You're My Antidote

You're My Antidote
Pesta Ulang Tahun



Pesta ulang tahun Rasya Jovan Shandika digelar secara mewah di salah satu hotel bintang lima. Meskipun sosok yang Raja panggil papa itu mengatakan bahwa pesta kali ini tidak mengundang banyak tamu. Nyatanya, semua keluarga besar Shandika, sahabat dan relasi bisnis yang sudah bekerjasama dengan Shandika grup, tetap terdaftar sebagai tamu undangan. Yang artinya, kata sedikit bagi papanya, tidak berlaku untuk Raja.


Raja sudah rapi dengan kemeja putih dan jas hitam. Dasi kupu-kupunya masih belum ia pakai. Karena Raja ingin meminta bantuan sang istri untuk memakaikannya seperti biasa.


Tatapan Raja beralih pada pintu walking closet yang baru terbuka. Senyumnya mengembang melihat betapa cantik istrinya malam ini.


Rani mengenakan gaun klasik berwarna hitam dengan jahitan di ikat pinggang yang dapat dikencangkan di depan atau di belakang atau longgar karena mudah disembunyikan oleh krep. Rok gaunnya cukup lebar dan memudahkan berjalan. Yang memang di rancang khusus untuk ibu hamil.


Raja mendekat dan menarik pingang sang istri untuk memangkas jarak mereka. "Cantik." pujinya setelah melabuhkan kecupan manis di puncak kepala sang istri. "Rasanya aku tidak rela membagi kecantikanmu dengan semua pria yang hadir nanti."


Pipi Rani semakin terlihat cantik ketika semburat merah mulai menjalar. "Berlebihan." seru Rani memukul dadanya lembut dengan malu-malu. "Lebih baik kita segera berangkat sebelum acara di mulai."


Raja mengangguk dan menyerahkan dasi yang masih ia pegang. Tanpa di perintah, Rani langsung membantunya memakai dasi tersebut.


Sopir sudah menunggu di dekat mobil ketika mereka keluar. Sebenarnya perjalanan mereka tidak terlalu jauh. Tapi karena banyak tamu yang juga memiliki tujuan yang sama dengan mereka, membuat mereka harus terjebak macet di depan hotel karena harus mengantri masuk.


"Ini yang kata papa kecil-kecilan, mas?" pertanyaan Rani dan ekspresi wanitanya itu membuat Raja terkekeh.


Banyak karangan bunga dengan ucapan selamat di di depan hotel bahkan hingga loby. Banyak juga penjaga keamanan yang sengaja di sewa untuk mengamankan acara malam hari itu. Belum lagi para wartawan yang hadir.


"Papa tidak setiap tahun merayakan ulang tahun. Jadi ketika beliau merayakannya, ya seperti ini. Berusaha memberi jamuan yang layak untuk tamu yang di undang."


Mobil berhenti di area drop off. Ada petugas yang membukakan pintu untuk Raja. Tapi Raja sendiri yang membuka pintu untuk sang istri. Tak mengizinkan orang lain melakukannya.


Mereka berjalan beriringan dengan Rani yang mengamit siku Raja yang terlipat. Memasuki ballroom yang sudah di hias dengan aneka lampu yang membuat ruangan semakin semarak.


Suara penyanyi terkenal yang mengisi acara menyambut Raja dan Rani yang langsung menuju papanya berada sebelum berbaur dengan kepuarga dan tamu lainnya. Menyambut para tamu karena mereka juga salah satu tuan rumah malam itu.


Raja sudah pernah menggandeng Rani di pesta pernikahan mereka dulu. Bahkan di pesta yang teman-temannya adakan. Jika dulu Raja tak melepaskan tangan Rani karena takut terjadi sesuatu yang tak ia inginkan pada wanitanya. Kini Raja tak melepaskan tangan Rani agar semua orang tahu, bahwa Rani adalah miliknya. Dengan bangga ia memperkenalkan wanita cantiknya itu sebagai nyonya Shandika. Meskipun ia tahu, mungkin mereka semua juga sudah tahu. Karena pernikahannya dengan Rani cukup menarik perhatian pada saat itu.


***


Semakin malam semakin meriah dengan bintang tamu yang hadir menghibur acara. Beberapa sudut kamera yang terpasang merekam seluruhan acara yang di tampilkan di layar besar di luar hotel karena wartawan di larang masuk.


Setelah meniup lilin di dampingi seluruh keluarga, Raja tidak mengira, bahwa papanya tetap mengumumkannya sebagai penerus selanjutnya. Dan keputusan itu tidak bisa di ganggu gugat. Termasuk pengangkatannya sebagai wakil direktur utama dalam waktu dekat.


