150 Cm

150 Cm
Episode 76. Dua Pendekar



"Kita pulang, Sayang..." ucap Mirza sambil menggenggam tangan Arumi dan membawanya mengikuti langkahnya.


Berdua berjalan gontai menyusuri lorong MA Hospital sambil bergandengan tangan. Sesekali Mirza pun melepas genggamannya hanya untuk mendekap tubuh Arumi.


Sementara itu Dania dan William berjalan beriringan sedikit jauh dari Mirza dan Arumi. Di belakang keduanya tampak Elvano yang berjalan sendirian, alias jomblo. Hehe...


"Kau bahagia, Sayang..." ucap William.


"Tentu saja aku bahagia. Apalagi saat melihat anak laki-laki nakal kita sudah menemukan tambatan hatinya. Aku berharap keduanya bahagia sepanjang hayatnya..." ucap Dania.


"Perjodohan berujung bahagia..." ucap William.


"Ya. Tapi proses keduanya pun cukup panjang. Aku sempat pesimis. Apalagi saat Mirza menolak Arumi karena fisik..."


"Ah, itu hanya akal-akalan Mirza saja. ujung-ujungnya bucin juga.."


"Hehe....Jika aku mengingat bagaimana penolakan yang berubah jadi bucin jadi tertawa sekaligus bersyukur. Semoga keduanya bahagia selalu"


"Kita juga harus bahagia..." ucap William sambil mencolek dagu Dania.


"Ah, Papa. Mama malu nih ada Elvano dan Dewa tuh..."


"El, tidak lihat kok Ma. Haha..." ucap Elvano.


"Dewa juga tidak melihat, Nyonya. Hihi..."


"Papa nih..." ucap Dania sambil mencubit lengan William.


"Sakit, Ma..."


"Rasakan. Usil sih..."


"Tapi mama suka, kan?"


"Iya juga sih. Haha..." tawa Dania begitu bahagia terdengar. Diikuti William.


Sementara itu, langkah Arumi dan Mirza terhenti saat di basement. Keduanya memasuki mobil mewah yang sudah disiapkan Elvano.


"Nah, Nyonya besar...Mau kemana kita?" ucap Mirza sambil bergelayut pada kemudi. Matanya tampak menatap Arumi lekat.


Arumi tersenyum. Ia membalas tatapan Mirza sambil mengerling manja.


"Kemana pun suami ku pergi, aku akan menyertainya..."


"Baiklah, cantik. Bagaimana jika kita pergi berbulan madu saja...?"


"Em, deal.." ucap Arumi sambil tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada bahu Mirza.


"Good. honeymoon....let's go...!" ucap Mirza sambil melajukan mobil mewahnya.


Namun belum lagi separuh perjalanan dalam basement, sebuah mobil berwarna hitam memotong laju mobil Mirza. Suara cicit mesin pun terdengar mengisi udara. Arumi terlonjak dan kepalanya hampir saja membentur dashboard. Beruntung tangan Mirza berhasil menopang kepala Arumi hingga tak sampai menyentuh dashboard.


"Astaghfirullah....!" ucap Arumi.


Rasa terkejutnya sukses membuat degup jantungnya berlarian. Wajahnya pun berubah sedikit pasi.


"Kamu tidak apa-apa, sayang..."


"Bagaimana aku akan ada apa-apa, jika pahlawan ku ini selalu menjaga ku..." ucap Arumi berusaha setenang mungkin.


"Syukurlah. Fiuh...siapa yang berani bermain-main dengan Mirza Adyatma?!" ucap Mirza geram.


Ternyata tidak sampai di situ, dari arah belakang datang pula sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Mobil tersebut langsung berhenti tepat di belakang mobil Mirza.


"Keluarlah tuan Mirza...! Perhitungan kita belum selesai" ucap seorang laki-laki berwajah garang sambil mengetuk jendela mobil dengan kasar.


"Ow...ternyata begundal keparat satu ini yang berani bermain-main dengan ku..."


"Kak...." ucap Arumi sambil memegang lengan Mirza.


"Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja..." ucap Mirza sambil membuka pintu mobil.


