
Raja keluar dari ruang ganti. Mengenakan pakaian yang beberapa saat lalu Rani siapkan ketika suaminya mandi. Mereka menginap di kediaman Shandika. Tapi Raja mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa mereka tidak jadi tinggal di sana untuk seterusnya.
Raja beralasan ingin memanjakan Rani selama masa kehamilan di rumah mereka. Agar mereka memiliki banyak kenangan di rumah itu dan bisa leluasa bermesraan tanpa sungkan.
Sungguh, Rani sangat malu saat Raja mengatakan hal tersebut di meja makan tadi. Dan Rani baru tahu alasan sesungguhnya yang memang tidak berbeda jauh dari apa yang Raja ungkapkan pada kedua orang tuanya.
Raja khawatir Rani tidak leluasa mengatakan apa yang ia inginkan selama hamil. Raja khawatir Rani masih merasa sungkan di rumah besar Shandika dan lebih memilih memendam keinginannya. Raja khawatir mitos tentang anak yang akan ileran jika ngidamnya tidak terpenuhi bisa terjadi pada anak mereka. Dan paling penting, Raja khawatir tidak bisa memanjakan istrinya secara maksimal selama periode kehamilan.
"Aku bantu keringkan, mas." Rani sudah akan beranjak dari duduk nyamannya di atas ranjang dengan sebuah buku di pangkuan. Buku tentang kehamilan yang ia dapat dari ibu mertua. Tapi Raja memberinya kode untuk tetap diam di tempat.
Sebagai gantinya, Raja yang mendekat dan duduk di dilantai dan memberikan handuk kecil pada Rani untuk menggantikan mengeringkan rambut.
"Besok mas berangkat ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang mas tinggal selama dua minggu. Tapi mas tidak ingin kamu ikut." Raja mendongak menatapnya. "Kamu bisa kan, mulai besok ajuin surat pengunduran diri?"
Ada Rasa sedih ketika suaminya meminta satu hal itu. Untuk mencapai posisinya sebagai sekretaris Raja tidaklah mudah.
Belajar mati-matian semasa sekolah. Berusaha meraih peringkat pertama agar bisa mendapatkan beasiswa ketika kuliah.
Jika Raja hanya bisa tidur beberapa jam karena terbangun ditengah malam dan tidak bisa tidur kembali. Rani hanya bisa tidur beberapa jam karena bekerja paruh waktu hingga jam 9 malam dan masih harus belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliah yang tidak sedikit. Meski sampai di panti dia sudah sangat lelah dan hanya merindukan berbaring di atas ranjang dan menyambut mimpi. Tapi sayangnya mimpinya tidak bisa di raih dengan tidur. Jika ia ingin menggapai semua mimpinya, ia harus giat belajar dan mengurangi tidurnya.
Tak jarang Rani tertidur di meja belajar. Tak jarang juga dia harus menyumbat hidungnya yang beberapa kali mimisan.
Dan saat ia tahu Raja membutuhkan sekretaris ketika Rani lulus kuliah dan belum juga mendapat panggilan kerja padahal sudah puluhan lamaran ia kirim, Rani mencoba peruntungan untuk mengirim lamaran. Melamar tanpa menggunakan koneksi yang ia miliki. Meskipun bisa saja ia meminta pada ibu Lintang agar mengusahakan posisi itu untuknya. Tapi toh Rani tidak melakukannya. Semua murni dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri.
Rani mengikuti wawancara dan tes sama seperti yang lain. Bukan hal mudah bisa menjadi sekretaris dari seorang direktur. Dan Rani bisa mendapatkan poin tertinggi dari semua pelamar.
Setelah bekerja pun, bukan tak lekas menjadi lebih mudah untuk Rani. Ia harus tahan banting dengan sikap dingin Raja. Harus siap bekerja lembur dan tak kenal waktu karena Raja cukup gila kerja. Tak jarang juga ia mendapatkan pekerjaan yang tak masuk akal di awal-awal ia bekerja. Semua pernah Rani lalui.
