150 Cm

150 Cm
Episode 68. Wali Nikah



Lorong panjang menuju ruang perawatan VVIP telah berubah. Hanya dalam waktu tiga jam lorong itu telah dihiasi bunga-bunga cantik. Warnanya putih yang merupakan warna kesukaan Arumi dan Mirza. Bukan hanya itu sedikit keriuhan pun tengah mewarnai udara MA Hospital. Kabar tentang pernikahan mendadak pemilik MA Group itu dengan cepat menyebar dan menjadi buah bibir.


Tak hanya itu ada banyak pegawai perempuan yang juga merasakan kekecewaan karena pernikahan tersebut. Tak tanggung-tanggung #hari patah hati MA Hospital pun di luncurkan.


"Walah...tuan Mirza menikah. Sedih aku..." ucap seorang pegawai perempuan sambil terisak.


"Loh, patah hati toh. Emang kamu siapanya tuan Mirza?"


"Aku pegawainya..."


"Pegawai yang menjadi pungguk merindukan bulan. Hahah...."


"Ah, sialan. Yang pasti aku tidak rela tuan Mirza menikahi nona Arumi..."


"Emang ada masalah apa dengan non Arumi?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak rela saja..."


"Sungguh disayangkan. Laki-laki setampan dan se-tajir tuan Mirza harus menikahi gadis yang biasa-biasa saja..."


"Biasa-biasa bagaimana maksud mu? Nona Arumi itu justru luar biasa. Buktinya mampu menggaet hati bos kita itu..."


Begitulah obrolan beberapa pegawai perempuan MA Hospital yang menurut penulis tak penting untuk diketahui. Unfaedah. Hahaha....


Sementara itu, dalam ruang perawatan terlihat sedikit sesak. Kehadiran keluarga William, Keluarga Permana, keluarga Edward dan beberapa staf MA Hospital benar-benar membuat suasana semakin ramai. Mirza yang mengenakan koko putih tampak semakin tampan dengan peci berwarna hitam yang ia kenakan. Sumringah wajahnya menanti saat-saat yang paling membahagiakan itu.


"William..." panggil Permana.


Suaranya begitu parau. Sementara tangannya melambai lemah ke arah William. Tanpa ragu William pun menghampiri Permana yang terus menatap sayu setiap langkah William.


"Aku ingin bicara hal penting dengan mu..." lagi-lagi suara parau Permana terdengar.


"Edward Kemarilah..." panggilnya lagi.


"Aku ingin meminta maaf pada mu, Wil"


"Hal apa yang harus aku maafkan...?"


"William, aku sudah membohongi mu. Karena itu aku meminta maaf. Tapi sungguh tiada maksud hati ini untuk melakukannya. Bagi ku Arumi adalah putri ku satu-satunya. Putri yang luar biasa. Dan paling aku sayangi..."


"Aku tidak mengerti. Apa maksud mu...?"


"William...Aku tidak berhak menjadi wali nikah Arumi. Karena Arumi bukan anak kandung ku..."


"Apa...?!" ucap William.


Wajahnya benar-benar mengisyaratkan rasa terkejut yang luar biasa. Suaranya pun bak tercekat di kerongkongan. Tangannya terkepal hebat. Andai saja bukan pada situasi saat ini tentu ia akan mengayunkan lengannya langsung pada Permana. Mata William menatap Dania-istrinya yang berdiri tak jauh dari Mirza. Tangan Dania sendiri menggaet erat lengan Mirza. Rupanya ia pun tengah berusaha mendamaikan segala rasa yang tengah berkecamuk di hatinya.


"Za..." bisik Dania dengan suara bergetar.


Namun yang tak kalah terkejutnya adalah Edward. Ia sama sekali tidak menduga jika Permana akan langsung mengutarakan permasalahan tersebut dengan lugas.


KREEEK...!


BRAKK...!


Pintu ruang perawatan terbuka. Berdiri Arumi di ambang pintu. Matanya sudah basah dengan air mata. Rupanya pembicaraan singkat Permana sukses ia dengar dari balik pintu.


Arumi...!" ucap semua hampir bersamaan.


Hati Arumi benar-benar bergemuruh bak badai tengah berkecamuk. Arumi tak percaya bahwa laki-laki yang selama ini ia hormati dan sayangi bukanlah ayah kandungnya.


