
Mungkin orang menganggapnya gila. Raja akui itu. Ia tergila-gila dengan istrinya. Dengan semua yang ada pada wanitanya itu. Termasuk tubuhnya.
Sebelumnya ia tak sehaus ini jika berhubungan dengan menyalurkan hasrat. Cukup dengan tiga atau empat kali dalam sebulan. Tapi kini bahkan ia bisa melakukannya dua atau tiga kali dalam sehari. Ia akui dirinya gila. Tubuh Rani terlalu candu. Bagai magnet yang selalu menariknya mendekat. Membuatnya ingin selalu mengulang kegiatan panas mereka. Melihat wajah merona Rani dibawahnya. Hingga terkadang melupakan kebutuhan mereka yang lain, seperti makan.
Seperti saat ini, Rani tengah bersandar didadanya setelah kegiatan mereka selepas mama pulang. Dengan perut kosong melewatkan makan malam.
Ia belai rambut Rani yang lepek bercampur keringat. Bahu putih istrinya terekspos tak tertutup selimut. Deru napas mereka masih bersahutan.
"Kak?" panggilan dan gerakan kepala Rani diatas dadanya membuat ia membuka mata dan menatap mata lelah yang juga menatap tepat kearah matanya.
"Hmm?"
"Besok Rani masuk kerja ya? Rani bosan kak dirumah."
Sebenarnya Raja tak melarang Rani untuk berangkat kekantor. Ia hanya tidak tega melihat Rani yang kelelahan melayaninya masih harus ditambah lelah dengan bekerja di kantor. Ia meliburkan Rani agar wanitanya bisa mengistirahatkan tubuhnya. Dan sudah kembali segar saat ia pulang kerja.
"Boleh." jawabnya yang seketika menambah binar dimata sang istri. "Kita juga bisa melakukannya di kantor. Meja kerjaku sepertinya tempat yang pas. Atau sofa juga cukup nyaman."
"Kaaaakk!" seru Rani merengek. Membuatnya terkekeh gemas. Ia juga tak segila itu untuk melakukannya di kantor. Kecuali jika ia khilaf.
"Aku takut kamu lelah. Lebih baik kamu dirumah saja istirahat."
"Makanya kak Raja mainnya jangan sering-sering dong!" ekspresi kesal Rani malah membuatnya semakin ingin tertawa. "Apa lagi mulai besok kan para embak mulai masuk."
"Apa aku membuatmu tidak nyaman dengan sering melakukannya?" Raja merasa bersalah. Selama ini ia hanya memikirkan menyalurkan hasratnya sendiri tanpa berpikir apa istrinya itu keberatan. Karena melihat respon istrinya ketika mereka berhubungan, Rani terlihat menikmatinya juga.
"Bu-bukan! Rani suka kok." Suara Rani mencicit setelah berseru didepan. Wanitanya menunduk malu-malu. "Tapi Rani juga sudah bosan dirumah. Rani ingin kembali ke kantor. Untuk itu kita mainnya malam saja ya kak?" Siapa yang tahan jika wanitanya memohon dengan mata berbinar itu.
Raja diam. Berpikir apa ia bisa menahan hasratnya dari pagi hingga malam. "Tambah pagi gimana?"
"Kalau ditambah pagi, mana bisa Rani berangkat. Yang ada udah capek duluan."
Raja terkekeh. Memang ia selalu menghabiskan tenaga sang istri disetiap kesempatan.
"Baiklah terserah kamu saja. Tapi kalau terpaksa tidak apa kan kalau sebentar?"
Cara Rani mengangguk dengan pasrah membuat Raja terkekeh dan menenggelamkan wajah itu didadanya. "Ayo lagi.." ajaknya.
"Kaaaak.." rengek Rani yang berhasil membuatnya tergelak.
"Maksudku, ayo mandi sayang." ralat Raja seraya beranjak dan menggendong tubuh sang istri untuk mandi bersama. Kebiasaan istrinya yang selalu langsung mandi setelah rutinitas mereka, membuat Raja memiliki kebiasaan yang sama.
