
Ada memar di wajah Sakti saat keluar dari ruangan. Hal tersebut terlihat karena kali ini hanya matanya saja yang di tutup penutup tebal berwarna hitam. Langkahnya pun terlihat tak sempurna. Mungkin beberapa pukulan telah mampir di tubuhnya. Setimpal dengan perbuatan dan kekerasan kepalanya menolak bekerja sama. Namun kerasnya kepala Sakti tak berlangsung lama saat Mirza Adyatma duduk di hadapannya. Sama seperti halnya yang terjadi pada Wahyu, Sakti pun akhirnya luluh. Sebuah pernyataan pun langsung ia bubuhi tanda tangannya dengan cepat ketika kata tajam meluncur dari bibir seorang Mirza Adyatma.
Sementara itu, Rita yang juga ditutup indera penglihatannya tampak melangkah dengan gemetaran. Jika ditilik pada fisiknya, maka dapat dipastikan bahwa seratus persen ia baik-baik saja. Tubuh yang gemetar lebih disebabkan oleh rasa takut dan atau kecemasan berlebihan akibat kata dari seorang Elvano.
Ketiganya diantar kembali ke kediaman masing-masing dan mendapat pengawasan juga perlindungan ketat dari aparat penegak hukum sebagai saksi sekaligus terduga pelaku pencemaran nama baik. Hal tersebut setelah Elvano memberikan laporan kepada aparat penegak hukum atas perintah Mirza Adyatma. Dan berdasar bukti-bukti yang ada maka sudah dapat dipastikan Ryu akan segera terbebas dari segala tuntutan.
Sementara itu hari sudah semakin terang. Mentari tampak menunjukkan seringainya. Seringai yang menjadi tumpul ketika kembali pulang ke kaki langit dan meninggalkan jejak berwarna jingga. Pun demikian, sang mentari telah teruji karena keikhlasannya berbagi manfaat untuk dunia. Dan itu telah memberi bukti bahwa keberkahan itu nyata adanya.
Arumi berdiri dekat jendela yang tampak gelap dari sisi luar, namun begitu terang ketika dari sisi dalam. Khas sekali dipergunakan untuk tempat-tempat khusus seperti halnya tempat yang disebut markas oleh tim pengamanan keluarga William.
Mata Arumi mengerjap saat pandangannya terhalang oleh bulir bening yang terus datang mengerubutinya. Arumi terisak. Rasa sesak yang menghimpit jiwa beberapa waktu mulai terurai. Karena itu Arumi meluapkannya melalui tangisnya.
"Mengapa Nyonya Mirza Adyatma menangis? Kau tahu air mata mu ini begitu mahal. Jadi jangan sia-siakan, sayang..." ucap Mirza sambil mendekap istri 150 cm nya itu.
"Terima kasih, Kak..." ucap Arumi.
Hanya kata tersebut yang sanggup ia keluarkan dari bibir tipisnya yang bergetar karena tangisnya.
Mirza mengeratkan dekapannya. Ia faham betul bagaimana perasaan istrinya itu. Sesekali Mirza mengecup lembut pucuk kepala Arumi. Satu hasratnya kini adalah membuat wanitanya itu dalam kondisi baik-baik saja. Dan hanya pada dirinya saja, Arumi akan membagi segala resah, duka ataupun tawanya.
"Segala bukti sudah kita dapatkan. Dan sudah berada pada pengacara kita. Tak perlu khawatir lagi, sayang..."
"Apa papa sudah diberitahu?"
"Justru aku ingin kau yang memberitahunya..."
Arumi mengangkat wajahnya. Matanya langsung terkunci pada wajah tampan Mirza yang beberapa waktu lalu menjadi dingin sedingin es saat menghadapi Wahyu atau pun Sakti. Mirza membalas tatapan itu. Menilik jauh ke dalam mata indah Arumi.
"Cintai aku selamanya...." ucap Mirza tanpa melepaskan tatapannya.
Seiring hembusan angin yang lembut, perlahan namun pasti ada irama yang menelusup mengiringi irama degup jantung keduanya. Bersamaan dengan itu, Mirza mulai terhanyut. Ia begitu menikmati aroma bibir tipis Arumi yang sudah menjadi candu baginya itu. Entah berapa lama keduanya larut dalam hasrat yang membuncah.
KREEEK....
Derit pintu terbuka. Bersamaan dengan itu, sebuah pekikan terdengar.
