You're My Antidote

You're My Antidote
Kontraksi



Semua berjalan lancar setidaknya dari sudut pandang Raja. Ia sering meninggalkan kantor demi menemani istrinya. Mengerjakan pekerjaan yang mendesak dan meninggalkan sisanya untuk Musa.


Beruntung asistennya itu tidak banyak mengeluh meski sering ia repotkan dan berakhir lembur hampir setiap malam.


Raja berusaha menemani istrinya menyambut kelahiran bayi mereka. Melakukan hal menyenangkan agar istrinya tidak selalu ingat pada masalah yang ada.


Mengajak istrinya mengunjungi pantai selama dua hari. Mengantar Rani untuk spa bersama Maina dan Maira. Pergi berbelanja kebutuhan bayi mereka yang ternyata cukup kuat untuk meningkatkan kebahagiaan sang istri. Menonton film di bioskop dan melakukan hal kecil lainnya. Termasuk berkunjung ke panti dan kekediaman keluarga Shandika.


Tentu Raja tak melakukan itu semua dalam satu waktu. Ia tetap harus menjaga sang istri untuk terhindar dari kelelahan. Belum lagi ia harus tetap ke kantor di pagi hari. Jadi hanya bisa mengajak istrinya keluar di siang ataupun sore hari.


"Hari ini kamu ingin kemana?" tanya Raja memeluk istrinya di atas ranjang. Kata dokter, bagus untuk mereka melakukan kegiatan ranjang di akhir kehamilan. Meski awalnya Raja menolak dan merasa kasian pada istrinya yang perutnya semakin besar. Tapi setelah tahu segala manfaatnya, ia melakukannya juga.


"Dirumah aja lah mas. Rasanya capek."


Jika sesuai perkiraan dokter, satu minggu lagi anak mereka lahir. Semua persiapan sudah lengkap. Termasuk dokter dan kamar rawat yang sudah Raja pesan dan kosongkan sejak seminggu yang lalu.


Kini bahkan mbak Eni stay di rumah mereka. Berjaga kalau-kalau Rani mengalami kontraksi dan Raja tidak di rumah. Setidaknya ada orang yang menjaga istrinya sebelum ia datang.


"Kalau begitu, aku ke kantor lagi setelah ini, ya?"


"Kalau masih ada kerjaan penting kenapa pulang?" Rani bergumam dengan mata yang sudah setengah terpejam. Mungkin lelah setelah kegiatan panas mereka.


"Kangen kamu." menggesekan wajahnya di perpotongan leher istrinya.


Senyum Rani mengembang dan membiarkan apa yang ia lakukan. Tapi kedua mata istrinya sudah terpejam sempurna.


Setelah memastikan Rani benar-benar terlelap, Raja turun dengan hati-hati untuk membersihkan diri. Cutinya berlaku mulai lusa. Tapi Raja ingin mempercepatnya menjadi besok. Jadi ia harus memastikan lagi tidak ada pekerjaan yang mengganggunya selama cuti hingga istrinya melahirkan.


Musa bisa datang ke rumah untuk meminta tanda tangan. Tapi Raja tidak ingin di ganggu dengan pekerjaan yang mengharuskannya jauh dari sang istri.


"Titip istri saya ya, mbak. Kalau ada apa-apa langsung kabari saya." pesannya pada mbak Eni yang kebetulan berpapasan di ruang keluarga.


"Baik tuan."


***


Entah berapa lama Rani tertidur. Perutnya yang semakin membesar memang membuatnya mudah lelah. Terlebih minggu-minggu terakhir. Jadi tak heran setelah pergumulan panasnya dengan Raja-yang sebenarnya tidak memakan waktu banyak-cukup membuatnya lelah dan langsung terlelap. Dan Rani baru terbangun ketika merasakan mulas pada perutnya.


Rani mendesah ketika sudah tidak mendapati sang suami di sisinya. Meski Raja sudah pamit untuk kembali ke kantor, entah kenapa rasanya ia kecewa tidak mendapati sang suami ketika ia membuka mata.


Menggulung tubuh polosnya dengan selimut, Rani berjalan dengan susah payah ke kamar mandi. Sepertinya ia terlalu banyak makan makanan pedas saat makan siang tadi.


