You're My Antidote

You're My Antidote
Pulang



Pada akhirnya Raja tidak tenang dan terus memikirkan mamanya. Waktu sudah mendekati tengah malam. Disebelahnya Rani sudah terlelap. Pun dengan ia yang sudah berulang kali mencoba hal yang sama namun tetap gagal.


Dengan sebelah tangan, Raja menggapai keberadaan ponselnya diatas nakas. Cukup sulit karena ada Rani berbantalan tangan kirinya. Ia juga takut membuat wanita itu terbangun.


Raja menghubungi asisten pribadinya. Orang yang selalu dapat ia andalkan dalam segala situasi.


"Tolong pesankan saya dan istri saya tiket pulang sekarang juga." titah Raja begitu panggilan terangkat. Bahkan sebelum orang diseberang sana mengucapkan sapaan. "Hubungi pihak resort untuk menyediakan pesawat ampibi atau kapal cepat, sekarang juga."


Setelah orang diseberang sana menyanggupi apa yang ia minta, Raja langsung memutuskan panggilan. Mengangkat kepala Rani dengan hati-hati dan menaruh bantal untuk mengganti peran lengannya. Ia sendiri bergegas keruang ganti dan memasukan baju-baju dan segalam macam barang miliknya dan Rani kedalam koper dengan asal. Menyimpan dua koper baju dan satu koper berisi oleh-oleh di dekat pintu keluar. Untuk memudahan dan mempercepat mereka saat pihak resort menjemput.


"Sayang.. bangun." duduk di tepi ranjang, Raja membelai pipi istrinya. "Ayo kita pulang." ucapnya sekali lagi membangunkan sang istri dengan lembut.


Rani yang tidurnya terganggu mengerang dan terlihat mengerjapkan mata. Memicing menatapnya yang sudah rapi.


"Kenapa kak? kak Raja mau kemana udah rapi." gerakan istrinya menuntun Raja membantu wanita itu untuk beranjak duduk.


"Kita pulang." ucapnya sekali lagi. Tangannya bergerak merapikan rambut sang istri dan mengikatnya kebelakang.


Rani yang sepertinya terlihat belum sadar sepenuhnya hanya diam. Mugkin mencerna apa yang ia ucapkan.


"Pulang?" ada nada heran dan bingung dalam suaranya. "Maksudanya pulang ke Jakarta? pulang sekarang? jam 1 pagi begini?" Raja terkekeh melihat kedua mata Rani membesar melihat jam yang tertera didinding dan menunjukan waktu setempat.


"Aku tidak tenang. Tidak bisa tidur memikirkan mama." akunya. Memberitahu alasan apa yang membuatnya mengambil keputusan. Mengungkapkan kegundahannya.


"Tapi tadi mama bilang hanya lelah kan kak? atau mama telefon lagi dan kakak tahu sesuatu?"


Raja menggeleng sebelum menjawab. "Mama tidak pernah mengatakan keadaan yang sebenarnya. Apa lagi jika itu mengganggu kebahagiaan kita."


Rani hanya bergumam 'ooh' dengan ekspresi wajah berpikir.


"Kamu tidak keberatan kan, kita pulang sekarang?"


Rani membuang napasnya dan menggeleng. "Rani siap-siap dulu ya, kak?"


"Baju untukmu ganti sudah aku siapkan di ruang ganti." tuturnya lagi yang dibalas senyuman.


***


Setelah beberapa jam mereka berada dipesawat, akhirnya mereka bisa menjejakan kaki di Jakarta. Rani berjalan terseok disampingnya dengan mata yang masih terlihat berat.


Sopir pribadi sudah menunggu di pintu kedatangan. Membawakan troli berisi koper-koper yang ia bawa.


"Maaf sayang." bisiknya ketika ia semakin mengeratkan rangkulannya pada bahu dan lengan sang istri dan berjalan semakin cepat.


"Kita kerumah besar, pak." ucap Raja begitu mereka sudah berada didalam mobil. Meminta sang sopir langsung membawanya dan Rani kerumah orang tuanya.


"Emm.. Itu tuan." sopir terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. Melirik takut melalui kaca sepion tengah.


"Katakan." sahut Raja dengan suara dingin. Perasaannya semakin tidak enak dan ada dugaan atas perasaan yang ia rasakan.


"Nyonya besar ada dirumah sakit." sopir bernama Salih itu menjawab dengan hati-hati. Hampir semua pekerja yang ia miliki dirumah barunya berasal dari rumah besar. Jadi mereka semua tahu kondisi rumah besar. Terutama pak Salih yang memang istrinya bekerja sebagai juru masak di rumah besar atau kediaman Shandika.


