
Raja melangkah memasuki tempat yang biasa ia kunjungi disaat suasana hatinya buruk seperti saat ini.
Dentaman musik yang memekakkan telinga langsung menyambutnya. Ingar bingar suasana didalam sana tak menghilangkan kesepian dihati Raja yang selalu terasa hampa. Kosong tak berpenghuni.
Kakinya melangkah kelantai dua, tempat dimana ia dan teman-temannya biasa pesan. Adit terlihat sudah duduk bermain ponsel ditemani botol minuman keras.
"Wei bro.. datang juga akhirnya." seru Adit heboh begitu melihatnya. Sahabatnya satu itu memang selalu heboh. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya.
"Kenapa nih muka? Lecek amat." Adit berujar saat Raja tak menjawab sapaannya dengan langsung duduk dan menenggak minuman dalam gelas sahabatnya itu hingga tandas.
"Rere belum datang?" tanya balik Raja. Menanyakan teman mereka yang belum datang.
"Tadi katanya belum selesai meeting. Jadi datang agak malam." gaya bicara Adit lebih santai dibanding Raja yang masih saja kaku sejak pertama kali menginjakan kakinya di Jakarta. "Jadi lo kesini mau having fun sama gue juga atau having **** sama Rere?"
Raja hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya. Ia dan Renata yang lebih sering mereka panggil Rere memang frends with benefits. Mereka berteman dengan keintiman secara fisik dan s*ksual tanpa ikatan resmi atau sebuah komitmen. Raja bahkan melarang Rere untuk menaruh hati padanya. Karena sampai kapan pun, Rere tidak akan pernah mendapatkan apa yang gadis itu mau.
Hubungan mereka hanya untuk saling memenuhi kebutuhan biologis masing-masing. Raja akan datang kapan pun Rere butuh, begitu juga sebaliknya.
Semua itu berawal satu tahun yang lalu disaat Rere baru saja putus cinta dan Raja menemani Rere melampiaskan sakit hatinya dengan alkohol dan berakhir bangun disebuah kamar hotel dengan keadaan tanpa busana.
Sejak saat itu, Rere mengajukan diri untuk menjadi teman ranjang Raja.
Awalnya Raja menolak. Bagaimanapun mereka sudah bersahabat cukup lama. Aneh rasanya tidur dengan teman sendiri.
Tapi Rere meyakinkannya dengan segala ceramah penyakit menular yang bisa saja Raja derita dengan kebiasaannya bergonta ganti wanita.
Meski wanita yang tidur dengan Raja bukan berasal dari wanita penghibur. Melainkan para wanita yang tergila-gila dengan pria itu dan siap melemparkan dirinya kapan saja keatas ranjang Raja.
Untuk itu Raja setuju. Dengan satu syarat, Rere tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Karena Raja tidak ingin dianggap sebagai pengganggu.
Dan entah Rere yang memang sangat ingin menjali FWB-nya atau memang tidak ada lelaki yang menarik minat wanita itu, hingga hubungan mereka sudah berlanjut selama itu.
"Papa menyuruhku menikah."
Adit mengangguk. Sepertinya tidak kaget dengan kabar yang ia bawa. Kabar yang membuatnya uring-uringan sejak tadi.
Wajar saja Adit tidak kaget, karena diusia mereka yang sudah matang, orang tua memang menginginkan mereka untuk membina rumah tangga.
Adit bahkan sudah puluhan kali melakukan kencan buta yang orang tuanya atur. Namun sayangnya tak satu pun dari wanita pilihan orang tuanya yang bisa menarik hati sahabatnya itu.
"Ajakin aja Rere nikah. Dia pasti mau lo nikahin. Dari pada cuma lo tunggangin pas lo butuh aja." sahut Adit dengan menyesap minumannya.
Lirikan tajam Raja berikan. "Aku dan Rere tidak ada hubungan apa pun. Lagi pula papa sudah menuntukan wanita yang harus aku nikahi tiga minggu lagi."
Raja memaki ketika Adit menyemburkan minuman dalam mulut yang sebagian mengenai bajunya.
"Ma-maksudnya lo di jodohin? dan lo terima begitu aja?"
