150 Cm

150 Cm
Episode 113. Permintaan Andrea, Rencana Ryu



Dia Ryu Hirata. Laki-laki tampan dengan mata sipit. Begitu khas. Dia adalah kakak laki-laki Arumi Hirata. Kakak yang beberapa waktu lalu baru saja ditemukan keadaan.


Ryu berdiri di sebuah balkon. Matanya sempurna menatap langit senja. Sejak Kebebasannya empat hari lalu, Ryu mengurung diri. Aktifitasnya hanya sekitar ruang kamar berukuran size miliknya. Bahkan makan dan minum pun ia lakukan dalam kamarnya. Rasa kesal dan malu masih menyelimuti segenap jiwanya. Bagaimana tidak, pembelaan mati-matiannya terhadap cintanya atas Andrea berujung amarah dan penyesalan. Belum lagi rasa malu yang harus ditanggung, baik terhadap keluarga maupun seisi perusahaan.


"Tuan Ryu di dalam, Non..." ucap seorang perempuan dari balik pintu.


Rupanya ada seseorang yang tengah ingin menemui Ryu. Dari panggilan yang di sematkan, jelas jika ia seorang gadis.


"Terima kasih, mbok..." ucap perempuan itu.


KREEEK....!


Derit pintu terdengar halus. Bahkan nyaris tak terdengar. Mata gadis itu menilik seluar kamar berukuran king itu. Dari caranya menilik, bisa diyakini bahwa ia tengah mencari seseorang. Tak menemukan yang di cari, ia langsung melangkah. Kakinya mengarah menuju balkon.


Tak lama senyum khas pun mengembang saat matanya menumbuk sosok yang ia cari. Langkahnya kian cepat seiring irama degup jantungnya.


"Jika dunia kakak hanya sebesar ruang kamar ini, maka sejatinya kakak kalah. Karena kemenangan itu berada jauh di luar kamar ini"


Ryu mengalihkan perhatiannya. Dari ujung bibirnya terbitlah senyum yang sudah menjadi ciri khasnya.


"Vanya..."' ucapnya kemudian.


"Ya, siapa lagi yang akan mengunjungi mu jika bukan aku" ucap Vanya sambil menghempaskan tubuh pada sebuah kursi di sudut balkon.


Ryu tersenyum. Ia turut serta duduk dekat Vanya.


"Sebenarnya ada yang selalu mengunjungi ku"


"Oya... Siapa dia?"


Ryu kembali tersenyum. Jelas matanya menilik jauh ke dalam manik mata Vanya. Entah apa yang tengah ia cari. Yang pasti tatapan itu sukses membuat Vanya tertegun.


Deg.


Deg.


Deg.


"Bertahanlah, Vanya. Jangan mudah goyah. Pertahankan harga diri mu..." batin Vanya.


Vanya tak berdaya. Tatapan Ryu benar-benar mengunci manik matanya. Menguasai laju aliran darahnya sekaligus sukses menabuh genderang dalam jantungnya, sehingga degupnya benar-benar bertalu. Vanya berusaha keras menguasai kembali jiwanya. Ia tak ingin segala rasa yang tengah bergejolak meluap dan meninggalkan kesadarannya.


"Vanya..." panggil Ryu.


Belum lagi Vanya membalas panggilan Ryu, dering ponsel sukses menghentikan laju kata yang telah bersiap di ujung lidahnya. Perhatian Ryu langsung tertuju pada pendar ponsel yang berada tak jauh darinya. Ada gurat kecewa tersirat di ujung tatapannya.


"Ah, saat keberanian terkumpul tuk sekedar berbicara dengan Vanya, ada saja gangguan...." batin Ryu.


Mata Ryu menatap layar ponsel yang berpendar itu. Ada tanya di tatapannya saat sederet angka tak di kenal tertera di layar ponsel.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Kembali ponsel berpendar. Dan hanya menatapnya saja tanpa menunjukkan respon.


"Kenapa, Kak...? Apa perlu aku menjauh dahulu agar kakak bisa leluasa menerima panggilan itu...?"


"Oh, tidak. Aku hanya sedang berfikir. Siapa yang menghubungi ku. Kontaknya tak tersimpan"


"O..."


Vanya meng-o singkat sambil sedikit mengangkat dagunya. Selintas ekor matanya menilik Ryu yang masih menarik alisnya sambil menatap layar ponsel yang berpendar kembali.


Ryu menghela nafas untuk kemudian menerima sambungan telepon tersebut.


"Hallo...siapa anda?" ucap Ryu dengan logat khasnya.


"Ryu...'


Deg.


Ryu tertegun. Degup jantungnya seakan terhenti saat namanya disebut seseorang di ujung telepon. Ryu tahu betul siapa pemilik suara itu. Tiba-tiba saja dadanya bergemuruh, karena lautan yang susah payah ia damaikan kini tengah diamuk badai kembali. Dengan suasana hatinya itu, tangan Ryu terkepal hebat, rahangnya mengeras dan sorot matanya tak seteduh tadi.


