
Bukan satu dua kali para model dan artis berpenampilan menggoda ketika bertemu dengan Raja. Bahkan ada yang secara terang-terangan menawarkan diri untuk menghangatkan ranjangnya demi mendapatkan proyek yang ia pegang.
Seperti Kaurina saat ini. Wanita itu mengenakan pakaian yang menonjolkan bagian-bagian tertentu. Pun dengan tiga kancing blus yang tak dipasang semakin memamerkan dada.
Sayangnya, Raja tidak suka mencampur adukan masalah pribadi dan pekerjaan. Tak satu pun dari mereka yang bertemu dengannya untuk urusan pekerjaan akan berakhir diatas tempat tidur. Ia tidak sebrengsek itu untuk memanfaatkan kekuasaan yang ia miliki. Dan tanpa itu pun, ia bisa mendapatkan teman tidur yang ia mau.
Apa yang terjadi dengannya dan Kaurina setahun silam, juga bukan karena urusan pekerjaan. Mereka bertemu karena dikenalkan oleh salah satu teman di club malam yang sama-sama sering mereka datangi.
Kaurina bukan pemain baru di dunia entertainment. Dan mereka juga bukan kali ini saja terlibat dalam satu proyek. Jadi seharusnya Kaurina tahu bagaimana dirinya.
Lagi pula apa yang Kaurina takutkan. Wanita itu cukup berbakat dan sudah terpilih untuk terlibat dalam proyek barunya kali ini. Mereka hanya akan meeting terakhir sebelum mulai syuting minggu depan.
"Benahi penampilanmu!" ucapnya dengan dingin sebelum duduk.
Manager Kaurina juga memelototi artisnya. Sepertinya wanita itu sudah diperingatkan sebelumnya tapi tidak mendengar.
Dengan wajah ditekuk, Kaurina memasang dua kancing blusnya dan meetingpun dimulai.
"Angelo tidak bisa datang. Jadi hari ini hanya managernya saja yang hadir." terang Rani pada atasannya.
Mereka membahas akan berjalan seperti apa program yang akan segera digarap itu. Bahkan sederet nama artis terkenal sudah terdaftar sebagai bintang tamu acara.
Raja menyerahkan sepenuhnya pada tim produksi. Ia hanya menambahkan beberapa saran dan koreksi pada hal yang ia kurang berkenan.
Sebagai penanggung jawab, ia harus lebih berhati-hati. Apa lagi acara ini akan menjadi tontonan publik yang akan dikonsumsi semua kalangan dan usia.
"Lain kali, pastikan peserta meeting berpenampilan sopan dan rapi." pesan Raja pada Rani ketika mereka keluar dari ruang meeting.
"Baik pak." Rani menjawabnya cepat seperti biasa.
"Kosongkan jadwal dihari pernikahan kita dan sepuluh hari kedepan. Atur ulang setelah itu."
"Se-sepuluh hari, pak?"
Raja berhenti melangkah dan berbalik kebelakang. Melihat raut terkejut gadis dibelakangnya itu. "Kamu belum tahu kalau kita langsung dikirim bulan madu oleh mama?"
Gadis itu mengangguk ragu-ragu. "Tahu pak. Tapi sepuluh hari?"
Raja yakin gadis itu kaget mendengar lamanya mereka pergi bulan madu. Lagi pula apa yang mamanya harapkan dengan bulan madu itu.
Ia dan Rani bukan pasangan bahagia yang menikah karena saling mencintai dan dimabuk gairah setelah menikah.
Ia dan Rani hanya pasangan korban perjodohan yang tidak bisa berkata "tidak".
Jadi sepertinya waktu sepuluh hari yang keluarganya berikan akan berakhir sia-sia.
"Tidak perlu banyak berpikir. Atur ulang saja jadwal saya." berlalu meninggalkan Rani menuju ruangannya sendiri.
Baru beberapa langkah, ia berbalik. "Saya lapar. Pesankan makan siang!"
Belum sempat menjawab. Ponsel Rani berdering. Gadis itu izin mengangkat telepon yang entah dari siapa. Membuat ia tak punya pilihan lain untuk menunggu diruangannya.
***
Rani menepi dikoridor yang cukup sepi untuk mengangkat panggilan telepon dari bundanya Adit.
