
"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik..." (Ali bin Abi Tholib ra.)
Senja kembali datang menjemput. Kali ini semburat merahnya tak menyata, diganti warna kelabu karena gerimis masih mewarnai senja. Arumi yang duduk tak tenang akhirnya memilih berjalan mondar-mandir sekedar untuk menenangkan hatinya yang tak tenang.
Berulangkali mata Arumi menatap jam yang bertengger di dinding. Sudah lebih dari satu jam keterlambatan Permana, Sonia dan kakak beradik anak dari Sonia dan suaminya datang ke rumah berdasar prediksi sebelumnya.
Sejurus kemudian wajah Arumi berubah sumringah saat mengetahui dua mobil tengah memasuki halaman rumahnya.
Dengan segera Arumi menyongsong kehadiaran keluarga barunya itu.
"Ayah...Mami..." ucap Arumi sambil meraih tangan keduanya bergantian dan mencium punggungnya dengan takzim.
"Nah, Andrea..."
"Andrea...??" batin Arumi.
"Ini Arumi. Dia anak satu-satunya ayah kalian"
Mata perempuan yang dipanggil dengan Andrea itu tampak menatap Arumi. Ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kamu....???!"
"Kamu...???!"
Ucap Arumi dan Andrea hampir bersamaan.
"Astaga sial....! Kenapa bertemu dengan gadis abnormal ini. Sialnya kenapa dia makin cantik. Tapi tidak apa-apa, aku bisa leluasa membalas dendam kepadanya..."
"Kalian saling kenal?"
"Kami sudah berteman, Mami. Ya kan, Ar..." ucap Andrea sambil memeluk Arumi.
"Awas jika berbicara macam-macam tentangku..." ancam Andrea dengan berbisik.
"Ah, ya. Kami berteman. Apa kabar kak Andrea?"
"Ya Tuhan... jika Andrea menikah dengan laki-laki lain, lalu bagaimana dengan pak Mirza? Apakah keduanya telah putus? Atau..." batin Arumi.
"Arumi Hirata Permana...!"
Seorang laki-laki menyebut nama Arumi dengan lengkap. Arumi pun langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Arumi tertegun saat melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya.
"Arya....??!"
"Hei, ternyata dunia ini sempit. Ternyata kita menjadi saudara. Kecewa sih, tapi tidak masalah. Hahaha..." ucap Arya yang langsung menrangkul bahu Arumi.
"Sial, kenapa Arya akrab dengan gadis abnormal ini..?" batin Andrea.
"Dasar semprul..."
"Kalian saling kenal juga...?" ucap Permana, Sonia, Andrea hampir bersamaan.
"Bukan cuma kenal, tapi kita sohib. Ya kan, Ar.."
"Em,.ntar diingat-ingat dulu ya..."
"O...mau pura-pura amnesia? Hem..."
Arya mengusek kepala Arumi yang sebelumnya ia masukkan dalam dekapannya.
"Hei...Hei...Hei..." Arumi berontak diperlakukan demikian.
"Sudah... sudah...sudah...mari kita masuk"
Kemudian, mereka pun masuk ke rumah sembari di barengi celoteh Arya dan Arumi. Obrolan pun berlanjut saat semua telah sempurna duduk di sofa berwarna maroon itu.
"Jadi, Arya dan Arumi kenal dimana...?" ucap Permana.
"Bukan club malam kan...?" serobot Andrea.
"Ish, mana ada tempat begituan dalam hidup kami. Ya, ga Arumi..."
Ditanya begitu, Arumi tersenyum sambil menampilkan mimik wajah lucu.
"Kami satu kampus, Yah. Satu jurusan pula. Arumi ini jago lukis, Mi. Keren lukisannya" ucap Arya diakhiri dengan kalimat memuji membuat Arumi lagi-lagi menampilkan wajah lucunya.
"Syukur kalau kalian sudah saling kenal. Jadi kan lebih mudah dan seru..." ucap Sonia sambil terkekeh diikuti Permana.
"Nah, Arumi. Arya akan tinggal bersama kita. Jadi kalian bisa berangkat dan pulang bersama. Kalau dimungkin kan. Arya, ayah minta jaga Arumi ya..."
"Siap, Yah. Serahkan pada Arya. Kemarin-kemarin juga Arya yang jaga n bantuin Arumi..."
"Weeeik...." ucap Arumi sambil menjebikkan bibirnya dan bereaksi seakan muntah.