"Astaga....! Maaf, maaf...." ucap Elvano dan Vanya hampir bersamaan.
Keduanya langsung menutup kembali pintu dengan cepat.
"Fiuh...." dengus lega Elvano saat pintu sudah tertutup sempurna.
"Mimpi apa aku semalam melihat yang begituan..."
"Biasa saja kaleee....Cuma ciuman. Dan lagi mereka suami istri. Bebas mereka lah..." ucap Vanya.
"Ya, betul. Tapi mbokyo dikunci pintunya. Kalau kelihatan begitu kan aku jadi kepingin"
"Huh... dasar, mesum"
"Loh, kok mesum...?
"Auklah..."
Vanya ngeloyor meninggalkan Elvano yang masih memainkan alisnya naik dan turun.
Sementara itu, dari dalam ruangan Mirza dan Arumi keluar.
PLAK....!
"Aduh, Bos..." ucap Elvano saat gilingan berkas mampir ke bahunya.
"Elvano bin mail bin Abdul mail....Kalau mau masuk ketuk pintu dulu" ucap Mirza sambil sekali lagi mengayunkan gulungan berkas ke arah Elvano. Namun kali ini berhasil dihindari oleh Elvano.
"Bos juga salah kenapa begituan di sembarangan tempat..."
"Sembarang tempat kata mu? Ini gedung milik siapa?"
"Milik tuan Mirza Adyatma..."
"Terus bibir, bibir siapa?"
"Bibir tuan Mirza Adyatma..."
"Terus siapa bosnya di sini?"
"Tuan Mirza Adyatma..."
"Ya, Tuan... Tuan benar. Saya yang salah..." ucap Elvano manyun bernada kesal.
"Kenapa El? Seperti anak gadis saja pake acara manyun..."
"Auklah..." ucap Elvano sambil memainkan jarinya di pipinya. Sementara matanya menatap langit-langit seakan acuh terhadap Mirza.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Arumi berpendar. Dan hal itu membuat Arumi mengalihkan pandangannya pada Mirza seakan meminta izin.
"Angkatlah..." ucap Mirza sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum....Pa"
"Wa'alaikumussalam...sayang. Bagaimana kabar mu?"
"Baik, Pa. Em, baru saja Arumi menghubungi papa. Eh, malah keduluan..."
"Hehe...Papa menjadi tidak sabar untuk segera menghubungi mu"
"Ada apa, Pa...?"
"Tidak ada. Papa hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Arumi dan Mirza. Papa lega dan bahagia. Em, kemungkinan kakak mu bisa segera bebas"
"Yaa...Tapi darimana papa tahu?"
"Seno, pengacara kita. Dia yang memberi kabar itu. Seno juga menceritakan bagaimana kita bisa dapat bukti-bukti itu. Sekali lagi terima kasih, Nak..."
"Papa tidak perlu berterima kasih seperti itu. Kak Ryu adalah kakak satu-satunya Arumi. Mana mungkin Arumi akan diam saja melihat kakak tak bahagia..."
"Ya, nak. Oya, kapan kalian ke rumah?"
"Secepatnya, Pa..."
"Papa tunggu ya..."
"Ya, Pa..." ucap Arumi di akhir percakapan.
"Em, papa menyampaikan terima kasihnya untuk kakak..."
"Tak perlu berlebihan. Kita keluarga, sayang..."
Arumi tersenyum. Matanya menatap wajah tampan Mirza.
"Apa...? Kok menatap ku seperti itu..."
"Aku suka Mirza Adyatma yang seperti ini dan juga yang seperti tadi.."
"Seperti tadi?"
"Hook oh. Mirza Adyatma yang saat di dalam tadi. Mirza Adyatma yang tatapannya bak elang mengintai mangsa. Mirza Adyatma yang dingin, bak gunung es di puncak Himalaya..."
"Oya...?"
"Ya..."
"Kalau begitu aku juga suka Arumi Hirata yang seperti ini dan yang...." Mirza menggantung katanya.
Hal tersebut tentu saja membuat Arumi kembali mengangkat wajahnya. Melihat itu Mirza tersenyum.
"Aku suka Arumi Hirata di setiap waktu. Karena itu aku selalu jatuh hati pada mu setiap waktu..."
"Ow...so sweet"
"Mari kita menua bersama...."
"Terima kasih, kak. Aku bahagia. Dan aku pun setiap waktu selalu jatuh hati pada mu. Terima kasih..."
"Terima kasih karena sudah memberi warna hidup ku..."