Sialnya Adit justru bertepuk tangan melihat ia mengangguk. Mungkin tidak menyangkan seorang Raja yang sangat anti dengan sebuah komitmen akan dengan mudahnya di paksa menikah dengan wanita yang tidak diinginkan.
Tapi apa yang bisa Raja lakukan jika papanya sudah menggunakan kekuasaannya untuk memaksa ia dan Rani menerima semua yang pria itu atur.
"Keren bokap lo. Bisa bikin seorang Raja akhirnya mau melepas masa lanjang." Adit tertawa puas. Menertawakan nasib Raja. "Siapa? Siapa gadis sial yang harus jadi istri lo?"
Raja memukul kepala belakang Adit yang mengejeknya. "Harusnya dia merasa beruntung bisa menikah denganku!"
"Oke. Oke.. Jadi siapa gadis beruntung itu?" Adit mengusap kepala yang tadi ia pukul masih dengan tawa.
"Rani." jawaban pendek darinya membuat Adit berdiri seketika dengan tangan mengepal. Seolah siap menerjangnya.
"Bukan aku yang mau!" sergah Raja sebelum sahabatanya itu menghakimi dirinya. "Papa yang memaksa kami berdua."
Adit terduduk lesu. Raja tahu sahabatnya itu sudah memiliki rasa untuk Rani saat pertama kali keduanya bertemu.
Ketika Rani menemuinya ketika tawuran. Bagi Adit, Rani terlihat sangat keren berani datang ketengah medan pertempuran. Sejak saat itu pula Adit sering mengatakan pada Raja jika Rani akan menjadi istrinya suatu hari nanti.
Adit memang pemberani jika berurusan dengan berkelahi. Tapi masalah cinta, sampai saat ini pun pria itu belum berani mengungkapkan perasaannya yang sudah tumbuh bertahun-tahun lamanya.
"Maaf Dit. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk yang satu ini." Raja menepuk bahu sahabatnya pelan.
Adit mengangguk, entah paham atau pasrah dengan semua yang pria itu dengar.
Keduanya menoleh ketika pintu terbuka. Wajah cantik Rere dengan senyum menawannya langsung tersuguh.
"Sorry telat."
Baru Rere akan duduk, Adit sudah berdiri dan memakai jaketnya. "Gue cabut."
"Lho.. Gue kan baru datang. Kita having fun dulu lah.."
Seolah tak mendengar apa yang Rere ucapkan, Adit berlalu begitu saja. Bahkan tidak menatapnya sama sekali.
Meski Raja belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Tapi sedikit banyak Raja tahu bagaimana kecewanya Adit saat ini.
"Adit kenapa, Ja?"
Raja hanya memberi seulas senyum. Belum ada niat untuk memberi tahu Rere mengenai pernikahannya. Entah apa yang harus Raja lakukan dengan wanita disampingnya ini.
Rere bercerita kesehariannya seperti biasa. Tapi tak satu pun yang masuk dalam pendengaran Raja.
Ia masih memikirkan Adit. Apakah Adit marah padanya?
"Rajaaa.. Lo dengerin gue nggak sih?" Rere merengek kesal.
"Sorry.. Aku sedang banyak pikiran."
Rere menghela napasnya kasar. "Lo sama Adit lagi pada kenapa sih? jadi pada nggak asik gini."
Raja hanya diam tak menjawab.
"Kalau gitu, kita pindah tempat aja gimana?" Rere sudah mengalungkan lengan pada lehernya. Raja tahu tempat apa yang Rere maksud. Jika bukan apartementnya ya apartement Rere.
Rere sudah akan menyatukan bibir mereka ketika ponsel dalam saku Raja berdering.
Raja menjauhkan tubuh wanita itu darinya. Dahinya mengernyit ketika nama Om Rafi tertera disana. Karena Omnya itu hanya akan menghubunginya ketika ada hal penting.
"Halo-" belum selesai sapaannya, Om Rafi sudah menyela.
"Kamu dimana Raja? Mama masuk rumah sakit."
Tak menunggu lama, Raja langsung menyambar kunci mobilnya. Meninggalkan Rere yang memanggil-manggil namanya.
*
*
*