150 Cm

150 Cm
Episode 101. Jalan Cerita...



Angin senja berhembus. Desau nya kembali pada haribaan yang bernama kelembutan. Dan warna kemerahan di kaki langit terus memberi kesempatan pada setiap insan untuk bersiap menyambut malam yang lebih menenangkan.


Sementara itu goresan demi goresan, sapuan demi sapuan kuas Arumi torehkan pada kanvas. Sudah jelas itu adalah gambaran sempurna tentang cintanya pada sosok ibu yang telah lama meninggalkannya. Dengan segala pesan sang ibu yang masih melekat pada ingatannya. Dan terkadang pada kekuatan goresan kuasnya, Arumi kembali menorehkan pesan itu.


Seperti halnya saat ini. Pada senja ini. Arumi kembali berjibaku dengan kuas dan cat. Arumi duduk menghadap langit senja yang terus berubah warna seirama perputaran sang waktu. Dan lagi-lagi, Arumi menuliskan pesan Yuki Hirata, ibunya itu di kanvas pada goresan terakhirnya. Arumi berharap ada banyak orang yang mampu membaca pesan tersebut. Pesan dari seorang ibu untuk anak-anaknya.


"Jadi kuat dan beranilah menerima kenyataan, menerima kekurangan pada diri, juga berani menjalani hidup. Jangan takut untuk berubah demi sebuah tujuan" begitu pesan Yuki Hirata, ibunya.


Arumi bangkit dari duduknya. Tubuhnya surut. Ia menatap lekat lukisan yang baru saja ia selesaikan. Senyum terbit dari ujung bibirnya. Ada kepuasan di ujung senyum itu atas hasil yang sudah ia lakukan. Ya...seulas wajah cantik tergambar pada kanvas setelah beberapa waktu ia menuangkannya dari ingatannya. Wajah itu milik Yuki Hirata. Seorang perempuan yang sudah menambah kekuatan sehingga luka berubah menjadi warna pelangi dalam hidup Arumi.


"Cinta dan kasih sayang, itu yang ingin kau tampilkan. Tapi duka pun turut tertuang. Itukah yang ingin kau sampaikan...? Sungguh pelukis yang labil..." ucap seseorang dari belakang.


Suaranya sedikit asing karena khasnya belum lah melekat pada ingatan. Sejak kata pertama laki-laki yang ternyata Keive itu, Arumi langsung mengalihkan perhatiannya. Si empunya suara terlihat senang, karena mendapat tatapan mata indah milik Arumi. Karena sejatinya, itu yang ia harapkan.


"Keive..." ucap Arumi lirih.


"Em, bagaimana penilaian ku?"


"50% tepat. Sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan bahwa dia ibuku. Itu saja...."


"Simple ya. Tapi seni itu kan menurut apresiasi penikmatnya. Jadi bebas..."


"Ya. Suka-suka saja. Hehe..."


"Bang Mirza belum pulang?"


"Ada kepentingan luar kota. Malam baru pulang..."


"Em, Aku boleh makan malam di sini kah?"


"Wait....Aku tanya kak Mirza dahulu ya"


"Tanya bang Mirza?" ucap Keive lirih, Arumi saja tak mendengarnya. Ada gurat kecewa di katanya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Kak, ada Keive. Bolehkah makan malam di rumah kita?"


"Ya, aku izinkan. Tapi ingat sertakan mbok atau siapa saja bersama mu.."


"Begitu ya. Baik, Kak. Em, bagaimana pekerjaan kakak?"


"Alhamdulillah...lancar"


"Alhamdulillah...Oya, kakak pulang jam berapa?"


"Em, mungkin sekitar pukul 10 malam baru sampai rumah. Kenapa? Kangen?"


"Tentu saja aku kangen. Hehe..." ucap Arumi sesaat sebelum menutup teleponnya.


"Arumi...kau cantik. Terlebih saat kau tersenyum dengan wajah mu yang merona itu. Aku suka..." batin Keive.


"Mang Dirman...tolong masukkan lukisanku ke dalam ya" ucap Arumi yang sukses membuyarkan lamunan Keive.


"Ya, Nyonya..."


Arumi berlalu ke dalam rumah. Di belakangnya Keive mengiringi sambil sesekali menyulam senyum. Hati Keive beriak berada dekat perempuan yang ia cintai itu.