Ketika sekarang Raja memintanya untuk berhenti. Untuk mengajukan surat pengunduran diri. Rasanya berat untuk Rani lakukan. Apa lagi masih ada anak-anak panti yang ia perjuangkan. Karena sejak ia mulai bekerja, ia sudah bertekad, hidupnya bukan untuk dirinya sendiri. Tapi juga untuk adik-adik panti asuhannya.
"Kenapa?" Raja beranjak dan duduk di sampingnya.
"Kalau Rani tetap kerja, bagaimana mas?"
Terlihat helaan napas Raja yang panjang. Mungkin suaminya itu sudah mengira bahwa ia akan menolak permintaan Raja kali ini. Karena Raja hanya mendesah tanpa raut kaget. "Kamu sedang hamil, sayang." hanya mengingatkannya dengan lembut.
"Tapi Rani sehat, mas." ujar Rani berkeras hati. "Rani belum merasakan gejala pusing, mual muntah dan sebagainya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Raja menatapnya intens. Menimbang apa yang ia katakan. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita. Mas akan semakin merasa bersalah." ujar Raja dengan suara melemah.
"Rani janji akan jaga diri Rani baik-baik, mas. Akan menjaga anak kita dengan baik juga."
Rani tertawa kecil dan memeluk sang suami. "Itu karena mas juga belum makan kalau banyak pekerjaan. Masa mas yang bos aja, yang tidak mungkin kekurangan uang masih bekerja dengan totalitas. Masa Rani mau malas-malasan. Malu dong mas."
Dulu Rani selalu berpikir seperti itu. Kalau Raja bisa berangkat pagi, maka ia berusaha untuk tidak datang terlambat.
Pun dengan pekerjaan. Jika Raja bisa menyelesaikan pekerjaan sebelum makan siang atau pulang. Rani selalu berusaha mengimbangi.
Mereka saling diam dengan posisi Rani yang masih memeluk suaminya. Entah apa yang tengah suaminya pikirkan hingga diam seperti itu.
"Kali ini tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi. Kamu harus sudah memesan makanan sebelum jam makan siang. Bawa cemilan juga dari rumah. Buah, biskuit, susu atau apa pun itu."
Seketika Rani menjauhkan kepalanya dari dada sang suami. Kaget mendengar jawaban Raja yang tak sesusah yang ia bayangkan.
Padahal Rani sudah membayangkan beberapa trik untuk merayu Raja agar mengizinkannya tetap bekerja. Tapi ternyata ia tak perlu seberusaha itu. Raja sudah benar-benar melunak. Tak lagi selalu menunjukan taringnya.
"Apa ini artinya, Mas mengizinkan?"
Raja mengangguk. "Dengan syarat, kalau kamu merasa tidak nyaman dengan tubuhmu, langsung katakan. Dan izin ini hanya berlaku sampai 7 bulan usia kandungan."
Rani mengangguk semangat. Ia akan mengajukan cuti untuk hamil dan melahirkan. Setelah melahirkan nanti, ia bisa membicarakannya lagi dengan Raja. Yang terpenting sekarang Raja masih mengizinkannya untuk bekerja. Tidak begitu saja mematahkan cita-citanya. Dan itu cukup untuk saat ini.
"Tadi mas sudah menghubungi dokter Fani."
Rani hanya menatap sang suami menunggu apa yang akan suaminya sampaikan.
"Dokter Fani bilang, kita tetap bisa berhubungan asalkan hati-hati agar tidak menyakiti si kecil."
Wajah Rani seketika terasa panas saat tahu maksud dari perkataan Raja. Harus di taruh di mana wajahnya saat ia bertemu dokter Fani nanti. Kenapa juga Raja harus menanyakan hal seperti itu pada dokter Fani. Rani menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sungguh malu.
"Jadi bolehkan?" kejar Raja berusaha melepas tangannya. "Kita melakukannya terakhir kali saat di Maldives sayang." bujuk Raja sedikit mengeluh.
Rani hanya mengangguk. Apa yang bisa ia lakukan selain memasrahkan dirinya pada sang suami. Dan kalau boleh jujur, ia juga merindukan sentuhan hangat suaminya.
*
*
*
Kemarin tuh othor kesel deh. Siang dapet ide pas lagi masak. Tapi lupa gak di catet. Giliran malem udah buntu.huhuhu