
Kunjungan keluarga, kerabat, kolega dan orang-orang yang mereka kenal datang silih berganti. Membuat Raja merasa tidak nyaman karena istrinya tidak bisa beristirahat dengan maksimal.
Hingga di hari ke dua, Raja memutuskan untuk membawa anak-anak dan istrinya pulang. Tentu atas seizin dokter yang mengatakan kondisi Rani dan anak-anaknya dalam kondisi sehat dan stabil hingga perawatan di rumah bisa di ambil.
Mereka membawa dua suster untuk membantu merawat bayi-bayi mereka selama Rani dalam masa pemulihan. Juga untuk mengajari mereka bagaimana merawat bayi dengan baik.
"Dibelakang ramai apa, mas?" suara sang istri menyambutnya yang baru selesai mandi. Menghampiri ketiga orang yang ia cintai di atas tempat tidur.
Anak-anak baru saja dimandikan di kamar sebelah. Kamar khusus yang ia sediakan. Dan kini Rani tengah menyusui salah satunya sedangkan jagoan kecilnya diberi botol berisi ASIP.
Raja menggantikan tangan Rani yang memegangi botol susu. Mengais putra kecilnya kedalam gendongan.
Hari ini terakhir suster membantu mereka. Keduanya sudah pamit setelah memandikan si kecil tadi. Karena mereka tidak bisa terlalu lama bekerja di luar rumah sakit. Jadi kini Raja dan Rani benar-benar merawat anak mereka sendiri.
"Tukang." jawab Raja. "Aku ingin membangun rumah kecil di lahan sisa di belakang untuk asisten rumah tangga yang mau menginap. Juga sepertinya kita butuh baby sitter."
Raja sudah pernah membicarakan masalah pengasuh dengan dangan sang istri. Namun saat itu Rani menolak dan ingin merawat kedua anak mereka dengan tangan sendiri. Rani bilang mampu merawat dua bayi sekaligus.
Tapi kini Raja yang tidak tega. Dengan bantuannya saja, mereka masih sering kewalahan. Apa lagi jika istrinya merewat keduanya seorang diri.
"Kan Rani bilang bisa sendiri, mas."
Raja menggeleng tegas. "Lihat beberapa hari ini? apa kamu sanggup melakukan semuanya sendiri? sedangkan aku harus kembali ke kantor hari senin nanti setelah pemberian nama untuk anak-anak."
Entah Raja yang berbicaranya kurang halus atau Rani yang masih sensitif setelah melahirkan, hingga istrinya itu menunduk setelah ia melihat mata itu berkaca-kaca.
"Rani bisa mas.. Lagian banyak mbak kalau siang. Jadi kamu nggak perlu khawatir."
"Tapi mereka memiliki tugas masing-masing." ujar Raja mulai frustasi bagaimana meyakinkan istrinya. Bukan ia tidak percaya pada kemampuan istrinya. Justru ia tidak ingin istrinya kerepotan sendiri.
Rani masih dalam masa pemulihan. Tidak baik untuk kesehatan sang istri jika kelelahan. Dokter Fani bahkan sudah mewanti-wantinya untuk memastikan Rani bisa beristirahat dengan cukup.
"Kamu perlu waktu untuk mandi. Untuk ke toilet. Dan anak-anak harus tetap ada yang menjaga." ucapnya lebih lembut, mengusap kepala istrinya. "Kalau mbak lagi pada sibuk? kamu mau nahan keinginan kamu untuk ke toilet? kalau kamu lapar? kamu bisa menahannya kalau keduanya rewel? sedangkan kamu butuh makan yang cukup kalau kamu tidak ingin anak-anak minum susu formula."
Rani masih menunduk mengecupi putri mereka yang tertidur.
"Sayang.." panggilnya. Menarik dagu sang istri dengan lembut hingga tatap mata mereka bertemu. "Dengan atau tanpa baby sitter, anak-anak akan tetap dekat denganmu. Kamu tetap ibu terbaik untuk mereka. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hati mereka."
"Tapi kalau anak-anak lebih dekat dengan pengasuhnya bagaimana, mas?" Rani mulai menangis. Apa ibu yang baru melahirkan sesensitif ini?
