
Meja makan jadi meriah saat Dania dan William hadir di rumah.
"Kapan papa dan mama sampai? Kok tidak ngabarin dahulu? Kalau ngabarin kan Mirza bisa jemput..."
"Aaah....Kata tanyanya baru saja keluar. Dasar anak nakal" ucap Dania sambil mencubit pipi putra semata wayangnya itu.
"Maa..."
"Kenapa? Bagi seorang ibu, anak masihlah tetap sama. Bagi seorang ibu tidak ada anak yang sudah dewasa atau besar. Semua masih sama, masih anak-anak.."
"Ya, mama ku, sayang...."
"Nah, Keive...Begitulah Abang mu ini. Mengaum di luar, di rumah mengeong karena ada pawangnya. Haha...."
"Haha..." semua mengamini William sambil turut larut dalam tawa laki-laki paruh baya itu.
"Tapi seru juga, Pa. Haha..." ucap Keive di antara tawanya.
Mirza tersenyum menyimak celoteh yang ada. Bibirnya terus menyulam senyum. Sementara sebelah tangan menggenggam erat jemari Arumi. Ia meletakkan genggaman itu di atas pahanya. Mengetahui polah suaminya, Arumi sumringah. Bibir tipisnya terus mengurai senyum. Senyuman yang begitu khas dan selalu membuat jatuh hati Mirza setiap memperolehnya.
"I love you..." bisik Mirza.
Tiga kata ajaib itu kembali sukses membuat merona wajah Arumi.
"Ow, jadi begitu cara Mirza mengungkapkan perasaan nya. Tadi gendong-gendongan, sekarang berpegangan tangan di bawah meja. Kekanakan, tapi ternyata cukup ampuh. Tapi...tunggu. Aku akan membuat lebih Arumi lebih berkesan terhadap ku. Tunggu saja...Ini adalah misi selanjutnya" batin Keive.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari ini sepekan sudah Vanya bergelut di Perusahaan milik Ryu. Perusahaan yang sudah diambil alih Andrea dengan menggunakan cara yang licik. Jika mengingat itu semua, Vanya menjadi geram. Ingin rasanya ia mencakar-cakar wajah Andrea saat bertemu nanti. Atau menampolnya sekalian. Saat ini, Vanya paling merasa berhak untuk membalaskan segala sakit dan luka yang di rasakan Ryu. Semua berkenaan dengan rasa cinta yang ia rasakan terhadap Ryu selama ini. Tak peduli penah ditolak, Vanya lebih pada maju terus pantang mundur karena sebelum janur kuning melengkung semua masih milik bersama.😜
"Pucuk di cinta ulam pun tiba..." gumam Vanya saat sosok perempuan cantik berkaki jenjang masuk ruang kerja.
Vanya sedikit melongok melalui jendela ruangannya untuk menilik tujuan si pemilik kaki jenjang itu. Vanya tersenyum. Seperti dugaannya, Andrea benar-benar menemui pak Sakti di ruangannya saat ini. Entah apa yang tengah keduanya bincangkan saat ini
"Melihat apa, non? Serius bener..." ucap seseorang mengejutkan Vanya.
Vanya pun langsung memutar tubuh. Tatapannya sejenak membalas manik mata Wahyu yang tengah berada tepat tak jauh dari wajahnya.
"Pak Wahyu....!" teriak Vanya kemudian.
Teriakan sopran Vanya membuat Wahyu harus membekap mulut Vanya.
"Diamlah, Van. Nanti dikira orang aku berbuat jahat pada mu"
"Bapak mengejutkan Vania saja sih...."
"Salah kamu sendiri, mengintai orang begitu..."
"Itu Bu Andrea pemilik perusahaan ini ya, Pak...?"
"Ya, merampas..."
"Merampas? Jadi benar desas-desus itu..."
"Hus...Tidak perlu kau campuri urusan orang. Urus saja urusan diri mu sendiri"
"Aku tidak bisa diam saja, Pak. Perusahaan ini milik Ryu. Laki-laki yang aku cintai..." batin Vanya.
"Van...?Ada apa?"
"Kok tega ya, Bu Andrea"
"Van, sudah ku katakan jangan campuri urusan mereka. Urus saja diri mu sendiri..."
"Bisa-bisanya bapak bicara seperti itu. Coba saja klo hal seperti ini yang menimpa bapak. Apa bapak akan acuh saja? Atau jangan-jangan bapak juga turut membantu aksi pencurian itu.."
