150 Cm

150 Cm
Episode 110. Catatan Keive



Hari sudah hampir senja. Di sebuah tanah pekuburan. Maria, Lidya, Arumi juga Mirza masih terpekur pada sisi sebuah pusara yang masih tampak basah. Berulangkali ketiga perempuan itu menyusut air mata yang sejak tadi tak berkesudahan.


"Kita pulang, sayang..." ajak Mirza.


Arumi pun mengangguk. Tanda mengiyakan ajakan laki-laki tampan itu.


Arumi dan Mirza beriringan. Langkah Mirza menjadi kecil saja. Hal tersebut untuk mengimbangi langkah Arumi, perempuan 150 cm nya yang ia cintai. Sementara Arumi ini melangkah gontai seiring riak dalam hatinya yang sedu-sedan.


"Kak Arumi, tunggu..." ucap Lidya.


Kata Lidya sukses membuat langkah keduanya terhenti. Arumi dan Mirza pun memutar tubuh.


"Lidya..." ucap Arumi.


Gadis yang baru berumur dua puluh tahun itu langsung menghambur ke pelukan Arumi. Kedua tangannya mendekap erat Arumi. Lidya tersedu.


"Maafkan aku, Kak..." ucap Lidya.


"Hei, mengapa harus meminta maaf? Ada apa?"


"Aku sudah salah faham terhadap kak Arumi. Dan aku sudah bertingkah seperti anak kecil tadi pagi. Maafkan..."


"Aku mengerti bagaimana perasaan mu. Dan sejak tadi pagi pun aku sudah memaafkan mu. Karena aku memakluminya..."


"Terima kasih, Kak. Ku rasa kini aku mengerti mengapa Kak Keive begitu mengagumi dan menyayangi mu..."


"Jangan dilebih-lebihkan..."


"Oya, ini untuk kakak..." ucap Lidya sambil menyodorkan sebuah buku berwarna coklat tua yang sedikit lusuh.


"Apa ini...?" tanya Arumi.


"Ini buku catatan kak Keive. Aku sudah membacanya. Di dalamnya ada cerita tentang kak Arumi. Kak Mirza juga ada"


"Oya..."


"Dan melalui buku ini, aku jadi tahu tentang kak Arumi. Dan sebelum kak Keive pergi, ia menitipkannya kepada mama untuk diberikan kepada kak Arumi seandainya terjadi sesuatu kepadanya. Rupanya kak Keive sudah memiliki firasat akan hal ini..." jelas Lidya yang diakhiri dengan isak.


"Ambillah, Ar. Dan mama harap Arumi menepati janji kepada Keive" ucap Maria.


"Untuk itu mama tak perlu khawatir. Kami akan menepati janji seperti yang terucap kepada Keive"


"Syukurlah, mama lega mendengarnya. Lidya sayang, kita pulang..."


"Ya, Ma..."


"Oya, kami nantikan kalian esok siang untuk santap di rumah..."


"Ya, Ma. Kami akan datang..." ucap Keive.


Kemudian empatnya pun melangkah meninggalkan tanah pekuburan dimana Keive terbaring dalam pusaranya. Walau sedih masih menggelayuti jiwa, namun paling tidak ada sebuah kelegaan bagi Maria, Lidya ataupun Arumi dan Mirza.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Senja di halaman belakang rumah. Arumi duduk pada rerumputan hijau. Separuh tubuhnya menyandar pada Mirza. Di tangannya tersimpan buku berwarna coklat gelap berisi catatan Keive.


"Kau akan membacanya sekarang...?"


"Ya. Aku penasaran. Apa yang Keive tuliskan tentang kita..."


"Kita atau kau?"


"Haha...cemburu ya?"


"Tentu saja. Istri ku sedang penasaran dengan catatan laki-laki lain..."


"Ah, sudahlah. Kita baca sama-sama ya..."


Pada buku catatan Keive...


Pada sebuah senja aku bertanya...


Siapakah gadis cantik yang berdiri di seberang jalan itu. Rambutnya hitam. Panjangnya menutupi sebagian seragam putih abunya. Em, tinggi tubuhnya diluar kebanyakan gadis-gadis. Ku taksir mungkin 150 cm saja. Wah, hati ku bergetar saat melihat beberapa anak laki-laki mengganggunya. Ingin rasanya aku mematahkan tangan mereka yang telah menyentuh rambut hitamnya. Atau menyumpal mulut mereka karena sudah mengatainya. Tapi apa daya ku, aku tak punya keberanian untuk itu...


🌻


*Pada malam aku mengadu...


Aku rindu...


Pada gadis yang telah ku temui senja tadi. Siapa dia. Bilakah aku menemuinya?


Aku rindu...


Pada gadis yang ku temui senja tadi.


Semoga aku bertemu dengannya esok*.


🌻🌻


Guys...


