
Tangan Mirza mengepal hebat. Ada gurat kemarahan di tiap tatapannya. Dan hal tersebut tentu saja membuat bingung lainnya.
"Em, Ayah...Mirza pamit dahulu. Sebentar saja. Nanti jika sudah selesai, Mirza akan kembali menemani ayah.." ucap Mirza mengakhiri diamnya.
"Ada apa, Za..."
"Ada hal yang harus Mirza selesaikan..." ucap Mirza sambil meraih tangan Permana dan mengecupnya dengan takzim.
"Gawat kah....?"
"Semoga saja tidak. Doakan saja, Yah..."
"Ya. Semoga semua baik-baik saja dan diselesaikan dengan baik-baik..."
"Aamiin..."
Kemudian tangan Mirza berpindah pada Sonia, dan terakhir pada Arya yang lebih memilih High five ketimbang berjabat tangan.
"Sayang, aku pergi sebentar...Nanti aku kembali" bisik Mirza sambil mengusap pucuk kepala Arumi.
"Hati-hati, Kak..."
Arumi berucap. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi. Dan ia amatlah mengkhawatirkan laki-laki yang kini telah mengisi penuh hatinya. Tatapan mata Arumi mengiringi kepergian Mirza yang dengan langkah panjangnya telah sukses menghilang di ujung belokan lorong.
Sepeninggalan Mirza, Arumi kembali berkumpul dengan keluarganya.
"Ndok...ada apa dengan Mirza?"
"Entahlah. Kak Mirza tak mengatakan apapun. Semoga saja bukan suatu hal yang serius..."
"Aamiin..."
Begitu jawab Permana, Sonia dan Arya.
"Apa kata dokter, Ar...?" tanya Sonia.
"Ayah harus operasi..."
"Tidak... tidak. Ayah tak mau menjalani operasi"
"Kenapa, Mas?" tanya Sonia.
"Aku hanya ingin menikmati sisa umur ku dengan tenang..."
"Yah...pasrah dan putus asa itu beda tipis. Nah, ayah termasuk yang mana?" ucap Arumi.
Permana terdiam. Isi kepalanya serasa berputar dan melambung entah kemana.
"Ada resiko jika operasi gagal. Lumpuh dan buta. Bagaimana...?'
"Positif thinking, Yah. Semua pengobatan memiliki resiko. Sakit dan sembuh semua sudah ada yang mengatur. Apa hak kita menetapkan hal yang belum terjadi, hal yang hanya menjadi kuasa Allah SWT"
"Wah, anak gadis ayah sudah dewasa..." ucap Permana sambil membetulkan posisi duduknya.
"Kan anak Ayah sama Mami..." ucap Arumi sambil tersenyum, namun sebelah tangannya menjitak Arya.
"Adik ga da akhlak...."
"Weeeik...."
"Ayah senang, kalian bisa rukun seperti ini.."
"Iya donk..." ucap Arya sambil menyandarkan tubuhnya pada Arumi. Bukan tak sengaja, Arya senang dengan berlaku demikian berarti juga ia tengah mengerjai Arumi.
"Nieh, iya donk..."
"Aw...Aw..." teriak Arya saat jemari Arumi kembali mampir ke perut Arya.
"Baiklah...Ayah akan menjalani operasi" ucap Permana membuat suasana menjadi hening. Mata Arumi langsung tertuju pada Permana yang dengan santainya berucap sambil mengurai senyum khasnya.
"Sungguh..?" ucap ketiganya hampir bersamaan.
Dan ketiganya pun memeluk Permana.
"Ar, kapan kau mengakhiri candaan mu pada Mirza? Apa kamu yakin Mirza akan baik-baik saja jika mengetahuinya? Dan kapan kalian menikah...?"
"Pertanyaan ayah sungguh panjang bak kereta babaranjang pengangkut batubara..."
"Hahaha...." tawa keempatnya mengisi relung udara.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sementara itu, Mirza memacu mobil sport silver dengan kecepatan tinggi bak anak panah terlepas dari busurnya.
Tak lama kemudian, Mirza pun memarkir sembarang mobilnya di areal parkir kantornya. Ia menjadi tak sabar atas kabar yang beberapa waktu lalu ia dapat. Langkah Mirza begitu cepat memasuki kantornya dan menaiki lift menuju ruangan Elvano.
BRAAK...!
Pintu dibuka paksa hingga membentur sisi dinding di belakangnya. Berjingkat Elvano dan beberapa orang dalam ruangan tersebut. Kelimanya berdiri dan menjura takzim seketika saat mengetahui sosok yang telah membuka pintu dengan kasar.
"Jelaskan....!" ucap Mirza mengakhiri diamnya.
