150 Cm

150 Cm
Episode 42. Permintaan Permana



Mirza memacu mobil sport silver miliknya dengan kecepatan tinggi. Raungannya terdengar begitu gahar memecah keramaian jalanan malam. Hingga di areal parkir MA Hospital, barulah Mirza menghentikan laju mobilnya.


Ia keluar mobil dan menuju ruangan Faaz. Sepanjang perjalanan tak henti perawat ataupun dokter yang berpapasan dengannya menjura takzim. Ada juga yang berucap salam ataupun menyapa sekenanya.


"Selamat malam, Tuan..."


"Malam..."


"Assalamu'alaikum...Tuan"


"Wa'alaikumussalam*..."


Begitu seterusnya hingga d sampai tepat di depan pintu ruangan Faaz. Sekali-dua kali, Mirza mengetuk pintu sebelum si empunya ruangan bersuara menyilahkan masuk.


"Masuk..."


Mirza pun memutar gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka lebar.


"Hei, Za. Masuklah. Pakai ketuk pintu segala..."


"Aku khawatir kau sedang berduaan dengan perempuan cantik saja"


"Ah, ada-ada saja..."


"Siapa tahu kan. Kau tengah bermesraan..."


"Kalau pun aku bermesraan, aku pastikan hanya dengan Arumi..."


"Sialan kau, Faaz..."


"Hahaha...Sudahlah. Ada yang lebih penting dari itu. Kemarilah..." ajak Faaz agar Mirza mendekat pada sebuah komputer di meja Faaz.


Mirza pun menurut saja ajakan Faaz. Walau ada segudang tanya yang memenuhi hatinya.


"Duduklah...."


Ucapan Faaz bak perintah bagi Mirza, karenanya Mirza langsung mengikutinya begitu saja. Kemudian Faaz membuka komputer keluaran terbaru itu.


"Apa ini, Faaz...?" tanya Mirza saat sejumlah analisis kesehatan terbuka dihadapannya.


"Ini adalah hasil CT-SCAN Tuan Permana, ayah Arumi..."


Deg.


Mirza terdiam. Jantungnya serasa berhenti berdegup. Ia yakin bahwa telah terjadi sesuatu pada calon ayah mertuanya itu. Rasanya tidak mungkin tidak terjadi sesuatu jika Faaz saja begitu khawatir dan memintanya untuk segera menemuinya.


"Menurut pengakuan Tuan Permana beberapa waktu ini, beliau sering mengalami sakit kepala luar biasa. Terkadang beliau pun kehilangan penglihatannya..."


"Jadi hasil observasi mu apa?"


"Tumor otak stadium akhir..."


"Astaghfirullah...."


Mirza mengusap wajahnya berulangkali. Hatinya resah. Ia tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Arumi saat mengetahui kabar ini.


"Apa Tuan Permana sudah mengetahuinya?"


"Sudah. Dan saran operasi pun sudah aku sampaikan dengan segala kemungkinannya"


"Lalu apa tanggapan beliau...?"


"Memilih berobat jalan ketimbang operasi'


"Apa resiko dari operasi yang membuat ayah mertuaku menolaknya?"


"Kebutaan permanen, dan kelumpuhan..."


Mirza menghela nafas beras. Matanya masih menatap komputer yang masih menyala.


"Pantas saja..." ucap Mirza lirih, namun sempat terdengar Faaz.


"Ada apa?'


"Ayah meminta ku segara menikahi Arumi saat kami bertemu di cafe sore tadi. Tiba-tiba saja ayah mengutarakannya. Mungkin ini salah satu penyebabnya."


"Mungkin saja...'


"Lalu apa rencana mu? Adakah yang bisa aku lakukan?"


"Jika bisa bujuk tuan Permana untuk melakukan operasi. Walau beresiko besar, namun kita harus tetap mengambil kemungkinan kecilnya. Semula aku ingin memberitahu Arumi, namun urung. Rasanya aku tak sanggup, Za"


"Ya, aku mengerti. Aku pun demikian"


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Mirza kembali berpendar. Kening Mirza mengernyit saat mengetahui si penelepon.


"Assalamu'alaikum, Yah..."


"Wa'alaikumussalam...Dimana, Nak"


"Bertemu seorang teman. Ada apa, Yah? Ada yang bisa Mirza bantu"


"Tidak ada. Ayah hanya ingin mengobrol dengan mu. Bisa ke rumah sebentar, Za?"


