lagi dipindahkan ke ruang perawatan"


"Semoga semua akan baik-baik saja..."


"Aamiin. Oya...kak Ryu mana, Pa?"


"Kakak mu sedang di galeri nya"


"Galeri? Aku tidak tahu jika kak Ryu punya galeri"


"Hehe...kakak Ryu mu itu, sarjana seni"


"Oya...Jika ada kesempatan kau bisa menemuinya di galeri"


"Ya, Pa..."


"Em, papa kenapa ada di rumah sakit?"


"Check up saja. Maklumlah. Orang berumur seperti papa harus rajin melakukannya. Hehe..."


"Bagaimana hasilnya...."


"Semua baik-baik saja..." ucap Edward sambil tersenyum.


KREEEK....!


Pintu ruang IGD terbuka. Ada kesibukan sepintas terlihat di dalamnya. Tak lama, Faaz pun kembali memasuki ruang IGD. Wajahnya pun menunjukkan mode bahwa ada sesuatu yang terjadi. Melihat itu, Arumi, Sonia, Arya dan Mirza menjadi cemas. Keempatnya membuat praduga. Jangan-jangan kondisi Permana yang tengah kritis.


Beberapa waktu keempatnya dirasuki kecemasan. Hingga Faaz kembali keluar ruangan. Dan mata Arumi mengikuti langkah Faaz yang begitu cepat ke arahnya.


"Ar..." ucap Faaz ketika berdiri tepat di hadapan Arumi.


"Apakah ads yang terjadi pada, Ayah?"


"Tidak. Ayah sudah stabil. Sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan"


"Syukurlah. Kami kira tadi..."


"Bukan. Itu pasien lain..." ucap Faaz sambil tersenyum.


Tak lama suara roda brankar beradu pada lantai pun terdengar. Suara deritnya sukses mengalihkan perhatian Arumi pada sosok yang terbaring di atasnya. Sadar siapa yang terbaring Arumi langsung mengikuti laju brankar menuju ruang perawatan.


"Ndok...." panggil Permana lirih.


"Arumi di sini, Yah..."


"Ayah ingin bicara dengan mu, Ndok..." ucap Permana yang langsung ditanggapi Arumi.


"Mirza..."


"Ya, Ayah. Mirza di sini..."


"Tepati janji mu untuk membahagiakan Arumi dan memimpin perusahaan yang sudah ku rintis selama ini. Pengacara akan segera menghubungi mu..."


"Ya, Ayah..." ucap Mirza sedikit gamang.


"Ndok..." ucap Permana.


Tangannya berusaha meraih tangan Arumi. Dan usaha itu pun disambut Arumi dengan segera. Dalam genggaman tangan yang erat, Permana menatap wajah Arumi. Dan sekali lagi Permana menyebut nama Arumi.


Ada bulir bening yang mengambang di kedua mata gelap Permana. Dalam rasanya, ia tidak tahu harus memulai darimana kata yang kian membuncah di ujung lidahnya.


Dan sekali lagi, Permana menyebut nama Arumi penuh perasaan.


"Ndok...Ayah punya permintaan terakhir kepada mu?"


"Ayah boleh meminta apapun. Asalkan bukan untuk yang terakhir..."


"Hehehe...."


Terdengar kekeh parau Permana sesaat. Tangannya mulai menyeka bulir bening yang mulai mengalir tipis-tipis. Permana menghela nafas. Dadanya dipenuhi rasa yang ia sendiri tidak mengetahuinya. Rasa yang makin mendorongnya untuk mengutarakan segala keinginannya kepada orang-orang di sekitarnya. Seakan hari itu adalah hari terakhirnya.


"Ayah ingin menyaksikan mu menikah dengan Mirza..."


"Pasti, Ayah. Pasti ayah akan menyaksikannya saat ayah sudah sehat nanti. Kita berdoa saja..."


"Tidak, Ar. Ayah ingin dalam waktu satu atau dua hari ini. Ayah khawatir setelahnya ayah tak dapat melihat mu menikah..."


"Ayah... Mengapa berkata begitu? Ayah pasti akan melihat ku menikah. Kapan pun itu. Bukan hanya satu dua hari ini saja. Mungkin di tahun depan atau tahun-tahun mendatang..."


"Ar, mungkin umur ayah tak kan sepanjang itu. Terlebih penyakit yang menggerogoti tubuh ini. Karena itu ayah pinta Kabulkanlah permintaan ayah..."


"Ay-ayah..." ucap Arumi.


Air mata Arumi tak mampu dibendung lagi. Semua sudah meluncur begitu saja. Hingga Isak tertahan pun mulai mengisi udara ruang perawatan.


"Za, Mirza... Tolong bantu ayah meyakinkan Arumi" ucap Permana di sela nafas satu-satunya.


"Ayah...." ucap Arumi penuh pilu.