
Hari yang berubah mendung membuat Rani ingin memakan sesuatu yang hangat. Tangannya bergerak menyusuri layar ponsel untuk membeli bahan masakan via online. Karena ia tidak memiliki pekerjaan dan merasa bosan berdiam diri dirumah, sepertinya memasak adalah pilihan yang tepat. Meski Raja sudah mewanti-wantinya untuk tak menginjakan kaki didapur ketika suaminya akan berangkat kerja tadi.
"Mbak Eni bisa buat tomyam?" tanya Rani pada asisten rumah tangganya yang tengah menata stok kebutuhan kamar mandi pada rak penyimpanan di dapur.
"Bisa, bu. Ibu ingin makan siang dengan tomyam?"
Rani mengangguk antusias. "Aku udah lagi beli bahannya. Nanti mbak bantuin aku masak ya? nanti kita makan sama-sama dengan yang lain juga."
"Biar saya saja yang masak, bu. Nanti tuan bisa marah kalau tahu ibu masak. Ibu kan masih belum betul-betul sehat."
Rani berdecak sebal. "Aku udah sehat kok mbak." sangkal Rani. Meski tubuhnya masih sedikit lemas dan terkadang masih terasa pusing. Ia terlalu bosan jika hanya duduk melihat mbak Eni masak. "Lagian kak Raja kan tidak dirumah, asal kalian nggak ngadu ke kak Raja, kak Raja nggak akan marah."
"Tapi bu-"
"Udah. Nanti mbak bantuin aja."
Tak lama dari perdebatan yang membuat mbak Eni mengalah, pak satpam mengantar belanjaan yang ia pesan online.
Mbak Eni juga memanggilkan asisten yang lain untuk membantu. Karena tak tanggung-tanggung, Rani memasak dalam jumlah banyak.
"Nanti kita makan sama-sama. Sekalian anterin buat pak satpam biar nggak ngantuk ujan-ujan gini." Rani menjelaskan ketika mbak Eni dan yang lain bengong melihat jumlah bahan yang ia beli. Bersamaan dengan hujan deras yang baru saja turun. "Bikin yang pedes ya mbak. Tapi dibikinin juga yang nggak pedes. Takut ada yang nggak doyan."
"Baik, bu."
"Eh, kita punya panci besar kan, mbak?" Rani yang tengah membuat bumbu menoleh pada mbak Eni ketika mengingat sesuatu.
"Ada, bu. Panci yang biasa saya pakai masak untuk kami makan."
Rani mendesahkan napasnya lega. Ia lupa memperhitungkan alat masak saat ia memutuskan untuk memasak besar. Untung saja ada.
Tak membutuhkan waktu lama untuk satu panci besar tomyan dengan toping lengkap itu matang. Rani melepas apron yang dikenakannya dan memasrahkan sisanya pada yang lain.
"Tolong disiapkan di meja makan ya, mbak. Saya mandi dulu." Ia sudah merasa lengket setelah masak. Apa lagi rambut dalam hijabnya yang bermandikan keringat.
Ketika para asisten rumah tangganya mengaminkan perintahnya, Rani berlalu kedalam kamar. Niat awalnya hanya untuk mandi, tapi melihat bathub membuatnya berubah pikiran dan memutuskan untuk berendam sejenak. Merilekskan ototnya yang terasa kaku hanya ia bawa berbaring ketika sakit kemarin.
Ketika ia prosesi mandinya selesai dan ia kembali turun, dimeja makan hanya ada satu mangkuk kosong untuknya makan dan satu mangkok besar berisi tomyam dan beberapa masakan pendamping lainnya.
"Yang lain pada kemana, mbak? kok cuma satu mangkuknya?" ia bertanya pada mbak Eni yang berdiri disisi meja makan dan mengisikan tomyam kedalam mangkuknya.
"Kami makan dibelakang. Untuk pak satpam juga sudah diantarkan."
"Lho, kenapa? kan saya masak banyak biar kita bisa makan ramai-ramai. Masa saya makan sendiri." keluh Rani.
"Kami hanya pelayan, bu. Tidak sepantasnya kami makan disini dengan majikan."
