
Arumi pun segera mengekori langkah Mirza dan duduk di sebelahnya.
"Jadi begini, apa yang akan aku bicarakan berkaitan denga. konsisi ayah..."
Deg.
Arumi terbelalak. Tatapannya terkunci pada wajah tampan laki-laki yang duduk di sebelahnya.
"Arumi tenang saja. Semua sudah di tangani dokter ahli di sini. Em, Arumi hanya harus meminta ayah untuk menjalani operasi"
"Operasi...? Ayah sakit apa, Kak? Kenapa kak Faaz tidak mengatakan apa-apa sebagai dokter yang menangani ayah?"
"Seandainya Faaz tidak mengenal mu, mungkin ia akan lebih mudah mengatakan hal ini kepada mu..."
Arumi menghela nafas. Matanya menatap jemarinya yang sejak tadi sudah berada dalam genggaman Mirza. Kemudian Arumi pun menjadikan lengan kekar Mirza sebagai sandaran kepalanya. Ada riak bermacam rasa di hatinya dan Sepertinya sesaat lagi akan menjadi badai.
Melihat pujaan hatinya berlaku demikian, Mirza segera melayangkan sebelah tangannya mengusap lembut pucuk kepala Arumi. Ia tahu apa yang tengah di rasakan gadis bertinggi imut namun bongsor itu.
"Aku siap, Kak..." ucap Arumi lirih.
"Ayah...." Mirza menghentikan katanya. Ia tengah memilih kata yang paling tepat untuk menyampaikan informasi tentang ayahnya.
"Em, melalui tindakan operasi ayah bisa disembuhkan. Walaupun kecil kemungkinannya, tapi kita akan ambil itu. Aku yakin Allah akan menyembuhkan ayah" ucap Mirza sambil mengukur kesiapan mental Arumi.
"Aku akan selalu mendampingi mu di setiap usaha penyembuhan ayah. Kau tidak perlu khawatir"
Mirza berucap lagi. Kali ini tangannya mengusap punggung tangan Arumi yang berada dalam genggamannya. Sesekali ia pun mengecup punggung tangan Arumi.
"Kak...."
"Emm..."
"Kereta babaranjang yang panjang saja ada ujungnya, kok ucapan kakak justru tak berujung..."
"Begitu ya. Hehehe..."
Mirza terkekeh, walau hatinya menyimpan gamang. Sesaat Mirza terdiam. Ia menghela nafas yang terasa berat baginya.
"Ayah terkena kanker otak..."
Deg.
Arumi terdiam. Fikirannya benar-benar terasa kosong. Kalimat yang di sampaikan Mirza benar-benar berhasil membuat dunia Arumi serasa terhempas. Diombang-ambing di pusaran lautan yang tengah diamuk badai. Di jungkir balikan segala senyum dan tawa menjadi pusara kedukaan yabg tak terperi.
"Sayang, kau baik-baik saja?"
"Huuwaaaaa...."
Ditanya Mirza, Arumi justru menangis. Arumi meraung bak bocah kehilangan permen atau mainannya. Beberapa perawat yang melewati keduanya pun sempat melemparkan tatapannya. Namun setelah mengetahui siapa laki-laki di sebelah bocah yang tengah meraung itu, buru-buru mereka membuang tatapannya dan mengambil langkah seribu. Siapa yang tidak tahu dengan Mirza Adyatma. Pengusaha muda sukses pemilik MA Group, yang artinya MA Hospital pun adalah salah satu milik nya.
Mirza begitu kerepotan menenangkan Arumi. Ia tak tahu cara membuat gadis yang amat ia cintai itu agar tak mengeluarkan suara auman nya. Suara yang mampu menggetarkan setiap inci dinding rumah sakit. Di tengah kegamangannya itu, akhirnya Mirza mengambil cara yang menurutnya cukup ampuh karena ia pernah melihat seorang ayah yang menenangkan putrinya yang tengah menangis. Dan Mirza pun mulai menyanyikan lagu cicak-cicak di dinding, naik-naik ke puncak gunung, potong bebek angsa, selamat ulang tahun, Nina bobok sampai doa makan, doa tidur, doa masuk kamar mandi. Namun semua usahanya itu gagal. Akhirnya Mirza menyerah. Dan Mirza pun mengeluarkan jurus terakhirnya.
GREEP....
Mirza merengkuh tubuh Arumi dan membawanya dalam dekapannya. Membenamkan kepala Arumi dalam dada bidangnya dengan erat. Wal hasil suasana pun menjadi hening. Tiada raungan atau pun lagu nyeleneh dan doa Mirza yang tak pada tempatnya. Namun beberapa saat kemudian, tangan Arumi mulai menggapai-gapai. Nafasnya tersengal. Dan....
PLAK...
Arumi memukul lengan Mirza dengan cukup keras. Membuat Mirza tersadar terlebih saat Arumi menyebut namanya dengan susah payah.
"Ka-Kak...Mir...Zaaaa...."
