
Rani merasa Raja menghindarinya dua hari terakhir.
Raja selalu masuk kedalam kamar setelah Rani tidur. Dan sudah tidak ada ketika ia bangun. Atau bisa jadi Raja tidak tidur dikamar dengannya. Rani tidak tahu. Karena setelah kelelahan menunggu Raja hingga larut malam dan tak juga masuk, Rani tidur dengan amat nyenyak.
Satu hari Rani menemukan Raja tengah berenang meski hari masih begitu pagi dan udara masih terasa dingin.
Hari berikutnya Rani melihat Raja tengah berlari mengelilingi rumah dihari yang masih cukup gelap.
Dan pagi ini, Rani mendapati Raja tengah memukul samsak di ruang olahraga.
Rani tak tahan lagi dengan bendera perang dingin yang Raja kibarkan secara tidak langsung. Mereka dekat tapi jauh. Mereka bersama tapi sendiri.
Mereka hanya bertemu dimeja makan. Itu pun Raja hanya akan terdengar suaranya ketika ia tanya dan menjawabpun seperlunya. Selebihnya pria itu diam seakan ia tak kasat mata. Tak terlihat dan tak ada.
Raja selalu menghabiskan waktunya diruang kerja. Dari siang hingga malam. Minuman dan cemilan selalu asisten rumah tangga yang pria itu mintai tolong. Tak sekalipun Raja meminta padanya.
Rani semakin merasa bersalah karena sudah merubah sikap Raja yang sebelumnya sudah mulai lunak menjadi canggung dan tak bersahabat seperti saat ini.
Saat Raja duduk dilantai dengan napas memburu, Rani mendekat dan menyerahkan sebotol air mineral dan handuk kecil yang ia dapat dari meja didekat pintu. Raja yang terduduk dengan napas tak beraturan mendongak menatapnya dan menerima botol air yang langsung dibuka tutupnya dan meminum hingga tandas.
"Terimakasih." Raja berucap tanpa menatap kearahnya. Pria itu bahkan terkesan buru-buru berdiri dan terlihat ingin kembali menghindarinya.
"Kak Raja!" cegahnya mencekal lengan pria itu sebelum kembali kabur.
Mereka hanya saling tatap untuk waktu yang cukup lama. Rani memang tidak tahan dengan hubungan mereka saat ini. Tapi berhadapan dengan Raja seperti ini, ia tidak tahu harus berkata apa.
Pria didepannya tak sedikitpun terlihat tidak sabar. Raja hanya diam dan balas menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Mungkin menunggunya berbicara.
"Kalau memang tidak ada yang ingin kamu katakan. Saya kekamar dulu. Gerah. Ingin mandi."
"Kak Raja mau sampai kapan seperti ini?" tanyanya tak ingin kehilangan kesempatan.
"Bukankah Raja yang kamu kenal memang seperti ini?"
"Tapi kak Raja tidak pernah menghindari Rani sebelumnya."
"Lalu.. Kamu ingin saya seperti apa?"
Rani menelan ludah ketika Raja menatapnya intens dan mendekat langkah demi langkah. Dengan reflek, ia memundurkan kakinya setiap Raja merangsek maju.
"Ya-yaa.. Seperti kak Raja." otaknya semakin tidak sinkron berada dalam posisi sedekat ini dengan Raja. Apa lagi pria itu seperti tidak akan menyerah untuk terus mendesaknya pada dinding kaca dibelakangnya.
"Memang saya seperti apa?"
Rambut Raja yang masah akan keringat. Wajah Raja yang sedikit memerah karena kelelahan semakin menggoda untuk ia sentuh. Tapi Rani sekuat tenaga mengepalkan jemarinya dan menahan disamping tubuh.
Ketika punggungnya benar-benar menyentuh dinding kaca dibelakangnya, Rani tahu dirinya akan semakin tak terkendali. Ia tak bisa membayangkan tangan kekar Raja yang kini tak terbalut kain mengurungnya pada tembok. Sebelum itu terjadi, Rani harus menjaga kewarasannya. Ia mendorong dada Raja dan berlari keluar sembari berteriak. "AMPUN KAK RAJA.. NGGAK KUAT!!"
***
Raja tak berniat menghindari Rani pada awalnya. Tapi setiap melihat Rani, Raja akan teringat sikap gadis itu yang mengartikan semaunya sendiri. Tanpa menunggu penjelasan darinya. Bahkan terkesan tak ingin mendengarnya.
Raja sudah berusaha merubah sikap kakunya untuk orang lain selain mama. Memperlakukan Rani dengan lebih baik.
Ia tidak ingin pernikahannya berakhir seperti kedua orang tau kandungnya. Dimana hanya ada pertengkaran tanpa adanya kehangatan didalamnya.
Akhir yang tragis dari kisah kedua orang tuanya, tak ingin terulang dalam hidupnya juga. Ia juga tak ingin memberi pengalaman pahit tentang sebuah keluarga untuk Rani yang baru memiliki arti sebuah keluarga dalam ikatan yang sesungguhnya.