"Untuk apa kau menghubungi ku lagi...?" ucap Ryu.


Dari nada bicaranya, jelas Ryu tengah menahan amarah.


"Aku...Aku membutuhkan bantuan mu, sayang" ucap seorang perempuan di ujung telepon.


"Setelah yang kau lakukan padaku, kini kau meminta bantuan ku...?!"


"Karena itu aku pun meminta maaf mu. Aku khilaf, sayang..."


"Khilaf kata mu...!!" ucap Ryu dengan nada tinggi.


"Iya, sayang. Aku menyesal. Maafkan aku, sayang..."


"Cukup...! Andrea...!" ucap Ryu.


Nafasnya turun-naik dengan cepat. Tangannya terkepal kian hebat hingga bergetar.


"Andrea...? Apakah Andrea yang disebut adalah seperti yang aku maksud?" batin Vanya.


Terdengar suara isak di ujung telepon. Untuk beberapa saat Ryu terdiam. Ia kembali menghela nafas. Rupanya ia tengah berusaha menetralkan suasana hatinya saat itu.


"Apa cinta mu sudah menghilang, hingga kata maaf pun sulit kau berikan?"


"Cinta dan maaf itu dua hal yang berbeda. Jadi jangan kau campur aduk..."


"Baiklah. Tapi apakah kau tidak akan membantu ku? Sebagai orang yang pernah berbagi tempat tidur mungkin..."


Ryu kembali terdiam. Tatapannya jatuh pada lantai berwarna putih.


"Apa yang kak Ryu fikirkan? Mengapa ia berlama-lama menerima telepon dari Andrea. Apakah cinta itu masih ada?" batin Vanya yang terus mengamati Ryu dari tempat duduknya.


"Baiklah...aku akan menolong mu"


"Sungguh...." sorak Andrea di ujung telepon.


"Seperti katamu sebagai orang yang pernah berbagi tempat tidur sekaligus berbagi air liur..."


"Ah, ingat itu semua, sayang..." ucap Andrea.


"Menjijikkan..." gumam Vanya sambil berlalu meninggalkan Ryu menuju bibir balkon.


"Semua aku ingat. Tentu saja. Dan...bantuan apa yang kau harapkan dari ku?"


"Aku butuh biaya untuk pelarian ku"


"Baik. Aku akan mentransfernya..."


"Tidak...! Aku ingin cash. Kau yang akan mengantarkannya"


"Kau yakin? Bagaimana jika aku datang bersama pihak berwenang?"


"Aku yakin kau tidak demikian.."


"Em, baiklah. Aku akan membawakan apa yang kau inginkan. Kemana aku harus mengantarnya?"


"Terima kasih, sayang. Esok aku akan memberitahu lokasi pertemuan kita.."


"Baiklah..." ucap Ryu diakhir percakapan.


Sesaat Ryu menatap layar ponsel yang masih berpendar itu. Alisnya naik, tanda jika ia tengah memikirkan sesuatu.


"Vanya...." gumam Ryu bak baru tersadar dari sihir.


Mata Ryu lincah mencari keberadaan gadis manis itu.


"Nya...." panggil Ryu.


Berulang Ryu menyebut nama Vanya, namun tiada jawaban. Tak lama Ryu mendapati sosok gadis yang ia cari. Seperti terakhir Vanya berada. Ia berdiri di bibir balkon. Tubuhnya timbul tenggelam di antara lambaian gorden putih yang tertiup angin.


Melihat itu, Ryu langsung menghampiri. Langkahnya begitu gontai.


"Apa kakak akan memenuhi permintaan Andrea?"


Ryu menghela nafas. Ia berdiri tepat di sebelah Vanya yang terus menatap jauh, entah kemana.


"Sepertinya tidak ada jalan lain selain memenuhi permintaannya?"


"Tapi...bisa jadi hal itu akan membahagiakan diri kakak"


"Aku rasa Andrea tidak mungkin melakukan itu..."


"Setelah apa yang ia lakukan kepada kakak, mengapa kakak masih berfikiran demikian?"


"Entahlah...."


"Cinta benar-benar membuat buta seseorang..."


"Hei...Aku sudah tidak buta, Nya. Justru aku tengah menyusun rencana untuknya..."


"Rencana...? Apa kakak bermaksud menjebaknya?"


"Tidak..."


"Tidka...? Lalu apa?"


"Sudahlah tak perlu dibahas. Ini akan menjadi urusan ku saja"


"Kak..."


"Sudahlah, Nya...Oya, ada apa kau menemui ku?"


"Entahlah. Aku lupa akan tujuan ku menemui kakak..."


Vanya memutar tubuhnya. Ia langsung melangkah meninggalkan Ryu yang masih termangu. Matanya menatap punggung gadis manis itu.


"Dasar perempuan..." gumam Ryu.