
Melihat Rere menyambutnya hanya dengan menggunakan lingerie bukan hal baru untuk Raja.
Seakan sudah menjadi kebiasaan ketika ia mengatakan pada wanita itu akan berkunjung ke apartemen. Rere sudah selalu sedia dengan busan minimnya itu.
Sebrengsek itu memang dirinya.
Tapi ia juga bukan maniak ***** yang selalu membutuhkan hal-hal seperti itu. Hanya sesekali mereka melakukannya dalam beberapa minggu.
Dan tujuannya datang kali ini juga bukan untuk itu. Bahkan mungkin tidak akan ada hal seperti itu untuk dirinya dan Rere setelah ini. Karena ia sudah menentukan pilihan, maka ia juga harus bertanggung jawab dengan keputusannya.
"Ganti pakaianmu!" titahnya menjauhkan tubuh Rere yang sudah melilitnya seperti lintah ketika ia baru saja masuk. Berjalan menuju sofa dengan tenang.
"Kenapa? kita kan sudah lama nggak melakukan itu, Ja? emang lo nggak pengen?"
Rere masih merayunya dengan mencoba menyentuh dadanya. Tapi ia tepis begitu saja. "Cepat ganti pakaianmu atau aku pergi!" ia memang tak pernah lembut pada wanita mana pun kecuali mama. Termasuk Rere yang seharusnya sudah terbiasa dengan sikapnya yang dingin.
Dengan mencebik kesal, Rere berlalu menuju kamar meninggalkannya seorang diri.
Raja menatap sekeliling, tempat yang menjadi saksi betapa buruk dirinya selama ini.
Ia amati satu persatu foto Rere yang tergantung didinding diatas televisi. Sesuatu yang baru kali ini ia sadari keberadaannya meskipun ia yakin foto-foto itu sudah terpajang disana bertahun-tahun sebelum ia mulai memasuki apartemen ini.
Foto-foto Rere dari masa remajanya hingga foto terakhir yang diambil ketika pembukaan agensi milik wanita itu. Foto yang berisi Adit, dirinya dan tentu saja sang pemilik rumah.
"Jadi, apa alasan lo datang kalau bukan untuk bersenang-senang?"
Rere kembali dengan pakaian yang lebih baik meski masih mempertontonkan beberapa bagian bawah tubuhnya.
"Aku datang untuk mengakhiri apa yang terjalin diantara kita."
"Ma-maksud lo apa, Raja?"
Raja dapat melihat wajah menegang didepannya.
"Seperti halnya aku yang tidak ingin menjadi pengganggu jika kamu memiliki hubungan dengan pria lain, aku pun menginginkan hal yang sama untuk kamu lakukan."
"Jadi maksud lo, lo mau buang gue?!" Rere mulai berteriak. Hal yang paling Raja tidak suka dengan wanita ini adalah Rere tidak pernah bisa menahan emosinya. "Setelah apa yang kita lakukan selama ini.. Sekarang lo buang gue demi cewek miskin itu?!"
Raja menekan dahinya yang menghela napasnya panjang. "Aku tidak membuangmu. Kita masih bisa berteman. Tapi tidak untuk diatas tempat tidur."
"Tapi kenapa? Bukannya lo nggak cinta sama calon istri lo? Bukannya lo nggak percaya sebuah komitmen?! dia seharusnya sudah merasa cukup beruntung dengan menjadi istri lo! dia nggak berhak ngelarang apa yang lo dan gue lakuin!"
Raja merasa geli dalam hati. Tidakkah Rere memahami perasaan calon istrinya siapa pun itu meski bukan Rani?
"Aku memang tidak percaya sebuah komitmen. Karena aku ingin bebas, tanpa ada keterikatan dan rasa bersalah. Tapi bukan berarti aku tidak menghargainya."
"Tapi gue cinta sama lo, Ja." suara Rere bergetar. Semakin membuat Raja tak suka. Karena dari awal ia sudah menekankan status hubungan mereka seperti apa.
"Dari awal sudah aku tekankan. Jangan pernah membawa perasaan dalam hubungan kita. Karena kamu tidak akan pernah mendapatkan balasan yang sama. Dan kamu setuju, Re."
