You're My Antidote

You're My Antidote
Tanggung jawab



Sejak awal Raja tahu jika Rani itu berisik, bawel dan sejenisnya. Bahkan sejak mereka masih kecil Rani sudah seperti itu.


Yang membuat Raja tidak menyangka adalah gadis itu berani meneriakinya.


Apakah setelah berubah status sebagai istri, gadis itu jadi memiliki keberanian lebih untuk berteriak padanya?


Dan lebih bodohnya lagi Raja keluar tanpa perlawanan masih dengan ekspresi bingung. Padahal bisa saja ia berpindah duduk disofa dan menonton televisi. Lagipula siapa yang mau mengintip gadis itu mandi?


Kini ia berakhir diruang kerja dan merenungkannya. Baru setelah satu jam berlalu, ia beranjak dan menuju kamar.


Rani sudah duduk di sofa dan menonton televisi. Mengenakan piyama satin lengan panjang dan masih mengenakan kerudungnya.


"Kak Raja?" pangil gadis itu begitu ia masuk dan menutup pintu kamar. "Baju di ruang ganti...?" pertanyaan Rani menggantung ketika ia hanya mengangkat satu alisnya.


"Saya menyuruh Maina dan Maira mengisinya untuk kamu beberapa hari setelah kita bertunangan. Agar kamu tidak perlu repot menindah barang-barang kamu dari panti."


Maksudnya adalah, biar saja barang Rani dipanti tetap disana. Agar nanti ketika gadis itu ingin menginap disana, tidak perlu membawa ganti. Begitu juga ia yang meninggalkan semua barangnya di rumah kedua orang tuanya, untuk tujuan yang sama. Ia bahkan juga mengisi baju-baju untuk Rani di ruang ganti kamarnya yang berada disana.


Tapi ekspresi Rani yang sepertinya tidak menyetujui niat baiknya membuat Raja bertanya. "Kenapa? kamu tidak suka dengan model-model bajunya? kita bisa mengganti kalau kamu mau."


Gadis itu menggeleng dengan senyuman yang sangat terlihat dipaksakan.


"Lalu?"


"Baju-baju Rani tidak pantas ya kak kalau bersanding dengan kak Raja?"


Raja menghela napasnya. Kenapa gadis didepannya ini begitu banyak berpikir. Padahal bukan itu maksud dari tujuannya.


"Saya tidak peduli pakaian yang kamu kenakan mahal atau murah. Baru atau bekas. Selama kamu nyaman, saya tidak masalah."


"Lalu kenapa kak Raja membelikan pakaian begitu banyak dan lengkap? sedangkan Rani dilarang membawa baju lama Rani?"


Raja sudah malas berdebat dan menjelaskan, ia memilih naik keatas tempat tidur dan menarik selimut. "Setelah kita pulang bulan madu, kita ambil semua barang-barang kamu dari panti."


Untuk bulan madu, semua sudah disiapkan oleh sikembar. Lagi pula mereka tak memiliki waktu untu pergi ke panti dan berkemas. Sedangkan penerbangan mereka besok subuh.


"Jangan tidur disofa meski sofa itu sangat nyaman." imbuhnya dengan mata terpejam ketika Rani hanya diam saja dan tetap pada posisinya disofa. Ia tahu gadis itu tidak nyaman tidur satu ranjang dengannya. "Saya tidak ingin air liurmu menodai sofa itu."


Terdengar cebikan dan hentakan kaki dari arah sofa, membuat salah satu sudut bibirnya tertarik keatas.


"Saya tidak akan macam-macam apalagi menggigit. Jadi tidurlah di tempat yang semestinya." ucapnya lagi. "Bukankah kita harus terbiasa berbagi tempat tidur?"


Tak berapa lama kemudian, terasa guncangan disebelahnya. Juga panggilan untuknya disaat ia sudah mulai terlelap.


"Hemm." jawabnya bergumam. Meski siang tadi ia sudah tidur, rasanya saat ini sudah mengantuk lagi.


"Rani jadi penasaran berapa orang yang kak Raja pekerjakan untuk membersihkan rumah ini?"


Kembali terasa guncangan. Begitu ia membuka mata dan menoleh, gadis itu sudah memiringkan tubuh kearahnya.


