150 Cm

150 Cm
Episode 81. Rindu Yang Membuncah Lagi



Pukul sepuluh malam. Arumi belum bersiap terlelap. Ia masih ingin terjaga. Beberapa potong buah pun menemaninya untuk melewati jam malamnya di tiap malamnya pada dua terakhir. Yah, ada kebiasaan baru yang Arumi jalani saat ini, yaitu menanti selusup suara Mirza ke liang telinganya. Kebiasaan tersebut terjadi sejak Mirza berada di luar kota. Sebuah ucapan selamat tidur dari Mirza akan sedikit meminimalisir rasa kangen yang mendera.


Dan pembeda waktu dua jam antara Indonesia dan Jepang membuat rindu Arumi ataupun Mirza terkadang direnggut kantuk, walau sesaat. Seperti halnya saat ini, Arumi termanggut-manggut menahan kantuk yang mulai menyerangnya. Sesaat lalu, hidung Arumi hampir saja mencium piring berisi potongan buah karena kesadarannya sukses direnggut oleh kantuknya.


"Astaga..." keluh Arumi.


Tangannya mengusap wajah dan memijat hidung bangirnya perlahan.


"Hampir saja..." gumam Arumi.


Arumi membetulkan letak duduknya. Matanya menatap ponsel yang berada tak jauh dari duduknya. Besar harapannya ada sebuah pesan atau panggilan dari laki-laki pujaannya itu. Namun harapan tinggal harapan, Arumi menjadi kecewa saat tak ia dapati pendaran pada layar ponselnya.


"Mengapa kak Mirza belum menelepon ku? Apakah pekerjaannya belum selesai? Tapi benarkah? Diwaktu selarut ini? Atau lelah sudah menggerogoti kesadarannya sehingga ia terlelap?" gumam Arumi.


Ada banyak tanya yang mulai menduduki relung hatinya.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi kali ini benar-benar berpendar. Pendarnya membuat Arumi sumringah dan melonjak kegirangan. Kini mata Arumi dipenuhi binar bak kerlip bintang di langit saat menatap layar ponsel.


"Aku sudah menitipkan salam kangen pada desau angin malam. Menitipkan kecup kangen pada bibir sang waktu yang telah ku lalui, namun baru kan kau jelang. Ku titipkan kata cinta ku pada rentang waktu. Dan memahat rindu pada dinginnya malam. Apakah sudah kau terima...?" pesan Mirza.


"Seperti halnya angin dingin yang telah lalu, maka itu menjadi waktu lalu. Dan aku tidak menginginkannya. Aku ingin kini, bukan lalu. Aku kangen..." balas Arumi.


Arumi menyimpan kesal. Ia tak suka berpuisi di situasi saat ini. Ia hanya ingin mendengar langsung suara laki-laki yang ia cintai itu.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi kembali berpendar. Kali ini sebuah panggilan dari Mirza. Pastilah Mirza tahu betul apa yang diinginkan perempuannya itu. Jika tidak, mana mungkin ia langsung menghubungi Arumi sesaat setelah menerima pesan Arumi yang sedikit menyentil itu.


Arumi menerima panggilan itu. Namun ia diam. Hatinya tengah di duduki sedikit kesal.


"Sayang..." panggil Mirza.


Arumi tetap diam. Hanya suara isaknya saja yang mulai mengisi ruang telinga Mirza.


"Sayang, maafkan aku...?" ucap Mirza berulangkali dengan penuh perasaan.


"Mungkin rasa ini hanya aku yang memiliki. Mungkin keinginan ini hanya aku yang memiliki. Alangkah bodohnya aku mencurahkan segala rasa kepada laki-laki yang sebenarnya acuh..."


"Hati ku tidak pernah berdusta, Ar. Apalagi segala cinta dan kangen ini. Semua aku merasakannya secara berlebih. Maaf jika kata-kata tidak berkenan di hati mu..."


"Kata-kata puitis itu aku menyukainya, tapi di situasi ini rasanya tidak perlu. Suara dan wujud itu yang terpenting..."


Mirza terdiam. Ada sesal yang menggelayut di hati.


"Mengapa aku mengawali percakapan ini dengan sebuah pesan? Bodohnya aku..." batin Mirza.


"Maafkan aku, sayang...."


Hanya permintaan maaf yang kini meluncur dari bibir Mirza. Ia menatap layar ponselnya yang masih berpendar namun tiada sahutan.