"Tapi hati nggak ada yang tahu, Ja! Lagi pula, mana mungkin nggak ada rasa nyaman setelah sekian lama kita tidur bersama."
Raja tertawa sinis. "Bukan rasa nyaman jika hubungannya dengan hubungan badan. Itu hanya nafsu dan kebutuhan biologismu saja."
"Kalau lo menerima sebuah pernikahan, kenapa bukan gue yang lo nikahi, Raja?!" Rere semakin berteriak tak terkendali. "Kita sudah saling kenal, dan bahkan kita sudah berbuat sejauh ini."
"Pernikahan adalah keputusan orang tua. Dan aku menghargainya." jawabnya dengan dingin. Bukan ia tak berperasaan, tapi ia tak ingin membuat Rere beranggapan memiliki harapan yang lebih.
"Lo bukan boneka yang hanya diam saja diatur oleh mereka, Raja! Lo punya jiwa yang bisa menolak. Dan lo berhak melakukan itu!"
Semua orang bahkan tahu kalau raganya tak lagi berjiwa. Hatinya hanya ruang hampa berisi kegelapan yang melahapnya tanpa sisa.
Dan Rere masih berharap ia memiliki jiwa untuk bisa menentang keputusan orang tuanya menikahi Rani?
Ia tak terlalu memusingkan masalah pernikahan. Toh tidak ada bedanya ia menikahi wanita mana pun.
Jika dengan menikah dengan Rani bisa membuat mamanya bahagia, maka ia akan melakukannya.
Raja berkendara tak tentu arah. Kata terakhir yang Rere ucapkan kembali membuka luka lamanya. Luka yang tak pernah sembuh dan hanya ia simpan rapat seorang diri.
Perjalanan tanpa tujuannya berakhir ditempat yang tak asing baginya. Ia sendiri tak sadar alam bawah sadarnya membawa ketempat ini. Tempat Rani tinggal.
Mematikan mesin mobil, ia menatap sekitar. Keadaan panti sudah sepi. Tak heran karena hari sudah larut malam. Dan entah kenapa terlintas dalam pikirannya apakah Rani sudah pulang? mengingat tadi ia meninggalkan perempuan itu begitu saja bersama Adit.
Dengan ragu, Raja menghubungi Rani. Sepertinya Rani belum tidur. Karena didering ketiga, panggilannya sudah mendapat jawaban.
"Hallo.." suara Rani masih terdengar segar meski hari sudah larut.
"Hallo kak.." suara gadis itu kembali terdengar setelah Raja hanya diam tak bersuara.
"Apa teleponnya kepencet ya?" gadis itu bergumam sendiri diseberang sana. Membuat Raja menarik sudut bibirnya keatas.
"Hallo kak? ini beneran kepencet ya? kalau beneran kepencet, Rani matiin ya?"
"Tunggu!" cegahnya sebelum gadis itu benar-benar memutuskan sambungan. "Kamu sudah pulang?"
"Sudah. Tadi setelah kak Raja pulang, kak Adit langsung antar Rani setelah makanan habis."
"Kamu belum tidur?" Raja semakin kaget dengan mulutnya yang tidak bisa ia kontrol. Entah kenapa ia ingin berlama-lama mendengar suara gadis itu.
"Belum kak. Baru selesai mandi."
Hening beberapa saat ketika ia tak tahu lagi harus berkata apa.
"Hallo kak? kak Raja masih disana."
"Hmm."
"Ada apa kak Raja telepon? ada yang penting kak?"
Raja kembali menarik sudut bibirnya. Harus ada hal penting dulu kah sebelum ia menghubungi gadis ini?
"Kamu bisa keluar? saya didepan." setelah mengatakan itu, Raja menyesali keputusannya. Bagaimana jika Rani benar-benar keluar dan ia tak tahu harus berkata apa.
"Eh? kak Raja diluar? sejak kapan? kenapa tidak bilang?"
"Kamu tidak perlu tahu."
Gadis itu berdecak dan memutuskan sambungan. Ia keluar dan duduk di kap mobil dengan tangan dimasukan dalam saku.
Bukan hanya karena kebiasaannya. Tapi juga karena udara malam yang cukup terasa dingin.
*
*
*