
Raja harus menahan diri untuk tidak membawa istrinya langsung ke rumah sakit. Dia masih harus bersabar hingga waktu makan siang tiba karena Rani memaksa ingin makan siang di panti. Padahal Raja sudah sangat ingin mengetahui kondisi kehamilan istrinya. Terlebih Rani baru sembuh dari sakit dan menangisinya hingga tidak tidur. Raja takut akan berpengaruh pada kandungan Rani.
Hingga makanan yang mereka pesan datang, dan acara makan bersama usai. Raja langsung mengajak Rani untuk pamit pada ibu panti.
Rani terlihat enggan meninggalkan panti. Mungkin masih rindu berada disana. Jadi Raja berusaha meyakinkan sang istri. "Kita akan sering datang lagi. Mas janji."
Setelah mendengar janji yang Raja ucapkan. Rani kembali menerbitkan senyum dan melangkah dengan lebih riang.
"Lho, motor mas kemana?"
"Kita pakai mobil." jawab Raja membimbing istrinya menuju mobil yang sudah terparkir di halaman, menggantikan motor sport miliknya.
Ketika Raja pergi ke apotek, ia menghubungi sopir untuk mengantar mobil dan membawa motornya pulang.
Saat itu Raja memang belum tahu pasti apakah istrinya hamil atau hanya dugaannya saja. Tapi ia tetap mempersiapkan untuk segala kemungkinan.
Raja tidak ingin mengambil resiko untuk kembali mengajak istrinya menaiki sepeda motor kalau seandainya benar Rani sudah hamil.
Raja membukakan pintu penumpang samping kemudi untuk sang istri. "Pelan-pelan." pesannya pada sang istri. Tangannya terulur untuk melindungi kepala Rani agar tidak terbentur.
Setelah memastikan Rani duduk dengan nyaman dan memakaikan sabuk pengaman, Raja menutup pintu dan berlari kecil memutari bagian depan mobil untuk masuk dan duduk di balik kemudi.
"Mas sudah reservasi dengan dokter Fani yang akan menjadi dokter kandungan kamu." ujar Raja memberitahu Rani tujuan mereka saat ini. meskipun Rani sudah tahu kalau mereka akan pergi ke rumah sakit, tapi Rani belum tahu siapa yang akan menjadi dokternya. "Istrinya bang Vindra yang kemarin datang ke rumah."
Raja memilih keluarganya sendiri sebagai dokter pribadi karena ia rasa mereka lebih bisa dipercaya. Karena mereka sudah saling mengenal dekat. Sering bertemu di acara keluarga yang rutin di adakan setiap bulan dan tidak boleh ada yang alfa kecuali dalam keadaan sakit.
"Mas dengan dokter Vindra beda berapa tahun?"
"Kenapa? kamu suka dengan sepupuku?" lirik Raja saat mendengar pertanyaan Rani yang out off the box.
"Penasaran aja, mas. Kelihatannya dokter Vindra masih muda."
Vindra memang terlihat lebih muda dari usianya. Mungkin kecintaan pada pekerjaan yang tidak di anggap beban. Keluarga yang bahagia. Bisa menjadi faktor untuk terlihat awet muda.
"Bang Vindra usianya diakhir 40. Mungkin satu atau dua tahun lagi sudah berkepala lima."
"Oh ya?" Rani berseru tak percaya. Bahkan posisi duduknya sampai menyerong untuk menatapnya lebih jelas. "Kalau begitu kenapa mas panggilnya abang. Bukan Om?"
Raja terkekeh dan mengusap puncak kepala istrinya. "Ya karena bang Vindra sepupuku. Kakak kedua papa (mommy Shevi) sudah memiliki anak di usia muda. Begitu juga orang tua bang Vindra yang menikah saat mereka masih duduk di bangku SMA karena suatu insiden."
(Baca di Demi Dia.)
"MBA mas?"
"Bukan." bantah Raja. "Mereka tidak sampai melakukan hal seperti itu. Mas juga kurang paham sih. Tapi yang jelas mereka tidak melakukan hal tidak bermoral. Bahkan mereka baru memiliki anak saat kuliah."
Rani mengerucutkan bibirnya ber'oh tanpa suara dan kembali pada posisi duduknya dengan nyaman.
