You're My Antidote

You're My Antidote
Rumah Sakit



Raja tengah mendiskusikan masalah pekerjaan dengan Musa ketika Dini menghubunginya dengan telepon kantor dan memberitahunya bahwa orang rumah menghubunginya. Yang langsung Dini hubungkan dengannya.


Raja lupa ponselnya masih dalam mode senyap. Kebiasaan ketika ia di rumah. Ketika ia tengah bersama sang istri dan tidak ingin di ganggu.


Betapa kaget dan paniknya Raja ketika mbak Eni memberinya kabar jika Rani sudah akan melahirkan. Padahal ia tengah berusaha memajukan cuti agar selalu berada disisi istrinya di saat seperti ini. Namun nyatanya ia tetap saja terlambat.


"Langsung ke rumah sakit, mbak. Minta sopir hati-hati bawa mobilnya. Saya langsung ke rumah sakit sekarang."


Rumah sakit berada di tengah rumahnya dan kantor. Jadi akan lebih cepat jika mereka bertemu langsung di rumah sakit. Ia tidak ingin istrinya terlambat mendapatkan penanganan. Terlebih sudah memasuki jam pulang kerja. Jalanan macet bukan opsi terbaik untuk ia memaksakan diri menjemput Rani.


Musa langsung sigap mengantarnya. Dalam perjalanan di tengah hiruk pikuk kemacetan orang-orang yang lelah kerja seharian, Raja menghubungi dokter Fani untuk siap di rumah sakit. Beruntung sepupu jauhnya itu belum pulang dan baru selesai menangani persalinan juga.


"Sudah jalan sayang?" tanyanya menghubungi sang istri. Berusaha setenang mungkin meski perasaannya tak karuan. Panik, takut, cemas, bahagia akhirnya hari yang di tunggu datang juga. Semua bercampur menjadi satu.


"Ini baru keluar gerbang, mas."


Raja tahu istrinya memiliki rasa takut. Meski Rani tidak pernah mengatakannya langsung. Tapi ia bisa melihat dari gerak gerik istrinya yang semakin tidak fokus.


"Kontraksinya sudah sering? sudah sejak kapan?"


Kontraksinya baru terasa setengah jam sekali meski tiga jam sejak kontraksi pertama berlalu. Memang kata dokter untuk kelahiran pertama memakan waktu lebih lama.


Ponsel tetap terhubung. Raja menceritakan apa pun untuk menghibur istrinya. Cerita tentang masa kecil mereka. Tentang hal-hal konyol yang pernah ia lakukan dan belum Rani ketahui.


Sesekali Rani terkekeh yang tak lama di susul erangan ketika rasa sakit itu menerjang istrinya lagi.


"Sudah dimana? masih jauh?" tanyanya dengan panik. Raja sendiri sudah sampai di rumah sakit. Menunggu di depan IGD bersama dengan dokter Fani dan perawat yang siap membawa istrinya ke ruang persalinan. Mungkin.


Rani tak kunjung menjawab pertanyaannya. Yang ia dengar hanya erangan Rani yang semakin menjauh dari ponsel. Beruntung tak lama mobil yang ia tunggu terlihat memasuki gerbang rumah sakit dan berhenti tepat di depannya.


Raja melempar ponselnya ke arah Musa. Bergegas ia membuka pintu belakang dimana istrinya menggigit bibir dengan mata terpejam menahan sakit. Wajahnya yang biasanya merona kini terlihat pucat dengan titik-titik keringat bermunculan di dahi.


Raja langsung mengangkat tubuh istrinya dengan hati-hati. "Sakit, mas." rintih Rani lirih. Membuat hati Raja ikut berdenyut sakit mendengarnya.


"Kamu hebat.... Kamu kuat... Kamu bisa.." balasnya berbisik dan memberi kecupan di pelipis. Memindahkan sang istri ke brangkar yang langsung di dorong menuju ruang observasi. Melakukan pemeriksaan pertama untuk mengetahui sudah sampai mana proses yang Rani rasakan.


Raja menunggu di luar ketika dokter Fani mengecek bukaan dan yang lainnya. Beberapa saat kemudian Raja diberi tahu jika Rani baru bukaan tiga. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk bayi bisa di lahirkan. Setiap ibu berbeda-beda jadi dokter Fani tidak bisa memastikan kapan Rani melahirkan anak mereka.


