
Senja menjemput malam. Cahaya mentari nya mulai berselimut kabut gelap dan berangsur menghilang. Sementara itu hilir mudik mobil mewah menyatroni gedung berwarna putih. Gedung tempat perhelatan gala dinner berlangsung.
Arumi berdiri di ambang pintu menyambut kehadiran tamu undangan dari berbagai kalangan. Senyum Arumi mengembang menghiasi wajah cantiknya. Di waktu lain Arumi pun sibuk memeriksa setiap detil persiapan acara malam itu.
"Bagaimana kesiapan kita, Kak Arka...?"
"Nona Arumi sangat cantik. Sempurna..." puji Arka tanpa sadar. Matanya terus menatap Arumi.
Buk....!
"Aw....!" ucap Arka saat kepalan tangan Arumi mampir ke lengannya.
Arka meringis menahan sakit. Tangan lainnya mengusap lengan bekas pukulan Arumi.
"Fokus, Kak..."
"Oh, maaf. Saya menjadi tidak fokus karena nona terlihat begitu...." ucap Arka terhenti.
Arka tak melanjutkan katanya saat menyadari mata Arumi membulat sempurna memelototinya.
"Em, maaf. Non Arumi kenapa ada di sini. Acaranya akan di mulai beberapa saat lagi"
.
.
.
Suasana menjadi hening dan sedikit rikuh. Arumi kembali melangkah dan berbaur dalam kerumunan. Terlebih saat ini tengah berlangsung penampilan tarian pembuka persembahan sanggar Tanggai. Keriuhan benar-benar terjadi saat itu. Irama musik begitu menghantak seirama gerak langkah penari. Semua mata takjub tertuju pada ketujuh penari yang tengah beraksi di panggung.
"Selamat, sayang...acara malam ini begitu gempita. Aku kagum" ucap Mirza yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Arumi.
"Terima kasih. Semua karena kakak..."
"Karena ku?"
"Ya. Karena kakak sudah memberi ruang kepada ku untuk menjadi diri sendiri. Terima kasih ya..."
"Hemm..." jawab Mirza tanpa kata berarti lainnya.
Hatinya beriak. Cenat-cenut ia rasakan saat kata Arumi mampir dan menggelitik ujung hatinya. Senyum pun terbit dari sudut bibirnya walau sesaat dan tampak samar. Kebahagiaan Mirza tersimpan. Dan ia memang tak ingin Arumi atau siapa pun mengetahuinya. Ia terlalu gengsi untuk mengakui bagaimana perasaannya saat itu.
"Dan sekarang kita sambut penanggung jawab penyelenggaraan acara malam ini, Nona Arumi Hirata...!"
Tepuk tangan menjadi riuh mengisi ruangan menyambut ucapan pewara. Terlebih saat Arumi melangkah menuju podium.
"Assalamu'alaikum... Selamat malam. Perkenalkan saya Arumi Hirata. Saya bukan siapa-siapa. Tapi berangkat dari sebuah keinginan yang berubah menjadi cita-cita, saya memulai rencana pelaksanaan pagelaran seni lukis yang akan di mulai esok hari ini. Dan rasa bahagia melingkupi segenap jiwa saya saat menyaksikan antusiasme peserta dan juga sambutan dari tokoh-tokoh terkemuka. Karena itu saya berucap terima kasih tak terhingga, diantaranya kepada Tuan Mirza Adyatma yang telah mensupport penuh acara ini. Tak lupa kepada para pelukis ternama yang menjadi guru-guru saya, rekan sejawat, segenap team penyelenggara, Tuan dan Nyonya William , Tuan Edward Edwardian, Instansi pemerintah terkait, ayah serta mami saya yang malam ini juga turut hadir. Selain itu saya berdoa untuk seseorang yang selalu menjadi inspirasi hidup saya, Yuki Hirata. Ia adalah ibu saya..."
"Waaaah....Yuki Hirata" gumam beberapa orang yang mengenal betul siapa Yuki Hirata.
"Ternyata ia putri dari Yuki Hirata, Pelukis ternama itu..." gumam tamu undangan.
"Sekali lagi terima kasih atas partisipasi dan dukungan semuanya..."
Arumi pun mengakhiri ucapannya dan langsung melangkah menuruni podium. Langkahnya terasa begitu ringan setelah sukses mengeluarkan segala keinginan terbesarnya saat itu. Ia kembali berdiri di antara Arka dan Vanya yang saat itu masih bertepuk tangan seperti lainnya.
Sementara itu Mirza kini telah berdiri di atas podium. Wajah tampannya selalu sukses membius kaum hawa hingga gumaman mereka sampai ke telinga Arumi.
"Woah....tampannya. Laki-laki idaman"
"Sudah tampan, sukses pula..."
"Tapi sayang, calon istrinya tidak sepadan..."
"Maksud mu apa?"
"Calon istrinya itu adalah Arumi Hirata, Dari segi fisik sangat tak sepadan. Ia adalah gadis tambun yang hanya 150 cm tingginya"
"Arumi Hirata, penyelenggara acara ini..."
"Ya..."
"Maksud mu..."
"Haha....Karena saya akan rela dijadikan istri ke berapa pun..."
"Duh, gundik nya pun aku rela..."
Genit....!" ucap Vanya mengomentari setiap gumaman tersebut.
"Hus...sudahlah jangan terlalu ditanggapi"
"Panas kuping dan hati ku. Dangkal sekali fikirannya. Pasti hanya fisik saja yang menjadi fokus dalam hidupnya" ucap Vanya kesal.