Rani terkekeh karena apa yang Raja ucapkan benar. Sudah beberapa kali Raja mengajak Rani untuk menghadiri acara keluarga. Tapi Rani masih belum banyak mengenal keluarga besar Shandika. Padahal keluarganya bukan tipe keluarga yang sulit untuk didekati.
"Profesi keluarga Shandika apa saja sih, mas?" tanya Rani masih penasaran.
"Ada 7 yang berprofesi sebagai dokter. Termasuk yang sudah meninggal. Suami kakak pertamanya papa."______"Ada ahli bedah, dokter kandungan, dokter anak, dan dokter umum."
Rani mengangguk terlihat benar-benar penasaran. Padahal kehidupan mereka sebagai Shandika tidaklah mudah. Tidak seperti orang di luar sana bayangkan. Karena mereka kaya, lantas sudah pasti bahagia. Padahal banyak dari keluarga Shandika yang kehidupannya juga penuh lika-liku Karena memang seperti itulah harusnya hidup.
"Hanya turunan papa yang melanjutkan perusahaan warisan Shandika grup. Karena papa satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Itupun tante Selina lebih memilih membuka usaha restoran."_____"Sedangkan anak Shandika yang lain kebanyakan meneruskan perusahaan keluarga dari pihak ayah mereka. Seperti konstruksi, arsitektur/desain, ada yang perusahaan makanan olahan, ada juga yang berprofesi sebagai desainer cukup terkenal padahal suaminya memiliki perusahaan besar."
"Aah. I See." sahut Rani. "Kak Senja yang desain baju pernikahan kita?" tebak istrinya tepat sasaran.
Raja mengangguk. "Kamu harus banyak bergaul dengan mereka. Meskipun mereka jauh lebih tua dari kita, mereka tetap orang-orang yang menyenangkan. Bahkan dulu ketika mas masih kecil dan tinggal di luar negeri, mereka semua itu yang selalu membuat mas tertawa saat pulang ke tanah air."
Tak terasa mobil yang dikendarainya sampai di pintu gerbang rumah sakit. Setelah mencari tempat parkir, Raja langsung mengajak Rani ke poli kandungan.
Raja langsung di persilahkan masuk karena sudah melakukan reservasi.
"Hallo Raja.. Rani.." sapa dokter Fani ramah. "Calon papa dan mama baru." imbuh dokter Fani membuat Raja mengembangkan senyumnya bangga.
Akhirnya ia bisa bernapas lega setelah berhasil membuat istrinya hamil. Sebelumnya Raja merasa cemas, khawatir tidak bisa membuahi istrinya setelah operasi yang dengan sembrono ia lakukan.
Raja tidak ingin membuat Rani kecewa. Raja adalah yang pertama untuk Rani. Sedangkan Rani bahkan tahu entah sudah keberapa Rani untuknya. Jadi kalau sampai ia tidak bisa memberi Rani anak gara-gara perbuatannya. Raja akan merasa sangat bersalah pada Rani.
Rani sudah melakukan beberapa pemeriksaan mendasar seperti berat badan dan tensi darah. Dokter Fani juga menanyakan beberapa hal yang hanya bisa di jawab oleh Rani. Raja hanya mendengarkan dengan cermat tak ingin melewatkan satu detail terkecilpun.
"Jadi sudah di tes dan hasilnya positif?" tanya dokter memastikan.
"Iya dok. Tapi masih ada yang samar. Mungkin karena baru terlambat dua hari dok."
"Melihat dari hari pertama haid terakhir, mungkin usia kehamilan saat ini memasuki minggu ke 4. Mau di USG?"
"Boleh dok." jawab Raja cepat.
"Tapi kita menggunakan USG transvaginal ya? karena di usia ini masih belum jelas terlihat kalau menggunakan USG eksternal."
Raja menatap Rani yang sejak tadi ia genggam tangannya. "Bagaimana sayang?"
"Tidak apa dok." Rani menjawab yakin meski dokter Fani kembali menambahkan prosesnya mungkin sedikit tidak nyaman karena bagaimana pun akan memasukan alat melalui bagian tubuh bawah istrinya. Tapi Rani tetap ingin melakukannya.
*
*
*