
"Aduh sayang... papa sudah siang, mau kerja." Rani membujuk sang putri yang memeluk Raja erat tak mau melepskan. Ketika di paksa, Raisa malah menangis keras. Menolak berpindah tangan pada susternya. Sedangkan Rani sendiri sibuk menggendong Rasen yang demam sejak semalam.
Pagi ini Raja ada rapat bulan yang harus ia hadiri. "Aku bawa ke kantor saja deh, sayang. Aku sudah terlambat."
"Mas yakin?"
Yakin tidak yakin. Mau bagaimana lagi. Balita yang kini berusia enam bulan itu menolak melepaskannya. Dan urusan kantor juga tidak bisa ia tinggalkan.
"Suster ikut saja. Nanti kalau sudah tidur, biar bisa di bawa pulang."
Rani, meski terlihat tidak tega, tapi tetap meminta suster untuk mempersiapkan segala keperluan Raisa. Termasuk ASIP dan alat penghangatnya.
Raisa memang ikut rewel ketika saudara kembarnya demam. Mungkin seperti itu ikatan batin antara keduanya. Merasa gelisah ketika salah satunya sakit. Beruntung tidak sakit bersamaan.
Hanya Rasen yang sakit saja, istrinya panik dan menangis. Bagaimana jika keduanya sakit?
Raja menghela napas. Emosi Rani masih belum stabil. Masih naik turun tidak tentu. Tapi Rani sudah menyanggupi ajakan Rere untuk bertemu Rio Darmawan yang rencananya akhir minggu ini mereka membuat janji bertemu. Tapi karena Rasen sakit, jadi Raja membatalkannya dan menunggu kondisi Rasen membaik.
Karena Rani juga pasti tidak akan tenang meninggalkan Rasen yang sakit. Dan Rasen tidak mungkin di ajak keluar dalam kondisinya yang tidak baik.
Raisa sudah tidak menangis. Gadis kecil di pangkuannya menyedot botol susu dengan tenang. Tangannya tak lepas memegang erat ujung dasi miliknya. Sisa-sisa air mata masih menggenang di pelupuk mata.
Raja mengambil selembar tisu dan menghapus sisa kesedihan sang putri. "Jadi anak baik, oke? papa rapat dulu sebentar." kecupnya di kepala sang putri dan turun dari mobil ketika mereka sampai di kantor.
Suster Raisa menunggu di luar ruang rapat. Musa dengan sigap membukakan pintu untuknya masuk dengan Raisa dalam dekapan.
"Selamat pagi, maaf terlambat." sapanya pada semua perwakilan divisi yang hadir di ruang rapat.
Semua mata tertuju padanya dan Raisa. Lebih banyak tatapan tak percaya tapi tidak menghakimi atau keberatan. Mungkin hanya tidak menyangka seorang Raja Adhitama mengasuh anak sambil bekerja.
Sedangkan Raisa sudah lebih ceria dan tertawa kegirangan begitu melihat Maina dan Maira yang menyapa gadis kecil itu.
Tawa Raisa mengundang senyum peserta rapat yang hadir. Hingga Om Rafi kembali memulai rapat yang sudah dimulai sebelum ia datang.
Perwakilan divisi bergantian melakukan presentasi laporan pekerjaan mereka masing-masing. Raja yang tengah membaca dokumen tentang apa yang divisi periklanan presentasikan, sedikit terganggu dengan tangan Raisa yang tak mau diam berusaha menggapai kertas yang mungkin terlihat menarik bagi gadis kecilnya.
"Tidak boleh sayang." bisiknya dan memberikan mainan yang ia bawa di saku celana. Tapi sepertinya Raisa tidak tertarik dan melemparnya menjauh. Gadis kecilnya lebih tertarik dengan apa yang ia baca. "Papa kerja dulu, oke?" bisiknya lagi berusaha menjangkau mainan yang Raisa jatuhkan.
"Ini, pak." Musa membantunya mangambil boneka jerapah kecil yang Raisa lempar.
"Makasih, Sa."
Raisa merancau keras ketika kertas yang berusaha gadis kecilnya ambil tak tergapai. Membuat semua orang tertawa.
"Kenapa cucu opa, hm? sini sama opa." Om Rafi mengambil alih Raisa yang senang-senang saja. Terlebih ketika Om Rafi menciumnya gemas dan memberinya selembar kertas yang tak Raja beri sebelumnya.