"Sekarang...?"


"Kalau Mirza tak keberatan. Tapi kalau sibuk atau lelah, besok pun tidak apa-apa..."


"Mirza tidak keberatan, Yah. Em, kalau begitu Mirza langsung meluncur ke rumah Ayah.."


"Terima kasih ya, Za..."


"Tidak perlu sungkan, Yah..."


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumussalam..."


.


.


.


"Aku pamit ya, dokter Faaz. Nanti kita bicara lagi..."


"Aku tahu. Itu panggilan negara. Haha....Jangan lupa bujuk ayah mertuamu itu, Tuan Mirza" ucap Faaz saat Mirza berlalu meninggalkannya.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ah, semoga saja Mirza bersedia..." gumam Permana.


Matanya menatap kilau air kolam yang diguyur cahaya bulan. Ada gurat gelisah tergambar jelas di wajah dan ujung tatapannya. Sesekali Permana menghela nafas yang terasa berat baginya.


Pukul delapan lewat lima belas menit. Tepatnya lima belas menit setelah Permana menghubungi Mirza.


"Bapak ada, Mbok..."


"Terima kasih informasinya. Tapi saya ingin menemui bapak. Terima kasih, mbok..."


"Ya, Tuan..."


Mirza melangkah cepat menuju tempat yang dimaksud Mbok Parmi. Sesekali matanya menatap jendela kamar yang masih terang oleh cahaya lampu. Tanda pemiliknya masih belum terlena dalam mimpinya.


"Sedang apa kau, Arumi. Baru dua jam ku tinggalkan, aku sudah rindu..." batin Mirza sambil mengurai senyum.


Kemudian langkah Mirza berhenti sejenak. Matanya mencari sosok Permana di bawah pendar lampu taman. Mirza pun kembali melanjutkan langkahnya setelah sukses menemukan sosok yang dicarinya.


"Assalamu'alaikum..." ucap Mirza.


"Wa'alaikumussalam...Duduk sini, Za"


"Terima kasih, Yah..."


"Mau minum apa, Za?"


"Tidak, Yah. Terima kasih"


"Ayolah temani Ayah..."


"Hehe...Em, teh boleh lah agar sama dengan Ayah"


"Pak Danu, tolong teh satu ya..."


"Baik, Pak..." ucap Danu sambil mengangguk takzim.


Permana menghela nafas. Lagi-lagi terasa berat baginya. Kemudian mata Permana beralih menatap Mirza dengan lekat.


"Za, Ayah ingin meminta bantuan mu"


"Bantuan apa, Yah? Kalau bisa, Mirza pasti membatu Ayah"


"Kau pasti bisa, Nak. Em, ayah ingin kau mengambil alih perusahaan ayah. Hitung-hitung untuk Arumi. Karena Arumi belum siap maka ayah memberikannya kepada mu. Ayah yakin kau mampu..."


"Tapi, Yah. Bukankah masih ada, Ayah. Kenapa Mirza harus turut campur"


"Za, ayah ini sudah tua. Ayah ingin perusahaan ayah jatuh ke tangan yang tepat, yaitu kamu, Za. Tidak ada lagi orang yang lebih tepat selain Mirza, anak laki-laki ayah"


Kata yang terlontar dari bibir Permana sedikit bergetar. Ada pilu yang terasa di tiap kata dan tatapan matanya.


"Mirza yakin ada sesuatu yang telah terjadi. Ada baiknya Ayah menceritakannya kepada Mirza yang sebenarnya"


"Tidak ada apa-apa. Ayah hanya merasa tua saja. Oya, tidak bisakah pernikahan mu dengan anak gadis Ayah dipercepat? Ayah ingin menyaksikan kalian bahagia"


"Yah, kalau Mirza memanglah berkeinginan demikian. Tapi Mirza juga menghargai keinginan Arumi"


"Tidak bisakah kau mengabulkan keinginan Arumi? Pagelaran atau pekerjaan?"


"Bisa saja, Yah. Tapi Ayah kan tahu bagaimana keras kepalanya anak gadis ayah itu. Mirza khawatir bantuan Mirza akan ditolak mentah-mentah oleh Arumi. Atau lebih parah lagi akan disalah artikan..."


