You're My Antidote

You're My Antidote
Menarik



Raja sudah begitu lelah ketika sampai di rumah dijam yang sudah mendekati pagi. Tiga kali pertandingan ia ikuti. Terlebih lelahnya tak hanya secara fisik namun juga emosi.


Sampai diarena teman-temannya sudah menunggu. Ia yang turun dari motor sport miliknya langsung disambut riuh heboh oleh mereka.


Semua berjalan lancar seperti biasa. Tapi begitu Raja menuntut permintaan maaf teman-temannya pada Rani, mereka terlibat adu mulut.


"Kenapa sih, Ja. Lo malah ngebela gadis kampung itu?" mungkin temannya bisa berkata seperti itu karena mereka semua tahu Raja tidak pernah tertarik dengan seorang wanita yang melibatkan hati. Hanya sebatas menuntaskan kebutuhan biologis setelah itu selesai.


Tapi tidak dengan Rani. Ia sungguh-sungguh dengan perasaannya pada gadis berisik itu. Dan pertanyaan temannya itu menyulut emosinya naik kepermukaan. Tanpa berpikir panjang, Raja melayangkan tinjunya hingga mengenai wajah Sadli. Orang yang sudah beberapa kali menghina istrinya.


"BRENGSEK! Lo apa-apaan sih, Ja?!" maki pria bertubuh kurus tinggi itu dengan menyeka darah dari sudut bibirnya. Ia tak menyangka pukulannya akan sampai seperti itu.


"Kau yang apa-apaan! dia itu istriku! tak seharusnya kau menghinanya seperti itu." bela Raja yang kembali memukul bagian lain wajah Sadli. Mereka terlibat perkelahian yang beruntung dapat dipisahkan oleh teman-teman mereka yang cukup banyak itu.


Raja tahu, tidak akan dengan mudah berdiskusi dengan teman-temannya yang lebih condong kearah Rere. Wanita yang bagi mereka patut ia berikan tanggung jawab dan lebih pantas mendampinginya.


Selain status sosial Rere yang lebih tinggi dari rani, Rere juga sudah berteman dengan teman-teman Raja cukup lama. Sering mentraktir mereka makan dan minum di klub malam. Jadi tak heran jika teman-temannya lebih membela Rere.


Raja tidak peduli sekalipun tak ada yang membela istrinya. Karena ia yang akan membela Rani sampai akhir. Tidak akan lagi ia biarkan penghinaan sampai ditelinga Rani.


Beruntung ketika pulang Rani sudah tertidur. Lampu kamar juga sudah berganti lampu tidur. Membuat Raja yakin Rani tidak akan melihat luka di wajahnya. Dan lagi Sadli tidak begitu kuat saat memukulnya.


Walau bagaimanapun mereka masih memiliki rasa persahabatan. Pukulan yang ia berikan pun bukan sebagai bentuk menghajar. Tapi hanya sebagai bentuk teguran dan peringatan.


***


Tidur nyenyak Rani terusik ketika sebuah tangan dingin melingkari pinggangnya. Menetap diatas perutnya yang hangat.


Bukan rasa dingin yang mengusiknya. Tapi untuk kali pertama dalam hidupnya, ada seseorang yang memeluknya ketika tidur. Dan dari aroma maskulin yang dapat ia cium, Rajalah orang dibalik punggungnya.


Ketika Raja pergi sore tadi, Rani memikirkan kembali apa yang Raja katakan padanya. Tak hanya ingin mengandalkan perasaan, Rani juga berusaha menggunakan logikanya. Menyisakan sedikit keraguan tentang pengakuan perasaan Raja. Tapi tidak dengan niat baik pria itu. Rani percaya Raja sungguh-sungguh dengan niat untuk membina rumah tangga yang bahagia seperti yang dikatakan pria itu. Mengingat cerita dan latar belakang keluarga Raja.


Tapi bagaimana dengan perasaan Raja? masih ada keraguan di hati Rani. Atau lebih tepatnya terlalu mengejutkan dan tak masuk akal.


Raja yang biasanya menatap tajam dan bersikap dingin, tiba-tiba mendeklarasikan diri menaruh hati padanya? setelah Rani pikirkan lagi, itu terasa gila. Terasa tidak nyata. Bagaimana mungkin perasaan seseorang bisa berubah tiba-tiba.


