You're My Antidote

You're My Antidote
Insecure



"Aku tidak menyakiti kalian, kan?" Raja bertanya dengan posisi memeluk Rani dari belakang. Jemarinya mengusap perut sang istri. Bergelung di bawah selimut dengan tubuh polos. Mengurai rasa lelah setelah mengejar kenikmatan bersama. Membalas satu minggu yang mereka lewati.


Raja terlalu bersemangat ketika melakukannya. Dan sekarang ia baru merasa khawatir. Khawatir tak sengaja melukai anak dan istrinya. Bahkan bertanya apa Rani merasa tidak nyamanpun Raja tak sempat. Ia terlalu larut dalam pesona tubuh polos sang istri. Tubuh yang membuatnya candu. Tubuh yang ia rindukan beberapa hari belakang.


"Aman mas." Rani menjawab dengan napas yang masih berkejaran.


"Kamu makin buat aku candu. Susah untuk aku berhenti." bisik Raja serak, mengecup bahu polos sang istri.


"Bukan lagi minta nambah kan, mas? Rani capek." rengek Rani yang membuat Raja terkekeh.


Raja tidak setega itu untuk meminta nambah setelah satu rally panjang yang cukup menguras tenaga mereka lakukan. Lagi pula ia sudah cukup puas dengan pelayanan yang istrinya berikan tadi. Jadi untuk saat ini, ia tidak meminta lagi. Entah beberapa jam kedepan atau mungkin besok pagi. Raja tidak janji.


"Tidurlah." kecup Raja pada bagian belakang kepala sang istri. Yang semenjak hamil besar mulai malas untuk langsung mandi setelah mereka olah raga malam. "Besok pagi aku ada sesi terapi. Kamu mau weekend di panti atau di rumah mama?"


Rani. Dengan mata yang sudah terlihat berat, berbalik menghadapnya. "Di apartemen lagi?"


Raja mengangguk.


Setelah kejadian pingsan di makam saat itu, Raja tetap melakukan terapi. Karena beberapa hari setelah kejadian, Raja kembali mengalami mimpi buruk beberapa kali. Meski Raja sudah bisa menghadapinya.


Jika dulu Raja tidak pernah bisa tidur setelah mimpi itu, kini Raja bisa kembali tidur nyenyak tanpa mimpi. Mimpi tentang masa lalunya pun tak datang setiap hari. Dan tidak selalu kejadian mengerikan itu yang datang kedalam mimpinya. Kadang, Raja hanya bertemu papi yang mengusap kepalanya atau mengatakan bangga padanya. Suatu hari, Raja bermimpi mami yang menatapnya entah dengan tatapan apa. Atau ia hanya melihat orang tuanya yang bertengkar dan hal-hal yang pernah ia lalui di kehidupannya bersama kedua orang tua kandungnya dulu.


Terapi yang Raja lakukan membawa kemajuan cukup baik. Entah karena yang menanganinya kali ini lebih ahli, atau keinginan Raja untuk sembuh lebih tinggi. Hingga dorongan untuk terbebas dari rasa traumanya lebih besar. Karena ada sesuatu yang tengah ia perjuangkan.


Mimpi itu pun silih berganti menghilang. Berganti dengan mimpi-mimpi biasa yang kadang Raja tidak ingat apa yang ia mimpikan ketika bangun.


"Bagaimana perkembangannya, mas? perkiraan Rani lahiran kurang dari dua bulan. Mas bisa?"


Raja sendiri tidak yakin dengan apa jawaban atas pertanyaan Rani. Masalah mimpi buruknya mungkin tidak lagi mengganggu. Tapi untuk trauma dengan suasana gelap dan sunyi. Serta darah banyak, itu yang tengah Raja usahakan untuk sembuh. Karena menemani istrinya melahirkan, berarti ia harus bisa mengalahkan rasa takutnya pada simbahan darah yang pasti akan ia lihat di ruang bersalin nanti.


"Aku sedang berusaha. Doakan saja, ya?" Raja membawa istrinya dalam pelukan dan memberi kecupan di dahi cukup lama. Memberi kekuatan untuk dirinya sendiri.


"Kalaupun nanti mas belum bisa. Jangan di paksa ya." pinta Rani dalam peluknya. "Rani tidak mau trauma mas semakin parah. Meski tanpa mas yang menemani, Rani tetap akan memperjuangkan anak kita lahir dengan selamat."