"O....amnesia lagi. Sini diingatkan lagi" ucap Arya sambil merengkuh kepala Arumi. Dan lagi-lagi ia mengusek kepala gadis gembul yang sudah tidak gembul lagi.
"Aryaaa...."
"Iya, Mi...."
"Dasar somplak..." ucap Andrea yang menarik Billy menuju kamar diantar mbok Parni.
"Arya dimana, Yah?"
"Arumi, tolong tunjukkan kamar Arya..."
"Ya, Yah..."
"Em, tunggu. Di sini yang kakak siapa? Arya atau Arumi...?"
"Kalian atur sajalah..."!ucap Sonia sambil menghela nafas.
"Maaf ya, Mas..."
"Wis...ga apa-apa. Saya malah senang. Seru. Arumi jadi punya teman..."
"Ar, aku yang jadi kakak. Aku kan laki-laki. Jadi panggil aku kakak ya.."
"Ogah..."
"Eh, mau ku hukum lagi?"
"Ogah juga..."
"Ar... Arumi, tunggu..." ucap Arya yang cepat mengejar langkah Arumi menyusuri anak tangga.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Ah, sial....!" ucap Andrea sambil melempar koper yang tadi di bawahnya dengan kesal.
"Ada apa...?"
"Cewek kampung itu yang sudah membuat Mirza berubah..."
"Cewek kampung...?"
"Aah...itu si Arumi"
"Jadi Arumi itu..."
"Ya, gadis abnormal, kampungan dan nyebelin..."
"Tapi kan sekarang dia sudah menjadi saudara mu..."
"Saudara dari Hongkong...."
"Kalau kau masih marah, artinya kau belum menerima aku sebagai suami mu?"
"Ya, bukan begitu. Tapi kan aku masih dendam. Dendam karena aku selalu dibandingkan dengan gadis abnormal itu"
"Sudahlah...sayang. Bagi ku kau tiada banding. Kau segalanya..."
"Pokoknya kau harus membantu ku balas dendam..."
"Ya..aku bantu. Sekarang jangan sampe urusan balas membalas mengganggu waktu bulan madu kita..." ucap Billy sambil memegang tangan Andrea yang terlihat dengan senyum menggoda.
Kemudian Billy pun langsung menyambar bibir merah merekah Andrea dan ********** penuh gairah. Tak sampai di situ, tangan nangan nakal Billy mulai aktif menyusuri setiap jengkal tubuh Andrea yang mulai bergelinjang bak tersengat puluhan lebah. Billy pun berhenti sejenak dan asyik memainkan dua puncak gunung kembar Andrea yang begitu menggoda itu. Saat rasa itu memuncak, Billy langsung memfokuskan aktifitasnya pada.... .... ... ... .... ( Mamake stop lagi ye. Mamake takut keterusan. Ntar pada kepengen lagi. Syukur-syukur dah pada punya pasangan, nah kalo belum? Kan repot. heheee...ππ)
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Ini kamar nya..."
*CKLEK....
KREEEK*....
"Terima kasih, adikku sayang..."
"Dasar semprul..."
Arumi melempar bantal sofa yang langsung di tangkap Arya.
"Belum ikhlas ya... kalau aku jadi kakak mu?"
"Ya belum. Kenapa...?" jawab Arumi ketus.
"Memang pesona seorang Arya selalu membuat gadis-gadis jatuh hati..."
"Egh..."
Mendapat tatapan setajam silet, Arya justru tertawa.
"Hahaha....kan betul. Kau belum ikhlas pasti karena kau pun keburu jatuh cinta kepada ku..."
"Egh..."
"Ya, kan...?"
"Dasar semprul...ogah gw, Lo jadi kakak gw!"
"Kalo gitu jadi adik aja deh..."
Hos.
Hos.
Hos.
Nafas Arumi tak beraturan. Begitu pun dengan Arya. Arumi menghempaskan tubuhnya pada sofa sedikit jauh dari Arya. Mata Arya menyipit sambil tersenyum. Tanda ada ide yang berhasil ia dapat.
"Kalau tidak mau jadi adik ku, berarti jadi kakak ku. Kakak Arumi...! peyuk adek. Peyuk" ucap Arya. Tangannya mengembang ke arah Arumi.
"Egh...."
"Mamiii....!!!!"
Arumi memilih langkah seribu keluar dari kamar yang akan menjadi sarang Arya itu.
