150 Cm

150 Cm
Episode 121. Pertemuan



"Wait...." ucap Arumi.


Tangannya meraih lengan Mirza. Berharap laki-laki tampan itu mengerti akan maksudnya. Dan benar saja, langkah laki-laki itu sontak menjadi ragu. Tangannya langsung berisyarat untuk menghentikan langkah.


Melihat isyarat sang tuan, akhirnya semua dalam iringan itu menghentikan langkah tanpa kecuali.


Mirza setengah menjura di depan Arumi. Matanya menilik wajah cantik istrinya itu. Mendapati polah suami tampannya, Arumi justru menolak tubuh Mirza. Tubuh laki-laki tampan itu tertolak hingga tak menutupi tatapan Arumi. Mirza pun akhirnya turut mengikuti arah tatapan mata Arumi.


"Kak...bukankah itu Shereen? Kak King?" ucap Arumi sambil terus menajamkan matanya.


"Sepertinya ya...."


"Mengapa mereka ada di sini? Dan.... Shereen tampak tangah mengandung? Apakah mereka sudah menikah?"


"Apakah istri ku ini begitu terganggu dengan kehadiran Shereen dan King?"


"Tidak demikian, Kak. Aku hanya heran. Tiba-tiba saja melihat keadaan Shereen yang tengah berbadan dua itu. Dan kak King sendiri tidak memberitahu ku tentang pernikahannya. Tidak sedikit pun"


"Kalau begitu kita menghampiri mereka untuk menjawab semua pertanyaan mu itu"


"Tapi, Kak...." ucap Arumi terhenti saat melihat Shereen dan King melangkah ke arahnya.


"Tu-tuan, Nyo-nyonya..." sapa keduanya gagu.


"Kak King...." ucap Arumi.


Matanya menatap King dan Shereen bergantian saat sudah berhadapan.


"Em..pasti nyonya bingung" ucap King.


"Ya. Tentu saja..." ucap Arumi.


Matanya terus menatapi perut Shereen yang tampak besar itu.


"Kami belum menikah. Tapi kami akan segera menikah jika si bayi dalam perut Shereen telah dilahirkan"


"Ooo..."


Arumi meng-o cukup panjang. Kepalanya pun turut mengangguk tanda mengerti.


"Lalu...." ucap Arumi kembali terhenti.


Ada rasa penasaran dan keingintahuan yang begitu besar di sana.


"Panjang ceritanya, Nyonya..." ucap King.


"Rumah kami selalu terbuka untuk kalian..." ucap Mirza akhirnya.


"Tuan..." ucap Shereen dengan suara bergetar.


Walau hanya sepatah kata, namun cukup mewakili bagaimana perasaan yang tengah ia rasakan saat ini. Terlebih getar pada suaranya bak mengirimkan signal mengandung kepiluan.


"Suatu saat kami akan butuh bantuan Tuan dan Nyonya..." ucap King.


"Kapan pun kalian butuh, rumah kami selalu terbuka..." ucap Mirza.


Ujung bibirnyaenyunggingkan senyuman. Karena sesungguhnya ia mengetahui apa dan bagaimana kondisi Shereen saat ini.


"Terima kasih, Tuan... Nyonya" ucap Shereen penuh perasaan.


"Sekarang kalian mau kemana?" tanya Arumi.


"Pulang, Nyonya. Tubuh ini rasanya sudah tak kuat menahan bobot bayi yang ada di dalam"


"Wow...berapa bulan, Shereen..."


"Bulan ini sembilan bula penuh...." ucap Shereen dengan suara kembali bergetar.


"Bincang-bincangnya disudahi. Nanti kita sambung lagi. Bagaimana jika nanti malam kalian ke rumah kami?" ucap Mirza.


"Baik, Tuan. Kami pastikan, kami akan memenuhi undangan Tuan dan Nyonya. Kalau begitu kami pamit dahulu Tuan, Nyonya..."


"Baik berhati-hati la kak. Jaga Shereen baik-baik..."


"Ya...Nyonya" ucap King.


"Terima kasih, Nyonya..." ucap Shereen saat tepat melewati Arumi.


Mata Shereen berkaca-kaca. Jelas ada banyak bulir bening yang mengerubuti kedua matanya.


"Jangan lupa nanti malam..."


"Ya, Nyonya..." ucap King.


Sebelah tangannya mendekap erat bahu Shereen, perempuan yang kini ia cintai itu.


Hampir menitik air mata Arumi menatapi punggung keduanya hingga menghilang di ujung lorong.


Arumi meraih lengan Mirza untuk kemudian menyimpannya dekat wajahnya. Sesekali ia pun mengecup takzim telapak tangan suaminya itu.


"Bertambah satu lagi, sosok aki-laki yang bersedia melakukan apa saja demi orang lain. King kau hebat. Kehebatan mu hampir menyamai suami tampan ku ini..." batin Arumi.


Arumi pun mengangguk gagu karena sesungguhnya ia baru saja tersadar dari lamunannya. Bibir Arumi menyulam senyum sesaat. Matanya pun menatap sendu wajah Mirza.


Hari makin tertelan malam. Cahaya mentari pun sedikit demi sedikit meredup untuk kemudian menghilang tak bersisa. Sementara itu langkah Shereen dan King sudah mencapai parkiran. Mesin mobil pun mulai metaung. Dan jika bukan karena suara seorang laki-laki yang menghentikan keduanya, tentu mereka sudah menghilang bersama dengan mobil berwarna hitam yang berkecepatan tinggi itu.


