You're My Antidote

You're My Antidote
Konferensi



Ternyata Raja benar-benar tidak pulang. Dan Rani benar-benar merasa bosan dirumah seorang diri.


Pada siang hari berikutnya, Rani kembali menghubungi Raja dan panggilannya kali ini terjawab.


"Maaf belum sempat memberi kabar." kalimat pertama yang Rani dengar ketika nada hubung berganti menjadi suara Raja. Padahal ia tak menuntut pria itu untuk merasa bersalah karena sulit dihubungi. Tapi kini senyumnya merekah karena Raja sadar meski ia tak harus mengutarakannya.


"Apa masalahnya parah, kak?" kemarin Rani lupa menanyakan ada masalah apa dengan perusahaan hingga lelaki itu pergi pagi-pagi sekali tanpa membangunkannya. Tidak pulang kerumah dan sulit dihubungi.


"Tidak begitu. Hanya perlu ditangani dengan cepat agar tidak semakin buruk."


"Kenapa Rani tidak diajak? Rani kan sekretaris kak Raja. Setidaknya Rani bisa membantu dengan mencarikan berkas." cibir gadis itu.


"Untuk masalah satu ini saya bisa menangani sendiri. Kamu bantu saya menangani masalah yang lainnya saja."


Dengan mengerutkan alis, Rani bertanya. "Bantu masalah apa?"


"Penuhi janji kamu semalam untuk memasakkan makanan spesial untuk saya. Karena sejak kemarin saya belum makan dengan benar."


"Kak Raja nanti malam pulang?" tanyanya tanpa sadar nadanya terdengar sangat antusias. "Kenapa tidak makan dengan benar? justru karena ada masalah, kak Raja harus makan yang benar! jangan sampai sakit dan malah tidak bisa menangani masalah!" imbuhnya mengalihkan setelah sadar bagaimana ia terdengar sangat senang hanya dengan mendengar kabar bahwa Raja malam ini akan pulang.


"Apa sesenang itu kamu bertemu dengan saya?"


"Siapa yang senang?!" elaknya dengan wajah memanas ketika Raja tak mudah teralihkan. "Rani biasa saja!"


"Ada apa kamu menghubungi saya?" pertanyaan Raja selanjutnya menyelamatkan rasa malunya.


"Sebenarnya Rani mau izin ke panti." ucapnya ragu-ragu mengingat Raja akan pulang malam nanti. "Mau mengambil baju dan barang-barang Rani. Tapi kalau kak Raja mau pulang, kapan-kapan saja Rani ambil."


"Kalau kamu kepanti sekarang, sepertinya waktunya masih cukup untuk kamu kembali sebelum makan malam. Nanti saya minta sopir kantor antar dan tunggu kamu disana."


"Jangan kak! Rani bisa pesan taxi online. Biar nanti Rani bisa bawa motor Rani saat pulang lagi kesini."


"Tidak. Tunggu disitu atau tidak usah pergi sama sekali!"


"Tapi Rani mau bawa motor kesini, kak!"


Raja diseberang sana berdecak. Sepertinya merasa kesal dengan sikap keras kepalanya.


Lagi pula sejak kapan sih, pria itu peduli padanya?


Biasanya juga Raja tega menurunkannya di jalan sepi tanpa angkot maupun taxi yang lewat ketika harus terpaksa mengantarnya pulang setelah diancam ibu Lintang.


"Sekarang kamu tanggung jawab saya! jangan lukai harga diri saya jika sampai terjadi sesuatu dengan kamu!"


"Iya. Iya." Rani merasa tak pernah mampu jika harus melawan Raja dengan keotoriterannya. "Kenapa kak Raja jadi cerewet seperti ini, sih?" gerutunya yang tak mendapat balasan karena Raja sudah mengakhiri panggilan secara sepihak.


***


Raja mematut penampilannya sebelum turun ke lobi perusahaan untuk mengadakan konferensi pers.


Masalah sudah harus selesai sebelum Rani tahu berita yang tengah beredar.


Ia harus segera membersihkan nama gadis itu sebelum akses internet Rani yang sempat ia bekukan bisa kembali normal.


Sebenarnya Raja tidak perlu melakukan konferensi pers ini.


Cukup dengan tiga stasiun televisi, portal online, dan surat kabar milik keluarganya saja sudah cukup untuk melakukan klarifikasi. Tapi ia merasa kurang puas jika semua penjuru negeri mengetahui kebenarannya. Juga ia tidak ingin Rani didatangi wartawan untuk mengulik identitasnya.