"Maaf, Nyonya. Sore ini jus atau teh?" ucap mbok Darmi saat berpapasan dengan Arumi.


"Aku jus saja, mbok. Tapi aku mau bersih-bersih dahulu. Kak Keive permisi ya" ucap Arumi melanjutkan langkahnya.


"Baik, Nyonya. Dan den Keive minum apa?"


"Em, teh saja mbok. Terima kasih..." ucap Keive.


"Baik, Den. Mbok siapkan..."


Mata Keive menatapi setiap langkah Arumi hingga perempuan bertubuh mungil itu hilang di ujung tangga.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Keive tengah asyik menyantap sajian menu santap malamnya. Decak pujian pun meluncur dari bibir Keive untuk si empunya rumah. Terlebih mbok Darmi tak henti-hentinya menyebut jika Arumi yang sudah bersusah payah meracik segala menu di meja.


"Keive selalu menatap ku. Aku harus bersikap biasa saja dan berhati-hati. Jangan sampai terlihat rikuh atau pun salah ucap. Aku tidak ingin menimbulkan salah faham antara aki dan Keive..." batin Arumi.


"Pagelaran lukisnya kapan dilaksanakan?"


"Pekan depan..."


"Apa lukisan yang tadi juga akan di sertakan dalam pagelaran?"


"Tidak. Semua lukisan untuk keperluan pagelaran sudah siap. Semuanya ada sepuluh. Dan dua pelukis lainnya pun sama..."


"Ow, jadi ini pagelaran bersama?"


"Ya. Begitulah. Setiap pelukis memiliki ciri khas masing-masing"


"Apakah lukisannya akan di lelang?"


"Ada. Tapi lukisan ku tidak akan di lelang"


"Mengapa...?"


"Karena lukisan ku sudah habis terjual sebelum acara pagelaran. Hehe..."


"Habis terjual...?! Siapa yang membelinya?"


"Aku..."


Seseorang membuka suara. Ia berdiri di ambang pintu. Mata elangnya menatap bak mengintai mangsa.


"Kak Mirza....!" ucap Arumi.


Arumi langsung menyongsong kehadiran suami tampannya itu. Meraih tangannya dan mengecup takzim punggung dan telapak tangan laki-laki tampan itu.


"Kok sudah pulang? Katanya jam sepuluh malam..."


"Aku kangen..."


CUP....!


Bisikan disertai kecupan cepat pada bibir tipis yang merona itu, lagi-lagi membuat wajah pemiliknya merona.


"Kakak ada-ada saja dech. Malu ada Keive..."


"Aku tak peduli...."


"Rupanya, ketidaktenangan telah membawa mu kembali secepatnya. Kau takut istri mu terbujuk rayuan ku. Hah...Mirza-mirza" batin Keive.


"Hei, Keive. Sejak tadi...?"


"Em, petang tadi aku sampai. Dan sempat melihat Arumi melukis. Luar biasa ya...."


"Tentu saja..."


"Kakak ingin makan sekarang atau bersih-bersih dahulu?"


"Makan sekarang, sayang. Sudah lapar. Masak apa, sayang..?"


"Masak makanan kesukaan kakak..."


"Oya...?" ucap Mirza sambil duduk dan menggulung lengan kemejanya.


"Bagaimana misi mu yang selanjutnya, Keive? Sudah berjalanlah...?"


"Hampir...."


"Hampir...? Haha...Mestinya harus sudah donk"


"Persaingan ketat. Jauh pun harus pulang, khawatir Dewi Shinta di culik..."


"Haha... Sepertinya harus demikian, Keive. Sebab pencurinya seorang Casanova"


"Haha...." tawa keduanya menggema.


Arumi hanya tersenyum simpul. Sesungguhnya ia mengerti apa yang dimaksud kedua laki-laki itu. Namun ia berusaha menyimpan segala tahunya. Ia ingin mengetahui bagaimana jalan cerita yang akan di tawarkan Keive dan Mirza.


Pun demikian, dalam hati Arumi, tiada cinta yang kian menjadi candu selain cinta dari seorang laki-laki yang selama ini ia cintai. Ya...siapa lagi jika bukan Mirza Adyatma.