Setelah saling sapa, Rani menanyakan maksud dari wanita itu menghubunginya. Awalnya ia takut ada hal penting atau terjadi sesuatu dengan Citra. Meski ia yakin, Citra bukan tipe anak pembuat onar.
"Kamu ada waktu? bunda ingin bertemu sebentar. Citra juga kangen katanya. Sekalian kita makan siang."
Rani ragu menatap ruangan Raja. Pria itu tidak suka makan seorang diri dan lebih memilih tidak makan. Dan tadi Raja bilang kalau pria itu sudah lapar. Kasihan jika ia harus meninggalkan Raja sendiri.
"Rani tanyakan kak Raja dulu ya, bun? Nanti Rani kabari bunda lagi."
"Bukan, bun! Bukan posesif!" sangkalnya buru-buru.
"Kalau iya pun, tidak apa kan, Rani? toh dia calon suamimu. Sudah seharusnya kamu minta izin ke dia."
Rani menghela napasnya. Sudah lah. Ia tidak ingin menjelaskan lebih jauh lagi. Toh tidak penting juga.
Setelah teleponnya berakhir. Rani menuju keruangan Raja. Mengetuk pintu tiga kali dan masuk. "Permisi pak."
"Iya. Kamu sudah pesan makan siangnya?"
"Em.. Tadi bundanya kak Adit telepon minta bertemu dan mengajak makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama, pak?"
"Minta bertemu ada apa?" bukan menjawab, Raja justru menanyakan hal yang ia juga tak tahu.
"Saya belum tahu, pak. Tapi Citra juga kangen ingin bertemu."
Raja langsung setuju dan mereka bertemu disebuah restoran yang tak jauh dari kantor.
Ternyata bunda Adit sudah disana sejak wanita itu meneleponnya.
Wanita itu menyambut Raja dengan kehangatan. Memeluk bahkan membelai pipi Raja seperti anak kecil.
"Jadi, harus bunda ajak calon istrimu makan siang dulu baru kamu mau menemui bunda dan makan bersama!" tegur wanita itu pada Raja yang tidak terdengar seperti teguran melainkan rajukan.
Dalam hati Rani tersenyum. Setidaknya Raja masih dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
"Maaf, bun. Raja belum ada waktu untuk berkunjung."
"Belum ada waktu untuk bunda, tapi ada waktu untuk bermain dengan Adit!"
Rani tertawa mendengar sindiran bunda Adit.
Membiarkan dua orang itu berbicara berdua, Rani juga melakukan hal yang sama dengan gadis kecil yang sudah duduk dipangkuannya sejak ia datang tadi.
Citra terlihat semakin cantik dan terawat. Pakaian yang bagus dan rambut yang di kuncir rapi dengan pita yang cantik.
Dipanti ada begitu banyak anak dan hanya ada beberapa pengurus. Jadi tidak semua anak selalu mendapatkan perhatian.
"Citra sudah sekolah lho kakak cantik. Citra juga punya banyak teman. Sama seperti dipanti." gadis kecil dipangkuannya ini memang lebih suka memanggilnya kakak cantik. Berawal dari Citra yang susah memanggil namanya ketika kecil, jadi ia mengajari anak itu memanggilnya kakak cantik. Yang tak ia sangka akan sampai detik ini.
"Citra senang?"
Gadis kecil dipangkuannya mengangguk antusias.
"Disekolah tidak ada yang nakal kan?" ia sebenarnya takut Citra dikucilkan. Apa lagi sekolah yang dipilih keluarga Adit pasti sekolah elit yang hanya berisi orang-orang kaya. Sedangkan status Citra hanyalah anak angkat.
"Teman-teman Citra baik." ucap Citra. "Bunda, papi, kak Adit. Semua baik." Citra tersenyum lebar kearahnya.
Anak kecil tidak mungkin berbohong kan?
Senyum Citra juga menggambarkan betapa bahagianya anak itu. Membuatnya bersyukur Citra menemukan keluarga yang tepat.
"Papi Citra baru pulang dari luar negeri. Tapi papi bawa banyak mainan untuk Citra." jadi itu alasan bunda hanya menjemput Citra dengan Adit. Ia sempat khawatir suaminya tidak setuju jika bunda mengadopsi anak lagi hingga tidak ikut kepanti sekalipun.
Sekarang ia tidak perlu mengkhawatirkan Citra lagi. Begitupun ibu panti dirumah.
*
*
*