***
Ibu Lintang merasa tubuh Rani lebih kurus. Rani sendiri juga merasa lelah disetiap tubuhnya. Ia akui ia sering melewatkan makan dan lebih memilih istirahat. Tapi dibalik itu semua, Rani tidak pernah merasa keberatan atau bahkan tidak ikhlas.
Tak dipungkiri jika ia menyukai kegiatan barunya sebagai seorang wanita. Merasa menjadi istri yang seutuhnya setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan itu menyenangkan.
Tapi disaat kesendiriannya, ia merasa bosan. Ia terbiasanya dalam suasana yang ramai di panti. Terbiasa sibuk bekerja dari pagi hingga sore bahkan kadang malam baru pulang. Dunianya sibuk beraktifitas. Tapi waktu yang ia miliki satu minggu terakhir cukup membosankan disiang hari.
"Maksudku, ayo mandi sayang."
Tubuh Rani menegang mendengar Raja memanggilnya dengan sebutan mesra. Tak hanya memanggil nama seperti biasa. Ini adalah kali pertama Raja memanggilnya sayang.
"K-kak Raja ngomong apa tadi?" tanyanya yang kini melingkarkan tangan dileher Raja.
"Ayo mandi. Kamu mau mandi kan?"
"Bukan. Setelah itu."
"Apa?" tanya Raja seolah tak paham. Padahal dari ekspresinya terlihat sekali pria itu tengah menggodanya.
"Iih kak Raja nyebelin!" ia pukul dada sang suami dengan manja dan menyadarkan kepalanya disana.
"Menyebalkan tapi suka kan, sayang?"
Rasa panas menjalari pipinya. "Suka. Apa lagi kalau kak Raja terus panggil Rani dengan sayang." akunya terus terang.
Esoknya Rani benar-benar kembali ke kantor. Bertemu dengan tumpukan pekerjaan dan karyawan baru yang ternyata akan menjadi asistennya.
Namanya Dini. Gadis ceria dua tahun lebih muda darinya. Gadis itu direkrut beberapa hari sebelum ia dan Raja menikah. Tapi baru mulai masuk kerja seminggu yang lalu. Tepat ketika ia diliburkan oleh Raja.
Rani cukup terbantu dengan adanya Dini. Tapi untuk berurusan dengan Raja, hanya ia yang diizinkan. Bukan Rani yang meminta. Tapi itu perintah Raja langsung.
Siang hari sebelum jam makan siang, Rani mendapat telepon dari nomor tak dikenal. Dua kali Rani abaikan dan nomor itu masih gigih menghubunginya. Hingga dipanggilan ketiga tepat didering pertama, Rani langsung mengangkatnya.
"Hallo Rani?"
Rani mengerutkan dahi. Merasa asing dengan suara wanita yang ia dengar. "Iya. Ada yang bisa saya bantu bu?" jawabnya sopan.
"Saya ibunya Haikal. Bisa tolong kamu datang ke rumah sakit harapan?"
Rani heran kenapa dia diminta datang kerumah sakit. Tapi penjelasan dari ibu sahabatnya itu seketika membuatnya panik.
Haikal masuk rumah sakit setelah tak sadarkan diri disebuah klub malam. Padahal setahunya, Haikal bukan orang yang akan mendatangi tempat seperti itu. Haikal selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam berbagai bidang demi membalas kebaikan orang tua angkanya. Haikal juga pria yang sangat menjauhi rokok dan minuman keras.
Jadi Rani tidak mengerti bagaimana Haikal bisa sampai tidak sadarkan diri diklub malam. Dan sekarang pria itu masih belum sadar dan selalu mengingau memanggil namanya.
Dokter bilang jika tubuh Haikal tidak bisa menerima alkohol yang begitu banyak. Dokter perkirakan itu pertama kalinya Haikal meminum alkohol dan langsung dalam jumlah yang banyak. Hingga efeknya cukup berat dibanding mereka yang sudah terbiasa menerima minuman itu memasuki tubuhnya.
Dengan tergesa Rani meminta izin pada Raja untuk melihat kondisi sahabatnya. Beruntung Raja memberinya izin dengan syarat diantar sopir kantor. Suaminya tidak bisa menemani pergi kerumah sakit karena ada rapat penting setelah makan siang nanti.
*
*
*