"Ada enam penjaga yang dibagi menjadi tiga sif. Dan ada lima ART yang bekerja membersihkan rumah ini, mengurus pakaian dan memasak jika perlu. Untuk ART datang jam enam pagi dan pulang jam lima sore. Selebihnya nanti kamu saja yang atur."


"Rani?"


"Kamu nyonya di rumah ini kan?"


"Memangnya tidak apa-apa kak?"


"ATM ini untuk gaji karyawan. Terserah kamu mau menggaji mereka secara cash atau transfer. Juga untuk kebutuhan sehari-hari rumah." ia berikan kartu milik bank ternama.


Rani juga sudah beranjak duduk, tapi gadis itu terlihat ragu-ragu menerimanya. Jadi dengan paksa, ia tarik tangan Rani dengan lembut dan meletakannya ditelapak tangan gadis itu.


"Ini kartu kredit tanpa limit yang bisa kamu gunakan untuk apa pun. Termasuk kebutuhan rumah jika kartu yang tadi saldonya tidak cukup."


"Tapi kak.. Rani tidak butuh ini."


"Sekarang mungkin kamu tidak butuh. Tapi simpan saja. Kamu bebas menggunakannya."


Raja tidak suka setengah-setengah dalam bertindak. Karena Rani sudah menikah dengannya, maka ia tidak akan menelantarkan gadis itu tanpa menafkahinya.


"Satu lagi!" serunya karena Rani hanya menunduk menimbang kartu ditangannya.


"Apa?"


"Kamu mau tetap bekerja sebagai sekretaris saya? atau dirumah saja, cukup menjadi nyonya?"


Rani begitu cepatnya menggeleng. "Rani kan tidak ada pekerjaan apa-apa dirumah. Jadi Rani mau berangkat ke kantor dan bekerja seperti biasa."


"Kamu tidak apa-apa mendengar desas-desus dikantor nantinya?" tanyanya khawatir. Meski ia sudah memperingatkan akan memecat mereka. Tapi masih saja banyak yang membicarakan Rani secara diam-diam. Raja takut Rani akan tertekan dan sakit hati.


Gadis itu malah tersenyum. "Mereka punya mulut, kak. Jadi hak mereka mau apa. Rani dirumah pun, mereka akan tetap ngomongin Rani. Jadi Rani kerja aja. Rani tidak akan mempedulikan mereka."


Inilah Rani yang ia kenal. Berani dan penuh semangat. "Kalau begitu, uang bulanan untuk kamu, nanti ditransfer bersamaan dengan gaji kamu."


"Uang bulanan? dua kartu ini?" Rani memegang dua kartu dikedua tangan dan mengangkat untuk menunjukan padanya.


"Itu lain lagi. Masa saya nafkahin kamu pakai kredit." ucap Raja merasa diremehkan. Dan gadis itu tertawa.


"Kenapa kak Raja jadi baik banget seperti ini?" setelah tawanya reda, Rani menanyakan kepeduliannya selama ini.


"Karena kamu tanggung jawab saya sekarang. Sudah tidur! besok subuh kita berangkat."


Rani menyimpan kartu yang ia berikan keatas nakas dan mengikutinya berbaring.


"Lepas saja kerudung kamu. Lagi pula saya sudah melihatnya puluhan tahun. Jadi kenapa harus malu?" ejeknya.


Kebiasaan Rani mencebik sepertinya semakin parah. Gadis itu kembali mencepik sebelum menanggalkan kerudungnya dan rambut panjang yang dulu sering ia lihat kini hanya terurai pendek. Meski terlihat lebih muda, tapi Raja lebih menyukai rambut panjang Rani.


"Rambut kamu...?"


Rani merenges dan memegang rambut yang kini hanya sebahu. "Rani potong biar tidak susah pakai kerudungnya."


Raja menatapnya rumit. Kemudian memejamkan mata.


"Kalau nanti tidur saya mengganggu. Kamu tidur saja jangan pedulikan saya." gumam Raja yang ia yakin Rani masih mendengarnya.


Raja tidak ingin Rani melihatnya dalam keadaan kacau akibat bermimpi lagi. Meski sulit karena mereka sudah menikah dan tidur diranjang yang sama. Setidaknya ia tidak ingin kegelisahan tidurnya mengganggu tidur gadis itu. Biar ia saja yang kesulitan dalam tidur.


*


*


*