150 Cm

150 Cm
Episode 55. Saudara Laki-laki Se-ibu



KREEEK....!!


Derit pintu terbuka terdengar. Seiring itu, mata Arumi membulat sempurna. Ia terpana akan isi ruangan tersebut. Kemudian kaki Arumi melangkah dengan perlahan ke dalam ruangan tersebut. Hampir menangis ia dibuatnya. Lukisan yang tergantung di tiap dinding, amatlah begitu ia kenal. Dari gaya dan cara penarikan tiap goresan, ia tahu betul siapa si pembuatnya. Pun demikian Arumi tetap menanyakannya untuk lebih meyakinkan hatinya yang tengah bersorak.


"Apakah ini semua lukisan ibu ku...?"


"Ya. Ini semua lukisan ibu kita. Yuki Hirata..."


Jantung Arumi berdegup hebat. Degupnya seiring rasa terkejutnya. Dan matanya langsung beralih pada sosok bermata sipit itu. Perhatiannya pun langsung tertuju pada kata yang baru saja ia dengar.


"Ibu kita...?!"


Ryu tersenyum. Ia sadar bahwa tak kan mudah meyakinkan Arumi saat itu. Kemudian tangan Ryu merogoh kantung dibalik jaket hitamnya. Ryu menyodorkan amplop berwarna coklat kepada Arumi.


Sedikit ragu, Arumi menerima amplop coklat tersebut. Arumi menilik kedalam amplop tersebut. Ada beberapa lembar foto di dalamnya. Arumi pun segera mengelurkannya. Lagi-lagi Arumi tertegun. Berulangkali kali Arumi mengusek matanya seakan tak percaya atas penglihatannya sendiri.


"Itu mama ku yang juga ibu mu, Yuki Hirata. Bahwasanya benar ia adalah orang Jepang. Laki-laki di sebelahnya itu adalah Edward, pengusaha asal Indonesia yang menikahi mama dan menetap di Jepang. Papa yang merupakan suami pertama Mama Yuki Hirata. Bocah laki-laki yang berada di pangkuan papa, itu adalah aku..."


Arumi tiada henti menatap wajah yang ada dalam foto itu. Hatinya makin beriak dan sesaat lagi akan berubah menjadi badai. Terduduk lesu Arumi pada lantai berwarna abu bermotif biru muda itu. Matanya kini telah basah dengan air mata. Pun demikian, Arumi sungguhlah tak mengerti mengapa ia menangis. Apa karena bahagia telah menemukan saudara seibunya? Atau bahagia karena ia baru saja menemukan solusi untuk acara pagelarannya.


Arumi terus terisak. Katanya jadi mogok di ujung lidahnya.


"Aku tahu, mungkin ini terlalu tiba-tiba. Tapi ini pun penting bagi ku dan papa ku. Hampir dua tahun aku mencari mama. Dan baru dua Minggu yang lalu aku menemukan titik terang saat melihat informasi dan undangan digital tentang pagelaran mu..."


"Aku...Aku..." Arumi benar-benar kelu.


Semua terjadi diluar prediksi dan ataupun ekspektasinya.


"Seandainya benar ibu kita sama. Mengapa ibu bisa menikah dengan ayah ku? Apa telah terjadi sesuatu?"


"Papa ku telah melakukan kesalahan fatal hingga mama memilih berpisah dari papa. Dan aku yang sempat pergi bersama mama, akhirnya berhasil di raih papa di bawah pengasuhannya. Bertahun-tahun aku mendamba kepulangan mama. Dan itu menjadi kemustahilan..."


Ryu menghela nafas dalam. Matanya berkaca-kaca saat kata demi kata meluncur dari bibir tipisnya itu.


"Seiring perjalanan papa menemukan kesadarannya. Dan papa merasa bersalah atas perlakuannya terhadap mama. Ia menyesal. Dua tahun lalu aku dan papa mendapat kabar bahwa mama tinggal di Indonesia dan sudah menikah dengan seorang pengusaha, Permana. Namun sayang kami terlambat. Mama telah tiada. Kedatangan papa ke Indonesia hanya satu tujuan yaitu mendapatkan maaf dari mama, Yuki Hirata"


Arumi menyusut air matanya. Ia menatap lekat Ryu.


"Dimana papa mu sekarang?" tanya Arumi dengan suara bergetar.


"Apa kau berkenan menemuinya? Aku bahagia jika kau berkenan. Mungkin dengan melihat mu, rasa kangen dan bersalah papa sedikit berkurang. Terlebih kau sangat mirip dengan mama..."