Tapi seperti kata Raja. Rani akan melihat ketulusan Raja dengan seiring berjalannya waktu. Jadi Rani tidak akan mempermasalah itu untuk saat ini.


"Kak Raja baru pulang?" Rani membuka matanya yang masih terasa berat dan membalik tubuhnya. Kini mereka saling berhadapan dengan tangan Raja yang masih memeluknya.


Mimpi apa Rani, bisa dalam posisi seperti saat ini dengan Raja. Mungkin ia sudah mulai terbiasa tidur dalam satu ranjang dengan Raja. Tapi tidak dalam posisi pria itu memeluknya seperti saat ini.


"Hmm." gumam Raja menatap lurus kemata Rani. "Maaf membangunkanmu."


"Rani emang ngantuk banget sih." akunya. Bersamaan dengan tangan Raja yang membenahi anak rambut yang menutupi Rani.


"Kalau begitu, tidur lagi!" titah Raja semakin merapatkan tubuh mereka dengan Rani bersandar didada bidang suaminya itu. "Dan biarkan saya memelukmu."


"Maaf. Kebiasaan." sesal pria yang masih memeluknya dengan hangat itu. "Aku akan berusaha membiasakan diri."


Rani mengangguk mantap. Begitu lebih baik. Jika Raja masih memanggil dirinya sendiri dengan 'saya', Rani merasa tengah menjadi sekretaris pria itu entah dikantor maupun di rumah. Tak ada bedanya.


"Kak Raja turun tanding tadi? tidak jatuh dan terluka kan?" Rani mendongak untuk mempertemukan mata mereka.


"Karena aku disini. Berarti aku baik-baik saja."


"Kak Raja menang?"


"Kalah." jawab pria itu pendek.


"Kalah?!" tanyanya tak percaya. Seorang Raja bisa kalah juga?


Raja mengangguk dan bergumam. "Kalah satu kali dan menang dua kali."


"Hadiahnya ap-" belum selesai ia bertanya, mulutnya sudah dibungkam dengan ciuman. "Kak Raja iih!" sungutnya memukul dada Raja ketika pria itu membebaskannya setelah kehabisan napas.


"Berisik! Sudah malam." tegur Raja tegas. Tapi ada senyum tertahan dibibirnya.


"Sudah tahu Rani berisik. Kenapa dibangunin?" cebiknya lagi. Tapi tak ingin bergeser dari posisinya sedikitpun. Takan ia sia-siakan kesempatan berada dalam pelukan Raja. Karena ia tidak tahu sampai kapan kesempatan seperti ini diberikan padanya.


"Kalau aku membuatmu bangun dengan hal seperti ini saja kau sudah mengeluh. Bagaimana kalau aku membangunkanmu untuk hal yang lain?"


"Hal lain apa?"


"Sudah tidur!" Raja semakin mengeratkan pelukan mereka. "Anak kecil tidak perlu tahu."


"Padahal usia kita hanya terpaut tiga tahun." sahut Rani tak suka dikatai anak kecil. Tapi tak ayal tubuhnya menyamankan posisi dalam pelukan Raja dan kembali memejamkan matanya.


Beberapa saat suasanya berubah hening. Rani mencoba untuk kembali tidur. Tapi sepertinya tidak dengan Raja. Rani merasakan tangan besar milik Raja mulai merambati punggung dibalik piyamanya. "Kak Raja.." erang Rani yang sebelumnya sudah akan terlelap. Tapi tidak jadi karena merasa merinding dengan aktifitas tangan Raja.


"Tidurlah. Aku tidak akan berbuat lebih dari ini."


Harusnya Rani bersyukur karena Raja tidak akan macam-macam dengannya. Tapi ada rasa tak percaya diri yang melanda hatinya. Mengingat kata-kata Rere bahwa ia tak mungkin bisa memuaskan Raja diatas ranjang. Apa tubuhnya tak menarik untuk Raja? hingga pria yang berstatus sebagai suaminya itu berkata demikian.


"Baiklah. Kalau begitu tolong singkirkan tangan kak Raja karena Rani sudah sangat mengantuk." ucapnya lembut. Menambahkan sedikit senyum sebelum berbalik memunggungi Raja yang tak melepaskan dekapannya.


Mungkin karena tadi ia masih sangat mengantuk, membuatnya begitu cepat untuk kembali terlelap.


*


*


*