Belum sempurna tangan Mirza menutup pintu mobil, laki-laki tadi sudah menghadiahi Mirza dengan pukulan pada bahu kirinya.


"Akh...!" pekik Mirza.


Arumi yang melihat itu tampak cemas. Namun, cemas itu berangsur memudar kala Mirza sudah bangkit lagi. Tangan kirinya diputar-putar untuk meminimalisir cidera. Mirza pun kemudian membalas pukulan laki-laki tersebut. Bukan satu tapi beberapa jurus telah ia kerahkan. Dan semua itu disaksikan Arumi dengan segala rasa kekagumannya. Terlebih saat Mirza melayangkan tendangan tanpa bayangan yang diakhiri dengan kaki terangkat lurus ke atas.


BUK..!


BUK...!


DUAK....!


Mirza melancarkan terus bergelut dengan jurus-jurus baik jurus serangan maupun bertahan. Kemudian di suatu kesempatan, Mirza sukses membuat laki-laki itu jatuh tersungkur. Susah payah laki-laki itu bangkit. Merasa terpojok, laki-laki itu memberi isyarat kepada beberapa orang bertubuh kekar lainnya. Melihat isyarat itu beberapa laki-laki itu pun langsung menghambur dan menyerang Mirza.


"Astaga...mainnya keroyokan. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus membantu kak Mirza..." ucap Arumi.


Tangannya mengepal hebat. Kemudian ia pun langsung keluar mobil dan berdiri tegak. Tatapan mata indahnya telah berubah tajam bak elang mengintai mangsa.


"Apa yang kau lakukan, sayang. Masuklah..." ucap Mirza saat melihat Arumi berdiri di dekatnya dengan memasang kuda-kuda.


"E, em..." jawab Arumi sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Arumi menghambur ke arena perkelahian. Ia pun sudah di sibukkan meladeni jurus demi jurus dari tiap laki-laki bertubuh kekar itu.


Untuk selanjutnya, berbekal sepotong kayu yang ia rampas dari tangan seorang laki-laki Gangster (sebut saja demikian), yang sebelumnya telah ia hadiahi tendangan tanpa bayangan, Arumi langsung melancarkan jurus-jurus mematikannya.


Dan kini Arumi dan Mirza telah saling berpunggungan. Sikap keduanya begitu waspada dalam kuda-kuda yang begitu kokoh.


HOS...!


HOS...!


HOS...!


"Senang bertarung didampingi oleh mu istriku sayang..!" ucap Mirza di sela buruan nafasnya.


"Aku pun senang suami ku. Anggap saja kita tengah honeymoon" jawab Arumi sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Haha...." tawa Mirza sejenak mengisi udara saat itu.


"Cih...! Romantisme yang sangat memuakkan...! Tapi pastinya kau bahagia Tuan Mirza karena akhirnya kau menemukan partner yang tepat. Benarkan, bukan...?!"


"Hah...!Jangan banyak bicara. Majulah. Aku akan segera mengakhiri hidup bahagia mu saat ini juga!"


"Haha....Taun Mirza, Jika kau mati, maka gadis mu itu akan menjadi milik ku. Kami akan menjadi pasangan yang luar biasa nantinya"


"Cih...! Aku tidak sudi berada di sisi mu. Jangankan bersama mu, melihatmu saja aku sudah muak...!"


"Perempuan bermulut besar...! Ku robek mulut mu...!"


"Berani kau menyentuhnya, ku hancurkan seluruh tubuh mu...!"


"Buktikanlah, Tuan Mirza...!!"


"Ciaaaatt....!!" teriak hampir bersamaan dari semua laki-laki yang bertubuh kekar itu.


Tak lama kemudian, olah jurus pun kembali terjadi. Mirza tersenyum, melihat istri yang begitu ia cintai berada di sisinya tengah berolah jurus. Mirza kembali di buat kagum oleh gadis 150 cm itu yang kini telah menjadi istrinya.


"Aku kembali jatuh cinta kepada mu, Ar. Bukan sekali ini saja, tapi sudah berulangkali sejak kita bertemu. Ya...kau telah membuatku jatuh cinta, Ar. Selamanya aku akan selalu mencintaimu..." batin Mirza.