Setelah satu pekan tak melihatnya, siang ini aku melihatnya. Si gadis cantik 150 cm ku. Dia begitu dekat dengan ku. Wuih...jantung ku berdegup hebat. Serasa berloncatan, kegirangan. Kangen ku tiba-tiba saja menguap karena telah dapat melihatnya. Aku ingin menyapanya, tapi sayang seorang laki-laki baru saja memanggilnya. Aku pun gagal menemuinya. Pun demikian, akhirnya aku mengetahui namanya. Arumi itu namanya. Nama yang indah...


Arumi....❤️


🌻🌻🌻


Aku kangen. Sudah lebih dari dua bulan aku tak melihatnya. Ku coba datangi beberapa tempat yang pernah ia kunjungi, namun nihil. Aku tak dapat melihatnya.


Kemana gadis ku itu?


Malam....


Aku kangen. Aku mohon sampaikan salam kangen ku. Kangen yang sudah ku titipkan pada sang bayu*...


🌻🌻🌻🌻


"*Gila...!!" begitu ucapan seorang sahabat ku, Darian. Ia berucap demikian saat ku ceritakan rindu ku kepada Arumi. Gadis 150 cm yang sudah mencuri hati ku.


"Aku tak peduli..." begitu jawabku.


Arumi, apa aku salah jika tertarik pada mu? Mungkin aku sudah gila. Tapi itulah aku. Penuh dengan kegilaan..😜*


🌻🌻🌻🌻🌻


Puisi rindu tuk Arumi...


Rona senja telah menjingga


Warnanya membias melembut d iujung langit


Menyejukkan jiwa basuh segala asa


Hadirkan rindu dalam setiap mimpi


Disaat aku merindukan mu


Segala keindahan yang tercipta, telah memenuhi relung ku. Saat membayangkan gelak tawa mu yang ceria, atau mencoba melukiskan indah mata mu yang berbinar. Saat itulah risau jiwaku kian membuncah. Karena aku makin merindukan mu.


Purnama ini kau masih bak hilang di telan malam. Bilakah kita bertemu?


Arumi, aku merindukan mu*...


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Rasa ku pecah...


Siang tadi adalah hari pertama perkuliahan ku di semester ganjil ini. Semester lima.


Seorang gadis berlari kecil melintasi ku. Rambut hitamnya yang panjang tampak melambai ditiup angin lalu. Dengan tinggi tubuh yang berbeda dari kebanyakan orang membuat ku mudah mengenalinya. Dia Arumi. Arumi Hirata. Mahasiswi jurusan MB semester pertama, begitu cerita dari seorang teman.


Jantung ku seakan berlarian. *Jiwa ku berontak memintaku untuk segera menemui gadis yang setelah sekian purnama tak ku lihat. Tanpa sadar kaki ku melangkah mendekatinya. Hanya se-jangkauan lagi...


Astaga, seorang laki-laki bertubuh tegap dan tampan berdiri di sebelahnya. Mirza Adyatma.


Arumi Hirata...


Kita satu kampus...!


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Pelukis...


Selain cacian yang ia terima, ternyata pujian pun ia dapatkan. Arumi Hirata...Gadis 150 cm yang tangannya memiliki kekuatan ajaib. Ia pelukis, kawan...


Lukis aku donk....


Di hati mu..😜


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Gadis ku terluka...


Bak kehidupan yang selalu berpasangan


Hitam-Putih, positif-negatif, siang-malam, tawa-tangis, suka-duka, gadis ku terluka...


Seorang pembenci merundung nya. Ingin menodai kesucian gadisku. Merobek pakaiannya dna bermaksud menyebarluaskan..


Gadis ku terisak...


Aku berontak, sebagai laki-laki tentu aku tak terima. Ku ambil kayu dan membabi buta meyeranh si perundung.


Namun mata selalu tertuju pada sosok tampan berpenampilan perlente, Mirza Adyatma. Pengusaha muda sukses yang banyak digilai wanita.


Aku tertunduk di ujung jalan. Darah yang menetes dari lengan yang sobek karena sabetan belati tak ku hirau kan. Luka ku tak seberapa, hati ku yang terluka saat gadis ku di berada dalam dekapan laki-laki lain...


Sesungguhnya Gadis ku atau aku yang terluka. Entahlah...


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Setelah sekian lama aku kembali membuka buku catatan berwarna coklat gelap ini. Menilik kembali setiap goresan yang ada. Dan nama itu masih ada. Arumi Hirata...


Hari ini untuk pertama kalinya aku bertemu kembali dengannya. Doa masih gadis ku yang dulu. Cantik, ramah dan baik hati. Namun hati ku kian terluka ketika tahu ia telah menjadi milik laki-laki lain. Mirza Adyatma.


Apa daya ku...


Haruskah aku merebutnya? Ah, rasanya tak mungkin. Laki-laki itu adalah bak dewa bagi ku dan juga keluarga ku.


Apa daya ku...


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻*