
Hasil pemeriksaan kandungan Rani semua dalam kondisi bagus. Baik ibu dan bayinya. Dokter Fani juga meresepkan beberapa vitamin yang harus rutin di minum.
Tidak banyak yang bisa mereka lihat karena memang masih sangat awal. Yang pasti sudah ada kantung kehamilan yang membuat mereka yakin kalau Rani tengah mengandung.
Rani masih belum bosan menatap dan mengusap perutnya yang masih rata. Masih tak percaya kalau dirinya akan menjadi seorang ibu dalam hitungan bulan.
Dia berjanji akan melimpahi anaknya dengan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan. Ia akan membuat anaknya bangga terlahir ke dunia. Bukan malah merasa rendah diri sepertinya.
"Kita makan di rumah mama saja ya, sayang?" Raja yang berada di balik kemudi menoleh padanya. "Tadi mas sudah kasih kabar gembira ini. Dan mama terdengar semangat untuk makan malam bersama."
"Hmm." Rani mengangguk tersenyum. Sejak awal, tujuan mereka kan memang akan ke kediaman Shandika. Rani berharap ibu mertuanya sudah lebih sehat. Dan kabar gembira yang ia dan Raja bawa akan semakin membuat wanita senja itu merasa lebih baik lagi dan lagi.
"Oh iya mas." Rani menyerongkan duduknya ketika mengingat sesuatu yang terlewat. "Bukannya mas ada janji ketemu dokter?"
Semalam Raja berjanji akan menemui psikolog untuk mengetahui kondisi Raja setelah tragedi pingsan di makam. Karena bahagia mengetahui kehamilan, ia sampai melupakan hal penting itu.
Setahu Rani, Raja sudah berhenti memeriksakan diri ke psikiater sejak usianya belasan. Karena yang keluarga Raja tahu, Raja sudah sembuh dan tidak memerlukan lagi obat-obatan. Selama ini Raja hanya konseling pada seorang ahli psikolog untuk tidak memperparah traumanya.
"Itu bisa lain kali. Lagi pula mas merasa tidak ada yang salah dengan perasaan mas. Justru merasa lebih baik."
"Tapi biar lebih jelas kan tanya pada ahlinya, mas!" ujarnya tak setuju.
"Iya. Besok." jawab Raja. "Sekarang pasti kamu lelah setelah seharian beraktifitas. Aku tidak ingin kamu dan anak kita kelelahan dan terjadi sesuatu yang buruk."
Sampai di kediaman Shandika mereka sudah di tunggu ibu Lintang dan pak Rasya yang duduk di teras. Ibu Lintang terlihat berdiri begitu mobil yang Raja kemudikan berhenti di depan teras.
"Rani." sambut ibu Lintang memeluknya hangat. "Selamat sayang.. Akhirnya penantian kalian selama berbulan-bulan berbuah manis."
Rani membalas pelukan itu dengan mata memanas. Harusnya ia juga bisa mendapat pelukan dan kata-kata seperti yang ibu Lintang katakan dari ibu kandungnya kan?
Entah kenapa Rani jadi semelow ini. Padahal biasanya ia tegar dan sudah mengikhlaskan ketiadaan orang tua dalam hidupnya.
Menarik napas dalam dan mengembuskannya. Berusaha agar air matanya tidak tumpah. Rani menyahut. "Doakan Rani dan bayi Rani sehat ya, mah." pintanya sembari mencium punggung tangan ibu mertuanya setelah pelukan mereka terurai.
"Pasti sayang. Mama akan selalu doakan untuk rumah tanggamu dan untuk kesehatanmu dan calon cicit mama ini." ibu Lintang mengusap perutnya lembut.
Pak Rasya juga melakukan hal yang sama pada Raja. Menepuk bahu dan membawa Raja kedalam pelukan.
"Papa bangga denganmu, Nak. Akhirnya kamu tahu pilihan yang baik."
Obrolan mereka berpindah ke ruang keluarga. Rani banyak mendengarkan pengalaman hamil dan melahirkan dari ibu Lintang. Meskipun beliau hanya sempat melahirkan satu kali karena kehamilan pertamanya mengalami keguguran. Dan setelah melahirkan tante Selina, pak Rasya tak lagi mengizinkan ibu Lintang untuk hamil karena tidak tega melihat wanita yang dicintai kesakitan.
Banyak kisah seru yang membuat Rani tertsenyum dan tak jarang tertawa. Apa lagi ketika cerita keposesifan pak Rasya selama ibu Lintang hamil.
