You're My Antidote

You're My Antidote
Kualat



Benar apa yang Om Rafi katakan.


Selama ini, Raja merasa bahwa ia yang paling menderita. Paling merasa sakit atas kepergian kedua orang tuanya terutama sang papi.


Tapi jika ia membayangkan posisi papa Rasya sebagai orang tua, pasti ia akan merasa lebih sakit dari apa yang ia rasakan selama ini.


Rasa sakit tak berdaya melindungi putra tercinta dari kekejaman yang merenggut kebahagiaan. Dan rasa menyesal karena salah memilih wanita untuk melahirkan generasi penerusnya. Wanita yang seharusnya mencintai anak-anak mereka, justru menjadi orang yang paling banyak menoreh luka. Dan kesalahan tersebut kembali terulang di kehidupan anaknya.


"Papa dan mama sudah tua. Sudah waktunya kita membahagiakan mereka tanpa membebani dengan pikiran-pikiran yang tidak perlu." Om Rafi menepuk bahunya sekali lagi. "Mau bekerjasama dengan om untuk membahagiakan mereka. Sebagai pengganti papimu."


Raja mengangguk dan menjabat tangan Om Rafi mantap. "Sebagai pengganti papi."


Ya. Setidaknya ia harus membahagiakan papa dan mama sebagai pengganti papi yang tak bisa pagi melakukannya.


Mungkin bisa dimulai dengan menuruti keinginan papa untuk menjadi wakil Om Rafi. Untuk saat ini hanya itu yang bisa Raja lakukan. Karena fokusnya saat ini hanya untuk wanita yang tengah berdiri seorang diri menikmati makanan di stand dessert.


Om Rafi pamit untuk kembali menemui tamu-tamu mereka. Dan Raja yang melangkah menuju sang istri yang mencuri perhatiannya sejak beberapa saat yang lalu.


***


Rani menikmati acara malam itu. Menuruti perintah Raja untuk berbaur dengan saudara-saudara Raja yang lain.


Sebelumnya mereka sudah pernah bertemu, hanya Rani masih segan untuk mendekatkan diri. Berbeda untuk malam itu, Rani lebih bisa mengenal mereka lebih baik.


Mengenal para sepupu jauh Raja. Bahkan berkenalan dengan anak-anak mereka. Hal yang tak henti membuat Rani tertawa adalah gadis remaja yang baru memasuki dunia perkuliahan. Gadis ceria yang selalu menggandeng posesif sang adik yang hanya menampilkan wajah datar tapi tak terlihat terganggu dengan sikap sang kakak. Anna dan Kai. Begitu Senja mengenalkan keduanya padanya.


Kedua remaja yang usianya tak beda jauh dengan Rani tapi justru memanggil Rani dengan sebutan aunty. Sesuai silsilah keluarga Shandika. Karena papa mertuanya-Rasya-merupakan anak bungsu dimana keluarga kakak dan anak-anaknya rata-rata menikah muda. Atau begitulah yang Raja katakan padanya.


Takut terlalu lama meninggalkan sang suami, Rani memutuskan untuk mencari keberadaan Raja. Aneh rasanya tidak melihat pria itu untuk waktu yang lama. Atau anggap saja ia tengah gila karena sudah merindukan Raja setelah satu jam lebih berpisah.


Sayang, ketika Rani menemukan Raja, suaminya itu tengah berbicara serius dengan Om Rafi. Hingga Rani kembali menjauh dan tidak mengganggu apa pun yang Om dan keponakan itu bicarakan.


Rani merasa perutnya kembali lapar setelah menikmati hidangan utama acara ulang tahun itu dua jam yang lalu. Jadi ia mendekati stand berjajar yang menyajikan aneka dissert dan makanan ringan.


Hampir semua makanan Rani coba. Dari yang dingin, panas, renyah, lembut, creamy, asin hingga yang manis-manis. Seakan perutnya tak pernah kehabisan ruang untuk sesuatu yang ia lihat dan inginkan.


Rani tidak sadar Raja mendekat hingga cubitan pada pipinya yang mulai berisi terasa.


"Makan apa?"


"Eh, mas?" sapa Rani dengan mulut penuh macaron yang baru masuk kedalam mulutnya.