Bibir Arumi bergetar saat kata lirihnya meluncur. Matanya menatap wajah sendu Permana, meminta penjelasan.


"Kemarilah, Ndok..." ajak Permana.


Arumi masih terdiam. Katanya tergugu. Langkahnya tertahan. Arumi benar-benar kalut.


"Sayang...." bisik Mirza sambil mengusap bahu Arumi dengan penuh perasaan.


"Aku tak percaya, Kak..." ucap Arumi lirih.


"Kita dengar penjelasan ayah dahulu..."


"Apa kakak masih akan menerima ku? Sedangkan ayah ku pun menjadi tak jelas..." bisik Arumi.


"Aku tak peduli, Ar..." ucap Mirza.


Ia tersenyum. Hatinya beriak karena sesungguhnya ia tahu siapa ayah kandung Arumi.


"Ndok, memang benar kau bukan anak kandung ku. Tapi aku tak mempedulikannya selama ini. Kau adalah anak ku satu-satunya sampai kapan pun. Memang benar ayah pernah menelantarkan mu untuk beberapa waktu. Dan itu menjadi penyesalan terdalam ayah hingga saat ini..."


Suara Permana makin bergetar. Bahkan hampir tak mampu berkata. Matanya telah dikerumuni air yang makin lama makin ramai. Lain halnya dengan Arumi yang sejak tadi sudah berurai air mata. Tubuh tambunnya berguncang menahan isaknya. Arumi belumlah percaya atas apa yang diutarakan Permana.


Sesaat kemudian, di sela isaknya Arumi meluncurkan sebuah pertanyaan yang membuat hati beriak.


"Lalu siapa ayah kandung Arumi, Yah..." ucap Arumi lirih berusaha tenang.


"Ndok... maafkan, ayah. Karena baru sekarang ayah sanggup mengutarakan. Jika bukan karena masalah hukum agama, tentu akan ayah simpan hingga ayah mati dan tetap akan menjadi rahasia..."


"Ayah...." ucap lirih Arumi sambil memeluk Permana yang terbaring.


"Edward...Kemarilah" ucap Permana.


Deg.


Arumi terkesiap mendengar nama Edward tersebut walau terdengar parau dari bibir yang bergetar. Suasana menjadi hening. Matanya tak henti menatap mata gelap Permana yang tampak sayu. Sementara itu, Edward yang semula menjauh kini kembali mendekati brankar dimana Permana terbaring.


"Aku titipkan Arumi pada mu. Ikhlaskan hati mu untuk menjadi wali nikahnya..." ucap Permana terbata.


Semua mata menatap laki-laki bertubuh tegap itu. Laki-laki yang usianya tak jauh berbeda dari Permana.


"Ayah...." panggil Arumi lirih.


"Ndok, Edward adalah ayah kandung mu..."


Deg.


Arumi lagi-lagi terdiam. Matanya tajam menatap Permana. Sementara tubuhnya hampir gigil menahan segala rasa yang berkecamuk.


Pada situasi tersebut, Edward sendiri tak menunjukkan reaksi berlebih. Ia hanya terdiam. Hanya matanya saja yang menatap penuh perasaan Arumi dan Permana bergantian.


"Sapalah papa mu, Ndok..." ucap Permana.


Tangannya terangkat lemah. Ujung jarinya mengarah pada Edward yang masih termangu.


Perlahan Arumi mengalihkan pandangannya pada Edward. Matanya sudah dipenuhi air kembali.


"Semua bermula dari kesalahan Papa, Ar. Papa yang menyebabkan ibu mu pergi. Dan membawa mu pergi saat kau berusia beberapa minggu. Saat itu kau masih dalam kandungannya. Papa pun baru mengetahuinya saat membaca buku harian ibu mu. Maafkan papa, Ar..." cerita Edward berusaha meyakinkan Arumi.


"Apa Arumi masih ragu? Maafkan kakak Ar. Saat itu secara diam-diam kakak mengambil sehelai rambut mu. Dan untuk meyakinkan papa, maka kami melakukan tes DNA. Hasilnya ini..." ucap Ryu yang semula dinoktahkan sebagai kakak satu ibu, lain ayah.