Tapi setelah menunggu beberapa lama, ternyata rasa mulasnya tidak berasal dari yang ia kira. Ia mengusap perutnya dan memilih membersihkan diri.


Mengenakan dress terusan berbahan ringan, Rani menuju ke lantai bawah. Jika memang rasa mulas yang ia rasakan adalah tanda anaknya yang akan lahir, Rani tidak ingin terjebak di lantai atas yang akan menyulitkan Raja untuk membawanya ke rumah sakit.


"Mari saya bantu, bu." Juni asisten rumah tangganya yang baru bekerja minggu lalu menawarkan diri yang langsung Rani sambut dengan baik.


"Makasih ya, Jun." ucapnya pada gadis yang lebih muda darinya itu. "Tolong bersihkan kamar tamu ya? sekalian panggilkan mbak Eni."


Rani berkata sepertinya ia mulai merasakan kontraksi. Menyuruh Mbak Eni mengambil keperluan yang harus di bawa ke rumah sakit yang sudah ia siapkan beberapa hari terakhir.


"Mulasnya masih jarang. Jadi nanti saja kabari suami sayanya ya, mbak." pesannya. "Saya mau jalan-jalan di taman belakang dulu."


Takut. Pasti.


Kehilangan ibu setelah melahirkannya. Melihat Rere melahirkan prematur dan anaknya perlu di rawat intensif, membuat gambaran-gambaran tidak menyenangkan tentang proses persalinan.


Tapi bagaimana pun, itu adalah satu-satunya cara untuk ia bisa bertemu dengan buah hatinya. Terlebih Rani tidak ingin bayinya merasakan keresahan yang ia rasakan.


Intensitas mulas yang ia rasakan semakin sering setelah hampir dua jam ia berjalan-jalan di taman belakang rumahnya. Dari yang awalnya mulas di atas perut hingga merambat ke pinggang. Rasa yang semakin tajam membuat Rani menutuskan untuk masuk kedalam rumah.


"Mbak, tolong siapin bathub dengan air panas, ya?" pintanya pada Mbak Eni yang menemaninya setelah tugas yang ia berikan, mbak Eni meminta yang lain untuk mengerjakan. Sedangkan wanita paruh baya itu menemani atau mungkin lebih tepat dengan menjaganya. Sesekali memberikan botol air minum padanya.


Lelah berjalan, rasa sakit yang semakin tajam membuat Rani menyerah dan memilih berendam air hangat.


"Kabari suami saya ya, mbak." pintanya lagi pada mbak Eni yang menemaninya hingga ke dalam kamar mandi.


Mbak Eni dengan sigap mengambil ponsel yang berada di saku dan menghubungi Raja. Sedangkan Rani sudah memejamkan mata di dalam bathub. Menikmati sensasi yang menjalar di tubuhnya. Sedikit mengurangi rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan.


"Tidak di angkat bu." lapor mbak Eni.


"Telpon Musa atau langsung ke nomor kantornya. Mbak punya kan?"


Mbak Eni mengangguk dan kembali berkutat dengan ponsel di tangannya. "Hallo non. Bisa bicara dengan Tuan Raja. Saya mbak Eni dari rumahnya."


Dari yang mbak Eni ucapkan Rani tahu yang dihubungi adalah Dini.


"Tuan, ibu sudah mulai kontraksi. Di pakaian dalamnya juga ada darah bercampur lendir." adu mbak Eni yang membuat Rani seketika menoleh pada tempat dimana tadi ia melepas pakaiannya yang ternyata sudah di bereskan dan masuk kedalam keranjang pakaian kotor. Pantas saja mbak Eni tahu. Bahkan ia sendiri tidak sadar.


"Masih di rumah, Tuan. Ibu sedang berendam di kamar tamu."____"Baik tuan.. baik."


Rani kembali memejamkan mata hingga merasakan tangan Mbak Eni mengelus punggungnya dan memberikan pijatan ringan.


"Terimakasih, mbak."


"Sama-sama bu. Saya juga pernah melahirkan. Jadi saya tahu bagaimana beratnya. Terlebih ini anak pertama."


Rani hanya tersenyum sebagai tanggapan. Tak tahu harus berkata apa. Karena pikirannya tengah sibuk menghindar dari bayangan rasa sakit dan takut.


*


*


*