***
Entah suasana kantor yang terasa asing, atau ia yang tak serius menidurkan putrinya hingga sampai jam makan siang, Raisa tidak juga kunjung tidur.
Tidak tahu saja istrinya itu, jika ruang kantornya sudah sangat berantakan dengan berkas yang ada dimana-mana karena ia membacanya sembari menimang dan berusaha membuat putrinya tidur. Belum lagi mainan yang Raisa lempar-lempar atau remahan biskuit yang berserakan dimana-mana.
Sama enam bulan ia membantu istrinya menjaga anak-anak. Baru kali ini Raja dibuat frustasi. Tidak bisa membagi fokusnya membuat pekerjaan banyak yang terbengkalai. Dan usahanya untuk membuat Raisa tidur juga gagal total. Hingga tidak ada apa pun yang ia dapatkan selama setengah harinya di kantor.
"Raisa belum mau tidur. Raisa juga tidak mau ikut susternya." ucap Raja sedikit mengeluh.
"Tapi stok ASIP yang suster bawa kan sedikit. Nanti kalau kurang bagaimana? apa nggak sebaiknya mas pulang dulu?"
"Dikasih susu formula saja ya, sayang? kan sudah MPASI juga... Aku ada meeting habis makan siang nanti dengan klient. Nanti selesai meeting baru aku bawa pulang Raisa."
Rani tidak keberatan dengan susu formula. Tapi Rani khawatir Raisa akan mengganggu meetingnya dengan klient. Dan Klient pasti akan tidak nyaman dan terkesan tidak profesional jika bekerja dengan mengasuh anak.
Rani mengusulkan untuk Raisa di asuh Musa sementara selama ia meeting. Lagi pula Raisa sudah kenal Musa dan biasanya dua orang berbeda generasi itu akrab.
Dan Raja menyetujui usul istrinya. Hingga saat Dinu mengabarkan klient sudah menunggu di ruang meeting, ia menyerahkan Raisa pada Musa.
Benar apa kata Rani. Raisa tidak menolak di gendong oleh Musa. Entah anaknya menuruni sifat ganjen darimana. Selalu nemplok jika yang menggendongnya seorang pria. Terlebih jika yang menggendongnya terlihat tampan.
Raja menggeleng. Merasa Rani tidak memiliki sifat seperti putri mereka. "Titip ya, Sa. Jangan di buat nangis! sampai Raisa menangis, gaji kamu saya potong!" ancamnya dengan senyum tipis meninggalkan Musa yang masih mengedip bingung.
"Tolong jagain ya, pak Musa. Semangat!" Dini ikut meledek Musa dan terkekeh dibelakangnya.
Sesekali mengerjai Musa tidak masalah kan?
Masa bos saja yang repot. Asisten harus lebih repot lagi darinya. Raja tertawa jahat dalam hati.
Lagi pula hitung-hitung, Musa belajar mengasuh anak sebelum nanti menikah dan memiliki anak sendiri.
Kurang baik apa ia memberikan Raisa yang cantik dan imut sebagai bahan pembelajaran. Jika bukan Musa, ia tidak akan membiarkannya.
Karena orang itu Musa, maka ia percaya untuk menjaga Raisa. Ia yakin Musa tidak akan menyakiti putrinya. Ada suster juga yang bisa memberitahu Musa apa yang perlu di lakukan. Jadi seharusnya Musa tidak begitu repot menjaga putrinya.
Hampir dua jam meeting baru selesai dengan kesepakatan kerjasama yang berhasil di capai.
Ketika ia kembali ke ruangan, Raisa sudah tertidur di atas dada Musa yang juga terlelap di atas sofa. Penampilan Musa terlihat mengerikan. Lebih berantakan dari pada penampilannya tadi.
"Maaf Tuan, tadi pak Musa melarang saja membawa nona Raisa pulang. Takut kembali bangun saat saya gendong." ujar suster Raisa.
Raja mengangguk paham dan membiarkan saja keduanya tertidur. Raja memanfaatkan waktu untuk memeriksa pekerjaan yang sebelumnya berceceran. Jika pekerjaannya sudah selesai, baru ia akan membangunkan Musa dan membawa Raisa pulang.
*
*
*