Sedangkan Raja membicarakan bisnis dengan pak Rasya. Tapi suaminya itu tak sedetikpun melepaskan genggaman tangan mereka. Dan sesekali ibu jari Raja mengusap punggung tangan miliknya.
Raja juga sesekali menatap dan tersenyum padanya ketika ia tengah tertawa bersama ibu Lintang.
Rasanya sungguh hangat di hati Rani. Tidak ia sangka memiliki keluarga akan sehangat ini.
Raja mengecup pelipisnya sebelum melepas genggaman tangan mereka dan mengekori pak Rasya ke ruang kerja yang tak jauh dari ruang keluarga.
"Ternyata Raja bisa semanis itu." ibu Lintang menatap punggung Raja yang menjauh. "Mama senang lihatnya. Kamu memang pilihan terbaik kami. Kamu bisa merubah Raja kami yang dingin dan keras menjadi semanis itu."
Rani tersipu mendengarnya. Ia sendiri sebenarnya juga masih tidak percaya dengan sosok Raja yang selama ini ia lihat. Merasa seperti mimpi.
Raja yang galak. Yang selalu menatapnya tajam. Yang selalu berbicara dengan nada dingin. Sekarang tidak pernah Rani temui lagi. Sejak hari dimana Raja mengajaknya untuk membangun keluarga impian mereka berdua. Dan semakin berubah setelah pria itu mengakui perasaannya.
Kini yang Rani lihat hanya Raja yang penuh perhatian dan kasih sayang. Raja yang lebih sering terlihat tersenyum. Raja yang mulai tertawa menanggapi reaksinya ketika merespon sesuatu.
Raja yang memakai celemek dan memasakan makanan untuk menghiburnya. Raja yang selalu memastikan orang rumah untuk menyiapkan makanan untuknya. Raja yang memboikot saluran internet dan televisi untuk melindungi hatinya dari rasa sakit mendengar cemooh orang-orang. Raja yang bertindak tegas pada mereka yang berani merendahkannya.
Bagaimana Rani tidak jatuh hati pada pria yang melakukan segala sesuatu untuk menjaganya. Pria yang lebih sering di rumah dan meninggalkan kebiasaan lamanya untuk menghabiskan malam di sebuah bar.
"Rani tidak melakukan apa pun, mah."
"Kamu benar. Cintalah yang merubah Raja menjadi seperti itu. Dan cinta itu hadir karenamu. Kamu yang menghidupkan hati Raja yang sudah lama mati. Terimakasih sayang."
Rani merasa tidak pantas untuk mendapatkan kata itu dari Ibu Lintang. Karena justru ia yang mendapat begitu banyak keuntungan dalam pernikahan ini.
Mendapat keluarga baru yang tak pernah ia miliki. Mendapat perlakuan luar biasa sebagai istri seorang Raja Adhitama Shandika. Dan mendapat materi yang tiada habisnya dan membuatnya tak perlu lagi bingung membagi uang untuk dirinya sendiri dan untuk membantu operasional panti.
"Rani yang harusnya mengatakan itu."______"Terimakasih, sudah menerima Rani sebagai menantu. Dan terimakasih sudah mempercayakan Rani menjadi istri kak Raja."
"Ouuhh." ibu Lintang memeluknya entah untuk yang keberapa malam itu. "Mama memang tidak pernah salah pilih menantu."
Mereka berdua terkekeh bersama. "Dan tidak akan pernah ada selesainya kalau kita saling berterimakasih seperti ini."
Sebuah tangan besar merangkum mereka berdua. Ikut bergabung dalam pelukan. "Kenapa kalian berpelukan tidak mengajak-ajak."
Rani terkekeh dan memindahkan salah satu tangannya untuk memeluk Raja. Begitu juga ibu Lintang yang melakukan hal yang sama.
"Kalian berdua sama pentingnya. Wanita yang aku cintai." Raja melabuhkan ciuman di puncak kepalanya dan ibu Lintang.
Bertubi-tubi kebahagiaan Rani rasakan hari itu. Hingga membuatnya takut akan ada harga yang harus ia bayar untuk rasa bahagia yang ia rasakan.
Meskipun Rani berharap tidak akan ada lagi hal buruk yang akan masuk dalam hidupnya.
Bukankah ia berhak bahagia setelah menjalani kehidupan yang pahit selama ini?
*
*
*