150 Cm

150 Cm
Episode 83. Kegamangan Edward



Drrt.


Drrt.


Drrt.


Kali ini ponsel Arumi yang berpendar. Bukan sekali tapi beberapa kali. Sebuah nama tertera di layar ponsel. Dan perhatian Arumi pun langsung beralih pada ponsel tersebut. Tak terkecuali Mirza. Ia begitu penasaran hal si penelepon tersebut. Hingga Arumi berisyarat yang menyatakan siapa si penelepon tersebut. Isyarat itu membuat Mirza mengangguk dan mengurai senyum. Rasa penasaran yang mengarah pada rasa cemburu itu pun sirna seketika. Mirza pun menghela nafas lega.


"Assalamu'alaikum...Pa? Apa kabar?"


"Wa'alaikumussalam...Nak. Papa baik-baik saja. Bagaimana dengan mu, Nak...?'"


"Arumi baik-baik saja, Pa..."


"Syukurlah...Papa bahagia mendengarnya. Semoga hari-hari mu selalu dalam lindungan Tuhan yang maha esa"


"Aamiin...Arumi pun berharap papa pun demikian"


"Aamiin...Oya, Papa kangen sekali. kapan Arumi berkunjung ke rumah?"


"Maafkan Arumi jika belum mengunjungi papa"


"Tak perlu meminta maaf. Papa mengerti kesibukan mu?"


"Arumi lega mendengarnya. Dan secepatnya Arumi akan berkunjung"


"Ajak serta suami mu..."


"Ya, Pa. Tentu saja. Kak Mirza pasti senang"


"Papa harap, papa tidak terlalu lama menunggu kunjungan mu. Jika perlu malam ini juga"


Deg.


.


.


.


Arumi terdiam. Hatinya bak merasakan sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang tengah terjadi kepada keluarganya.


"Nak...?"


"Ya, Pa..." ucap Arumi terkesiap.


"Secepatnya Arumi akan berkunjung"


"Terima kasih, Nak..."


"I-ya...Pa" ucap Arumi terbata. Matanya tampak sedikit membulat saat merasakan keganjilan dari kata Edward. Terlebih saat Edward memutuskan hubungan telepon begitu saja, tanpa basa-basi sedikitpun. Tak seperti biasanya. Dan hal tersebut tentu saja membuat Arumi semakin tak enak hati.


"Ada apa?" tanya Mirza yang masih duduk di hadapan Arumi melahap menu makan paginya.


"Entahlah...Tapi perasaan ku tak tenang. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan papa"


"Kalau begitu kita harus mengunjunginya..." ucap Mirza sambil bangkit dari duduknya.


"Eits...Mau kemana, Kak?"


"Bersiap ke rumah papa?"


"Selesaikan sarapan kakak dahulu. Dan lagi aku masih bau nih..."


"Astaga...! iya juga. Istriku masih mau iler. Hehe..." ucap Mirza sambil tepok jidat.


"Hehe..." tawa Arumi bernada kesal. Hatinya tak terima dikatai bau iler.


"Hei..." ucap Mirza sambil menarik tangan Arumi hingga tubuh perempuan 150 cm itu berada dalam dekapannya.


"Tapi...Aku suka. Apa pun bau dan rupa mu. Aku tetap suka. Karena aku mencintai mu. Hanya mencintai mu..." ucap Mirza yang mengeratkan dekapannya.


"Gombal...!" ucap Arumi sambil berusaha lepas dari dekapan Mirza.


Dan usaha itu pun tidak sia-sia. Arumi berhasil lepas dari dekapan Mirza yang bersamaan dengan itu hampir saja Mirza mencium bibir tipisnya.


"Weeeik...." ucap Arumi sambil menjulurkan lidahnya dan berlari menuju kamar mandi.


Melihat itu Mirza tersenyum lebar. Ia berdiri dengan tangan disimpan pada kantung celananya. Kepalanya pun menggeleng perlahan melihat polah istrinya itu. Yuph...barulah pada Arumi saja hatinya beriak bahagia. Pada Arumi pula ia menemukan keceriaan, tawa dan hal gila yang bisa ia lihat bahkan ia lakukan. Mirza benar-benar baru merasakan hidup yang sebenarnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Mobil sport silver melaju cepat. Lajunya menyusuri jalanan yang sedikit lengang. Mungkin karena hampir sebagian masyarakat berada di tempat aktifitasnya. Mirza yang berada di belakang kemudi begitu serius mengendalikan si kuda besi itu. Sesekali matanya menatap Arumi yang tampak gusar di sebelahnya. Laki-laki tampan itu tengah menyimpan kekhawatirannya. Bukan hanya pada Arumi, namun pada Edward. Sosok laki-laki yang baru saja diketahui sebagai ayah kandung Arumi. Jika benar firasat Arumi, maka benarlah bahwa Edward tengah tidak baik-baik saja.