Tangan Arumi bergetar saat meraih sebuah amplop berwarna putih itu. Perlahan Arumi membukanya. Dan matanya bergerak cepat memaknai setiap deret kalimat yang tertera. Hingga pada sebuah kesimpulan....


"Hasil analisa menunjukkan bahwa 13 alel loci marka STR terduga Ayah (Edward Wihelman) cocok dengan alel paternal dari anak Arumi Hirata). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas terduga Ayah sebagai ayah biologis dari anak adalah 99,99%. Oleh karena itu terduga Ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis anak..."


"Jadi....Papa adalah ayah kandung Arumi?" ucap Arumi terbata.


"Ya, Ar. Papa minta maaf. Semua papa yang salah. Sebagian cerita hidup papa, Arumi sudah mengetahuinya. Dan untuk apa papa kembali ke tanah air pun, Arumi mengetahuinya. Maafkan papa..." ucap Edward.


Tangan Edward langsung menarik Arumi ke dalam dekapannya. Air mata Edward meluncur deras tak terbendung lagi. Hatinya sungguh beriak. Segala rasa kini benar-benar bercampur, hingga Edward sendiri sulit memaknainya.


Sementara itu, Arumi yang dalam dekapan Edward tak memberikan reaksi apa pun. Ia hanya diam. Tiada kata yang sanggup ia lontarkan. Arumi gamang. Arumi tidak tahu harus berbuat apa ataupun harus bereaksi seperti apa. Sedihkah atau bahagia kah? Hanya air matanya saja yang kian deras.


Tak lama kemudian, Edward pun mengurai dekapannya. Tangannya memegang bahu Arumi sambil menatap lekat wajahnya. Tiada riasan lagi di sana. Hanya lelehan air mata yang sempat di sapu tangan Edward.


"Arumi..." ucap Edward.


"Arumi...!" ucap semua hampir bersamaan.


Hal tersebut bertepatan dengan limbungnya tubuh Arumi. Dengan cekatan Mirza menangkap tubuh Arumi. Tubuh tambun itu benar-benar lunglai. Matanya terpejam. Arumi benar-benar shock atas kabar yang ia terima.


Semua menjadi panik. Ditengah kepanikan itu, Mirza yang berhasil menangkap tubuh Arumi, langsung mengangkatnya. Mirza pun merebahkan tubuh gadis itu dengan hati-hati pada sebuah sofa berwarna putih. Ia begitu khawatir atas kesehatan gadis yang amat ia cintai itu. Gadis yang mestinya sudah ia nikahi beberapa saat lalu.


"Maafkan ayah, Ndok..." ucap Permana lirih yang ditemani Sonia.


Mata Mirza menatap sendu saat Faaz berusaha membantu memulihkan kesadaran Arumi. Ada rasa cemburu yang mulai merajai hatinya saat melihat kekhawatiran tergambar di wajah Faaz.


Tak lama, Arumi pun membuka perlahan matanya. Tatapannya langsung terkunci pada sosok cantik di hadapannya.


"Ma...." panggilnya kepada Dania.


"Anak gadis mama..." ucap Dania sambil memeluk Arumi yang kini sudah terisak kembali.


"Apa mama masih berkenan menerima Arumi?"


"Tentu saja, sayang. Hal yang terjadi ini tidak mempengaruhi penilaian mama terhadap mu. Siapa pun ayah mu, yang jelas kepribadian mu tetaplah sama dan selalu baik di mata mama..."


"Terima kasih, Ma..."


"Ar, tidak bisakah pernikahanmu di mulai?" ucap Permana terbata.


"Keputusannya ada pada kak Mirza..." ucap Arumi.


"Pa..." ucap Mirza seakan minta persetujuan William.


"Keputusan ada di tangan mu..." ucap William.


Mirza terdiam. Matanya menatap Arumi lekat. Dan senyum khasnya pun terbit dari ujung bibirnya.


"Saya tidak ada sedikitpun pemikiran untuk membatalkan pernikahan ini. Terlepas dari siapa yang menjadi wali nikah Arumi" ucap Mirza.


"Alhamdulillah..." ucap semua hampir bersamaan.


"Kalau begitu kita siapkan Arumi kembali ya..." ucap Dania sambil memeluk calon menantunya itu.