
Perpindahan mereka ke rumah besar tertunda karena Rani sakit. Bahkan setelah diperiksa dan minum obat, suhu tubuh istri Raja itu masih juga tinggi. Tapi dengan keras kepalanya, Rani menolak untuk diajak kerumah sakit.
"Kalau kamu sakit seperti ini sama saja kan, aku tidak bisa berangkat kerja?" ucapnya ketika pagi hari demam Rani belum juga turun dan menolak untuk kerumah sakit.
"Kak Raja nyesel dirumah, menjaga Rani?" wanitanya itu berucap merajuk. Suasana hati orang yang tengah sakit memang tidak bagus. Membuatnya harus lebih berhati-hati ketika berbicara.
Rani menolak ketika ia akan kembali menyuapkan sesendok bubur.
"Bukan seperti itu, sayaaang." ralatnya. "Kamu bilang, aku jangan sampai sakit agar bisa cepat bekerja. Nyatanya sekarang aku sehatpun, aku tetap tidak bisa berangkat ke kantor."
Setelah kegigihannya mempertahankan sendok itu didepan mulut Rani, akhirnya istrinya itu membuka mulut dan kembali makan.
"Untuk itu, ayo ke rumah sakit. Biar kamu sehat dan aku bisa berangkat ke kantor sebelum om Rafi memecatku."
Rani melingkarkan bola matanya. "Kak Raja bilang tidak akan ada yang berani memecat kak Raja."
"Siapa tahu om Rafi bosan melihat absensiku yang banyak izinnya akhir-akhir ini. Mungkin juga kita harus merelakan menjual rumah ini demi kehidupan kita beberapa tahu kedepan setelah suamimu jadi pengangguran nanti."
Rani tertawa dan memukul dadanya. "Berlebihan." tak lama kemudian mengaduh dengan memegang kepala dan membuat Raja panik.
"Kenapa?"
"Aww.. Pusing karena tertawa" erang sang istri dan kembali berbaring. Membuatnya menggeleng.
Alasannya ingin pindah, sebenarnya tidak sepenuhnya karena mama. Tapi juga Rani.
Setelah semalaman memikirkan dirumah sakit, akhirnya Raja memutuskan untuk mencari seorang psikolog terkenal dan pernah menangani kasus serupa dengan dirinya.
Ia bahkan sudah membuat janji dan akan memulai kelas terapi minggu depan. Diapartemen miliknya setelah ia pulang bekerja. Biasanya terapi dengan metode hipnotis atau hipnoterapy itu berlangsung selama 2 sampai 4 jam maksimal. Jadi ia tidak mungkin membiarkan istrinya dirumah sendiri selama itu.
Dan Raja akan tidak nyaman jika ada orang lain saat dirinya diterapi. Karena ia tidak akan sadar apa yang akan terucap dari mulutnya saat prosesi itu berlangsung.
Dokter bilang, hanya dengan beberapa sesi pertemuan, ia sudah bisa sembuh. Tapi entah kenapa Raja tidak yakin akan hal itu.
"Aku akan mulai berobat." ucapnya ketika Rani kembali duduk dan meminum obat yang sudah ia siapkan.
Rani menatapnya tenang. Memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
"Menyembuhkan traumaku atas kematian orang tuaku." ucap Raja lagi.
Rani mengangguk dan tersenyum. Meraih tangannya dan berucap. "Kak Raja pasti sembuh. Harus sembuh untuk calon anak-anak kita. Semangat ya kak."
Bahkan Rani tak memaksa untuk tahu apa yang sebenarnya membuatnya trauma. Perempuan itu menghargainya untuk memilih waktu sendiri kapan ia siap mengungkapkan segalanya.
"Apa aku boleh cerita?" tanyanya setelah beberapa saat mempertimbangkan.
"Tentu saja." jawab Rani cepat. "Rani akan sangat bahagia kalau kak Raja mau terbuka pada Rani. Berarti kak Raja sudah tidak menganggap Rani orang lain lagi."