"Aku bahagia sekaligus sedih menjadi saudara mu, Arumi. Bahagia, karena aku dapat selalu dekat dengan mu. Gadis yang ku kagumi saat ini. Sedih, karena kemungkinan aku akan menjadi saudara mu selamanya. Sementara hati ini sudah mulai berubah jadi merah jambu sejak mengenalmu. Aku sudah jatuh hati pada mu..." batin Arya.
(Bagaimana nieh reader's kira-kira Arya masih bisa tidak melanjutkan cintanya pada Arumi di situasi saat ini? Mamake jadi bingung...π)
Langkah seribu Arumi berlanjut hingga ke kamarnya. Arumi menutup pintu sedikit keras dengan segera. Arumi berdiri bersandar di belakang pintu. Nafasnya naik-turun tak beraturan. Sementara tangannya mengusap dada berulangkali.
"Dasar semprul...! Ah, ayah bisa-bisanya membawa oleh-oleh manusia sinting itu..." gumam Arumi.
Arumi berdiri dekat jendela. Matanya menatap kuncup bunga yang tengah bergoyang tertiup angin. Dan tiupan sang Bayu itu pun berhasil menerbangkan titik air sisa hujan barusan. Hati Arumi kembali gerimis saat ingatannya berhasil menyusun keping kenangan ibunya.
"Ibu...ayah kini sudah mendapatkan pendamping baru. Dari interaksi keduanya jelas mereka saling mencintai. Tidak apa-apa kan, Bu? Oya, Ibu juga tidak akan marah kan jika Arumi pun menyayanginya? Arumi berdoa ibu mendapat ketenangan dan kebahagian di sisi Allah SWT" ucap Arumi sambil menghapus air matanya yang mulai membanjir. Lama ia terdiam. Hanya isaknya saja sesekali terdengar walau lirih.
Hingga adzan menggema barulah Arumi menyudahi tangisnya itu. Tampak ia menghela nafas panjang beberapa kali sambil menangkupkan kedua tangan pada wajahnya. sejenak. Kemudian Arumi menutup jendela sesaat sebelum ia berlalu menghambur ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Arumi sudah selesai menjalankan ibadah sholat maghrib dengan penuh keharuan. Lagi-lagi ia baru saja mengurai air matanya. Bukan saja karena kenangan ibunya yang terus menari-nari dalam ingatannya, namun itu adalah air mata sebuah kesyukuran atas segala yang telah ia raih sejauh ini.
Puas berkeluh kesah, Arumi pun menyudahi ibadahnya dan merapikan mukena berwarna biru gelap itu. Dan tanpa Arumi sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi menatapnya dari ambang pintu kamarnya.
"Kamu hebat, Ar. Mungkin inilah sumber kekuatan dan kecantikan mu. Semangat dan sujud syukur mu yang membuat kesempurnaan pada kecantikanmu yang sebenarnya. Mungkin kak Andrea harus banyak belajar dari mu, Arumi..." batin Arya sambil menyulam senyum.
"Astaga...! Aryaaa....!" pekik Arumi saat menyadari kehadiran Arya"
"Eits...kak Arya. Karena aku sudah memutuskan aku akan menjadi kakak mu. So.. panggil aku kak Arya"
"Ogah..."
"Sepertinya sulit sekali mengakui ku sebagai saudara mu? Kenapa...?" ucap Arya sambil memainkan alisnya naik-turun dengan cepat.
"Ini kamar ku. Kamar seorang gadis. Jadi tolong keluar..."
"Tidak apa-apa...Kita kan saudara"
"Tapi saudara bukan sekandung. Jadi tetap kita bukan mahrom. Jadi keluar...." .
"Tidak mau..! Sebelum kau memanggilku kak Arya..."
"Ogah..."
"Ya sudah. Aku tak akan keluar..."
"Aryaaaa...!"
"Sstt....kak Arya"
"Ok...ok kak Arya yang baik hati dan semprul tolong keluar" ucap Arumi sambil mendorong tubuh Arya keluar yang kini tanpa perlawanan.
"Ok adek Arumi. Hahaha....!"
BLAAM....!
Arumi menutup pintu kamar cukup keras. Hal tersebut sukses membuat Arya terjengkit begitu pun dengan Permana dan Sonia yang baru saja menuruni anak tangga.