"Sayang...sayang..." panggil Mirza.


"Ya...." jawab Arumi dengan suara parau.


"Masih...."


"Apa kau tidak mencintai suami tampan mu ini lagi?"


"Masih...."


"Hehe...kalau begitu keluarlah ke balkon kamar mu?"


"Bal-kon...?"


"Ya, balkon..."


Bergegas Arumi berlari menuju balkon. Ia membuka pintu balkon yang ditutup tirai berwarna putih itu lebar-lebar. Dengan cepat mata indahnya mencari sosok laki-laki tampannya itu. Namun nihil. Arumi tak menemukan sosok yang amat ia rindukan itu.


"Kakak mempermainkan aku...?"


"Aku tidak mempermainkan mu, sayang. Mana sanggup aku melakukan itu..."


"Buktinya kakak tidak ada di luar jendela kamar..."


"Sayang, aku tidak mengatakan bahwa aku ada di sana. Aku hanya meminta mu membuka jendela..."


Arumi terdiam. Kesal benar-benar menduduki hatinya. Ia merasa di permainkan.


"Sayang, aku tidak akan ada di luar jendela kamar, karena aku ada di belakang mu..."


"Berhentilah membohongiku, Kak..."


"Aku tidak membohongi mu, sayang..."


"Sekali kakak membohongi, akan sulit bagiku untuk mempercayai lagi..." ucap Arumi sambil menyimpan senyum.


Karena ia tahu dan yakin jika ucapan Mirza benar adanya.


Sementara itu, Mirza yang mendengar ucapan Arumi menjadi was-was. Ia tak ingin tidak dipercayai Arumi lagi. Segera ia melangkah menuju Arumi dan langsung mendekap erat Arumi.


Arumi terkesiap. Walaupun ia sudah meyakini, namun tetap saja pada kenyataannya Arumi terkejut dengan kehadiran tiba-tiba laki-laki yang amat ia cintai itu.


"Aku tidak membohongi mu. Tidak akan pernah, sayang..."


"Ya, aku tahu..."


"Kau tahu? Jadi...."


Dekapan Mirza melonggar. Mata elangnya menghunjam jauh ke dalam manik mata Arumi. Dan tentu saja tatapan Mirza itu sukses menabuh genderang di dalam hati Arumi, sehingga getarnya membuat degup jantung Arumi bertalu.


"Aku yakin atas ucapan terakhir kakak. Mana mungkin aku meragukan suami tampan ku ini..." ucap Arumi sambil mencubit kedua pipi Mirza dengan gemas.


Mendapat perlakuan itu Mirza tertawa. Barulah pertama ini ia diperlakukan demikian oleh Arumi. Dan sekali lagi tangan Mirza menggaet pinggang ramping Arumi. Ia membawanya ke dalam dekapannya. Lagi-lagi mata Mirza menilik wajah cantik Arumi. Jantungnya mulai berirama tak menentu.


Mirza mengurai senyum khasnya di saat hatinya mulai tergoda saat bibir tipis Arumi menerbitkan senyuman. Dan....


CUP....!


Mirza mengecup bibir tipis Arumi yang sudah sukses menggodanya itu. Wajah Arumi merona. Walaupun Mirza sering melakukan itu, tapi tetap saja hal tersebut membuat Arumi malu hati.


Tidak sampai di situ, Mirza mulai melancarkan serangan bertubi. Bahkan Mirza dengan gagahnya mengangkat tubuh Arumi. Mirza membawanya ke atas tempat tidur yang sejak tadi sudah memanggil-manggilnya.


Mirza benar-benar diamuk rasa yang tak terkendalikan. Rasa yang tak mungkin dibebaskan tanpa kehadiran Arumi, perempuan 150 cm yang telah ia nikahi. Dan laki-laki tampan nan tajir itu kian kalap. Ia terus melancarkan serangannya. Begitu bertubi, hingga perempuan 150 cm itu mulai merasakan gelora yang kian menjalari seluruh tubuhnya.


Bukit demi bukit Mirza singgahi. Danau berbau harum ia candai. Lautan sejuta makna pun Mirza sudah singgahi. Irama degup jantung keduanya berpacu dengan rasa yang tengah dimainkan. Hingga rasa kelegaan itu terlepaskan, barulah keduanya mengurai lelah dan tak berdaya di ujung mimpi yang membalut tidurnya.