You're My Antidote

You're My Antidote
Tak Kenal Diri



Tak hanya gaun yang Rani coba. Tapi ternyata juga kebaya putih dengan desain simpel tapi terlihat sangat cantik.


"Kamu tahu Rani?" tanya pemilik butik yang bernama Senja. Wanita berusia sekitar 40 tahun yang merupakan sepupu jauh Raja yang membantunya mencoba gaun. "Oma Lintang sudah memesan kebaya dan gaun ini hampir dua bulan lalu."


Tak tahu harus menanggapi apa, Rani hanya tersenyum tipis.


Apakah Ibu Lintang begitu yakin bawa ia akan menjadi menantunya. Hingga sudah memesan gaun jauh-jauh hari. Atau ada wanita lain yang sudah keluarga Shandika siapkan untuk Raja?


Sejak awal, Rani memang tidak mengerti tentang jalan pikiran keluarga Shandika untuk masalah pernikahannya dengan Raja.


"Saya sempat bingung, kenapa bukan calon pengantinnya langsung yang ukur. Ternyata calonnya belum dilamar." wanita itu terkekeh dan membuka tirai.


"Wahh cantik sekali." puji Ibu Lintang saat melihatnya sudah mengenakan gaun yang sangat pas ditubuhnya. "Tadinya lengannya hanya sebatas siku, untung semalam Raja mengingatkan ibu kalau kamu kemarin mengenakan hijab, bisa jadi saat menikah kamu juga ingin berhijab katanya." dari suaranya, Ibu Lintang terdengar bangga. Entah pada ia yang memutuskan berhijab, atau pada putranya yang lebih peduli pada orang lain.


"Iya. Saya sampai dibuat pusing karena oma minta siang ini sudah jadi biar kamu bisa coba."


Rani berputar mengikuti instruksi Ibu Lintang. Mencoba gaun dan kebaya yang akan digunakan saat hari pernikahannya nanti.


***


Esoknya Rani berangkat dengan membawa pertanyaan untuk Raja. Pertanyaan atas amplop yang pria itu titipkan pada salah satu pengurus panti dan baru ia terima pagi tadi.


"Boleh saya bertanya, pak?" tanya Rani setelah menjelaskan kegiatan Raja hari ini.


"Tanyakan saja." atasannya menjawab dengan acuh seperti biasa. Yang berbeda hanya pria itu kini menatap dirinya ketika berbicara.


"Isi amplop yang bapak titipkan ke ibu Ani, maksudnya apa ya?"


Raja tak langsung menjawab pertanyaannya. Sepertinya tengah berpikir siapa gerangan ibu Ani.


"Ibu pengurus panti yang katanya kemarin bertemu bapak saat pulang dari pasar."


"Saya tidak tahu. Tanya saja mama."


"Terus siapa sepupu bapak yang akan menjemput saya besok?"


"Sikembar. Mau mengajak kamu spa. Tapi tadi pagi kasih kabar katanya nanti saja menjelang hari H."


Ia sudah membuka mulutnya siap menanyakan pertanyaan lagi, tapi langsung dipotong Raja yang mengusir dengan gerakan tangan. "Kerja!"


"Satu lagi pak." mohonnya. "Hari ini saya izin pulang satu jam lebih awal." hanya dibalas dengan atasannya menaikan sebelah alisnya.


"Saya ada janji dengan kak Adit, mau mengajak Citra jalan-jalan."


"Kalau saya tidak kasih izin?" atasannya itu melipat tangan didepan dada dan duduk bersandar seperti menantang.


"Saya mohon pak. Tiket nontonnya sayang sudah dibeli."


"Oke. Sekalian ada yang ingin saya bicarakan dengan Adit."


Rani kira, Raja hanya ingin bertemu dengan Adit sebentar. Tak pernah terpikir sebelumnya jika Raja akan ikut dalam rencana jalan-jalannya bersama Adit yang tengah mencoba mengakrabkan diri dengan Citra.


Ia bahkan masih tidak percaya jika Raja duduk di bangku bioskop untuk menonton film animasi. Tak sedikitpun pria itu mengeluh bosan. Tapi tak juga terlihat tertarik dengan tontonannya meski Raja menatap layar besar didepan mereka dengan amat serius.


Meski berusaha tak peduli dengan kehadiran Raja, tapi matanya tak bisa untuk tak melirik kearah atasannya itu tiap beberapa detik sekali.


"Anak-anak pasti heboh kalau tau lo nonton kartun." Adit meledek Raja begitu mereka keluar dari bioskop.


"Asal mulutmu tidak bocor. Mereka tidak akan heboh."


"Kak Raja yakin mau ikut kita?"


"Kenapa tidak?"


"Tapi kita mau ke area bermain."


Bukannya menyerah dan pulang ketika mendengar tujuan selanjutnya. Raja justru mengedikan bahu dan memasukan tangannya kedalam saku. Berlalu mendahuluinya menyusul Adit dan Citra yang sudah lebih dulu bermain.


***


Entah apa yang Raja pikirkan hingga bisa mengikuti Adit dan Rani jalan-jalan di mall. Ia sendiri bingung kenapa kakinya ringan sekali melangkah ke tempat-tempat yang tidak ia suka. Bahkan baru pertama kali ia jejaki.


Dan yang paling membuatnya kesal adalah Adit dan Rani yang tak menganggap keberadaannya ada. Keduanya sibuk bermain sendiri dengan Citra. Tertawa bersama seakan dirinya tak ada.


"Kak Adit juga nggak suka kuning telur?"


Raja mengangkat pandangannya dari mangkuk berisi ramen yang tak ia makan sedikitpun kearah Rani dan Adit bergantian.


"Iya. Gue lebih suka putihnya."


"Waah.. Kalau begitu kebalikannya. Tukeran aja kak. Aku nggak suka putihnya."


Mereka berdua dengan ceria menukar bagian telur yang keduanya tak suka. Masih berlanjut dengan bertanya apa yang tidak suka dan disukai dengan sesekali tertawa.


"Wahh kalau begini, kita nggak akan ribut kalau makan diluar kak. Nggak akan berebut."


"Bener banget. Kita bisa saling tukar."


Merasa bosan dengan itu semua, Raja memilih pulang.


"Aku pulang dulu. Tolong Antar Rani, Dit." ucapnya datar dengan memasukan ponsel kedalam saku jas.


"Lho, kak Raja kan belum makan?"


"Saya belum lapar." berlalu begitu saja meninggalkan mereka yang masih menatapnya heran.


Didalam mobil ia kembali mengambil ponsel untuk menghubungi Rere. Ia harus menunggu beberapa saat hingga panggilannya diangkat.


"Iya, Ja. Sory baru kelar meeting."


"Ya sudah kalau sibuk. Besok lagi-"


"Eh, enggak kok. Gue free. Baru aja kelar Gue otw apart sekarang." perempuan itu menyelanya seakan takit kehilangan kesempatan.


Tak banyak berpikir, Raja melajukan mobilnya menuju apartemen Rere berada. Apartemen mewah ditengah pusat ibu kota.


Tujuan awalnya hanya merasa bosan melihat kedekatan Adit dan Rani yang terasa tiba-tiba.


Tapi kini ia memiliki tujuan lain dengan datang kesana.


*


*


*