"Maafkan saya, Tuan..."
Seorang laki-laki setengah baya berucap dengan suara bergetar. Matanya tak sanggup menatap kilat tatapan mata Mirza yang beraura membunuh.
"Saya sudah berusaha menjelaskan pada customer bahwa rumah yang kita jual aman dan nyaman. Namun rumor yang beredar telah membuat customer mengurungkan niatnya. Bahkan yang sudah akad pun membatalkannya. Hal ini sudah berlangsung empat bulan"
"Empat bulan? Dan selama itu tidak ada tindak lanjut?"
Mirza berang. Tubuhnya menegang. Pun demikian wajahnya benar-benar tetap dingin. Hanya tatapannya saja yang begitu tajam, setajam silet.
"Kami fikir..."
"Kalian fikir aku tidak merugi dengan empat bulan tanpa tindak lanjut seperti ini?!
Semua diam. Tak sanggup berkata lagi. Jika bos besar sekelas Mirza Adyatma tengah diamuk amarah, hanya dua hal yang dapat dilakukan yaitu, diam dan menerima kesalahan.
"Tapi yang mengganggu ku adalah rumor yang beredar itu" ucap Elvano di sela helaan nafasnya.
"Pak Robert, saya minta penjelasan secara rinci tentang rumor yang beredar itu..." ucap Mirza.
"Em, maaf Tuan. Rumor itu mistis"
"Mistis...? Maksudnya bagaimana?"
"Jadi ada beberapa orang yang menurut mereka menyaksikan secara langsung penampakan hantu perempuan, yang menurut mereka juga mati di bunuh di area perumahan kita"
"Hantu perempuan...? Kata mereka? Lalu kata pak Robert bagaimana?"
"Saya pernah mencoba semalaman berada di area perumahan. Bahkan beberapa kali. Namun saya tidak pernah menemui atau ditemui sosok penampakan seperti yang di rumorkan selama empat bulan terakhir ini..."
Mirza menghela nafas. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada kursi. Sebelah tangannya memijat kepalanya sambil memejamkan mata. Fikirannya mengembara, mencari solusi terbaik penangananya.
Sekali lagi Mirza menghela nafas. Matanya yang semula terpejam kini perlahan terbuka.
"Baiklah...kalian boleh pergi. Aku akan memikirkan sisanya..."
"Baik, Tuan..." ucap pak Robert sambil berdiri dan kemudian berlalu keluar ruangan.
"El, minta bantuan Vanya untuk menemanimu. Dan aku akan meminta bantuan Arumi. Kita akan menyamar sebagai calon pembeli di perumahan kita" ucap Mirza.
"Tapi Za...apa mereka tidak akan mengenali kita? Terutama dirimu..."
"Elvano bin Jabir bin Jabar...Kenapa tiba-tiba jadi lemot? Apa virus cinta Vanya sudah menghantui mu?"
"Aish....si bos ini. Ada-ada saja"
"Kita gunakan samaran donk, El. Pakai brewok kek. Kumis kek...atau yang lainnya lah"
"Hehehe...iya juga ya, Bos"
"Sudah, hubungi Vanya sana. Lusa kita beraksi. Sambil kau fikirkan tentang samaran yang cocok buat kalian..."
"Ok, Bos.. Laksanakan!"
"Oya, rencana ini hanya kita berempat yang tahu. Aku, kamu, Vanya dan Arumi..."
"Siap laksanakan...!"
"Kalau begitu kau urus yang selanjutnya. Aku akan kembali ke rumah sakit. Aku kan menjadi menantu berbakti dahulu..."
"Ah, si Bos. Paling juga karena ingin dekat-dekat pujaan hati..."
"Hehe...tahu aja" ucap Mirza sambil tertawa kecil dan menepuk bahu Elvano.
Elvano menatap punggung Mirza yang berlalu meninggalkannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Akhirnya kau menemukan tambatan hati mu, Bro. Aku turut bahagia. Semoga sampai pada tujuan mu. Aamiin..."
Kemudian tangan Elvano mengambil ponsel dari balik jasnya. Satu kontak siap ia hubungi. Sesaat ia berhenti dan menimang-nimangnya.
"Vanya...." ucapnya lirih.
"Hallo... Assalamu'alaikum" ucap suara di ujung telepon.
"Wa'alaikumussalam..." jawab Elvano sedikit gagu karena sesungguhnya ia tak sengaja menghubungi Vanya.
"Tuan, lebay...ada apa?"
"Tuan lebay....? Hei...tuan tampan, sayang"
"Huweek...Tampan?"
Deg.
"Ini serius atau bercanda ya...." batin Elvano.