"Hei...jaga mulut mu. Jangan sampai kau rugi karena mulut mu yang asal bicara itu.."
Wahyu berang. Sebelah tangannya mencengkram wajah bagian bawah Vanya, dekat mulut. Wajah Wahyu yang merah padam itu begitu dekat dengan wajah Vanya. Matanya tajam menilik ke dalam mata Vanya.
Deg.
"Apa...Apa ini. Perasaan macam apa ini? Jantungku begitu bertalu. Dan ada rasa hangat dan nyaman yang menjalar seluruh raga ku. Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama..." batin Wahyu.
"Pak Wahyu...!"
Vanya meronta dan berusaha melepaskan tangan Wahyu.
"Ma-maaf...Maafkan aku, Van..." ucap Wahyu.
Ia pun buru-buru berlalu menuju meja kerjanya. Dihempaskan tubuhnya di kursi yang terbilang empuk itu. Nafasnya turun-naik tak beraturan persis roller coaster di wahana bermain.
Mata Wahyu diam-diam masih menilik segala gerak-gerik Vanya yang masih membetulkan posisi duduknya. Wajahnya sedikit pasi. Ia tak menyangka akan mendapat respon sedemikian rupa. Tak kalah hebatnya dengan Wahyu, perasaan Vanya pun sama, bak roller coaster. Bedanya di situasi ini Vanya merasa takut. Takut jika perlakuan kasar Wahyu akan berlanjut.
"Maafkan aku, Van.." ucap Wahyu kemudian sesaat ia telah berhasil mendamaikan hatinya.
Wahyu menatap Vanya yang tak memberinya respon sedikit pun.
"Kau marah pada ku, Van...?"
"Egh..."
Wajah Vanya terangkat. Walau tak membalas tatapan Wahyu, tapi isyarat wajahnya cukup membuat Wahyu mengangkat alisnya dan menyulam senyum. Tanda bahwa ia cukup senang atas respon Vanya.
"Maaf, jika membuatmu tak enak hati..."
"Benar kata, bapak. Tak semestinya saya mencampuri urusan orang lain. Apalah saya ini?"
"Bukan begitu, Van...maksud ku....Aduh"
Wahyu menepuk kepalanya. Ia pun mengusap wajahnya beberapa kali. Untuk kemudian ia menggeser kursinya mendekati kursi Vanya. Entah mengapa ia harus melakukan itu. Wahyu bingung. Ada rasa yang membuat ia ingin sekali merengkuh Vanya dan memberitahu semuanya. Tapi apa mungkin? Bukankah ia dan Vanya baru saling kenal sepekan lamanya?
Wahyu hanya duduk diam dekat Vanya. Matanya hanya sesekali saja menatap Vanya yang mengisyaratkan ada tanya di benaknya.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Van? Aku akan menjawabnya. Tapi berjanjilah...kau hanya menanyakannya kepada ku saja"
"Mengapa hanya pada bapak aku boleh bertanya?"
"Gadis bodoh. Aku atasan mu. Jadi sudah sepatutnya kau bertanya kepada ku..."
"Hehe...iya juga ya"
"Ah, sudahlah. Lama..."
"Sebentar, Pak. Em, apa bapak terlibat langsung dengan aksi pencurian itu?"
"Aku tidak terlibat. Tapi aku tahu. Karena aku tahu maka aku di beri kewajiban untuk diam"
"Mengapa...?"
"Entahlah...Yang pasti keluarga ku menjadi taruhannya jika aku menceritakannya kepada siapa pun"
"Dan kompensasi bapak diangkat jadi wakil direktur?"
"Tepat..."
"Kalau begitu apa bedanya bapak dan mereka?"
"Entahlah, Van. Kadang hidup ini bak roller coaster. Kadang di bawah, kadang di atas. Kadang melambat, kadang cepat. Aku hanya segelintir orang yang memanfaatkan situasi di bawah tekanan ancaman kehidupan keluarga ku"
"Apa pak Sakti dan Bu Andrea yang mengancam, bapak..?"
"Itulah sutradara sekaligus pemeran utama yang patut dihadiahi penghargaan sebagai aktris dan aktor terbaik..."
"Bapak..." ucap Vanya penuh perasaan. Perasaan yang dipaksakan demi sebuah simpati untuk melancarkan misi selanjutnya.