150 Cm

150 Cm
Episode 46. Ayah....



"Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa secara sembunyi-bunyi yang dipanjatkan untuk orang lain." – Ibnu Taimiyyah


Sementara itu, satu jam sebelum Arya menghubungi Arumi. Tepatnya di kediaman keluarga Permana. Saat ini tangis Sonia---istri kedua Permana tengah pecah. Terutama saat pak Muslim---security membawa tubuh Permana ke dalam mobil.


Langkah Sonia begitu cepat mengiringi. Ia pun langsung menyertai Permana menuju MA Hospital. Sepanjang perjalanan, Sonia tak mampu membendung tangisnya. Isak nya benar-benar menggambarkan kekhawatiran yang mendalam.


Kemudian tak butuh waktu lama, Mereka pun sampai di MA Hospital. Dokter dan perawat langsung menyambut Permana. Mereka membawanya ke ruang tindakan.


Duduk tak tenang Sonia pada sebuah kursi didampingi Arya yang berusaha menenangkan perempuan yang sudah melahirkannya itu.


"Mi, tenanglah. Ayah pasti baik-baik saja..."


"Kamu tidsk mengerti, Arya. Dia adalah laki-laki yang sangat mami cintai. Dia cinta pertama dan terakhir mami..."


"Mi...!"


"Maafkan Mami, Arya. Tapi itu kenyataannya. Papi mu adalah laki-laki yang sudah menikahi mami, tapi keberadaannya tidak berhasil membuat mami jatuh cinta. Pernikahan kami hanya sebuah kesepakatan untuk keberhasilan bisnis kedua keluarga..."


Arya terdiam. Hatinya benar-benar gerimis kini. Ternyata dirinya adalah hasil dari sebuah kesepakatan bisnis belaka.


"Tapi jangan salah faham. Mami sangat menyayangi dan mencintai kalian, anak-anak mami" ucap Sonia sendu.


"Arya mengerti, Mi. Ayah adalah sosok yang jauh lebih cocok menyandang gelar suami dari seorang istri ataupun ayah bagi anak-anak ketimbang papi. Arya baru merasakan mempunyai seorang ayah setelah mami menikah dengan ayah Permana"


"Sayang...terima kasih"


Arya kembali tersenyum. Tangannya mengusap punggung tangan Sonia dan menciumnya. Namun kemudian, Arya seakan teringat sesuatu. Sebelah tangannya merogoh kantong celananya dan menarik sebuah benda pipih berwarna hitam.


"Arumi, Mi. Kita belum memberitahunya..."


"Astaghfirullah...ya, Nak. Cepat kamu hubungi"


Drrt.


Drrt.


Drrt.


"Assalamu'alaikum, Kak..."


Terdengar suara di ujung telepon.


"Ar...Ayah. Ayah..." ucap Arya gagu. Suaranya sedikit bergetar dan parau. Arya tak sanggup memberitahukan keadaan laki-laki yang kini sudah menjadi ayahnya itu kepada Arumi.


"Ada apa dengan Ayah, Kak?" ucap Arumi mulai panik.


"Ayah...Ayah..."


"Kak Arya...! Cepat katakan...!"


Tut.


Tut.


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Arya panik. Berulangkali kali ia mencoba menghubungi Arumi kembali, namun gagal.


"Ada apa, Arya..."


"Terputus. Signal sepertinya. Em, Arya kirim pesan saja ya, Mi..." ucap Arya yang langsung diamini Sonia.


"Ar, ayah di MA Hospital. Kamu dimana?" isi pesan Arya.


"Bagaimana...Terkirim?"


"Ceklis satu..."


"Mungkin saat signal normal, pesan mu akan terkirim"


"Semoga secepatnya..."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Kak, ayah di MA Hospital. Kita langsung ke sana, ya..." ucap Arumi sesaat setelah membaca pesan yang dikirim Arya.


Mirza pun mengangguk. Matanya menatap mata indah yang tengah berkaca-kaca itu. Mirza tahu betul bagaimana perasaan Arumi saat ini. Sedih pasti, khawatir sudah jelas. Namun Mirza berharap khawatir dsn sedih Arumi segera berlalu. Terselip doa untuk kesembuhan calon ayah mertuanya itu :


"*Allahumma robbannaasi adzhibil ba'sa wasy fihu, wa antas syaafi, laa syifaa-a illa syfaauka, syifaan laa yughaadiru saqaama.


Artinya: Ya Allah, Rabb Manusia dan alam semesta, hilangkanlah kesusahan dan berikanlah dia kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain*"


Arumi menghela nafas. Helaannya terasa begitu berat. Mata Arumi menatap keluar jendela. Ia menatapi pepohonan di sepanjang jalan yang bak lari berkejaran. Sementara itu, hatinya terasa begitu gerimis hingga wajahnya terlihat mendung.