"Pasangan mesum, berhenti kalian..." ucap laki-laki itu.


Tak sadar dengan maksud laki-laki itu, maka Shereen atau pun King tak menggubrisnya. Hingga laki-laki itu menyebut nama Shereen, barulah keduanya mengalihkan perhatiannya ke si empunya suara.


"Shereen...! Tak ku duga kau berani membantah perintah papa!!" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Ken.


King bersikap siaga dari segala bentuk kemungkinan. Ia berdiri di depan Shereen.


"Kak Ken....!" ucap Shereen.


Walau lantang, tapi jelas terdengar bergetar dan sumbang karena bulir bening kembali mengerubuti matanya. Hal tersebut saat mengingat ucapan Putra Jaya, ayah dari Shereen.


"Mengapa aku harus menurutinya?! Bukankah semestinya kau bahagia karena aku mempertahankan anak mu yang ku kandung ini...!"


"Anak ku...? Kau yakin? Kau saja berbagi ranjang mu bukan hanya dengan ku. Jadi jangan berdalih, jika itu adalah anak ku"


"Cukup...!!" ucap Shereen lantang.


"Dengar...!! Jika kau masih bersikeras bahwa ia adalah anak ku, maka aku tak kan segan-segan untuk membunuh mu sekaligus dengan anak dalam kandungan mu itu...!" ancam Ken.


"Berani kau mengancam Shereen...!!" ucap King.


"Tentu saja...! Ow...penjaga mu ini ternyata lumayan punya nyali juga..."


"Aku memang bernyali. Majulah jika kau benar-benar laki-laki. Jangan kau bersembunyi di balik istri dan mertua mu itu...!" ucap King.


"Mulut mu tajam juga. Kita lihat apa pukulan mu juga setajam kata mu..." ucap Ken.


Bersamaan dengan itu, Ken langsung menghambur untuk kemudian melancarkan jurus-jurus ampuhnya.


"Masuklah ke dalam mobil, Shereen...!" teriak King.


Sebelah tangannya mendorong tubuh Shereen ke dalam mobil sehingga tubuh yang tengah berbadan dua itu pun terdorong ke dalam mobil untuk kemudian duduk sempurna di dalamnya.


"Apa kita perlu berduel?" tanya King.


"Haha....baiklah. Jika kau menang, kau boleh membawa perempuan murahan itu. Dan jika kau kalah, maka kau harus merelakan perempuan itu untuk ku..."


"Untuk mu? Hendak kau apakan dia? Bukankah kau tidak menginginkannya?"


"Aku akan menjauhkannya dari kehidupan ku untuk selamanya..."


"Cih...rupanya kau tidak ingin perbuatan mu terbongkar? Seorang pengusaha yang baru naik pamornya tiba-tiba harus kembali tenggelam karena perbuatan bejatnya di masa lalu..."


"Haha... Bejat kata mu. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka"


"Ya suka sama suka berujung lari dari tanggungjawab. Pengecut kau Ken...!"


"Cukup...! Kita sudahi perbincangan ini dan mari kita lihat siapa yang dapat bertahan dari jurus ampuh masing-masing dari kita!"


Tak lama Ken pun menghambur menyerang King. Gerakannya cukup alot untuk dipatahkan. Rupanya ia seorang petarung yang mumpuni juga. Sampai beberapa waktu, King bum menemukan titik lengah Ken. Begitu pun sebaliknya.


BRAAKKKK....!


Suara benda terhantam. Benda itu tak lain ada kaca mobil dimana Shereen berada.


"Akh....!" teriak Shereen.


Tangannya melindungi kepala dari serpihan kaca yang mulai beterbangan ketika untuk kesekian kalinya dihantam oleh laki-laki bertubuh kekar.


Suasana sesaat menjadi riuh. Ada banyak pasang mata yang langsung mengarah pada peristiwa tersebut. King pun menjadi lengah saat teriakan Shereen terdengar.


BUGH....!


Sebuah tendangan bersarang di tubuh King. Jelas karenanya, tubuh kekarnya surut beberapa langkah.


"Shereen....!" ucap King.


Bukan sekali tapi berulangkali terlebih saat tubuh Shereen dipaksa keluar dari dalam mobil. Sementara itu King semakin lengah. Beberapa kali pukulan atau pun tendangan Ken dan seorang laki-laki lainnya bersarang di tubuhnya.


King berusaha mengejar Shereen yang dibawa paksa ke mobil lainnya.


"Pengecut kau, Ken...! Aku saja belum menyerah tapi kau sudah mengambil Shereen..."


"Haha...aku tak peduli atas perilaku ku ini. Terpenting aku dapat membawa Shereen seperti rencana ku..."


"Tuan..." ucap laki-laki berwajah keras.


"Kau urus dia. Aku sudah bosan bermain-main dengannya. Kalau perlu jadikan ia mainan mu. Aku tahu dia type mu, bukan..."


"Ah, Tuan tahu saja..." ucap laki-laki berwajah keras yang mendadak berubah kemayu itu.


"Cih...ternyata dia laki-laki pelangi. Awas saja jika dia berani macam-macam terhadap ku. Ku cincang habis perkututnya...!" batin King.