
"Tempatkan mereka dalam ruangan berbeda...!" ucap Danu.
Tiga orang berpenutup kepala pun di giring ke dalam ruangan yang berbeda. Sedikit susah payah ketiganya melangkah hingga membutuhkan arahan dari lainnya.
"Sakti, Wahyu, Rita..." ucap Danu.
Jarinya memberi isyarat, menunjuk pada tiga ruangan yang akan ditempati.
"Tuan, Nyonya...target sudah siap"
"Terima kasih, Danu. Oya, di ruangan sudah kau tempatkan orang kita juga?"
"Tentu. Dengan wajah yang disamarkan. Mereka memakai masker dan kacamata hitam seperti biasanya..."
"Good... Dan tolong panggilkan Nyonya"
"Siap, Tuan..." ucap Dewa.
Tak lama Arumi dan Vanya pun melenggang menghampiri Mirza yang tengah duduk di sofa.
"Dari ketiga orang yang ada Vanya ingin bicara dengan siapa?" ucap Elvano.
"Tidak satu pun...."
"Tidak satu pun...? Bukankah semalam kau menginginkannya?"
"Bukan mereka yang aku inginkan"
"Lalu...."
"Aku ingin Andrea..."
"Nya...." ucap Arumi, Mirza dan Elvano hampir bersamaan.
"Karena aku mempunyai semacam perhitungan tersendiri dengannya" ucap Vanya sedikit bersungut
"Nya..." ucap Elvano.
"Sayang..." ucap Mirza meminta pendapat.
"Aku ingin pengakuan mereka atas apa yang sudah mereka perbuat. Juga aku ingin mereka menjadi saksi atas perbuatan Andrea..."
"Good...." ucap Mirza.
Jemari Mirza menyela diantara jemari Arumi. Mungkin inilah alasan mengapa ada sela diantara jari. Agar satu sama lain dari setiap pasangan bisa saling mengisi sela tersebut.
Senyum khas keduanya tersulam menghiasi wajah. Dengan ujung tatapan yang mengisyaratkan cinta dan kasih sayang.
"El, Nu...kalian dengar apa keinginan istri ku?"
"Ya, Tuan..." jawab Elvano dan Danu hampir bersamaan.
"Jika demikian laksana segera. Hari ini juga kita harus mendapatkan bukti dan kesedian kesaksian mereka. Aku tidak ingin berlama-lama menyaksikan kesedihan istriku..."
"Ya, Tuan..." jawab Danu sesaat sebelum berlalu diikuti Elvano dan kemudian Dewa.
"Kita simak dari control room..." ajak Mirza.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sebuah rekaman di sodorkan seorang bodyguard, sebut saja Mr. X kepada Wahyu yang baru saja di buka penutup kepalanya. Wahyu terkesiap. Matanya menyapu sekeliling ruangan.
"Tempat apa ini? Dan siapa kalian...?"
"Itu tidak penting, pak Wahyu. Ada yang jauh lebih penting dari itu"
"Tindakan kalian ini melanggar hukum. Aku akan melaporkan kalian..."
"Silakan jika anda ingin melaporkan kami. Namun sebelum itu, silahkan perhatikan video ini dengan seksama...." ucap Mr.X dengan suara bernada tegas.
Merah padam wajah Wahyu menyimak isi video tersebut. Peluh mulai menitik pada dahinya. Tangannya pun sedikit bergetar. Pun demikian, tetap saja Wahyu berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
"Darimana kalian mendapatkan rekaman ini...?!" tanyanya santai.
"Tidak penting darimana. Yang ingin aku tanyakan adalah apah kau mengenal orang-orang yang berada dalam rekaman itu?"
"Tidak...! Dan lagi apa hubunganku dengan video atau orang di dalamnya. Aku saja tidak ada di sana?" kilah Wahyu.
"Anda tidak ada dalam video bukan berarti anda tidak di sana bukan?"
"Apa maksud mu...?!"
"Pak Wahyu...anda tidak ada dalam rekaman karena sejatinya andalah yang merekamnya.."
Deg.
.
.
.
"Sial...! Darimana mereka mendapatkan ini semua? Apa sudah ada yang berkhianat diantara kami? Jika demikian, aku harus benar-benar menggunakan semua rekaman video yang ada untuk menyelamatkan diri ku..." batin Wahyu.
"Bagaimana pak Wahyu? Apakah Anda mengakuinya?"
"Mengakui apa?!"
"Jika aku tidak bersedia?"
"Sama halnya dengan penculikan bapak pagi ini. Senyap tak terendus. Maka begitu pula dengan kematian bapak..."
"Kau mengancam ku....?!!"
"Bukan mengancam, tapi memperingatkan..."
*CEKLIK.....
KREEEK*....!
Pintu ruangan terbuka. Keberadaan seorang gadis cantik yang berdiri di ambang pintu membuat Wahyu memusatkan perhatiannya. Sontak wajahnya tampak terkejut. Terlebih saat gadis itu melangkah ke dalam ruangan dan duduk di hadapannya.
