You're My Antidote

You're My Antidote
Mawar



Apa yang Rani harapkan akan dilakukan Raja di hari ulang tahunnya. Kejutan romantis tengah malam? Pergi berlibur dan merayakannya berdua? atau merayakan dengan adik-adik pantinya?


Sepertinya Rani harus mengubur harapannya jika tidak ingin kecewa. Raja tetaplah Raja. Meski sikap suaminya itu sudah lebih baik dan amat sangat perhatian terhadapnya terutama ketika tahu ia tengah hamil. Nyatanya Raja tidak sedetail itu untuk mengingat hari ulang tahunnya.


Raja bahkan sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali karena ada undangan breakfast dengan menteri komunikasi yang sudah membuat jadwal sejak seminggu lalu.


Raja bahkan sudah tak ada ketika ia membuka mata pagi ini. Hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun saja Raja tidak sempat. Bahkan mungkin masih belum tahu jika ia tengah berulang tahun.


Hari ini menjadi hari paling tidak bersemangat untuk Rani berangkat ke kantor. Selain ulang tahunnya yang tidak terasa special, ia juga harus berangkat sendiri tanpa suaminya yang tak pernah absen untuk berangkat bersama.


"Sarapan dulu, bu." mbak Eni mencegatnya di anak tangga terakhir. "Tuan meminta saya memastika ibu sarapan sebelum berangkat." imbuh mbak Eni ketika ia hanya diam dan menatap pekerja di rumahnya itu.


"Tapi saya nggak bisa makan selain masakan suami saya, mbak." terang Rani yang yakin Mbak Eni sudah tahu masalah kehamilannya satu itu.


"Tuan sudah memasak untuk ibu sarapan sebelum berangkat ke kantor tadi bu."


Penjelasan Mbak Eni membuat bola mata Rani membulat. Jika Raja sempat untuk membuatkannya sarapan, jadi jam berapa suaminya itu bangun. Ya meskipun Rani memang bangun cukup siang hari ini. Karena ia baru tidur selepas subuh setelah melayani suaminya yang baru pulang tengah malam di saat Rani tengah nyenyak di alam mimpi.


Tidak ingin egois, Rani membelokan kakinya menuju ruang makan. Tidak membiarkan anaknya kelaparan dan ia juga tidak akan menyia-nyiakan makanan yang sudah Raja masak dengan sepenuh hati.


"Temani saya sarapan ya, mbak." pinta Rani yang tidak ingin makan seorang diri.


Entah sudah diperintahkan hal yang sama oleh Raja atau apa. Tapi Mbak Eni menerima permintaannya tanpa penolakan sedikitpun. Mereka sarapan bersama dengan sedikit berbincang. Termasuk Mbak Eni yang memuji masakan Raja dan tidak menyangka Raja bisa semahir itu memasak.


"Kalau seperti ini, saya jadi minder, bu." ucap Mbak Eni. "Masakan Tuan lebih enak."


Rani mengakui itu. Meskipun masakan Mbak Eni juga sangat pas di lidahnya. Tapi masakan Raja masih tetap nomor satu. Maka tak heran jika anak mereka menyukai masakan papanya itu.


"Ini kalau saya tidak sedang ngidam juga suami saya tidak mungkin sesering ini memasak, mbak." dan Rani tidak mungkin tega merepotkan Raja untuk hal demikian jika saja ia bisa makan masakan siapapun. Seperti ini saja sudah membuatnya merasa bersalah dan kasihan pada sang suami.


Rani sudah akan berangkat ketika mengingat sesuatu. "Bekal makan siang dan buah untuk saya mana mbak?"


"Tuan tidak menyiapkannya, bu. Mungkin tidak sempat."


Rani berdecak dan mengangguk. "Ya sudah, saya berangkat dulu, mbak."


"Baik, bu. Hati-hati." Mbak Eni mengantarnya hingga depan. Dimana sopir sudah siap dengan mobil yang menyala.


Rani menghabiskan perjalanannya untuk menscroll media sosial miliknya. Membalas beberapa DM dari teman yang ia rasa lebih dari sekedar kenal. Pesan yang berisi ucapan selamat atas bertambahnya usia.


Ada juga yang mengirim foto lamanya semasa sekolah yang di edit sedemikian rupa membuat Rani tergelak hingga tak sadar jika dirinya sudah sampai area drop off.


"Kita sudah sampai, bu."


"Oh iya. Terimakasih, pak." Rani melangkah keluar pada pintu yang sudah sang sopir bukakan.


Rani mengangguk membalas sapaan beberapa karyawan. Begitu ia memasuki loby, seorang security memberinya setangkai bunga mawar merah. Terdapat sticky note pada tangkainya.


