
Hari yang tak pernah Rani tunggu akhirnya tiba.
Berkali-kali ia menarik dan mengeluarkan napas. Namun tak sesikitpun mengurangi keresahan di hatinya.
Hari ini Raja dan keluarganya akan datang. Untuk secara resmi meminangnya.
Adik-adiknya bahkan sangat antusias sejak pagi membantu ibu panti dan ibu pengurus lainnya dalam menata ruang aula seadanya. Meski untuk jasa catering dan yang lainnya sudah di urus keluarga Raja. Seakan ini hanya pernikahan keluarga mereka dan Rani tidak perlu berpartisipasi meski ia mampu.
Jika hanya untuk catering, Rani masih memiliki tabungan yang setiap bulan ia sisihkan jika sewaktu-waktu ada keadaan darurat.
Rani kembali membayangkan, bagaimana perasaannya jika ia memiliki orang tua. Apakah hari ini akan terasa berbeda?
Ia kembali menghela napas bersama dengan gelengan kepala. Ia tidak boleh lagi membayangkan hal-hal yang tidak mungkin. Energinya harus ia simpan untuk menyambut kehidupannya yang terlihat semakin rumit.
"Anak ibu cantik sekali." ibu memasuki kamar yang memang tidak Rani kunci. "Semuanya sudah siap. Nanti kita sambut Raja dan keluarganya sama-sama, ya?"
Rani mengangguk dan menutupi kegelisahannya dengan senyum yang ia usahakan untuk terlihat bahagia.
Bagaimanapun ibu panti tidak boleh tahu jika dirinya terpaksa menerima pinangan ini. Semua orang harus bahagia dengan pernikahannya dan Raja, meski ia sendiri tidak.
"Dari pertama kali melihat Raja, ibu bisa melihat jika anak itu baik meski terlihat dingin. Dia pasti bisa membahagiyakan kamu."
Rani hanya tersenyum. Ia tidak yakin Raja akan membawa kebahagiaan atau justru neraka baginya. Setidaknya ia harus bersyukur karena Raja tak pernah melakukan kekerasan padanya. Meskipun ia sangat yakin Raja sudah sangat kesal dengan keberadaannya disisi pria itu.
"Doakan Rani, ya bu?" ucapnya dengan menggenggam tangan ibu panti. "Doakan semoga Rani bisa menjadi istri yang baik." doakan semoga Rani bisa bertahan.
Walaupun selama ini Rani sudah terbiasa menghadapi Raja, menggodanya, mengganggunya. Tapi dengan menikah, Rani takut perasaannya ikut terlibat.
"Ibu selalu mendoakan anak-anak ibu." ibu panti menjawab. Matanya terlihat merah menahan tangis. "Mendoakan kebahagiaan kalian, kesehatan kalian. Bahkan untuk anak-anak ibu yang sudah memiliki orang tua baru."
"Ibu.." cicit Rani memeluk wanita yang sudah merawat dan membesarkannya.
"Sudah.. Sudah.. Nanti make up kamu luntur dan tidak cantik lagi."
Ucapan ibu membuatnya terkekeh. Make upnya kan anti air. Jadi air mata yang mengalir dari kedua matanya kini, tidak akan ikut menghanyutkan segala make up yang ia gunakan.
"Kakak.. Ibu.. Mobil Ibu Lintang sudah datang." Citra yang esok akan meninggalkan panti berseru dipintu dengan bahagia. Gadis kecil itu bahkan meloncat-loncat tak sabaran.
"Sekarang hapus air mata kamu." ibu membantunya mengeringkan air mata dengan tisu. "Jangan sampai mereka melihatmu bersedih dan mengira kamu terpaksa menerima pinangan mereka."
Rani tersenyum getir. "Andai ibu tahu kalau Rani memang terpaksa."
***
Raja berharap bangun siang dan terlambat dalam acara lamarannya sendiri. Berharap dengan itu, acara akan dibatalkan.
Namun sepertinya hanya angannya saja. Ia bahkan dibangunkan lebih pagi dari biasa ia berangkat ke kantor. Mama sudah sangat antusias dengan hari ini.
Akhirnya dengan segala ketidak inginannya untuk menikahi Rani, Ia bisa tersenyum juga melihat senyum mama yang benar-benar terlihat bahagia.
