150 Cm

150 Cm
Episode 64. Satu Jam Terasa Setahun



Mobil sport silver kembali melaju menyusuri jalanan yang masih tampak ramai. Dan kini Mirza lah yang sudah mengambil alih kendali atas mobil mewahnya setelah Elvano turun di apartemen miliknya. Mata elang milik Mirza begitu tajam menilik jalanan yang ternyata sedikit basah oleh guyuran hujan sesaat.


"Berbicaralah, Arumi. Mulailah..." batin Mirza.


Ekor mata Mirza mengarah pada Arumi yang duduk di sebelahnya.


"Sayang..." ucap Mirza mengakhiri diamnya. Ia mengalah dan membuka perbincangan.


"Emm..." gumam Arumi.


Mata Arumi tak bergeming menatap langit yang tak berbintang.


"Kau baik-baik saja, Ar?"


"Ya..." jawab singkat Arumi tanpa menatap Mirza.


"Syukurlah, aku sempat khawatir. Terlebih saat berpapasan di galeri, kau lari menghindari ku"


Deg.


Arumi sontak menyarangkan tatapannya pada Mirza yang masih fokus pada jalanan. Arumi menilik wajah tampan Mirza dengan lekat. Ia mencari ekspresi yang mungkin ditampilkan wajah tampan itu.


"Mengapa tiba-tiba kak Mirza menanyakan hal itu lagi? Aku mengira ia sudah tidak mempersoalkannya lagi. Hadeeuh...aku harus jawab apa seandainya ia mendesak jawabanku?" batin Arumi.


"Aku hanya terburu-buru. Vanya sudah menunggu ku untuk merapikan kamar kakak yang kami pinjam. Hehe..." ucap Arumi diakhiri dengan tawa yang canggung.


"O...aku kira ada apa. Syukurlah..."


"Terima kasih kakak sudah memperhatikan ku"


"Bukan memperhatikan, tapi peduli. Aku mencintaimu, Ar. Tak mungkin aku membiarkan sesuatu terjadi pada mu..."


"Ya, kakak ku yang tampan sedunia"


"Ah, gombal. Eh, tumben kau menggombali ku?"


"Bukan gombal. Tapi kenyataan..."


"Oya. Haha..."


Sebelah tangan Mirza lagi-lagi mengusek pucuk kepala Arumi di sela tawanya yang sukses menambah ketampanan wajahnya. Sebuah perlakuan yang selalu membuat hati Arumi mencair bak es di puncak Himalaya.


Pun demikian, sesungguhnya ada riak yang tengah bermain di dalam hati Arumi. Riak yang mengisyaratkan kegamangan kian membuncah. Arumi tengah menghadapi sebuah dilema. Ia tengah mencari cara bagaimana mengakhiri sandiwaranya.


"Kau baik, Kak. Aku tak tega jika terlalu lama membawamu larut dalam permainan konyol ku. Karena itu aku harus mengakhirinya. Tapi bagaimana caranya. Ah, aku benar-benar terjebak dalam permainan ku sendiri. Benar kata ayah. Ya, Tuhan...tolong aku?" batin Arumi.


Langit masih tanpa bintang. Walau sudah tiada hujan lagi, namun sepertinya bintang masih berdamai dengan kabut. Sehingga bintang memilih tetap bersembunyi dibalik pekatnya malam.


Sementara itu, mobil sport silver milik Mirza sudah terparkir di depan kediaman keluarga Permana. Mirza pun segera keluar dari mobil mewahnya. Ia mengitari body mobil dan membukakan pintu untuk Arumi. Mirza mengurai senyum khasnya saat melihat Arumi yang juga tengah tersenyum menatapnya.


"Em, sayang...aku ingin berbincang banyak dengan mu. Tapi ini sudah malam. Kau pasti lelah. Mungkin di lain waktu kita bisa berbincang lagi" ucap Mirza sambil menggenggam erat jemari Arumi.


"Arigatō gozaimashita...." ucap Arumi sambil sedikit men-jurakan tubuhnya. (Terima kasih banyak atas bantuannya).


"Doita shimashite..." (Terima kasih kembali)


Arumi tersenyum dan langsung memutar tubuhnya. Arumi melangkah meninggalkan Mirza yang masih berdiri menatapnya.


"Em, Ar...!" panggil Mirza.


Sadar namanya disebut laki-laki yang sudah membuat hatinya berbunga, Arumi pun menghentikan langkahnya. Arumi pun kembali memutar tubuhnya dan mendapati Mirza yang tengah melangkah setengah berlari.


"Aku ingin kita bertemu esok pagi. Kita sarapan bersama. Aku akan menjemputmu. Bagaimana?"


"Baiklah..." ucap Arumi sambil tersenyum.


"Dōmo..."


"iie..."


"Selamat malam. Mimpi indah..." ucap Mirza sesaat sebelum Arumi berlalu.


"Ar..." panggil Mirza lagi.


Arumi pun kembali menghentikan langkahnya. Dan kembali menatap Mirza dengan mata yang membulat sempurna.


"Bolehkah aku memelukmu? Sebentar saja..." pinta Mirza.