"Ayah yakin kau bisa menanganinya. Buat saja seolah-olah bukan atas bantuanmu. Bisa kan seperti itu? Masa pengusaha nomor satu di Indonesia tidak bisa mengusahakan hal yang sepele seperti itu. Hehe..."


"Ah, Ayah. Berat...berat jika sudah membawa pengusaha nomor satu. Haha...."


"Bisa kan?"


"Insyaallah...Mirza usahakan"


"Alhamdulillah...Ayah senang mendengarnya. Dua minggu ya limitnya..."


"Siap, Ndan...!"


"Nah, begitu donk" ucap Permana sambil menepuk-nepuk bahu Mirza. Dan diakhiri dengan pelukan hangat.


"Mirza tahu, Yah penyebab semua ini. Semoga semua harapan ayah terkabul. Dan Mirza akan berusaha membantu Ayah..." batin Mirza sambil membalas pelukan hangat Permana.


"Kak Mirza....!" ucap Arumi yang saat itu baru saja berdiri tak jauh dari keduanya berada.


"Hei...." ucap Mirza saat sadar namanya disebut gadis yang amat ia cintai itu.


"Persengkokolan apa lagi yang sedang direncanakan?" tanya Arumi bernada ketus.


"Anak nakal...! Seenaknya saja berspekulasi" ucap Permana sambil menarik Arumi duduk diantara dia dan Mirza.


"Ndok...dengarkan Ayah sekali ini saja"


"Ayah, memang selama ini Arumi tidak mendengarkan Ayah?"


"Haha...Arumi selalu mendengarkan, Ayah. Tapi ini berkaitan dengan hal yang selalu Arumi tolak. Jadi Ayah minta sekali ini Arumi mendengarkan dan mengabulkan permintaan Ayah..."


"Menikah?"


"Ya, Ndok. Menikahlah dengan Mirza"


"Ya, Yah. Arumi setuju. Tapi..."


"Kuliah? Pagelaran? Kalau ayah dan Mirza bisa mengabulkannya apa Arumi siap menikah dengan Mirza dalam waktu dekat ini?"


.


.


.


Arumi terdiam. Jantungnya berdegup hebat. Matanya melirik Mirza yang hanya duduk diam di sebelahnya.


"Jebakan Batman, namanya. Arumi tahu apa sih yang tidak bisa ayah lakukan? Terlebih laki-laki di sebelah kanan ku ini. Sekali membalik tangan semua terlaksana. Tapi, Yah..."


"Tunggu dulu. Apa maksud sekali membalik tangan semua terlaksana? Aku tidak akan memberikan bantuan dengan begitu mudah. Kau harus berusaha sendiri. Maaf, Yah. Kali ini Mirza tidak bisa membantu. Arumi harus berusaha sendiri..."


"Baguslah kalau begitu. Aku juga tidak mau bantuan kakak..." ucap Arumi sambil berlalu.


"Hebat kamu, Za. Dari bapak berubah jadi kakak..." bisik Permana.


"Haha...!"


"Kejar, Za. Jangan kasih kendor..."


"Ya, Yah..." ucap Mirza sambil berlalu.


"Busyet nieh ayah mertua. Sedikit gokil juga rupanya. Haha...baguslah. Aku semakin PD karena dukungannya. Semangat Mirza...!" batin Mirza.


Langkahnya semakin panjang dsn mensejajari Arumi. Dan Mirza pun berhasil meraih tangan Arumi. Dengan sekali hentakan saja, langkah Arumi terhenti. Dan karena hentakan tersebut tak ayal tubuh Arumi terhuyung ke belakang. Bukan Mirza namanya jika tidak bisa meraih tubuh yang hanya setinggi 150 cm dengan berat 60 kg itu. Mirza mendekap erat Arumi.


"I love you so much, Arumi..."


"Egh..."


"Kau harus menyerahkan proposal pagelaran seni lukis kepadaku besok siang di kantor ku. Tidak ada penolakan, sebab Aku tidak menerima penolakan. Jika kau tidak menyerahkannya, maka aku anggap kau sengaja menghindari pernikahan dengan ku..."


"Egh..."


Mirza menegakkan tubuh Arumi dan meninggalkan Arumi yang masih termangu sambil menatap kepergian Mirza.


"Jangan lupa besok siang...!!!" teriak Mirza sambil masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.


"Iiiihh...kesel! Laki-laki kok seenaknya saja. Awas ya...!" ucap Arumi.