150 Cm

150 Cm
Episode 44. Dalang Penyebar Berita Hoax



Sementara itu mata Mirza menatap gamang pada Arumi. Ia belum mempunyai kata yang tepat untuk membeberkan isi pembicaraannya dengan Faaz.


"Ada apa, Kak?"


"Kamu cantik, sayang..."


"Egh...."


Mata Arumi menatap Mirza dengan wajah sedikit memerah. Sepertinya Arumi berusaha memberanikan diri melakukan hal itu.


"Sungguh...Kau cantik sekali"


"Kakak tidak bercanda kan? Arumi ini jauh dari kata cantik. Lihat saja tinggi Arumi hanya 150 Cm, belum lagi berat badan Arumi yang 60 kg. Apa iya, cantik...?"


"Bagi ku, kau cantik. Paling cantik sedunia..."


"Ah, gombal...!" ucap Arumi sambil bangkit dan bermaksud menuju wastafel.


Namun niatnya menjadi urung saat Mirza berhasil meraih tangannya dan menariknya. Tak ayal lagi tubuh Arumi menjadi limbung dan jatuh tepat pada pangkuan Mirza. Situasi itu tak disia-siakan Mirza. Ia langsung mendekap erat tubuh Arumi. Tapi lagi-lagi Mirza merasakan kejanggalan.


"Aneh, mengapa Arumi terasa ringan. Bukankah berat tubuhnya tak kurang dari 60 kg?" batin Mirza.


"Gawat jika kak Mirza menyadari situasiku. Aku harus secepatnya beralih dari pangkuannya" batin Arumi.


Bersamaan dengan itu, Arumi langsung menarik diri dari pangkuan Mirza. Dan hal tersebut tentu saja membuat Mirza terkesiap.


"Ada apa? Aku kan hanya memeluk mu, tidak macam-macam"


"Aku takut keterusan. Bisa berabe urusannya..."


"Hahaha... Ada-ada saja. Tidaklah sayang"


"Siapa tahu saja..."


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Ya, Darius..."


"Tuan, kami sudah mengamankan dalang penyebar berita. Sekarang ada di markas.


"Baik. Saya menuju markas"


Tut.


Tut.


Tut.


Sambungan percakapan itu pun terputus. Dahi Mirza mengernyit. Ia tengah berusaha mencari kata untuk menjelaskan pada Arumi.


"Em, Ar. Kamu tahu tidak siapa dalang penyebar berita kita di kampus atau mungkin di media online?"


"Tidak, Kak..."


"Apa kau tidak penasaran untuk mengetahuinya?"


"Bukankah sudah selesai...?"


"Selesai bagaimana? Aku saja baru memulainya. Aku ingin menyelesaikannya hingga tuntas. Dan aku tidak bermaksud sama sekali melepaskan dalangnya. Pers conference kemarin sebagai awal saja. ..." ucap Mirza dengan kilat mata yang sedikit membuat Arumi bergidik saat menatap Mirza.


"Em, Arumi memang penasaran. Tapi tidak sampai ingin mengetahuinya orangnya secara langsung, apalagi sampai membalas dendam"


"Kamu memang gadis yang baik, Arumi. Sekali lagi aku jatuh cinta pada mu..." batin Mirza.


"Jika Arumi ingin, aku akan menunjukkan pelakunya? Ya...tanpa harus balas dendam. Aku hanya ingin mengetahui motif dibalik aksinya itu"


.


.


.


Arumi terdiam. Sepertinya Arumi tengah menimbang segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dan ada rasa penasaran yang menggelitik hatinya.


"Baiklah. Arumi ikut..."


"Good. Sesudah sholat Dzuhur kita berangkat..."


"Ok dech, Kakak...!" ucap Arumi yang membuat Mirza tersenyum dengan sebelah tangannya mengusek pucuk kepala Arumi.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul satu lewat lima belas menit. Setelah melaksanakan sholat Dzuhur, Mirza dan Arumi keluar ruangan. Beberapa pegawai yang mereka lalui menatap Mirza yang berjalan santai di sebelah Arumi. Sekali waktu mereka menjura takzim saat Mirza menangkap tatapan menyelidik pegawainya itu.