"Tidak akan, sayang.. Kan kamu selalu di rumah. Selalu ada untuk mereka. Pengasuh hanya membantumu menjaganya. Bukan menggantikan tugasmu sebagai ibunya."
"Apa mas yakin?"
Raja mengangguk dan membawa istrinya kedalam dekapan dengan sebelah tangan. Melabuhkan kecupan di pelipis mata. "Kamu bisa membuktikannya nanti."
***
Setelah melahirkan, banyak hal yang Rani takutkan. Takut tidak bisa menjadi ibu yang baik. Takut salah dalam merawat dan mendidik anak-anaknya. Takut lalai dalam menjaga keselamatan keduanya. Hingga takut jika anak-anak di pegang orang lain, mereka akan menjauh darinya.
Entah semua ibu merasakan apa yang ia rasakan atau tidak. Atau hanya perasaannya saja yang terlalu berlebihan.
Memang tidak mudah menjaga dua bayi sekaligus. Di saat satu tidur, yang satu nangis. Atau bahkan kadang menangis dua-duanya yang membuat ia dan Raja panik.
Belum lagi saat tengah di kamar mandi dan mendengar tangis mereka, rasanya Rani tidak tenang dan tidak bisa untuk berlama-lama di kamar mandi. Entah apa mandinya satu minggu belakang bersih atau tidak. Ia hanya mementingkan kedua bayinya tenang dalam dekapannya.
Segala kerepotan satu minggu terakhir masih Rani jalani dengan bantuan dua suster rumah sakit dan Raja. Dan tidak ada salahnya jika Raja ingin menggunakan jasa pengasuh. Karena melihat kerepotan mereka beberapa hari belakang. Hingga Rani yang awalnya takut menjadi setuju meski masih ada rasa ragu.
"Bener apa kata Raja. Nanti yang ada lo yang sakit kalau maksain jaga mereka sendiri." ujar Rere yang siang itu berkunjung dengan putri kecilnya yang sudah sehat seperti bayi-bayi normal lainnya.
Putranya anteng dalam dekapan Rere. Sedangkan Bia di gendong pengasuhnya.
"Gue aja anak satu bisa setres kali kalau jaga sendiri. Belum lagi harus ganti diapers tiap beberapa jam sekali. Belum kalau lagi sakit. Aduuh stres Ran, kalau lo jaga sendiri."
"Iya kak.. Aku juga udah setuju. Kita lagi seleksi dulu calon-calonnya yang pas dengan kriteria yang kita mau. Ngeri juga kan dapat yang salah yang tega sama anak. Duuh aku nggak bisa bayangin anak-anakku di siksa sama pengasuhnya."
"Ya lo jagain lah!" decak Rere. "Gue aja yang Malvin udah percaya banget sama mbaknya Bia, tetep gue jagain. Paling ya gue tinggal kalo ke toilet apa mandi. Kita nggak tahu orang yang kita percaya juga bisa berbuat nekat."
Rani mengangguk setuju. Ia pikir juga begitu. Ia akan tetap ada di sisi anak-anak kecuali saat ke kamar mandi.
Seperti apa yang Raja katakan. Pengasuh hanya membantu tugasnya, bukan menggantikan perannya sebagai seorang ibu.
"Lo udah siap ketemu papi?"
Rani diam beberapa saat ketika kembali di ingatkan akan hal tersebut. Ingatkan? banyak hal yang Rani takutkan setelah anak-anaknya lahir. Termasuk bertemu keluarga ayah kandunganya.
"Kapan-kapan aja ya, kak." tundanya lagi. "Aku masih belum siap. Nanti deh kalau anak-anak sudah lebih besar."
Beruntung Rere menghargai keputusannya dan tidak memaksa. Meskipun Raja pernah bilang, ayahnya kemungkinan sudah tahu keberadaannya. Dan entah apa yang beliau tunggu hingga belum menemuinya.
Tapi Rani justru bersyukur karena ayahnya tidak memaksa. Memberinya waktu untuk siap.
*
*
*