"Ya nggak apa dong. Kan saya yang minta. Bukan karena kalian yang kurang ajar." sahut Rani keras kepala. "Panggil mereka dan minta mereka untuk makan disini, mbak. Atau saya nggak jadi makan, biar kalian dimarahi kak Raja." ancamnya.
Mbak Eni terlihat mendesahkan napas dan mengiyakan. Memanggil yang lain yang kemudian bergabung dengan membawa mangkuk masing-masing yang sudah terisi namun belum mereka sentuh karena Rani yang belum makan.
"Nah, gini kan rame." seru Rani dengan mata berbinar dan memakan tomyam buatan mereka bersama dengan lahap.
Rani duduk di kursi ujung yang biasa Raja duduki. Sedangkan para asisten rumah tangganya duduk disisi kiri dan kanannya.
"Ada acara apa ini?" suara yang sangat dikenalnya itu langsung membuat Rani menoleh pada pintu penghubung ruang tengah dan ruang makan. Disana sang suami berdiri dengan menenteng paperbag dari bakery kesukaannya.
"Kak Raja pulang?" binar dimatanya semakin terang. Ia memang merindukan Raja meski pria itu baru beberapa jam meninggalkan rumah. Tak disangka Raja akan pulang untuk makan siang. Padahal biasanya Raja akan mengabarinya jika pria itu makan dirumah. "Kami habis masak tomyam, kak. Kita makan sama-sama ya?"
Rani berdiri mendekat dan mengambil tangan suaminya untuk ia cium. Orang-orang dimeja makan sudah menundukan kepala dan meletakan sendok masing-masing saat suara Raja terdengar. Mereka pasti takut karena Raja memang selalu bersikap dingin.
"Kamu masak?" Raja menatapnya tajam. Membuat Rani gelagapan, lupa kalau Raja melarangnya melakukan sesuatu.
"Maksud Rani, tadi Rani minta mbak buat masak tomyam. Masaknya banyak soalnya Rani ingin makan ramai-ramai."
Tatapan Raja tak serta merta percaya. Raja memicing curiga padanya.
"Udah, ayoo duduk. Cobain deh, enak." Rani memeluk pinggang suaminya dan mendorongnya untuk duduk dikursi yang tadi ia duduki.
"Kalau begitu kami pamit kebelakang tuan, bu." mbak Eni mewakili yang lain ketika merasa tidak nyaman jika harus bergabung dengan Raja.
Rani sebenarnya ingin melarang mereka pergi. Ia ingin makan ramai-ramai. Tapi Rani takut Raja dan para asistennya tidak nyaman satu sama lain. Jadi ia mengizinkan mereka untuk makan dibelakang.
"Ya sudah mbak. Terimakasih sudah masakin dan menemani Rani makan."
Rani mengisi tomyam kedalam mangkuk baru yang mbak Eni ambilkan.
"Cobain kak. Enak lho."
Bukannya menuruti apa yang ia minta. Raja malah hanya duduk diam dan menatapnya curiga.
"Kak."
"Kamu yakin, bukan kamu yang masak?"
"Ya ampun, kak. Mbak Eni dan yang lain kok yang masak. Kan udah kak Raja larang."
"Muka kamu masih pucat seperti itu. Kamu belum sehat. Dan aku tidak suka kamu mengabaikan kesehatanmu sendiri seperti ini."
Rani menghela napas. Ia memang sulit untuk membohongi Raja. Apa lagi untuk berdebat. Ia tidak akan menang.
"Rani hanya membantu sebentar, kak. Itu juga yang ringan. Dan Rani masih merasa sehat kok. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Bagaimana aku tidak khawatir kalau kamu pucat seperti ini?" Raja mengusap bibir Rani dengan ibu jari.
"Rani cuma kelamaan berendam tadi kak. Makanya kelihatan pucat." sangkal Rani. "Makan dulu ya kak. Nanti keburu dingin. Padahal Rani udah pengen banget dari tadi."
Raja menghela napas dan mengalah. Apa lagi ketika melihat istrinya makan dengan lahap.
*
*
*