Begitulah obrolan unfaedah dari beberapa tamu yang berlangsung hingga Mirza selesai dengan untaian katanya. Mirza tetap berdiri di podium seperti yang diminta oleh Perwara untuk sessi foto bersama. Beberapa tokoh pun langsung berdiri berdampingan dengan Mirza. Tak lupa Arumi sebagai penyelenggara juga turut bergabung di atas podium bersama lainnya. Dankali ini tangannya menggaet lengan Permana dan Edward sambil mengurai senyum.
Ada bahagia yang menyelimiti jiwanya. Hingga senyumnya tiada henti menghiasi wajahnya. Senyum yang menandakan sebuah kesyukuran atas penyelenggaraan perhelatan pagelaran seni lukis juga kehadiran Edward dan Ryu yang di rasa bak oase di tengah gurun. Bagaimana tidak, disaat hilangnya harapan saat lukisan Yuki Hirata yang dirusak Ryu datang memberinya harapan. Ini adalah anugrah bagi Arumi yang tiada henti ia syukuri. Terlebih saat ini ia baru mengetahui bahwa ternyata ia memiliki saudara laki-laki seibu, yaitu Ryu Hirata.
Setelah beberapa kali mengabadikan kebersamaan dalam satu frame, Arumi dan lainnya pun kembali ke bawah podium dan berbaur dengan tamu undangan lainnya sambil menikmati hidangan yang tersedia.
"Bos, mengapa tidak mendampingi Arumi? Apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?"
"Tidak. Kami baik-baik saja. Aku hanya memberi ruang kepadanya untuk menjadi diri sendiri tanpa embel-embel nama ku..."
"Apa itu juga permintaan Arumi..."
"Begitulah..."
"Jujur ya, Bos. Aku kagum dengan Arumi. Tak banyak perempuan seperti dia. Jika ia ingin, ia pasti akan mengambil kesempatan menempel pada nama besar mu. Atau justru ia akan selalu menempel pada mu saat ini, demi menunjukkan statusnya dengan mu saat ini..."
"Itu yang aku suka dari Arumi. Ternyata dahulu aku begitu dangkal berfikir tentang kriteria mencari pasangan. Ternyata kenyamanan ku bukan pada kecantikan fisik semata, tapi pada kesederhanaan, tekad dan perjuangan Arumi. Kenyamanan yang akhirnya mampu meluluhkan kebekuan hati ku. Kenyamanan yang melahirkan cinta. Hanya untuknya saja..."
"Ah, akhirnya Bos menemukan cinta yang sederhana namun saling memiliki"
"Ya. Aku berterima kasih padamu. Kau sudah selalu mengingatkanku. Jika bukan karena peringatan mu, tentu aku masih terjebak dalam jerat kepalsuan cinta Andrea..."
"Ah, Bos bisa ae...." ucap Elvano sambil menolak lengan Mirza dengan lengannya.
"Eh, aku bos mu..." ucap Mirza sambil menatap Elvano dengan tatapan mempermainkan.
"Hahaha...iya, Bos. Maaf. Jangan potong bonus ku ya..." ucap Elvano sambil menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Hahaha....takut juga ku potong bonus mu"
Sementara itu di sudut lain ruangan, mata Arumi tengah memperhatikan dua laki-laki yang tengah berbincang. Keduanya adalah Permana dan Edward. Sayangnya Arumi tidak dapat mendengar apa yang tengah dibincangkan kedua orang yang pernah mencintai Yuki Hirata itu.
"Aku tidak menduga, laki-laki sepengecut diri mu, berani menemui putri ku, Arumi"
"Aku memang telah melakukan kesalahan. Dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup ku. Aku telah menyia-nyiakan Yuki. Dan sudah sejak lama aku menyadarinya dan menjadi penyesalan sepanjang sisa umur ku ini..."
"Hah, lalu apa tujuan mu menemui Arumi..?"
"Aku tidak memiliki maksud apapun. Semula aku hanya ingin bertemu Yuki. Aku ingin meminta maafnya. Tapi sayang, aku terlambat. Ia telah mendahului ku. Selain itu kami pun ingin mengumpulkan apa yang menjadi cita-cita Yuki, yaitu lukisan"
"Kami?"
"Ya. Aku dan anak laki-laki kami. Ryu. Apa Yuki tidak pernah menyebut anak laki-laki kami itu? Atau menyebut anak perempuan kami yang lain?"
"Kau..."
"Aku tahu, Permana. Aku tahu tentang Arumi. Arumi Hirata. Sekarang apa kau menjadi pengecut untuk menghadapi kenyataan lainnya tentang Arumi..."
"Jangan coba-coba mengganggu hubungan ku dengan Arumi" ucap Permana sambil menatap tajam Edward.
Sementara tangannya benar-benar mengepal hebat. Ada gelombang amarah yang siap menjadi badai dalam hatinya.
"Hahaha...tenang saja Permana. Aku tidak se-naif itu" ucap Edward sambil menepuk bahu Permana.
Mata Arumi semakin tajam menilik polah kedua laki-laki itu. Hatinya menjadi penasaran sekaligus khawatir. Terutama saat melihat reaksi di wajah keduanya di tengah obrolan.
"Apa yang mereka bicarakan hingga kesal dan amarah jelas tergambar di wajah keduanya? Apakah ini berkenaan dengan ibu? Atau ada hal lainnya..." batin Arumi.