
Raja selalu menahan perasaannya selama ini. Menutupinya serapat mungkin seakan ia membenci. Bahkan ia selalu menahan diri untuk tidak tersenyum apa lagi tertawa setiap melihat tingkah konyol Rani.
Tapi tidak untuk kali ini. Raja bisa tertawa melihat Rani yang ketakutan hanya karena ia menyentuh kancing baju milik gadis itu. Meski tawanya tak begitu lepas, tapi ini pertama kalinya Raja tertawa setelah sekian lama.
Raja bahkan masih tertawa ketika membayangkan bagaimana jadinya malam pertama mereka. Apa Rani akan tak sadarkan diri karena ketakutan? Padahal gadis itu terlihat sedih saat ia mengatakan tak akan melakukan lebih. Rani juga mengatakan wanita lain lebih beruntung karena bisa memiliki tubuhnya. Seakan gadis itu iri karena tak ia sentuh. Dan sekarang saat ia baru menyentuh kancing pakaian Rani. Gadis itu sudah kabur ketakutan.
Baru beberapa saat ia duduk di meja kerjanya, pintu ruangan dibuka tanpa diketuk. "Kenapa? ingin melanjutkan yang tadi?" tanya Raja mengira yang masuk keruangannya adalah Rani. Tanpa mengalihkan tatapannya dari pekerjaannya.
"Yang tadi apa?" suara itu seketika menarik perhatian Raja yang sudah menekuri laporan yang Rani bawa untuknya tadi.
"Mau apa kau kesini?" Raja paling tidak suka ada orang yang menemuinya di kantor untuk urusan pribadi. Ia tidak suka waktunya bekerja terganggu dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
"Kok elo sekarang jadi galak banget sih, Ja?"
Raja tak menjawab. Merasa selama ini ia juga tak pernah memperlakukan wanita yang telah duduk di seberangnya itu dengan baik.
"Gue tahu lo nggak suka diganggu. Dan kedatangan gue kesini juga bukan buat ganggu lo."
"Lalu?"
"Kata Henry lo buat reservasi?"
Raja mengangguk tak mengelak. Apa lagi Henry yang akan ia temui di Singapura memang teman kuliah Rere. Ia juga kenal Henry karena Rere yang mengenalkan padanya beberapa tahun lalu.
"Kenapa nggak dulu pas sama gue? kenapa baru sekarang?"
Raja mendengus. Rere bilang tidak akan mengganggunya. Lalu ini apa?
Kenapa wanita itu masih saja membahas hubungan dangkal mereka yang sudah berakhir? kurang jelaskah ia saat mengatakan pada Rere jika mereka tidak perlu berhubungan selain pertemanan dan pekerjaan. Tidak ada lagi kata teman ranjang dan sebagainya.
"Saya tidak akan menjawab pertanyaanmu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jadi kalau sudah tidak ada yang penting, silakan kau keluar." tegas Raja. Jika Rani saja ingin diperlakukan secara profesional meski status gadis itu adalah istrinya. Jadi untuk apa ia memperlakukan Rere sebagai teman di kantornya. Dan seharusnya Rere tahu kalau ia tidak suka dibantah.
"Gue cuma mau nawarin buat nemenin lo kesana! pasti lo butuh bantuan nanti."
"Tidak perlu." tolaknya. "Saya sudah ada orang kepercayaan untuk mendampingi. Jadi kau tidak perlu ikut campur dalam urusan pribadiku. Kita hanya teman. Jadi bersikaplah selayaknya teman."
"Teman bukannya memang harus saling membantu? siapa yang nemenin lo kesana? istri lo?"
"Itu bukan urusanmu!" Raja menggeram dengan mata tertutup. Ia sungguh paling membenci orang yang mengganggunya di kantor. Apalagi terlalu ikut campur dalam urusannya. Bahkan dulu ketika ia menjalin hubungan tak normal dengan Rere, wanita itu tidak pernah ikut campur dalam urusannya apa pun itu. Baik urusan pribadi maupun pekerjaan. Mereka hanya saling memuaskan. Itu saja tidak lebih.
"Aku masih banyak pekerjaan. Selagi aku masih bisa memintamu pergi dengan baik, sebaiknya kau pergi, Re!" jika Rere masih berada dalam ruangannya dalam dua menit, bisa saja ia meminta keamanan untuk mengusir wanita itu pergi.