"Sayang, ayah akan baik-baik saja. Berdoa sajalah..." ucap Mirza sambil mengendalikan laju mobil sport silver-nya menuju MA Hospital.


"*Ya, Allah. Sembuhkan lah ayah. Mohon dengan sangat sembuhkan lah. Aku tak kan sanggup melihat ayah menderita dalam sakitnya ataupun terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Karena itu aku bermohon kepada-Mu dengan keyakinan akan adanya kekuatan doa.


اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا


Aamiin..." batin Arumi mendoakan Permana.


Arumi yakin akan kekuatan sebuah doa yang mampu mengubah yang Mustahil Menjadi Mustajab. Arumi menunggu mukjizat itu.


Tak lama kemudian, keduanya pun sampai di MA Hospital. Langkah Arumi dan Mirza begitu tergesa menyusuri lorong yang tak terlalu panjang menuju ruang tindakan.


Berlari Arumi menghampiri Sonia yang duduk di kursi dengan lesu.


"Mi..." ucap Arumi dengan mata berkaca-kaca.


"Arumi..." sambut Sonia dengan tangan mengembang. Di peluk erat tubuh Arumi yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri bahkan melebihi putrinya itu. Keduanya pun bertangisan sesaat.


Tak lama kemudian, tangis keduanya langsung susut saat pintu ruang tindakan terbuka. Berdiri Faaz di ambang pintu. Matanya langsung menangkap sosok Arumi yang masih tampak berusaha mendamaikan kekhawatirannya.


"Apa kabar, Ar..." sapa Faaz.


"Baik, Kak. Eh, Dokter..."


Faaz tersenyum mendapati kerikuhan Arumi.


"Bagaimana suami saya, Dok..." tanya Sonia dengan mata sembabnya.


"Sudah baik-baik saja. Sudah sadar. Dan Nyonya tahu kan kondisi Tuan Permana bagaimana?"


"Saya tahu, dok..." ucap Sonia sambil sekilas menatap Arumi yang tampak gamang atas pembicaraan Sonia dan Faaz.


Arumi belum tahu, Za...?" bisik Faaz pada Mirza yang berdiri tepat di sebelahnya dan langsung di sambut dengan senyumnya.


Faaz mengangguk dan tersenyum menatap kembali pada Arumi.


"Jika ingin melihat Tuan Permana silahkan langsung ke ruang perawatan ya. Jaga baik-baik ayah nya, Ar..."


"Terima kasih, dokter..." ucap Arumi.


Tak lama kemudian, Arumi pun melangkah beriringan dengan Mirza. Langkahnya semakin cepat karena Arumi menjadi tidak sabar ingin mengetahui kondisi ayahnya.


Melihat ketidaksabaran Arumi, Mirza mengulum senyum di ujung bibirnya. Pun demikian, hatinya gamang bagaimana caranya memberitahukan kondisi Permana kepada Arumi.


Kemudian langkah Mirza menjadi tidak sejajar dengan Arumi. Dan hal tersebut membuat perhatian Arumi beralih. Langkah Arumi pun menjadi tertahan. Dan pandangannya ke arah Mirza yang sedikit di belakangnya. Mirza menatap Arumi gamang. Walau bibirnya menyungging senyum, namun jelas tatapannya mengisyaratkan kegamangan.


"Ada apa, Kak..." bisik Arumi.


"Bisa bicara sebentar?"


"Sekarang...?"


"Ya. Sebelum masuk ruangan ayah"


"Baiklah. Em, Mami...kak Arya masuk dahulu saja ya. Arumi ada yang ingin dibicarakan dengan kak Mirza dahulu"


"Baiklah..." ucap Sonia yang langsung menatap Mirza sambil mengangguk kecil seakan ia tahu apa yang ingin dibicarakan Mirza kepada Arumi.


Setelah Sonia dan Arya ke dalam ruangan perawatan Permana, barulah Arumi berdiri menghadap Mirza dengan sempurna. Arumi menatap Mirza yang tengah berdiri bersandar pada dinding dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Kita duduk, Kak. Lelah adek Kak kalau harus melihat kakak seperti ini..." ucap Arumi sedikit kesal karena ia selalu menjadi orang yang dirugikan..Bagaimana tidak dengan tinggi tubuh 150 Cm ia harus mendongak saat menatap Mirza yang tinggi mencapai 185 Cm.


"Hehe...Kalau begitu kita duduk di kursi itu" ucap Mirza dengan tangan memberi isyarat dan langsung melangkah menghampiri sebuah kursi.


Arumi pun segera mengekori langkah Mirza dan duduk di sebelahnya.


"Jadi begini, apa yang akan aku bicarakan berkaitan denga. konsisi ayah..."


"Deg..."