You're My Antidote

You're My Antidote
Perkara Nasi Goreng



Hasil pemeriksaan tidak ada yang bermasalah. Pun dengan apa yang Rani makan.


Gejala yang Rani alami hanyalah gejala umum pada setiap ibu hamil. Saat ini kehamilan Rani sudah memasuki minggu ke 8. Umumnya ibu hamil merasakan morning sicknees mulai dari minggu ke-6 hingga minggu ke-12.


Jadi dokter Fani hanya meresepkan vitamin dan obat penghilang mual karena mual yang Rani rasakan sudah sampai lemas karena memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Bukan karena saya keracunan makanan kan, dok?" tanya Rani pada dokter Fani. Tapi tatapan Rani menatap lurus Raja dengan ekspresi menyindir.


Raja tahu istrinya masih kesal perkara ia tak mengizinkan Rani sarapan. Raja hanya khawatir. Raja takut ada yang bermasalah dengan perut istrinya. Raja tidak ingin semakin membahayakan istri dan calon anaknya.


Tapi Raja lupa, jika wanita hamil sangat sensitif. Ia lupa tidak memberi istrinya pengertian dengan tutur kata yang lembut.


"Bukan. Hanya gejala kehamilan biasa. Nanti saya kasih resepnya dan kalian bisa tebus di apotek."___"Perbanyak makan cemilan, terutama saat bangun tidur sebelum turun dari tempat tidur. Usahakan makan beberapa keping biskuit untuk mengurangi rasa mual."


Raja menerima resep dari dokter Rani dan mengantar sepupunya itu hingga ke pintu kamar hotel.


Ketika kembali ke sisi sang istri, Rani tengah menelpon pihak hotel untuk memesan makanan ke kamar.


"Maaf sayang." ucapnya mencoba meraih tangan sang istri. Tapi bukan sambutan yang ia dapat justru tatapan tajam dengan wajah cemberut yang terlihat menggemaskan.


"Rani mau mandi." ujar Rani dengan tatapan kesalnya.


Mengalah. Raja menuju kamar mandi menyiapkan air hangat di bathub lengkap dengan aroma terapinya.


"Ayo. Mas bantu." Raja kira tawarannya akan di tolak mentah-mentah. Tapi Rani justru merentantangkan tangan siap untuk ia gendong.


"Kan kamu yang bikin Rani dan anak kita kelaparan, jadi kamu juga yang harus tanggung jawab."


Raja mengulum senyum agar tak berubah menjadi tawa atau istrinya semakin kesal. "Iya sayang. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya untuk kamu dan anak-anak kita. Mas akan menyerahkan jiwa dan raga untuk kalian."


Raja melihat sudut bibir Rani berkedut menahan tawa dan tetap mempertahankan ekspresi merajuknya.


"Udah sana keluar, mas." Rani mengusirnya ketika ia menurunkan wanita itu di sisi bathub. "Rani bisa mandi sendiri."


"Kan tadi aku bilang siap menyerahkan jiwa dan raga. Siap bertanggung jawab sepenuhnya pada kalian. Termasuk memandikanmu, sayang."


"Noooooo.. Dasar mesum kamu, mas."


Raja tergelak dan mengusap ujung kepala sang istri dan meninggalkan kamar mandi untuk membiarkan istrinya mandi sendiri.


***


Rani tidak terlalu lama berendam. Karena perutnya sudah meronta ingin diisi. Tak sampai setengah jam ia sudah membilas diri.


Karena mereka tidak berencana menginap, alhasil Rani tidak memiliki pakaian untuk ia kenakan setelah mandi.


Hanya dengan balutan bathrobe tanpa apa pun di dalamnya, Rani keluar dari kamar mandi.


"Sini, mas bantu keringkan. Sebentar lagi Musa datang membawakan baju untuk kita."


Rani menurut dan membiarkan Raja mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang entah suaminya dapat darimana.


"Sama pakaian dalamnya juga kan, mas?" tanyanya takut yang Musa bawa hanya pakaian luar saja.


"Iya dong sayang. Mana mungkin aku membiarkan kamu keluar kamar tanpa pakaian dalam."


"Musa ambil dari rumah?"


"Beli mungkin." sahut Raja tak yakin. "Aku hanya meminta Musa untuk mengirim pakaian ganti untuk kita."


Rani berdecak malas. "Bukan Musa juga kan yang memilihkan pakaian dalam untukku?"