Arumi mengangguk. Hatinya begitu penasaran. Bukan hanya satu tapi sepuluh mungkin lebih pertanyaan yang sedang menggelayuti hatinya saat ini. Karena itu saat Ryu kembali menarik tangannya, Arumi mengikuti saja.


Arumi kembali dihadapkan pada sebuah pintu besar dengan ukiran indah.


KREEEK....!


Pintu pun terbuka. Langkah keduanya begitu perlahan dan nyaris tak terdengar. Seorang laki-laki bertubuh kurus tengah duduk menghadap jendela. Dari pantulan wajahnya pada kaca jendela, jelas ia adalah seorang pribumi yang cukup tampan.


"Pa...." panggil Ryu.


Laki-laki itu pun mengalihkan tatapannya. Dan saat sudah berhadapan, perhatian laki-laki itu pun langsung tertuju pada Arumi yang berdiri tak jauh dari Ryu.


"Yuki...." gumamnya lirih.


Suaranya bergetar saat menyebut nama perempuan yang sudah ia cari-cari selama ini. Matanya terus menatap Arumi dengan berkaca-kaca.


"Pa, dia Arumi. Dia satu-satunya putri mama dengan suami keduanya, Permana" ucap Ryu mencoba menjelaskan kepada Edward.


"Assalamu'alaikum...Om" sapa Arumi canggung.


Pun demikian Arumi tetap berusaha setenang mungkin. Terutama saat laki-laki itu menariknya ke dalam pelukannya.


Jantung Arumi serasa berkejaran saat mendapat perlakuan demikian. Walau tak membalas, namun Arumi membiarkan saja laki-laki itu mendekapnya sambil meluapkan segala kesedihannya. Tak terasa Arumi pun turut terisak saat itu seakan ia merasakan kepedihan dan penyesalan laki-laki tersebut.


Mendadak ada desiran aneh yang dirasa Arumi saat tangan Edward mampir di pucuk kepalanya. Desiran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Desiran yang berbeda karena begitu menenangkan dan terasa membahagiakan.


Arumi tersenyum menatap laki-laki itu yang sedari tadi terus menatap dan tersenyum kepadanya.


"Arumi Hirata...." ucap Edward.


"Apa sekarang kau percaya...?" ucap Ryu.


"Percaya mungkin, yakin tidak. Aku ingin menanyakan langsung kepada ayah. Mungkin ayah tahu..."


"Tanyakanlah...." ucap Edward dengan senyum yang sedikit misterius.


"Pa, bisakah kita meminjamkan lukisan mama kepada Arumi?"


"Silahkan...Tapi tolong jaga baik-baik. Hanya itu yang tersisa dari Yuki" ucap Edward dengan mata sendu menatap Arumi.


"Terima kasih, Om..."


"Berhentilah memanggil saya dengan sebutan itu. Panggil saya papa seperti halnya Ryu"


"Tapi..."


"Tidak pakai tapi. Kita bersaudara, Arumi..." ucap Ryu.


Arumi terdiam. Namun tak lama kemudian senyum Arumi pun terbit dari sudut bibirnya.


"Baiklah..." ucap Arumi mengakhiri diamnya.


"Kemarilah anak-anak,Papa..." ucap Edward sambil mengembangkan kedua tangannya berharap Ryu dan Arumi akan langsung menyambutnya.


Dan benar saja tanpa aba-aba lebih lanjut, Ryu bahkan Arumi langsung menghampiri Edward dan membalas memeluknya. Arumi tercenung. Ia menjadi gamang, mengapa ia mampu melakukan hal seperti itu.


"Arumi...Arumi!! Dimana kau...!"


"Maaf, Tuan. Tuan tidak boleh berlaku seperti ini"


Mendengar keributan itu, ketiganya mengurai dekapan. Dan Ryu langsung ke luar ruangan.


Sayup-sayup terdengar suara baku hantam disertai suara teriakan yang amat dikenal Arumi.


BUK...!


BUK....!


DUAK...!


"Dimana, Arumi? Kau apakan dia?!"


"Sopanlah sedikit, Tuan. Arumi baik-baik saja..." ucap Ryu ditengah cengkraman keras tangan Mirza pada lehernya.


"Aku akan sopan jika kau sopan. Kau membawa Arumi seenaknya saja..." bentak Mirza.


"Kak Mirza...! Apa yang kakak lakukan di sini?" ucap Arumi dengan suara cukup keras.


"Aku...Aku...."