"Kamu tidak pernah menjadi orang lain. Kamu tahu itu." ralatnya tak suka. "Cerita tentang orang tua kandungku terlalu berat dan masih ada trauma yang menyertainya. Untuk itu aku baru bisa cerita sekarang. Karena bahkan mama dan papa tidak pernah membahasnya. Seakan orang tuaku adalah hal yang haram untuk dibicarakan dirumah. Karena semua orang akan terluka." suaranya semakin melirih. Ia menatap Rani dengan senyum yang ia paksa untuk mengembang.
"Mami adalah klien papi yang saat itu seorang pengacara. Mami mendapat tuntutan dari brand yang mempekerjakannya dengan alasan menyalahi kontrak." Rani masih diam mendengarkan.
"Singkat cerita, papi bisa memenangkan kasus dan mami bebas dari tuntutan."
Raja berpindah duduk disebelah Rani. Bersandar dikepala ranjang. Ia membutuhkan sandaran untuk kuat duduk tegap. Karena cerita ini, mengorek luka masa lalunya yang tak pernah mengering itu.
"Untuk merayakan kemenangan itu, mami dan papi pergi ke bar. Mereka minum hingga mabuk dan berakhir disebuah kamar hotel esok paginya dalam kondisi tanpa busana." ia tersenyum mencela diri sendiri. "Dan kamu pasti paham apa yang terjadi dengan mereka."
Rani yang tak lepas menatapnya mengangguk. Dan Raja mulai melanjutkan kisahnya.
"Satu bulan setelah kejadian itu, mami datang dan masuk begitu saja kedalam kantor papi. Yang bahkan saat itu sedang ada klien penting. Tapi mami tidak mau tahu dan melemparkan hasil pemeriksaan dari rumah sakit yang menyatakan kalau mami hamil."
"Papi syok. Karena saat itu papi bahkan sudah memiliki tunangan." Raja semakin tersenyum getir. "Tapi papi tidak bisa mengelak kalau janin mami adalah miliknya. Karena saat itu, papi orang pertama bagi mami."
"Cukup terjadi kehebohan saat itu. Anak pemilik stasiun tv ternama menghamili model terkenal yang tengah naik daun."
Maminya yang seorang model merasa dirugikan. Padahal ada wanita lain yang menangis kesakitan ketika tahu fakta calon suaminya menghamili wanita lain.
Gosip begitu mudah menyebar. Apa lagi saat itu mami pingsan diatas panggung saat tengah peragaan busana. Dan langsung dilarikan kerumah sakit yang tentu ada beberapa wartawan yang mengikuti.
Meski manager mami berusaha keras meminta pihak rumah sakit untuk menjaga rahasia pasien. Tetap saja banyak mata dan telinga di UGD saat itu.
"Papi tentu saja harus bertanggung jawab, atau nama besar papa akan semakin tercoreng."
Menikahi wanita yang tidak dicintai dan tidak mencintai papi pasti sangat berat. Dan Raja akui Papi cukup hebat bertahan selama itu.
"Papi memutuskan pertunangannya dengan cinta pertamanya dan memilih menikahi mami."
Tapi ternyata menikah demi anak tidak mudah bagi keduanya.
"Mami tidak ada pilihan lain karena publik sudah mengetahuinya."
"Pasti berat bagi mereka... bertiga." baru kali ini Rani mengeluarkan suaranya.
"Tentu saja. Apa lagi dengan pandangan orang-orang saat itu yang memandang rendah mami dan papi semakin membuat mereka terpuruk."
"Mami harus berhenti dari dunia modeling. Sedangkan papi tidak pernah lagi mendapatkan klien setelah kasus itu. Membuat pernikahan mereka selalu penuh dengan pertengkaran ditengah ekonomi yang lemah."
"Mami menyalahkan papi yang sampai lepas diri. Mami juga menyalahkanku yang hadir dalam hidupnya. Membuat mami terpaksa mengandung dan melahirkanku hanya karena publik."
"Mungkin mami lebih memilih membunuhku saat dalam kandungan seandainya publik belum tahu. Entah aku harus merasa berterimakasih pada orang yang membocorkan kehamilan mami atau harus marah karena berkat orang itu, aku terlahir dalam keluarga yang terasa seperti neraka."
*
*
*