Tak lama kemudian, mobil sport silver Mirza sudah melaju dan melesat bak anak panah terlepas dari busurnya. Selama perjalanan tidak ada Perbincangan sedikitpun yang terjadi. Keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengan dalang penyebar berita hoax itu? Apa aku harus mencakar-cakarnya? atau memenjarakannya? Karena sesungguhnya aku pun sangat marah. Tapi setelah aku fikir, untuk apa? Ah, semua ku serahkan pada mu ya Robby. Kun fayakun..." batin Arumi.


Hampir tiga puluh menit berkendara. Akhirnya keduanya sampai pada tempat yang dituju. Tempat yang disebut markas. Tempat para bodyguard keluarga William berkumpul.


"Kau ingat tempat ini?"


"Tidak. Apa Arumi pernah ke tempat ini..."


"Sesaat setelah kau mengalami percobaan penculikan bersama Darius di jalan VWX di kilometer dua belas, aku sempat membawa mu kesini. Tapi memang kondisi mu tengah terlelap saat itu. Jadi wajar jika kau tidak mengetahuinya..."


Arumi mengangguk sambil melangkah menuju sebuah ruangan.


"Za..." Sapa Elvano yang ternyata sudah duduk di sofa.


"Cepat juga kau, El..."


"Hehe....Sebelah sini, Bro" ucap Elvano sambil melangkah mendahului Mirza dan Arumi.


Arumi jadi gelisah saat berdiri di depan sebuah pintu berwarna gelap. Langkahnya mendadak begitu berat. Keringat dingin pun mengembun di dahinya.


Melihat kegugupan Arumi, Mirza menggenggam tangan Arumi erat. Matanya menatap wajah Arumi yang saat itu tengah mendongak menatap Mirza lekat.


"Jika tidak ingin, maka jangan lakukan..."


"Apa kau sudah mempunyai prediksi sebelum ini?"


Arumi menggeleng lesu. Dan kemudian ia mengeratkan genggamannya pada lengan Mirza.


KREEK....


Bunyi derit pintu terbuka membuat hati Arumi berdesir. Matanya langsung menangkap sosok yang tengah duduk di kursi kayu. Arumi belum mengenalinya karena pencahayaan dalam ruangan lumayan minim.


Kemudian Arumi mengekori langkah Mirza yang begitu panjang di depannya. Laki-laki tampan itu sepertinya tidak terpengaruh sedikit pun dengan situasi disekitarnya saat itu.


"Pak Mirza..." suara seorang perempuan terdengar sedikit bergetar saat menyadari kehadiran Mirza.


"Apa kabar Shereen? Kita bertemu lagi. Sepertinya kau lupa dengan kata-kata ku beberapa waktu lalu..."


"Shereen...?" ucap Arumi terkejut. Kepalanya langsung menyembul dari balik punggung Mirza.


"Jadi kau yang menyebarkan berita palsu di kampus? dan bergosip di media berita online tentang aku? Kenapa?!" tanya Arumi.


"Karena aku tidak rela gadis abnormal sepertimu berhasil menaklukkan hati laki-laki seperti Mirza Adyatma. Kau tidak sesuai, Ar. Kau beda kelas"


"Picik sekali fikiran mu, Shereen. Yang menentukan sesuai atau tidak itu aku. Bukan kau atau orang lain. Aku mencintai Arumi apa adanya. Karena aku sudah menemukan banyak kelebihannya, diantaranya ia mampu membuat ku nyaman. Apa kau tidak mengerti juga?'


"Mirza...Mirza. Sekarang saja kau berkata demikian. Rupanya kau telah lupa bagaimana sikap mu dahulu terhadap Arumi. Hahaha..." batin Elvano.


"Aku tersanjung, Kak. Terima kasih kau mau menerimaku apa adanya..." batin Arumi.


"Ada lagi yang menjadi penyebab kau melakukan ini semua?"


"Karena aku cemburu. Kau lebih memilih Arumi ketimbang aku yang sudah lama mencintaimu...! Apa aku kurang cantik? Kurang ****?!" ucap Shereen tanpa embel-embel Pak atau yang lainnya.


"Ow, jadi karena cinta mu yang tak terbalas kau sanggup melakukan ini semua?!" ucap Elvano.


"Ya...!!"