"Aryaaa...masih mengusili Arumi? Jangan begitu, nak"
"Hehe...Arya senang saja menggoda Arumi. Maaf ya, yah..."
"Tidak apa-apa yang penting tetap dijagain ya, Aruminya. Jangan sampai menangis. Hehee..."
"Siap, Yah...Arya akan menjadi kakak yang baik untuk Arumi. Dan Arya juga mengucapkan terima kasih kepada ayah yang sudah sukses membawa senyum mami kembali..."
"Em, sok tau..." ucap Sonia sambil menjebikkan bibirnya.
"Jadi mami tidak bahagia...?"
"Bahagia donk.."
"Arya bahagia, tidak..."
"Arya bahagia karena mami bahagia. Terlebih ada Arumi. Hahaha..."
"Arya...! Maaf ya, Mas"
"Ga apa-apa ia lagi senang dapat mainan baru. Semoga rukun sebagai saudara..."
"Aamiin..."
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam mulai merangkak meninggalkan terang. Suasana riuh mulai mewarnai rumah Permana yang biasanya begitu tenang bak tak berpenghuni. Keriuhan tersebut terjadi karena kehadiran Arya yang banyak berceloteh terutama saat menggoda Arumi.
Sementara itu di ujung meja, tampak Andrea duduk dengan mata yang menatap sinis pada Arumi. Berulangkali Billy menyadarkannya dari tingkahnya itu.
"Awas kau Arumi. Aku akan segera membuat mu menangis" batin Andrea.
"Aku tahu kau membenci Arumi karena kau gagal menggaet pak Mirza. Tapi bukankah itu kesalahanmu sendiri, kak? Kau yang sudah mengkhianatinya. Ah, tatapan mu itu seakan memberiku isyarata bahwa ada niat jahat yang tengah kau susun untuk Arumi. Maaf kak, untuk kali ini aku tidak akan membiarkan mu melakukan itu. Karena Arumi adalah senyum laki-laki yang sudah membawa kebahagiaan mami kembali. Aku tak kan membiarkan mu merusak itu, kak..." batin Arya saat menagkap tatapan sinis Andrea.
"Setelah resmi menikah, apa rencana kalian Billy?"
"Memiliki anak donk, Yah"
Hahahaha....
Tawa semua mewarani acara makan malam itu. Terlebih saat Arya menggoda kakak sulungnya itu.
"Cie..cie...punya anak. Rencana berapa, Kak An"
"Berisik..." timpal Andrea dengan wajah memerah.
"Cepatlah punya anak agar ayah cepat momong cucu..."
"Klo ayah ingin cepat momong cucu kenapa tidak suruh Arumi saja yang menikah..?"
"Arumi kan masih kuliah. Lah kakak yang sudah menikah. Jadi kakak yang punya tugas memberi ayah dan mami cucu..."
"Berisik...! Dan kau kenapa begitu membela gadis abnormal itu!" ucap Andrea sambil meninggalkan meja makan dengan kesal.
"Andrea...!" ucap Sonia.
"Sudah, biarkan saja. Arumi juga tidak masalah kan? ucap Permana.
Permana tersenyum menatap Arumi yang masih menikmati menu makannya. Tidak ada yang tahu jika hati Arumi kembali gerimis mendapat kata yang tak mengenakkan hatinya itu. Pun demikian, Arumi tetap diam saja karena ia tak ingin makin merusak acara makan malam pertamanya bersama keluarga barunya itu.
"Tenanglah, Arumi. Mulai saat ini kau tidak akan sendiri menghadapi Andrea" batin Arya yang sesekali menatap Arumi.
"Arumi tidak apa-apa, Yah. Arumi baik-baik saja. Dan lagi Arumi sudah terbiasa. Hehehe..."
Drrt.
Drrt.
Drrt.
"Laporan..."
"Aku kangen..."
Begitu isi pesan dari Mirza.
"Tau ah..." ucap Arumi sesaat setelah membacanya.
Drrt.
Drrt.
Drrt.
"Laporan..."
"Laporan..."
"Ish...bawel" ucap Arumi.
"Siapa, Ar..." tanya Arya.
"Manusia kulkas..."
"Hahah.....dijawab donk"
"Ogah. Biarkan saja..."
Drrt.
Drrt.
Drrt.
"Lagi apa...?"
"Ish...bawel nya si manusia kulkas ini" batin Arumi.
"Baru selesai makan. Sekarang lagi pup..."
"Egh..."