"Vania..." ucapnya sambil terus menatap tak percaya.
"Aku tahu bapak baik. Selama aku bekerja menjadi asisten bapak, aku mengetahui itu. Karena itu, aku berharap bapak bersedia membantu. Ryu adalah...." kata Vanya terhenti.
Pilihan status yang ingin ia ucapkan tercekat di ujung lidahnya. Karena ia menjadi tak rela atas pilihan tersebut.
"Ryu adalah kakak ku..." ucap Vanya akhirnya.
"Kakak....?"
"Ya, Pak..."
"Jangan bilang jika kau menjadi asisten ku dalam rangka...."
"Mencari bukti bahwa kak Ryu tidak bersalah..." potong Vanya.
"Luar biasa. Jika tanganku tidak terikat, tentu aku akan bertepuk tangan untuk mu. Oya, jangan-jangan...nama mu pun samaran?"
"Tidak. Itu nama ku yang sebenarnya. Hanya saja bapak kurang tepat melafalkannya..."
"Vania...Vanya. Apa pelafalan yang benar adalah Vanya..." ucap Wahyu.
Vanya tersenyum. Kepalanya sedikit mengangguk.
"Vanya...nama yang indah. Dan...senyum itu sungguh luar biasa, Vanya. Aku Benar jatuh hati pada mu. Tunggu dulu. Apa ini sebuah pengakuan atas perasaan ku. Wahyu...oh, Wahyu. Setelah sekian lama baru sekarang kau mengakui bahwa kau benar-benar jatuh hati" batin Wahyu.
"Bagaimana pak Wahyu? Apakah bapak berkenan membantu ku?"
"Aku tidak mungkin mensyaratkan kesediaan ku ditukar dengan cinta Vanya. Tidak...Aku tidak boleh seperti itu. Cinta adalah sebuah kesucian hati. Aku tidak boleh menodainya..."
"Pak...."
"Ah, Ya. Aku bersedia..."
"Sungguh, Pak...?!"
"Tapi aku mempunyai syarat..."
"Tidak ada syarat...!" ucap Mr.X.
"Kalau begitu aku tidak mau..."
"Ku tukar kesediaan mu dengan nyawa mu..." ucap Mirza yang telah berdiri di ambang pintu.
Semua perhatian tentu saja langsung tertuju pada si empunya suara.
"Tuan Mirza Adyatma...!"
"Kau mengenal ku..."
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal tuan. Pengusaha sukses nomor 1..."
"Berita yang terlalu melebih-lebihkan. Tapi sisi lain diri ku siapa yang tahu...?"
"Maksud, Tuan...?"
"Dengarkan pak Wahyu. Aku tidak suka bertele-tele. Simak baik-baik ucapan ku. Aku sangat bisa menjebloskan mu dalam penjara untuk seumur hidup. Bahkan tiada yang akan tahu dimana keberadaan juga kondisi mu itu"
"Apa tuan Setega itu?"
"Ya. Karena aku tahu sebesar apa kesalahan mu terhadap Ryu. Kau, Sakti dan juga Rita. Aku tahu orang-orang seperti apa kalian itu. Dan aku adalah spesialis pembasmi orang-orang seperti kalian...Jadi jangan sampai memberikan syarat atas kesediaan mu. Karena sejatinya kesedian mu adalah sebuah kesepakatan untuk pembebasan nyawa mu sendiri..." ucap Mirza.
Mata gelap Mirza menatap tajam bak elang mengintai mangsa. Wajahnya begitu dingin. Dan hal itu tentu saja membuat Wahyu bergidik.
"Ya, Tuhan. Tatapan itu telah meluruhnya segala keberanian dan percaya diri ku..." batin Wahyu.
"Vanya... pergilah keluar" pinta Mirza.
"Baik, Tuan..." ucap Vanya sesaat sebelum berlalu.
"Kalian juga..." ucap Mirza lagi pada dua bodyguard yang ada.
Langkah Vanya begitu cepat meninggalkan ruangan tersebut. Dan kini tinggallah Mirza dan Wahyu saja dalam ruangan tersebut. Mirza duduk di hadapan Wahyu dengan meja sebagai pembatasnya. Matanya menatap lekat Wahyu. Tatapan itu tentu saja sukses membuat nyali laki-laki itu kian ciut.
GLEKK....
Wahyu menelan saliva dengan sedikit sulit. Jantungnya berdegup bertalu. Baru kali ini ia berhadapan dengan seorang Mirza Adyatma. Pengusaha yang ia kagumi selama ini. Namun saat ini sisi lain dari Mirza lah yang harus ia dapati. Kecewa? Tentu tidak. Wahyu justru semakin mengagumi Mirza.
"Nah, pak Wahyu...hanya tinggal kita berdua saja di ruangan ini. Aku ingin mendengar cerita lengkapnya dari mu, bagaimana rencana busuk itu kalian rancang...." ucap Mirza tak bergeming sedikitpun.
"Aku...."