...Kamu tahu arti setangkai mawar?...


...Orang bilang, setangkai mawar melambangkan cinta pandangan pertama....


...Sama sepertiku yang langsung jatuh hati sejak pertama kali kita bertemu di panti....


Beberapa langkah ia mendekati lift. Seorang artis ternama mendekatinya dengan senyum merekah dan langsung pergi setelah Rani menerima dua tangkai mawar yang terikat menjadi satu. Tanpa memberi Rani kesempatan untuk bertanya. Rani kembali membaca sticky note yang merekat disana.


...Dan aku sangat beruntung mendapatkan balasan cinta yang sama darimu. Hingga kita bisa saling menyayangi dan mencintai seperti makna dua tangkai ini....


Didalam lift, sudah ada yang menunggunya. Musa. Asisten suaminya itu memberinya sebuket mawar yang ketika ia hitung berjumlah sepuluh. Dengan pesan....


...Aku ingin cinta kita seperti arti sepuluh tangkai mawar ini. Cinta yang sempurna. Meskipun aku tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi kehadiranmu dan calon anak kita, sudah cukup membuat hidupku terasa sempurna....


"Pak Raja sudah di kantor?" tanya Rani yang sudah tidak bisa menahan diri. Air mata sudah membasahi wajah. Hari yang ia kira tidak akan terasa special nyatanya lebih dari special. Lebih dari yang ia bayangkan.


"Nanti ibu akan tahu." jawab Musa datar dengan senyum tipis. Terlihat sangat tidak sinkron.


Ternyata kejutannya belum berakhir. Lura sudah menyambutnya di barisan terdepan. Memberikan buket yang kali ini berisi sebelas tangkai dan sebuah pesan..


...Aku harap. Cinta kita abadi....


Entah sudah seberapa banyak air mata yang sudah Rani teteskan sejak mawar pertama ia terima. Merasa sangat bahagia dan tak sabar untuk bertemu dan memeluk erat orang yang sudah membuatnya banyak menangis haru pagi itu.


"Biar saya bawakan, Bu." izin Musa mengambil mawar yang tidak akan mampu lagi untuk ia tampung dalam dekapan. Karena Mega sudah mendekat membawa buket yang lebih besar.


...24 tangkai mawar ini melambangkan bahwa aku milikmu....


Musa kembali mengambil buket tersebut saat ia harus menerima buket lebih besar lagi dari Malika. Teman-temannya tak henti melebarkan senyum. Turut bahagia dengan kebahagiaan yang Rani rasakan.


...36 tangkai mawar. Dan sungguh. Aku tergila-gila padamu....


Oh yaampun. Sejak kapan suaminya bisa berlebihan seperti ini. Belajar dari siapa pria itu?


Satu buket lagi datang dari Dini. Musa dengan sigap mengambil mawar ditangannya.


...50 tangkai mawar. Cintaku tanpa batas. Bahkan jika nanti aku yang akan pergi meninggalkan dunia ini lebih dulu, cintaku akan selalu menjaga dan menemanimu....


Di ujung sana. Entah darimana datangnya. Raja berdiri dengan gahah. Terlihat sangat tampan dengan senyum merekah. Tatapan mata penuh cinta menambah kadar ketampanan suaminya itu.


Rani langsung memberikan buket pada Musa. Berlari dan menubruk tubuh kokoh sang suami yang dengan sigap menangkap dan mendekapnya erat. "Selamat ulang tahu, sayang. Istriku." bisik Raja terdengar sangat manis di telinganya. Ditelinga orang yang tengah jatuh cinta. Jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama.


"Terimakasih, mas." ucapnya dengan suara bergetar ditengah tangis harunya. "Rani kira, mas tidak tahu kalau Rani ulang tahun."


"Mana mungkin." sahut Raja dan melabuhkan kecupan hangat yang begitu menenangkan di ujung kepalanya. Lama. Dalam. Dan syarat akan cinta.


"Buket terakhir." Raja melepas pelukan mereka dan memberikan sebuket paling besar yang sejak tadi tergeletak di atas meja kerjanya. Rani bahkan tak mampu mengangkatnya sendiri dan memerluka bantuan sang suami. Karena buket itu sangat besar hingga menutipi badannya.


Kali ini tidak ada sticky note karena Raja langsung mengungkapkan sendiri apa yang akan suaminya itu katakan.


"Aku siap mengabdikan seluruh hidupku sesuai arti 100 tangkai mawar ini." Rani menghirup wanginya mawar itu. Mendekapnya dan meresapi cinta seorang Raja dari mawar-mawar itu. "Mengabdi untukmu dan anak-anak kita kelak. Mengabdi untuk membahagiakan kalian."


*


*


*