Sementara itu, Arumi yang juga tengah mengolah jurus tampak sumringah. Di setiap jurusnya, jelas ada senyum yang menghiasi wajahnya. Sesekali matanya melirik Mirza yang begitu tampak sempurna. Terlebih dengan kemeja yang tampak sudah basah itu.


"Suka dan duka kita akan lalui bersama, Kak. Aku bahagia sekali..." batin Arumi.


Tinggal tiga orang lagi dari sepuluh orang gangster yang mereka jatuhkan. Mirza dan Arumi sudah merasa kelelahan. Hingga hal tersebut membuat keduanya lengah.


Sebilah belati tiba-tiba saja melayang. Belati itu mengarah pada Mirza. Beruntung Arumi yang terlebih dahulu tersadar akan datangnya bahaya, langsung mendorong tubuh Mirza hingga laki-laki tampan itu terjatuh.


"Arumi...!!" pekik Dania yang baru saja tiba di tempat kejadian.


"Kakak tidak apa-apa...?" tanya Arumi.


"Aku baik-baik saja, sayang..."


"Aish...Dasar laknat...!!" ucap Elvano sambil menghambur dan menyerang Gangster yang tersisa.


Dewa dan beberapa bodyguard pun menyusul Elvano. Dan pertikaian tak seimbang itu pun akhirnya dimenangkan Elvano and crew. Bersamaan dengan itu, petugas keamanan bersama kepolisian datang dan langsung membekuk gangster yang sudah tak berdaya itu.


Sementara itu, Mirza tampak cemas saat melihat tetesan darah dari bahu Arumi.


"Arumi..! Sayang...!" ucap Mirza.


Ia pun langsung membopong tubuh Arumi kembali ke dalam MA Hospital. Baru seperempat perjalanan team dokter dan perawat yang di hubungi Elvano datang menyongsong. Tampak Mirza diamuk amarah. Ia memutar tubuh dan melangkah cepat ke basement.


Mirza benar-benar diamuk marah. Dan dengan cepat ia melayangkan pukulan bertubi pada Darno, pimpinan dari pengeroyokannya beberapa saat lalu. Tak ayal lagi Darno yang sudah tak berdaya pun hanya pasrah menerima amukan Mirza.


"Berhenti, Tuan. Tenangkan diri mu..." ucap Dewa yang saat itu langsung memegang tubuh Mirza.


"Lepaskan...! Aku akan menghabisi bangsat itu!"


"Mirza...!!"


PLAK...!


Sebuah tamparan telak menghantam wajah Mirza. Siapa lagi jika bukan William pelakunya.


"Kendalikan diri mu...!"


"Pa...!"


"Sudahlah...! Istrimu lebih membutuhkan mu"


"Arumi..."


Bak tersihir dengan kata William, Mirza pun kembali bergegas menuju ruang VVIP. Langkah Mirza tak mampu disejajari William ataupun Dewa. Mirza bak terbang dibawa sang bayu.


Sampai di depan ruang operasi, Faaz tengah berdiri di depannya. Matanya langsung menatap Mirza yang berdiri penuh kecemasan.


"Bagaimana istri ku...?" ucap Mirza.


"Sedang di tangani.."


"Lalu mengapa kau di luar..."


"Sudah ada dokter yang lebih kompeten, Tuan..."


Mirza menghela nafas. Ia pun terduduk lesu pada sebuah kursi. Sementara mata gelapnya tiada henti menatap.pontu ruangan. Dania yang melihat itu tentu saja langsung menghampiri anak semata wayangnya itu.


"Sayang... bersabarlah. Kendalikan diri mu" ucap Dania.


"Semestinya Arumi membiarkan aku saja yang terkena belati itu. Aku lebih kuat menahan sakit daripada Arumi, Ma..."


Setiap istri pasti ingin melindungi suaminya, sayang. Begitu pun sebaliknya"


"Kita berdoa saja untuk kesembuhan Arumi..." ucap William yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah Mirza.


Mirza terduduk lesu. Peluh dan rasa lelah sudah tak ia rasakan lagi. Semua bak sirna termakan rasa cemas terhadap Arumi yang menggerayangi jiwa.