Tapi mendapatkan balasan yang seperti itu setelah ia berusaha menjadi lebih positif, sedikit membuatnya kecewa. Baru berusaha berdiri tapi dijatuhkan lagi. Seolah tak diberi kesempatan.
Ia biarkan saja gadis itu berpikir sesukanya. Menghindari gadis itu dengan lebih banyak menghabiskan waktu diruang kerja. Raja juga tahu jika Rani setiap malam menunggunya, melihat dari lampu kamar yang masih menyala ketika ia masuk.
Entah sampai jam berapa gadis itu menunggu, hingga Rani bahkan tak bangun ketika lagi-lagi ia bermimpi buruk.
Raja sendiri tidak tahu kenapa ia begitu kekanakan dan merasa kecewa hanya karena Rani berasumsi seenaknya. Padahal biasanya ia bukan orang yang seperti itu.
Hari kedua Raja mendengar gadis itu menggerutu tentang sikapnya yang semakin dingin. Saat ia akan mengisi ulang teko air minum di dapur karena tak menemukan si mbak di lantai atas. Ketika turun ia malah tak sengaja mendengar Rani bercerita pada asisten rumah tangga mereka.
"Rani tuh cuma takut, mbak. Rani takut kecewa kalau kak Raja sebenarnya cuma pura-pura didepan media. Rani bukannya tidak mau mendengarkan penjelasan kak Raja mengenai masalah itu.."
"..Rani kira, kalau menganggap masalah itu tidak pernah ada. Hubungan Rani dan kak Raja tuh bisa baik-baik aja seperti biasa. Tapi kak Raja malah marah dan menjauh."
Raja tak berani berdiri lebih lama didekat dapur sebelum Rani maupun asisten rumah tangga mendapati keberadaannya.
Raja berbalik dan kembali memasuki ruang kerja. Merenungkan tentang perkataan Rani yang baru saja ia dengar.
Malamnya, Raja memasuki kamar tak begitu larut. Berusaha berdamai dengan gadis berisik yang membuatnya resah beberapa hari ini. Tapi sepertinya Rani tak lagi menunggunya. Gadis itu sudah terlelap dibawah selimut dengan rapi.
Tak ingin mengganggu, Raja membersihkan diri dan berganti dengan piyama sebelum menyusul Rani ketempat tidur.
"Maaf membuatmu merasa bersalah." bisiknya dengan tidur saling berhadapan. Lama ia tatap wajah Rani. Baru kali ini ia menatap wajah gadis itu dari jarak sedekat dan selama ini. Ia kira dengan menatap wajah Rani setidaknya ia tak akan lagi memimpikan kedua orang tuanya. Tapi ternyata mimpi itu kembali datang. Kali ini bukan mimpi buruk seperti biasa. Ia hanya melihat papi yang tersenyum dengan sorot mata bangga yang dulu sekali pernah ia lihat ketika ia mendapatkan juara bola basket junior.
Mimpi yang justru terasa aneh baginya.
Seperti hari-hari biasanya ketika ia tak dapat lagi tidur setelah terbangun dari mimpi, Raja memutuskan untuk berganti baju olahraga dan menuju ruang olahraga disamping kolam renang.
Entah berapa lama ia disana hingga ia tak sadar jika langit mulai terang.
Ketika ia fokus, rasa lelah tak terasa. Tapi begitu berhenti, ternyata tubuhnya sudah amat kelelahan dengan tempo napas yang cepat. Ia duduk sembarang di lantai dengan kaki diluruskan.
Sebotol air mineral terulur padanya dari arah samping. Ia tidak menyangka Rani akan datang menemuinya lebih dulu seperti ini. Meski sebelum menikah Rani memang selalu seperti itu. Mendatanginya dan bercerita segala isi hati dan kegiatannya.
Raja ingin mandi dan berganti pakaian dulu sebelum berbicara baik-baik dengan Rani. Tapi Rani mencegahnya pergi dengan mencekal lenganya. Menunggu beberapa lama, gadis itu hanya diam degan jari kaki yang bergerak gelisah. Membuatnya ingin menggoda gadis itu.
Ketika ia semakin mendekat, Rani semakin terlihat gelisah. Wajahnya juga semakin memerah. Memancingnya untuk semakin maju mendekat.
Katika ujung sepatunya beradu dengan ujung sandal rumahan milik Rani, gadis itu mendorong dadanya dan berlari dengan berteriak. "AMPUNN KAK RAJA... NGGAK KUAT!!"
Untuk pertama kalinya Raja tertawa kecil meski tidak ada yang tahu. Memangnya gadis itu ia apakan hingga bisa berteriak 'tidak kuat' seperti itu?
*
*
*
Assalamuailaikum reader tersayang...
Selamat menjalankan puasa bagi yang beragama muslim..
Semoga dibulan yang suci ini kita bisa memetik banyak pahala..
Dan semoga pahala kita diterima serta dosa kita diampuni oleh Alloh SWT..Aamiin..
Mohon maaf lahir dan batin semua..
BTW bab kali ini panjang lho.. Semoga menghibur malam kalian ya.. Saranghae ❤❤❤