"Kita lihat nanti." ucap Raja menutup malam mereka.


***


"Kamu yakin mau di rumah saja?"


Raja yang tengah memakai jaketnya kembali bertanya pada Rani. Entah untuk pertanyaan keberapa sejak mereka bangun tidur.


"Iya, mas. Rani di rumah aja. Males pergi-pergi. Capek." balas Rani membawakan sneakers milik Raja.


Setelah rapi lengkap dengan sepatunya, Raja berdiri dan memeluk sang istri dengan sebelah tangan. Melabuhkan kecupan di bibir dan dahi.


"Ya sudah, aku pergi. Kalau ada apa-apa kabari langsung."


Rani mengangguk tersenyum. Turun bersama Raja . Dibawah sudah ada Maina yang di minta datang menemani Rani. Karena asisten rumah tangga mereka libur di hari weekend. Raja tidak tega harus meninggalkan Rani seorang diri di rumah.


"Titip istriku ya Mai. Kalau ada apa-apa langsung kabari." pesan yang sama Raja berikan pada Maina.


"Beres Kak. Kakak ipar akan aman dalam pengawasanku." jawab Maina cekikikan.


"Iya papa." Rani menggantikan anaknya untuk menjawab.


Apa yang mereka lakukan di tertawakan oleh Maina yang langsung terdiam ketika Raja menatap tajam.


Setelah Rani mengantar suaminya ke teras, Ia ikut bergabung dengan Maina yang tengah menonton televisi di ruang tengah.


"Kalau mau nonton film, diatas saja Mai."


Maina menggeleng dengan mulut yang tak berhenti mengunyah kripik dan mata yang tetap fokus ke layar televisi yang tengah menayangkan streaming drama korea yang tengah on going.


"Aku kan ke sini buat nemenin kamu, Ran. Bukan buat nonto film."


Rani terkekeh. Apa bedanya dengan yang tengah Maina lakukan. Hanya beda tempat saja.


"Mai?"


"Ya.."


"Kamu tahu tempat yoga yang bagus buat ibu-ibu yang habis melahirkan nggak?"


Maina yang mulai tertarik dengan pertanyaan Rani mempause drama yang tengah ia tonton.


"Sama tempat yoga yang sekarang kenapa? bukannya sekarang kamu juga ikut kelas yoga buat ibu melahirkan?"


"Tapi disana khusus kelas melahirkan. Nggak ada pasca melahirkannya." ucap Rani. "Aku gendut banget nggak sih?"


Jujur saja. Melihat tubuh Rere yang tetap terlihat bagus malah semakin seksi saat hamil, membuat Rani kurang percaya diri.


Berbanding terbalik dengan Rere, berat badan Rani bahkan naik banyak selama hamil. Selain perutnya, tubuhnya pun semakin membesar. Ya meskipun masih besar yang cukup normal karena tidak melebihi batas. Gendut yang wajar.


"Nggak ada yang salah dengan tubuh kamu." Maina berucap bijak. "Wajar kalau sekarang berat badan kamu naik. Namanya juga hamil. Memangnya kak Raja protes sama berat badanmu ini?"


Rani menggeleng. Raja tak pernah protes. Sikap Raja juga tidak ada yang berbeda meskipun ia banyak makan dan semakin melebar. Bahkan Raja semakin lengket padanya.


Namun tetap saja, ada rasa tidak percaya diri ketika melihat perempuan lain tetap terlihat indah sedangkan ia...


Rani takut Raja tidak mengatakan yang sejujurnya. Rani takut Raja tergoda dengan makhluk indah di luar sana. Setidaknya ia ingin berusaha memberikan yang terbaik untuk menjaga Raja agar tidak melirik yang lain.


"Menjaga apa salahnya Mai.. Dari pada nanti kak Raja sudah melirik yang lain dan aku baru menyesal yang nggak ada gunanya kan."


Maina mengangguk paham. Bagaimana pun masalah berat badan cukup sensitif bagi perempuan. Ia tidak bisa menyalahkan apa yang Rani rasakan. Karena jika ia di posisi Rani pun, mungkin ia akan melakukan hal yang sama.


"Nanti aku tanya temanku. Dia juga baru melahirkan. Siapa tahu dia ada tempat yang kamu butuhin."


*


*


*