"Kalau begitu, cepat antar saya kesana." titah Raja. Rani disebelahnya sudah sepenuhnya kehilangan kantuk sejak mendengar mama masuk rumah sakit. Mereka sama-sama khawatir akan kondisi wanita itu.


Jalanan belum begitu ramai. Jam menunjukan pukul enam pagi saat mereka mendarat dibandara Soekarno Hata.


Sepanjang perjalanan Raja hanya diam dengan rasa khawatir yang semakin besar. Ia menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.


Cinta yang ia miliki dan bertahta paling tinggi selain Rani adalah mama. Ketulusan yang pernah ia dapat. Kasih sayang yang ia rindukan. Juga cinta seorang ibu yang tak pernah ia dapat.


Mama segalanya untuknya. Mungkin ia biasa mengecewakan. Membuat mana khawatir dan menangis. Tapi saat mama yang sudah berusia lanjut jatuh sakit, membuatnya takut. Hatinya berdenyut sakit. Jantungnya berdegup resah. Seakan seluruh tubuhnya menyampaikan pesan bahwa ia tak sanggup kehilangan malaikat tak bersayap itu.


Papi pernah bercerita. Mama adalah ibu yang dimiliki setelah tiga tahun papi dan om Raffi tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu kecuali dari nenek mereka.


Berbanding terbalik dengan Raja. Mama adalah sosok ibu pertama setelah sepuluh tahun kehidupannya yang memiliki seorang ibu disampingnya.


Raja tak tahu, harus sehancur apa lagi ia jika mama pergi meninggalkannya. Disaat ia baru sedikit demi sedikit membangun kebahagiaan yang tak pernah ia miliki. Disaat ia mulai menyembuhkan luka yang seakan tak pernah kering. Disaat jiwanya mulai kembali. Kenapa disaat seperti itu mama harus mulai keluar masuk rumah sakit.


Tidak bisakah ia bahagia dengan mama tetap disampingnya?


Tidak bisakah ia bahagia tanpa harus kehilangan lagi?


Tidak bisakah ia bahagia dengan memiliki dua wanita hebat itu sampai ia puas? meski rasanya tidak akan pernah puas dengan waktu sebanyak apa pun yang ia miliki dengan mereka.


Disampingnya, Rani hanya diam dan menggenggam tangannya erat. Raja tahu dari ekor mata, Rani beberapa kali melirik dan menelisik raut wajahnya.


"Maaf, honeymoon kita harus berakhir." ucapnya saat lagi-lagi Rani melirik khawatir padanya. Ia mengalihkan pandangan untuk menatap istrinya. "Aku tidak apa. Aku hanya khawatir dengan mama." jelas Raja menjawab pertanyaan yang tak dapat istrinya katakan.


"Rani juga tidak apa. Mana mungkin Rani bisa berlibur sedangkan mama di rumah sakit."


"Bukankah tadi kamu terlihat berat meninggalkan Maldives." godanya. Mengingatkan istrinya yang beberapa kali menoleh kebelakang saat mereka meninggalkan resort dan sebelum naik pesawat.


"Bukan berat. Rani cuma nyaman aja tinggal ditempat yang damai seperti itu."


Raja melepas genggaman tangan mereka. Berganti memeluk istrinya dari samping. "Aku akan membuatkan rumah untukmu ditepi pantai untuk kita menghabiskan masa tua kita nanti."


"Janji!" seru Rani menatapnya dari bawah.


"Hemm." angguknya dengan kecupan pada kening sang istri. "Aku janji."


Ia akan membangun istana dimana pun istrinya ingin tinggal. Untuk menghabiskan masa tua dengan saling menggenggam. Tertawa bersama melihat cucu-cucu mereka berkejaran ditepi pantai ketika berkunjung. Melihat anak-anak mereka yang sudah sukses dan bahagia dengan pilihan masing-masing. Baik pekerjaan dan jodoh.


Tapi tugasnya sekarang membahagiakan Rani dengan apa yang ada di depan mata. Juga menjaga mama agar tetap sehat dan berumur panjang agar bisa menyaksikan ia bahagia. Bukankah mama pernah bilang, jika ia bahagia, mama juga akan bahagia?


Jadi Raja akan berusaha keras untuk bahagia agar mama bisa bahagia. Cukup sudah ia membuat mama menangis dan khawatir. Ia ingin membuat wanita senja itu selalu tersenyum bahagia.


*


*


*