150 Cm

150 Cm
Episode 114. Gara-gara Parfum



Keesokan harinya. Tepat pukul tujuh.


Drrt.


Drrt.


Drrt.


Ponsel Arumi berpendar. Sebuah pesan nampak di layar.


"Bebek buruk rupa telah mengirim permintaan pertolongan kepada pangeran. Hari ini. Tapi pukul berapa aku tidak tahu..." begitu isi pesan Vanya.


Arumi mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti mengapa sahabat nya itu bisa se-alay itu.


"Ada apa, sayang...?" ucap Mirza sambil memeluk Arumi.


"Vanya jadi berubah..."


"Berubah bagaimana? Apa Vanya sudah jadi wonder woman atau putri katak? Atau penyihir?"


"Ish...kakak. Apaan sih..."


"Hehe..."


"Vanya mengirimkan pesan ini..." ucap Mirza sambil menyodorkan ponselnya.


Mirza pun membaca pesan tersebut.


"Haha...pantas saja kau menyebutnya berubah. Em, tapi kau mengerti maksudnya kan?"


"Ya, bebek buruk rupa itu Andrea. Pangeran itu aku yakin kak Ryu. Dan aku yakin Vanya mendapatkan informasi tersebut langsung dari kak Ryu"


"Aku pun setuju dengan mu. Oya, Dewa sudah mengirimkan pesan bahwa tuan pangerannya Vanya tengah memacu kendaraan"


"Oya. Em, kira-kira kemana tujuannya? Apakah untuk memenuhi permintaan Andrea?"


"Sabarlah, sayang. Kita tunggu kabar Dewa. Emm, ingat jangan mengambil keputusan sendiri. Ada aku suami mu. Aku yang bertanggung jawab atas mu"


"Ya, kak. Tapi aku tidak bisa tinggal diam melihat keluarga ku dalam bahaya"


"Aku pun tak akan tinggal diam"


"Jadi kita akan mengikuti kak Ryu dan membantunya?"


"Tentu saja. Tapi tidak dengan mu, sayang. Ingat kau baru saja sadar setelah tiga puluh menit jatuh tak sadarkan diri. Kau bisa turut andil setelah dokter mengetahui apa yang terjadi dengan mu"


"Kak..." ucap Arumi merajuk.


"Ayolah, sayang. Demi kebaikan mu..."


"Tapi janji kakak akan membantu kak Ryu"


"Tentu saja, sayang. Dia kakak mu. Artinya Ryu juga keluarga ku"


"Terima kasih, kak..." ucap Arumi sambil memeluk Mirza.


Sesekali Arumi mengecup dada laki-laki tampan itu. Bahkan ia menghirup dalam aroma maskulin yang ada pada tubuh Mirza. Begitu lama ia melakukannya.


Mirza mengernyitkan dahinya saat melihat polah Arumi, istri 150 cm nya itu. Tak seperti biasanya, Arumi terang-terangan melakukan hal seperti itu.


Walau merasakan sedikit keganjilan karena polah Arumi yang di luar kebiasaan itu, namun Mirza tak berkomentar apapun. Ia hanya diam. Sebaliknya ia mengeratkan dekapannya pada Arumi.


"Sayang...suami tampan mu ini bisa terlambat jika kau berlama-lama seperti ini"


"Egh...maaf. Hehe...Aku senang saja membaui aroma tubuh mu, kak. Apa kakak ganti parfum? Aromanya beda sekali. Aku suka kak..."


"Ganti? Tidak sayang. Bahkan tak terpikirkan olehku untuk menggantinya..."


"Kakak dusta. Aku yakin kakak menggantinya..." ucap Arumi bernada merajuk.


Mirza tertegun. Ia menatap Arumi yang kini tengah duduk pada bibir tempat tidur. Wajahnya pun sedikit murung.


"Hei, ada apa? Tak biasanya istri ku berlaku seperti ini..."


"Aku kesal kakak berbohong. Jelas-jelas parfum kakak berbeda, tapi mengapa kakak tak mengakuinya...?" ucap Arumi.


"Tapi sungguh aku tak menggantinya..." ucap Mirza.


"Sudahlah. Berangkatlah. Kalau terlambat, aku juga yang di salahkan..."


"Sayang...aku tidak membohongi mu. Sungguh..."


"Sudahlah..." ucap Arumi.


Arumi mendorong tubuh tegap laki-laki tampan itu hingga keluar kamar.


"Oke. Oke...aku berangkat. Tapi apa kau tidak mengantar ku hingga halaman seperti biasanya?'


"Tidak. Aku tidak ingin..."


BRAKK....


Arumi menutup pintu sedikit keras. Hal tersebut tentu saja membuat Mirza terkesiap.


Tok.


Tok.


Tok.