Rere berdiri dan mendengus. Mungkin sadar situasi. "Nggak asik lo sekarang, Ja." ketika wanita itu membuka pintu ruangannya, Rani hampir saja jatuh dari baliknya.
***
Rani penasaran apa yang Rere dan Raja bicaraka didalam sana. Atau malah kedua orang itu melakukan hal senonoh di tempat kerja?
Ia tak akan rela jika Raja melakukan hal seperti itu dikantor. Raja sudah menyatakan perasaan padanya. Jadi seharusnya Raja bisa menjaga komitmen yang sudah pria itu ucapkan. Bukan malah bermain gila dengan wanita lain bahkan saat ada dirinya.
"Kira-Kira ngapain ya? apa Kak Rere yang akan pergi ke Singapura dengan Kak Raja?"
Sekali lagi Rani mengubah posisi dari telinga kanan hingga telinga kiri yang ia gunakan sebagai usahanya menguping.
"Eh-Ehh.." hampir saja dirinya jatuh ketika pintu terayun terbuka. Beruntung tangannya refleks berpegangan pada kusen pintu. Jika tidak, mungkin dirinya sudah jatuh tersungkur dengan kepala lebih dulu.
Rasa malu berjejak di wajahnya. Sungguh bodohnya ia bisa sampai tertangkap basah tengah seperti ini.
Ia tunjukkan deretan giginya pada Rere yang menatapnya tajam. "Kalau lo kurang kerjaan, mending ke rumah gue bersih-bersih. Dari pada disini kerjaan lo cuma nguping."
Rani berdecak dan memasang wajah kesal. "Siapa yang nguping?!" ia tunjukkan dokumen ditangannya kedepan wajah Rere. "Saya hanya ingin menyerahkan laporan. Saya akan membuka pintu saat Kak Rere lebih dulu membukanya. Makanya saja jatuh."
Rere tak mendengarkan pembelaan yang ia berikan. Wanita itu hanya mendengus dan pergi dengan angkuh.
"Jadi laporan apa yang kau bawa, sekretaris Rani?"
Entah sejak kapan Raja duduk diatas meja dengan kaki kiri bertumpu pada kaki kanan dan memangku tangan. Senyum mengejek juga menghiasi wajahnya.
"Ledek aja terus." cibir Rani yang yakin Raja tahu alasannya tadi hanya sebuah alibi. "Jadi untuk apa kak Rere kesini?"
"Menawarkan diri untuk menemaniku ke Singapura." jawab Raja jujur.
"Terus Kak Raja terima? kenapa tidak Rani saja? kenapa harus Kak Rere? dan bagaimana Kak Rere tahu Kak Raja akan ke Singapura? bahkan Rani baru tahu tadi." Rani melipat tangan didepan dada dan berdiri tepat di hadapan sang suami yang masih menatapnya dengan senyum menyebalkan.
"Dia kenal orang yang akan aku temui. Jadi tidak heran dia tahu aku akan kesana meski aku tidak memberitahunya."
"Bohong! pasti Kak Raja sengaja minta ditemani Kak Rere kan?"
Raja menurunkan kakinya dan berdiri menjulang dihadapannya. Kini jarak diantara mereka hanya menyisakan beberapa centi.
"Jadi.. Apa kamu cemburu?"
"Siapa yang cemburu?!" elak Rani. Mendongak menantang Raja. "Rani hanya tidak suka apa yang seharusnya Rani lakukan, justru wanita lain yang melakukannya." beginilah ia. Akan mengatakan apa pun yang ia rasakan pada Raja. Kecuali perasaannya dulu sebelum mereka menikah. Karena ia sadar tidak mungkin memiliki pria ini menjadi miliknya. Tapi kini takdir berkata lain. Raja menjadi miliknya. Dan Rani tidak suka berbagi apa yang sudah menjadi miliknya. Tak akan ia biarkan hal seperti itu terjadi.
Rani menyentuh dada sebelah kiri Raja dengan jari telunjuknya. Turun perlahan dengan gerakan sensual. "Kak Raja milik Rani. Kakak harus ingat itu!"
Raja mengangguk dan memeluk pinggang Rani. Merapatkan tubuh mereka. "Aku milikmu. Dan sebentar lagi kamu bisa memilikiku seutuhnya."
Meski tak tahu pasti apa yang Raja katakan. Rani tetap mengangguk senang. Setidaknya Raja setuju jika Raja hanyalah milik Rani.
*
*
*