Baiklah, sepertinya sudah saatnya ia menerima pernikahan ini. Setidaknya ia memiliki alasan untuk menikahi Rani. Yaitu, alasan membahagiakan mama yang sudah sangat menyayanginya selama ini.
Dengan mengenakan baju batik yang mama bawa kekamarnya pagi-pagi sekali itu, Raja melangkah keluar dari kamar. Ketika ia turun, diruang tamu sudah ramai dengan para anggota keluarganya yang tak kalah rapi.
Raja hanya bisa menggeleng melihat banyaknya barang yang akan dibawa. Bahkan orang yang ikut tidak sebanyak itu untuk membawa semua hantaran.
"Kamu tidak perlu memikirkan siapa orang yang akan membawa itu semua." mama berucap seakan tahu apa yang ia pikirkan. "Kamu hanya perlu menjaga sikap agar tidak mengecewakan mama."
Untuk kali ini, Raja mengangguk tulus, membuat mama kembali tersenyum bahagia dan memeluknya. "Percayalah sayang.. Pilihan kami tidak akan pernah salah untuk kamu."
Tamu yang tak ia undang mengalihakan perhatiannya dan mama yang juga melepas pelukan.
Ia memicingkan mata ketika melihat Adit dan Rere ada disana. Padahal ia tidak pernah mengajak mereka untuk ikut hari ini. Meskipun ia sempat mengatakan pada mereka kapan ia akan datang melamar Rani.
"Adit, Rere.. Masuk sayang.. Sebentar lagi kita berangkat." mama menyambut mereka dengan suka cita. Tapi senyum Adit dan Rere terlihat terpaksa.
Jika Adit, Raja tahu karena sahabatnya itu masih tidak terima dengan pernikahannya dengan Rani. Tapi kenapa dengan Rere?
***
Menggunakan empat mobil dan satu mobil box, mereka berangkat ke panti asuhan dimana Rani tinggal.
Raja tidak pernah menganggap Rani adalah orang yang paling bahagia dan di untungkan dengan adanya hal ini. Panjat sosial dari anak panti asuhan menjadi Nyonya Shandika. Ia mengenal Rani sejak gadis itu masih cengeng. Dan Rani bukan wanita yang gila harta seperti itu. Sedikit membuatnya lega karena bukan orang aneh yang orang tuanya jodohkan.
Didalam mobil yang Raja tumpangi, keadaan hening. Tak ada satupun yang membuka suara baik dirinya, Rere yang duduk di belakang, maupun Adit yang tengah mengemudikan mobil.
Biasanya Adit dan Rere selalu meramaikan suasana. Tapi kedua sahabatnya itu kini menjadi pendiam seperti dirinya.
Baru ketika sampai dan Raja akan membuka sabuk pengamannya, Adit berkata. "Gue titip Rani. Jaga dia baik-baik. Jangan pernah sakitin gadis gue, atau gue sendiri yang akan membalasnya."
Raja menghela napas. Menepuk bahu sahabatnya dan mengangguk sebelum kemudian turun karena mama sudah mengetuk jendela kaca disebelahnya.
"Ingat Raja.. Jangan pernah kecewakan mama." mama memperingatkan kembali.
Semua orang seakan menitipkan Rani padanya. Apa mereka semua tidak salah menitipkan perempuan itu pada pria brengsek sepertinya?
Diapit kedua orang tua, Raja memasuki panti. Mereka dibimbing ke aula oleh salah satu anak panti. Disana seluruh orang dewasa yang ada di panti berkumpul. Pun beberapa anak panti yang sepertinya ingin ikut menjadi saksi.
Tapi bukan itu yang menjadi fokus Raja. Fokusnya pada wanita cantik yang berdiri dengan canggung ditengah-tengah pengurus panti.
Rani merubah penampilannya hari ini. Wanita itu mengenakan hijab yang sebelumnya tidak pernah Raja lihat.
"Cantik sekali calon menantu mama." bisik mama padanya. "Mau cari dimana yang baik dan sholehah begini, Nak?"
Raja tak menanggapi dan memilih duduk setelah mereka dipersilahkan. Papa menjadi orang yang memulai acara.
Dan selama seumur hidup, jantungnya mulai berdetak. Detak yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
*
*
*