Raja hanya mengeratkan rahangnya. Tapi genggaman Rani yang menguat kembali membuatnya relaks. Mencoba bersabar agar tak lepas emosi disana.


"Sabar." Om Rafi menepuk bahunya yang kini berdiri sendiri di sudut ruangan. Rani? istrinya tengah bergabung dengan para sepupu dan kelurganya yang lain dan melarangnya ikut karena semua yang ada disana adalah perempuan.


"Papa masih sehat, Om." potong Raja. Tak habis pikir kenapa mereka seakan mudah sekali membicarakan kematian. Bahkan dulu mama memaksanya menikah dengan Rani menggunakan dalih yang sama. Sudah tua dan tak tahu kapan usia akan berakhir. Raja muak dengan mereka yang dengan mudah mengucapkan kematian di depannya yang memiliki pengalaman buruk tentang hal itu.


"Om tahu." sahut Om Rafi. Mungkin tak ingin ia salah paham dan semakin kesal. "Kamu tidak tahu seberapa besar rasa bersalah papa atas kematian papimu."


"Kenapa harus merasa bersalah?" tanya Raja tak mengerti. "Papi memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Bukan karena salah siapapun." setidaknya itu yang Raja yakini. Yang Raja katakan pada dirinya sendiri agar ia juga tidak terus merasa bersalah tentang keberadaan pisau yang papinya gunakan.


"Sebagai orang tua, jika anaknya bernasib buruk, kami pasti menyalahkan diri kami sendiri. Dan kamu akan merasakannya ketika anakmu lahir nanti." Om Rafi memasukan tangannya ke saku celana. "Bahkan jika anakmu tidak sengaja terjatuh dan terluka, kamu akan tetap menyalahkan dirimu sendiri. Kenapa sebagai orang tua, kita tidak bisa menjaga anak kita dengan baik."


Raja diam. Mencoba mengerti apa yang Om Rafi katakan.


"Begitu juga dengan papa." ada rasa sakit yang bisa Raja lihat di mata Om Rafi. Sakit mengenang saudara kembarnya. "Papa setiap hari kamis mengunjungi makam papimu hanya untuk meminta maaf. Bahkan di saat kamu merasa paling sakit atas kepergian mereka, Om yakin, justru papa yang paling hancur hatinya disini."


Raja tak mengatakan apa pun. Kenyataan tentang papa yang sering berkunjung ke makam, baru Raja tahu sekarang.


"Mungkin papa menyesal kenapa tak memaksa Rafa sekolah bisnis alih-alih hukum. Kenapa papa tidak memaksa Rafa menjadi penerusnya alih-alih menjadi pengacara. Hingga skandal itu terjadi dan menghancurkan hidup Rafa yang indah."


Apa papa juga menyesal akan kehadirannya? pikir Raja.


"Papa tidak menyesal memiliki kamu, Raja." ucap Om Rafi seakan tahu apa yang ia pikirkan. "Papa justru bersyukur di tengah gelapnya hari yang Rafa lalui, ada kamu sebagai penerang dan penyemangatnya."


"Tapi papa menyesal dengan proses hadirnya Raja." lirih Raja.


"Orang tua mana yang tidak menyesal anaknya melakukan dosa?" tanya Om Rafi yang tak dapat Raja jawab. "Meskipun yang orang tuamu lakukan adalah kesalahan besar. Kamu bukan bagian dari kesalahan itu. Kamu bukan dosa. Kamu anugerah untuk kami."


"Lalu kenapa papa merasa bersalah?" tanya Raja lagi.


"Karena bagi papa, hidup kami-Om dan papimu- sudah cukup menyedihkan sejak kecil."___"Kami ditinggal ibu kami saat usia kami masih hitungan hari. Mungkin kamu sudah sering mendengarnya."


Ya. Raja tahu ibu dari papinya kabur mengejar laki-laki lain dan meninggalkan anak kembar yang masih sangat kecil. Hingga papi dan Om Rafi tumbuh tanpa mengenal ibu karena mereka hanya mendapat kasih sayang dari papa dan nenna. Hingga mama datang bak malaikat tak bersayap untuk keduanya.


"Karena kami sudah menderita sejak kecil. Papa berharap kehidupan kami bisa bahagia hingga akhir. Masih berharap papimu bisa bahagia dengan wanita yang menjadi istrinya meski tanpa cinta, dengan seiring berjalannya waktu."___"Papa tidak pernah menyangka jika 10 tahun hidup menyedihkan yang papimu lalui akan menjadi akhir cerita dalam hidupnya. Untuk itu papa merasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan papimu di akhir hidupnya. Karena papa juga yang melarang papimu ketika ingin bercerai setelah kamu lahir."


*


*


*