"Musa tidak sekurang kerjaan itu, sayang."


Mereka berhenti berdebat ketika bell pintu berbunyi. Raja menutupi kepala Rani dengan handuk. Mengantisipasi jika yang datang Musa atau orang lain yang bergender laki-laki.


"Sarapan dulu sayang." panggil Raja dari arah sofa ketika pelayan hotel yang mengantar makanan telah pergi.


Satu piring nasi goreng yang masing mengepulkan asap lengkap dengan dua telur mata sapi di atssnya. Juga dua tangkup roti isi tersaji di atas meja. Sesuai dengan apa yang Rani pesan.


Aroma nasi goreng yang menguar di dalam ruangan membuatnya kembali mual. Bayangan nasi goreng hangat dan gurih yang sebelumnya terasa nikmat, kini di hancurkan dengan anaknya yang menolak aroma itu.


Rani menolak ketika Raja akan menggendongnya kembali ke dalam kamar. Rani tidak ingin mengambil resiko untuk kembali merasa mual saat aroma nasi goreng itu tercium di indra penciumnya.


"Kenapa?" Raja yang sudah menggendongnya bingung ketika ia mencegah suaminya itu untuk membuka pintu kamar mandi.


"Nasi gorengnya bikin mual. Mas tolong singkirin itu dulu dan pastikan tidak ada lagi baunya." pintanya sudah sangat lemas.


Raja yang mengerti mendudukan ia di atas closet. Raja hanya membuka sedikit celah pintu untuk keluar dan langsung menutupnya rapat. Hingga hampir lima belas menit kemudian baru Raja kembali setelah meyakinkannya bahwa kamar telah bersih dari aroma nasi goreng.


"Makan sandwichnya. Kamu pasti tersiksa muntah dengan perut kosong."


Rani menurut dan menggigit roti lapis telur di tangannya. Tapi Rani yakin bahwa ia tidak akan kenyang hanya dengan makan roti. Sekalipun dua tangkup ia habiskan seorang diri.


Dan bayang-bayang nasi goreng hangat masih menggoda air liurnya. "Rani mau nasi goreng, mas." rengeknya dengan pipi menggembung.


"Eh? tapi nanti kamu muntah-muntah lagi." Rani tahu Raja pasti bingung. Bahkan Rani sendiri bingung dengan dirinya. "Makan yang lain saja ya? mas pesankan sekarang."


Rani menggeleng dengan mata berkaca karena keinginannya tidak terpenuhi. "Rani hanya mau makan nasi goreng. TITIK."


"Sayaaaang... Tadi kamu bilang aromanya membuat kamu mual." Raja terlihat berusaha bersabar. Menarik bahunya agar saling berhadapan.


"Tapi anak kita ingin itu, mas. Nanti kalau sampai di ngences, mas mau tanggung jawab?! mas nggak kasihan?!"


"Ya sudah. Mas pesankan sekarang." mengalah Raja dengan helaan napas panjang.


Belum sempat panggilan Raja terangkat, Rani sudah mencegah.


"Rani nggak mau masakan koki hotel." gelenggnya semakin tak jelas. "Pasti nanti baunya bikin Rani mual deh."


"Terus mau makan nasi goreng dimana sayang?"


Rani yakin, jika yang saat ini di depannya adalah Raja yang dulu, pasti Raja sudah memarahinya habis-habisan.


"Disini aja."


Raja menggaruk kepalanya gemas. "Pesan di ojol?"


Rani menggeleng.


"Atau mau koki rumah mama masak dan kirim kesini?"


Rani kembali menggeleng.


"Lalu bagaimana sayaaaang. Kalau makan di hotel berarti di masak koki hotel."


"Kan mas tahu Rani mual." cebiknya kesal. Padahal harusnya Raja yang kesal dengan sikap absurdnya.


"Untuk itu mas tanya. Kamu mau makan apa dan dimana?"


"Makan nasi goreng. Disini." jawab Rani cepat.


"Tapi tidak mau yang masak koki hotel?" tanya Raja memastikan lagi.


Rani menjawab dengan gelengan.


"Kalau begitu, mas yang masak. Mau?"


Rani mengangguk antusias dengan mata berbinar. Memang itu yang ia tunggu sejak tadi. Masakan suaminya pasti terasa berbeda. Karena Raja memasak dengan cinta yang berlipat ganda. Cinta untuknya dan untuk anak mereka.


*


*


*