Mirza pun melepaskan dekapannya. Bersamaan dengan itu pukulan demi pukulan mendera lengan Mirza. Bahkan cubitan pun mampir dan mencabik roti sobek perut Mirza.
"Aw...Aw...Sakit sayang" ucap Mirza.
"Kakak nih jahat. Mau membunuhku...?! Aku tak bisa nafas tau"
"Maaf sayang. Aku bingung bagaimana menenangkan mu tadi" ucap Mirza sambil mengusap-usap bekas cubitan Arumi pada perutnya.
BRUUG...
Arumi memeluk Mirza kembali. Kali ini ia menumpahkan tangisnya tanpa raungan. Hanya isaknya saja yang terdengar sayup-sayup tak sampai. Dan hal tersebut justru makin membuat Mirza gamang.
Sementara itu di sudut ruangan, seorang laki-laki bertubuh tegap tengah menatap Mirza dan Arumi.
"Mirza...Mirza. Bermacam tantangan di dunia bisnis bisa kau taklukkan, tapi menenangkan seorang gadis saja kau kewalahan begitu. Dasar manusia es...Tidak peka" batin Faaz sambil menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis menghiasi sudut bibirnya.
"Sayang... maaf ya. Aku panik jika kau menangis seperti itu"
"Kau jangan khawatir, aku akan membantu dengan segala kemampuan ku..."
"Terimakasih, Kak. Aku jadi tersenyum walau menerima kabar sedih tentang ayah. Polah kacau kakak telah membuatku sedikit terhibur. Sekali lagi terima kasih"
"Selama aku bisa. Apa pun akan aku lakukan, sayang. Semua demi meringankan bahkan menghilangkan sedih mu..."
Mirza kembali merengkuh kepala Arumi dan meletakkannya di dada bidangnya.
"Tetap senyum dan buatlah ayah tak terbebani dengan sikap atau banyak pertanyaan. Aku yakin kau bisa. Dan perlahan bujuk ayah agar bersedia menjalani operasi"
"Ya, Kak. Arumi mengerti..."
🌸🌸🌸🌸🌸
"Ayah..." ucap Sonia saat Permana membuka mata.
Tangan Sonia bergerak cepat mencegah pergerakan Permana yang berusaha bangun dari posisi tidurnya.
"Ayah...istirahat dahulu. Rebahan saja. Ayah butuh sesuatu?"
Permana menggeleng lemah. Matanya menatap Sonia, Arya dan sekali lagi menatap sisi kanan juga kiri brankar dimana ia terbaring.
"Em...Arumi ada di luar, Yah. Mungkin sedang berbincang lagi dengan dokter Faaz" ucap Arya mencoba memberi jawaban atas pertanyaan tak langsung Permana.
KREEEK...
Pintu ruangan terbuka. Mata ketiganya langsung mengarah pada sosok yang tengah berdiri di ambang pintu dan mengurai senyum khasnya.
"Ayaaah....!" sapa Arumi.
Senyum Permana langsung mengembang saat menangkap langkah cepat putri semata wayangnya itu. Tak lama kemudian, Arumi pun sudah berada di sisi brankar. Arumi pun langsung memeluk erat Permana. Kepalanya mengusak-ngusak dada Permana bak seorang bocah yang meminta mainan.
"Ndok...Apa tidak malu dengan Mirza?" ucap Permana yang tertawa kecil.
"Kenapa harus malu? Dengan ayah sendiri ini..."
"Dasar anak kecil..." ucap Arya sambil menyentil hidung Arumi.
"Mi, kak Arya nieh..." ucap Arumi manja.
"Ish, pengaduan dia mah..." ucap Arya sambil memutar bola matanya.
"Anak ayah sama saja. Anak-anak keduanya..."
"Tuh...dengar kata ayah, Kak. Kakak juga masih anak-anak"
"Ya, aku juga anak-anak sama seperti Arumi. Tapi aku anak SD, kalau Arumi anak TK"
"Iiih...kak Arya ini loh!" ucap Arumi sambil melayangkan cubitan ke lengan Arya.
"Aw...Aw...! Sakit Ar"
"Rasain..! Weeeik..." ucap Arumi sambil menjulurkan lidahnya ke arah Arya.
"Maaf, nak Mirza. Kelakuan bocah-bocahnya masih terbawa"
"Tidak apa-apa,Yah. Justru seru melihatnya. Natural. Mirza suka suasana seperti ini"
"Apalagi kalau Arumi manjanya ke kak Mirza. Pasti kak Mirza seneng. Hehehe...."
Arya mencoba menggoda dosen tampannya itu yang sejak tadi senyum-senyum menangkap polah Arya-Arumi.
"Kok tahu..." ucap Mirza yang disambut kekeh lainnya.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
Ponsel Mirza berpendar. Ia pun langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Wajah Mirza berubah saat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Apa...!" ucap Mirza setengah teriak sesaat setelah mendengar penjelasan di ujung telepon.
Merah padam wajah Mirza diamuk amarah.
"Kurang ajar...!" ucap Mirza dengan tangan mengepal.