"Pa, ada apa dengan mu? Aku khawatir sekali. Semoga ini hanya perasaanku saja. Semoga..." batin Arumi.


"Tenanglah, Ar. Apa pun yang akan kau hadapi, aku berharap kau dapat melewatinya. Kita akan melewatinya bersama, sayang" batin Mirza.


Mobil sport silver terus melaju cepat. Lajunya bak anak panah yang melesat dari busurnya. Sementara itu kegusaran Arumi kian membuncah saat mobil sport silver itu parkir tepat di halaman sebuah rumah berlantai dua. Mata Arumi seketika bertemu pandang dengan Mirza saat beberapa laki-laki bertubuh tegap terlihat di beranda rumah.


"Waspada, sayang..." ucap Mirza saat keduanya turun dari mobil.


"Apakah mereka bodyguard papa? Apakah telah terjadi sesuatu hingga papa menyewa mereka? Karena sepengetahuan ku, papa tidak pernah bersedia untuk itu..." bisik Arumi.


"Artinya ini diluar kebiasaan papa. Bisa jadi telah terjadi sesuatu..."


"Aku khawatir, Kak..."


"Semoga saja ini hanya praduga kita saja..."


Langkah keduanya beriringan menuju pintu utama. Terlihat sekali jika keduanya begitu waspada. Terutama saat melewati beberapa laki-laki bertubuh tegap itu. Keduanya berusaha bersikap tenang dan senatural mungkin, tanpa ada curiga ataupun gerak-gerik yang bisa memancing reaksi berlebihan dari beberapa laki-laki bertubuh tegap itu yang tampak siaga itu.


"Berhenti...Tuan dan Nyonya siapa dan ada keperluan apa?" ucap seorang laki-laki dengan warna suara berat.


"Kami ingin menemui tuan Edward. Ada...?" ucap Mirza waspada sambil mengedarkan tatapan elangnya.


"Ada..Tapi tuan dan nyonya siapa?"


"Kalian siapa?" ucap Arumi sedikit ketus.


"Mardi...keduanya anak dan menantu ku" ucap Edward yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.


"Maaf, Tuan..." ucap Mardi sambil menjura dan menjauh.


"Papa..." ucap Arumi.


Tangannya langsung meraih tangan Edward dan mencium punggung tangan itu dengan takzim. Begitu pun dengan Mirza.


"Selamat datang, anak-anak ku. Masuklah..." ucap Edward sambil berisyarat mempersilahkan Arumi dan Mirza masuk.


"Ada apa papa menyewa bodyguard segala? Apa ada yang tengah terjadi?" ucap Arumi penasaran.


"Dan lagi jika papa membutuhkan bodyguard, papa bisa memintanya kepada ku..." ucap Mirza.


"Ikut papa..." ucap Edward melangkah menuju anak tangga yang mengarah ke roof.


Arumi dan Mirza pun melenggang beriringan mengikuti langkah Edward. Tangan keduanya saling mengait dan sesekali saling melempar senyum saat tatapan keduanya bertemu.


"I love you..." bisik Mirza sambil mengeratkan genggaman tangannya.


Mendengar itu Arumi bergelayut pada lengan laki-laki tampan, pengusaha muda sukses itu.


"I love you to..." ucap Arumi.


Wajahnya sedikit merona karena ucapannya sendiri barusan. Mirza yang melihat itu, berbunga hatinya. Ia merasa telah sukses membuat merah jambu wajah dan bisa jadi hati Arumi. Mirza pun mengeratkan genggaman tangannya.


"Duduklah..." ucap Edward ketika sampai di roof.


"Arumi baru mengetahui jika di roof ada tempat senyaman ini?"


"Papa yang memintanya pada kakak mu, Ryu. Kau suka, Ar?"


"Suka, Pa..." ucap Arumi bersemangat.


"Bagaimana dengan mu nak Mirza...?"


"Suka, Pa. Tenang dan asri"


"Perasaan itulah yang papa dapat jika berada di roof"


Edward menghela nafas. Matanya menatap lekat Mirza yang duduk bersandar sambil menopang kaki.


"Nak Mirza...papa ingin meminta bantuan mu?"


"Bantuan...?"


"Tepatnya Ryu..."


"Ryu...?"


"Kak Ryu...?"


"Ar, kakak mu itu terjerat masalah. Ia dijebak. Seseorang memanfaatkan kepolosannya..."


"Dijebak...?!"


Deg.


.


.


.


Arumi dan Mirza saling beradu mata. Ada tanya di ujung tatapan keduanya.


"Apa yang akan terjadi pada keluarga ku? Ya, Tuhan, lindungilah semua keluarga ku. Aamiin..." batin Arumi.