Tanpa berbasa-basi Raja langsung pada inti dari tujuannya begitu ia berdiri di mimbar dihadapan puluhan pencari berita.


"Memang benar istri saya berasal dari panti asuhan. Tidak jelas asal usul dan orang tua yang entah apa masih bisa disebut dengan orang tua setelah tega meninggalkan putrinya yang begitu cantik dan ceria disana. Berkumpul dengan anak-anak yang bernasib sama."


"Rani mungkin tidak memiliki keluarga yang utuh seperti kalian semua. Tidak memilki ayah yang akan membelanya. Tidak ada juga seorang ibu yang akan menghiburnya ketika bersedih..."


"...Tapi, bukan berarti dia lebih buruk dari kalian yang memiliki orang tua." ucapnya tegas dan kedua tangan yang mengepal.


Setiap ia mengingat orang-orang yang merendahkan Rani. Emosinya selalu naik. Sebenarnya apa salah gadis malang itu?


"Apa hak kalian menilai istri saya seperti itu?"


"Apa kalian mengenal Rani dengan baik?"


"Apa kalian teman sekolah? teman bermain? hingga kalian merasa tahu betul seperti apa Rani?"


"Dan apa hak kalian menilai jika Rani tidak pantas untuk menjadi istri saya?"


"Apa kalian merasa diri kalian lebih pantas untuk bersanding dengan saya? apa kalian mampu menghadapi sikap dingin dan kasar dan menyebalkan saya seperti saat ini?"


Kerumunan yang tadi kasak-kusuk seketika diam mendengarkan pertanyaan sarkasme darinya. Kerumunan itu diam dan membuat suasana menjadi hening. Menyisakan suaranya yang terdengar lantang.


"Tidak ada yang benar-benar tahu kecuali saya sendiri!"


"Saya yang menentukan wanita mana yang pantas untuk bersanding dengan saya!"


"Saya mengenal Rani sejak istri saya itu masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Melihatnya tumbuh hingga bisa menjadi wanita hebat dan luar biasa seperti saat ini."


"Jika kalia mengenal dia, sedalam saya mengenalnya. Kalian juga pasti akan sama kagumnya dengan apa yang saya rasakan." Raja berkata jujur untuk hal ini. Karena tak dapat dipungkiri jika Rani tumbuh menjadi wanita yang luar biasa dimatanya.


"Rani juga pasti ingin memiliki orang tua kandung seperti kalian. Sampai istri saya selalu menolak siapa pun yang berniat mengadopsinya. Termasuk orang tua saya. Rani masih bertahan disebuah panti hingga saya menjemputnya sebagai keluarga. Karena saat ini, dialah keluarga terdekat saya. Istri saya. Orang yang tidur disebelah saya. Orang yang terakhir saya lihat sebelum tidur. Dan orang pertama yang saya lihat ketika membuka mata."


Adegang ia tidur satu ranjang dengan Rani malam itu melintas dipikirannya. Ia benar-benar bisa melihat Rani sebelum tidur dan menemukan gadis itu setelah bangun.


"Jangan sekali-kali saya mendengar kalian menyebutnya hanya ingin panjat sosial dan mengincar harta saya. Karena istri saya tidak memiliki pemikiran sepicik pikiran kalian."


"Rani bahkan menolak ketika orang tua saya menawarkan ingin membiayai kehidupan sehari-harinya."


"Istri saya lebih memilih bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri."


Para wartawan kembali berbisik-bisik seperti tak percaya dengan apa yang ia katakan.


"Kalian bisa menanyakan pemilik toko.." Raja menyebutkan nama toko tempat Rani bekerja paruh waktu ketika masih duduk dibangku menengah atas dan kuliah dulu.


"Istri saya bahkan membayar biaya yang orang tua saya berikan untuk pendidikannya dengan sebuah prestasi. Karena dia tidak pernah ingin dikasihani."


"Dia pejuang hebat yang pernah saya temu. Dan saya bangga mempersuntingnya. Saya bangga bisa menjadikannya seorang istri sebelum orang lain memiliki niat yang sama dengan saya."


Raja diam memberikan waktu mereka untuk berpikir. Sebelum ia mengakhiri konferensi kali ini dengan..


"Jadi apa salah kami menikah?"


"Apa salah saya jatuh hati dengan wanita hebat seperti itu?"


*


*


*