Arumi pun mengangguk perlahan, mengiyakan permintaan Mirza. Melihat gadis bertubuh tambun dengan tinggi hanya 150 cm itu mengangguk malu-malu, Mirza pun langsung melakukan maksudnya tersebut.


Ya...Mirza mendekap erat Arumi. Dan sesekali mengecup lembut pucuk kepala Arumi.


"Ya, Tuhan. Mengapa aku mengiyakannya? Bagaimana rupa wajahku saat ini? Pasti malu sekali..." batin Arumi.


"Aku mencintaimu, Ar. Aku mohon kau tidak akan pernah pergi dari ku"


"Sudah, kak. Sudah malam..." ucap Arumi berusaha mengakhiri dekapan Mirza.


Arumi pun berlalu dengan langkah cepat. Ia ingin segera menyembunyikan warna kemerahan di wajahnya.


"Apa jawaban mu...?!" teriak Mirza.


"Ya....!"


"Ya, apa...?!"


"Aku juga mencintai mu...!"


"Yes...!" ucap Mirza.


Tangannya mengepal ke udara. Sebentar kemudian dia berjingkrak-jingkrak bak pemenang lotre dadakan.


"Kak Mirza... ada-ada saja" batin Arumi seiring langkahnya yang kian cepat menyusuri anak tangga menuju kamarnya.


BRUKK....!


Arumi menutup pintu kamarnya. Ia berdiri dan bersandar pada daun pintu. Matanya terpejam. Sementara nafasnya turun naik dengan cepat. Sekali waktu ia menutup wajah dengan kedua tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kakinya pun menghentak berulangkali dengan manja.


"Kak Mirza... Ya, ampun" ucap Arumi.


Arumi melangkah cepat dan diakhiri dengan menghempaskan tubuh ke atas kasur. Dengan gaya ulat keket berjalan, tubuh Arumi menggeliat tak menentu. Hatinya beriak bahagia. Bahkan wajahnya memerah saat teringat polah Mirza barusan. Arumi kembali tak menduga, jika seorang Mirza Adyatma bisa melakukan hal seperti itu.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi berpendar beberapa kali. Sadar ponselnya berpendar Arumi langsung menerimanya.


"*Assalamu'alaikum...?"


"Wa'alaikumussalam*...."


"Belum tidur, Ar...?


"Belum, Kak. Kakak sendiri masih terjaga. Apa kakak belum sampai di rumah?'


"Aku baru saja sampai. Em, ini sedang menaiki tangga menuju kamar"


"O...Ada apa kakak telfon?"


"Kangen..."


"Ka-kangen...?"


"Ya, kangen..."


"Tapi bukankah kita baru saja bertemu..."


"Kapan...? Itu setahun yang lalu"


"Se-setahun yang la-lalu...?"


"Ya. Bagiku satu jam serasa setahun..."


"Ish, Kakak. Bisa ae..."


"Kenapa? Memang Arumi tidak kangen?"


.


.


.


.


Arumi terdiam. Matanya terkunci pada onggokan pakaian penambah berat badannya. Kemudian rasa bersalah pun tiba-tiba saja terbit di ujung hatinya. Mata Arumi terpejam. Bibir bagian bawahnya berada diantara deret gigi putihnya.


"Ya, Tuhan... sepertinya aku benar-benar terjebak dalam permainan ku sendiri. Maafkan aku, Kak...?" batin Arumi.


"Sayang...ada apa?" tanya Mirza berulangkali.


"Oh, tidak ada apa-apa"


"Mengapa Kau tidak menanggapi pertanyaan ku tadi..."


"Pertanyaan....? Yang mana?"


"Aish...dasar pikun. Ternyata memang benar otak kecil mu tak mampu menyimpan banyak informasi"


"Hei...!!"


"Bercanda, sayang. Kalau begitu ya sudahlah. Selamat beristirahat. Jangan bermimpi tentang aku. Aku takut aku tertinggal dalam mimpi mu hingga tak dapat menyata dalam hidup mu..."


"Kakak...."


"Ya, sayang...."


"Terharu..." ucap Arumi sedikit manja.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidup ku..."


"Em, apa kakak tidak malu punya kekasih seperti ku?"


"Seperti apa? Dulu aku memang pernah salah. Tapi itu dulu. Sekarang aku suka Arumi yang apa adanya. Aku suka semua yang ada pada Arumi. Aku mencintai mu, Ar. Gadis 150 cm ku. Gadis tambun ku. Aishiteiru, Ar.."


.


.


.


Suasana menjadi hening. Tiada jawaban dari Arumi.


"Ar...Sayang" panggil Mirza berulangkali.


Mirza pun menelengkan kepalanya sambil melihat ponselnya yang masih terhubung dengan Arumi. Dan mendadak senyum Khas Mirza mengembang saat menyadari perubahan mode pada ponsel Arumi. Yuph... ada bunyi suara di ujung telepon. Suara dengkuran yang cukup halus milik Arumi.


"Ya, Tuhan...aku bicara panjang lebar. Eh, dia malah tertidur. Ada-ada saja. Tapi ah biarkan saja. Aku yakin dia cukup lelah setelah acara pagelaran siang tadi. Selamat tidur, sayang..." gumam Mirza.