"Sayang..." panggil Mirza perlahan.


"Ciuman pagi hari..."


"Tidak...!!"


"Ada apa dengan Arumi. Tak biasanya berlaku seperti ini. Hanya gara-gara parfum, ciuman pun tak ku dapatkan pagi ini. Ah, semoga hanya emosi sesaat..." ucap Mirza sambil melangkah menuju halaman di mana mobil sport berwarna silver berada.


"Nyonya tidak mengantar, Tuan?"


"Tidak, mbok. Masih belum sehat betul. Oya, tolong jaga nyonya selama saya tidak ada mbok"


"Baik, Tuan..."


Tak lama kemudian, deru mesin mobil pun mengisi udara pagi itu. Kecepatan lajunya sempat menerbangkan debu sepanjang jalan yang dilalui.


"Mbok, kenapa tuan? Aku tadi mendengar suara pintu keras. Apa tuan dan nyonya bertengkar?"


"Hush...jangan turut campur. Itu urusan tuan dan nyonya. Pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa. Itu adalah bumbu-bumbu cinta"


"Aku tidak mengerti, mengapa menyatakan cinta pakai bertengkar segala..."


"Hadeuuh....dasar lelet. Kalau mau tahu kau harus menikah dahulu, Narti"


"Ah, mbok ada-ada saja. Belum ada yang mau ,mbok"


"Itu si Parmin. Sepertinya dia menyukaimu..."


"Ish...ga level"


"Lah memang level mu seperti apa?"


"Yang kaya, yang tampan, dan baik seperti tuan"


"Ngimpi kamu, Nar...."


"Kan ndak apa-apa toh. Siapa tahu di ijabah Gusti Allah" ucap


"Walaah...Nar, wong ngimpi ojo dhuwur-dhuwur. Jadi yen mengko tibo ra luoro tenan"


"Ish...si mbok"


"Wish, rono. Tugas mu isih durung rampung. Ojo okeh ngimpi, Nar..."


"Iyo-iyo, mbok..." ucap Narti salah satu asisten rumah tangga sambil ngeloyor meninggalkan mbok Min.


Sementara itu di waktu yang sama, tempat yang berbeda. Tepatnya di kantor MA Group. Mirza tengah menerima telepon. Menilik dari apa yang tergambar di wajah, jelas jika situasi yang tengah dihadapi bukanlah suatu hal yang bisa dipermainkan.


"Ikuti terus. Jangan sampai luput. Kita harus menangkap Andrea"


"Baik, Tuan. Tapi situasi menjadi aneh saya rasa.." ucap Dewa di ujung telepon.


"Aneh..? Apa maksud mu?"


"Ini adalah tempat keempat yang di singgahi tuan Ryu. Dan tempat selalu berubah setelah tuan Ryu mendapat telepon"


"Mungkin itu cara yang mereka buat untuk menghilangkan jejak. Sehingga tempat pertemuan aman untuk mereka datangi"


"Tapi, tuan...Mengapa saya merasa ini hanya pengalihan saja"


"Pengalihan...?!" ucap Mirza seperti menyadari sesuatu.


"Ya, Tuan. Saya khawatir targetnya bukan uang. Tapi yang lain..."


Deg.


.


.


.


Mirza tertegun. Fikirnya mengembara. Ia tengah berusaha menyulam segala kemungkinan yang bisa dilakukan Andrea.


"Berapa orang team kita yang turut melakukan pengintaian?"


"Lebih dari setengah team kita. Selebihnya ada di rumah utama dan rumah tuan Edward"


"Sial....! Apa Danu belum kembali?!"


"Sedang dalam perjalanan, Tuan...!"


"Ah, sial...!!" ucap Mirza mengakhiri sambungan telepon.


Elvano yang melihat reaksi Mirza turut tegang. Matanya tiada henti menilik polah tuan besarnya itu. Terlebih saat Mirza begitu tergesa merapikan berkas-berkas yang semula berserakan di mejanya.


"El, aku harus pulang. Bisa jadi target Andrea sebenarnya adalah Arumi"


"Apa...?! Aku ikut.." ucap Elvano.


Kedua laki-laki yang katanya sebelas dua belas ketampanannya itu melangkah cepat meninggalkan ruangan. Ada gurat kekhawatiran yang besar jelas tergambar di wajah keduanya, terlebih Mirza. Berulangkali Mirza mendengus kesal sambil mengepalkan tangannya dengan hebat.


"Jika benar dugaan ku, maka aku tidak akan segan-segan ******* habis hidup Andrea. Dasar perempuan kotor. Laknat..."


BUK...!!


Sebuah pukulan Mirza menyasar pada dinding. Mirza melampiaskan amarahnya.


Tak lama kemudian, mobil sport berwarna silver pun melaju dengan cepat menyusuri jalanan.