"Shereen, sudah ku katakan cinta ku tidak seperti yang kau fikirkan. Mungkin kau akan sulit memahaminya..."


"*Mirza, mungkin kau tidak tahu bahwa ak*u juga ingin membalas sakit hati kakak perempuan ku walau beda ibu, Andrea. Andrea yang telah kau campakkan..." batin Shereen.


"Bagaimana jika kau yang berada di posisi, Arumi?"


"Itu tak kan pernah terjadi dikehidupan ku?"


"Hahaha...." semua tertawa mendengar pernyataan Shereen tersebut.


"Tenang, aku yang akan membuatmu seperti berada dalam posisi Arumi saat ini" ucap Elvano di sela tawanya.


GLEKK...


Shereen menelan saliva lekatnya dengan susah. Matanya menatap Elvano dengan kecut.


"Kau tahu akibat dari perlakuan mu itu?"


"Akibatnya tentu saja menjadi tujuanku. Aku ingin Arumi malu hingga keluar rumah saja tak sanggup. Dan akhirnya memilih mati...!" ucap Shereen sedikit melunak.


"Sayangnya tujuan mu tidak tercapai. Karena aku bukan gadis seperti itu. Walau aku tak sempurna seperti dirimu tapi aku masih mempunyai cukup akal sehat untuk menilai setiap perilaku baik dan buruk. Kau gagal, Shereen. Kau gagal..."


Hiks.


Hiks.


Hiks.


Shereen menangis. Wajahnya mulai dibasahi bukit bening yang baru saja terjun bebas.


Melihat tangis Shereen, Arumi terenyuh. Bagaimana pun juga Shereen adalah teman kuliahnya.


"Apa yang akan kalian lakukan kepadaku Serahkan saja aku pada polisi agar aku dipenjara...!"


"O...Aku memang orang yang taat hukum, tapi untuk kasus tertentu. Dan untuk kasus ini, aku rasa tidak akan semudah itu. Aku tidak akan menyerahkan mu ke polisi"


"Lalu apa mau mu?"


"Sama seperti yang pernah Andrea lakukan kepada Arumi dahulu..." bisik Elvano dekat telinga Shereen.


Deg.


Shereen kecut. Wajahnya pasi.


"Da-darimana kau tahu jika aku...."


Elvano tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"El, kerjakan sesuai rencana..."


"Siap, Tuan..." ucap Elvano sambil berisyarat kepada Darius dan Dewa.


Darius dan Dewa pun langsung membawa Shereen pada sebuah tempat tidur. Shereen meronta hebat.


"Apa yang akan kalian lakukan padaku? Ku mohon jangan lakukan" ucap Shereen mengiba.


Shereen benar-benar kacau. Bahkan hampir putus asa. Segala bujuk rayu telah ia lontarkan, namun semua menjadi sia-sia saat Darius dan Dewa tak menggubrisnya dan justru membuatnya tak sadarkan diri.


"Apa yang akan kalian lakukan.." ucap Arumi yang saat ini tengah berdiri menghalangi Darius dan Dewa.


Melihat situasi itu Mirza mendekati Arumi dan merengkuhnya.


"Kita keluar, sayang. Nanti aku jelaskan di luar..."


"Tidak...! Aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan kepada Shereen. Dan kuharap itu tidak merugikan siapa pun. Karena aku tidak akan pernah memaafkan kalian..."


"Baiklah..." ucap Mirza sambil berlalu meninggalkan ruangan diikuti Elvano dan Darius.


Dewa menatap Arumi yang berdiri tak bergeming sedikitpun. Decak kagum pun terbit di ujung hatinya.


"Pantas saja Tuan Mirza begitu mencintai Non Arumi. Di samping kekurangannya, Non Arumi memiliki kelebihan yang jarang di miliki gadis lain pada zaman sekarang yaitu kepedulian terhadap orang lain, walaupun itu orang yang bermaksud mencelakainya..." batin Dewa.


"Wa, cepat buka pakaian atas mu itu. Jarang-jarang kau jadi model. Model mesum lagi..." ucap seorang perempuan yang bertubuh tegap dan terlihat sedikit berbeda pada perempuan kebanyakan


"Model mesum?! Apa maksud kalian...?!" ucap Arumi penasaran. Suaranya sedikit meninggi.


To Be Continued....