"Jadi untuk beberapa jam kedepan istri saya masih harus merasakan sakit itu, dok?"


Dokter Fani mengangguk dan menepuk bahunya. "Semua ibu hamil melewati proses ini, Ja. Kamu jangan sampai panik atau hanya akan menambah kepanikan istrimu."


Dokter Fani juga menjelaskan jika Rani hanya akan merasakan sakit ketika kontraksi terjadi. Tidak akan merasa sakit sepanjang waktu menunggu. Beliau juga menyarankan Raja untuk membelikan makan malam untuk istrinya. Meski dari rumah sakit juga nanti di sediakan, tapi akan lebih baik jika Rani memakan makanan yang ingin dimakan unuk menambah semangat.


Raja di perbolehkan masuk setelah dokter Fani pergi. Mbak Eni dan Musa menunggu di luar ruangan.


"Mau makan dulu sayang?" tanyanya mengusap kepala sang istri yang dibalut kerudung.


"Mau sate padang pakai lontong boleh?"


Raja balas tersenyum dan mengangguk. "Aku minta Musa belikan. Ada lagi?"


"Itu saja, mas. Minumnya mau susu hangat."


Raja menghubungi Musa karena tak ingin meninggalkan istrinya sejengkalpun.


Raja duduk di kursi yang ada dibelakang istrinya yang berbaring miring ke kiri. Membantu mengusap punggung hingga pinggang istrinya seperti yang dokter Fani ajarkan.


Tak lama Musa datang membawakan apa yang ia minta.


Rani meminum susu yang masih hangat itu hingga separuh. Lontong dan sate yang di pesan Rani pun dimakan dengan lahap dengan Raja yang menyuapinya.


"Kenapa pesan satu? mas juga belum makan, kan?"


Raja bahkan sampai lupa memesan makan untuknya sendiri. Lagi pula ia tidak merasa lapar.


"Mas belum lapar."


"Tapi harus makan. Mas aja habiskan. Rani sudah kenyang."


Raja menolak karena istrinya masih terlihat lahap. Tapi Rani tetap kekeh tidak ingin menghabiskannya. Jadi tiga potong lontong dan dua tusuk sate yang tersisa, masuk kedalam mulutnya.


Beberapa jam berlalu. Raja setia menemani istrinya melalui proses kontraksi yang terjadi. Hanya rintihan disertai dzikir yang keluar dari mulut istrinya. Sesekali meminta minum. Dan lain waktu ketika kontraksi itu menghilang, Rani yang mungkin sudah lelah memilih memejamkan matanya.


Bidan juga rutin memeriksa kondisi Rani. Entah detak jantung bayi mereka atau melakukan pengecekan dalam untuk mengetahui sudah sampai bukaan berapa.


Dari bukaan tiga menuju empat, Rani melaluinya lebih dari satu jam. Begitu juga dengan bukaan selanjutnya. Hingga di jam dua dini hari, Rani dipindah ke ruang bersalin ketika bukaannya telah lengkap.


Ketika ia membantu mendorong brangkar istrinya. Di luar ruang observasi sudah ada keluarga Om Rafi lengkap dengan Maina dan Maira.


Ia bahkan lupa mengabari keluarganya. Entah Musa atau mbak Eni yang memberitahu Om Rafi jika Rani akan melahirkan. Tapi yang jelas keberadaan mereka menghangatkan hati Raja. Terlebih ketika Om Rafi menguatkannya. Juga titipan salam dan doa dari mama dan papa yang tidak bisa ikut hadir karena kondisi kedua orang tuanya yang memang sudah tidak muda lagi.


"Kami disini untuk kalian." bisik Om Rafi memeluknya.


Entah perasaannya tengah sensitif atau bagaimana. Hingga dekapan dan bisikan Om Rafi membuat matanya memanas dan berkaca-kaca.


"Terimakasih, Om. Hanya kalian yang aku punya." suaranya pun ikut bergetar. Entahlah Raja tidak pernah sesensitif ini seumur hidupnya. Mungkin memang sesekali ia perlu di kuatkan seperti ini. Agar ia tak merasa sebatang kara.


*


*


*