"Sudah selesai bergosipnya?" sindir Raja mengingat Rani sudah banyak menghabiskan waktu dengan para saudara.


"Hehe.. sudah." jawab Rani dengan senyum yang menunjukan deret giginya. "Tadi Rani mau samperin mas. Tapi sepertinya obrolan kalian serius. Jadi Rani mampir mencoba cemilan yang ternyata enak-enak."


Raja menggeleng ketika Rani mengatakan mencoba hampir semua makanan yang ada. Rani bahkan meminta kartu nama tiap toko yang mengisi dessert yang terpajang disana. Alasannya tentu saja ingin menikmati makanan itu lagi lain kali.


Rani juga sempat memikirkan apa yang suaminya khawatirkan ketika mengingat sudah seberapa banyak makanan yang masuk kedalam perutnya.


Namun mau bagaimana lagi. Rani suka dan Rani ingin memakan semuanya.


Setelah seluruh acara selesai, Raja mengajaknya untuk memesan kamar saja. Dan ternyata banyak juga keluarga Shandika yang memilih stay disana malam itu.


Tubuh Rani yang sudah terasa lelah dan kekenyangan, membuatnya langsung menyetujui ide sang suami.


Rani bahkan sudah hampir memejamkan matanya ketika mereka memasuki lift. Raja memeluk pinggangnya kuat agar ia tak jatuh tertidur disana.


Dan karena ia tak mengindahkan peringatan dari sang suami untuk berhenti makan. Rani seakan kualat di pagi hari. Tidurnya terusik dengan keadaan perut yang terasa seperti di aduk-aduk.


Berhasil mencapai kamar mandi, Rani mengeluarkan semua isi perutnya. Semua makanan yang semalam ia puji rasanya. Kini justru membawa bencana untuknya.


Entah makanan mana yang terasa salah. Rani seakan tak berhenti memuntahkan isi perutnya meski tak ada lagi yang bisa ia keluarkan kecuali cairan bening dan kekuningan.


Raja membantu memijat tangkuknya di tengah bencana pagi itu. Mengikatkan rambutnya agar tak terkena muntahan. Dan setelah semua selesai, Raja membantunya membersihkan mulutnya tanpa rasa jijik. Yang bisa Rani tangkap justru perasaan khawatir yang amat ketera.


Tenaga Rani habis bersama isi perutnya yang terkuras habis. Bahkan untuk kembali ke tempat tidur saja, Rani memerlukan bantuan sang suami untuk menggendongnya. Beruntung suaminya sangat pengertian tanpa perlu ia minta.


"Minum ini dulu." Raja memberinya segelas air hangat. "Kak Fani sebentar lagi kesini." imbuhnya dengan mengelap wajahnya dengan handuk kering. Mengeringkan sisa air ketika Raja membantunya mencuci wajah.


Rani hanya mengangguk dan menghabiskan setengah gelas air yang Raja berikan. Rasanya Rani tak mampu bersuara. Tubuhnya amat lemas dan kepalanya mulai terasa pening.


Raja memijat telapak tangan Rani dengan minyak kayu putih. Pun dengan dahi dan tengkuknya. "Apa merasa lebih baik?"


Rani mengangguk. Pijatan nyaman itu cukup mengurangi rasa mual dan peningnya. Meski rasa lemasnya belum juga hilang. Atau mungkin ia harus makan yang banyak dulu untuk kembali berenergi?


Sepertinya sarapan nasi goreng dengan dua telur mata sapi juga setangkup roti isi cukup untuk mengisi kembali energinya.


Tapi, Raja sudah menyela bahkan ketika ia baru membuka mulutnya.


"Aku tidak akan memberimu makan apa pun sampai kak Fani memeriksamu." ucap Raja dengan nada lembut tapi terdengar tegas. "Kamu sudah makan apa pun yang kamu inginkan tanpa memikirkan kesehatan perutmu apa mampu menampung itu semua."


"Tapi Rani lapar, mas." rengeknya mencoba membujuk sang suami. Perutnya memang merasa lapar setelah mengeluarkan seluruh isinya tadi.


"Aku tidak ingin mengambil resiko. Jadi kamu tahan saja dulu rasa laparmu."


Rani mencebik dan memilih menarik selimut memunggungi sang suami.


*


*


*