You're My Antidote

You're My Antidote
House tour



Rumah adalah salah satu impian Rani. Ketika kecil Rani selalu iri melihat teman-teman sekolahnya pulang kerumah dengan keluarga yang menyambutnya hangat. Bercerita jika mereka memiliki kamar sendiri dan sebagainya.


Sedangkan Rani hanya memiliki panti sebagai tempat yang bisa ia sebut rumah. Berbagi ibu dengan belasan kadang puluhan anak lainnya, yang tak bisa memberinya perhatian penuh karena banyak anak lain yang membutuhkan hal yang sama. Ia juga harus berbagi kamar dengan beberapa teman yang berganti-ganti karena proses adopsi.


Kini mungkin Rani memiliki kamar sendiri sejak ia beranjak remaja. Meski hanya kamar berukuran 3x3 meter dengan ranjang single yang sudah usang tapi cukup kokoh untuk menampung tubuhnya yang kecil.


Gajinya bekerja sebagai sekretaris Raja cukup besar. Rani mampu jika hanya ingin membeli tempat tidur yang nyaman untuk tempatnya beristirahat. Sayangnya banyak hal yang ia perhitungkan.


Rani menyisihkan sebagian gajinya untuk biaya sehari-hari panti. Menambah jumlah donasi yang setiap bulan diberikan oleh donatur tetap.


Rani juga menyisihkan untuk membeli hadiah meski hanya sekedar buku dongeng untuk anak-anak panti setiap bulannya. Belum lagi jika ada yang berulang tahun.


Ada dana darurat yang Rani sisihkan tiap bulan juga dan tak pernah di ambil kecuali ada yang sakit.


Sebagian besar lagi Rani tabung untuk masa depannya. Karena ia tidak tahu lelaki seperti apa yang akan ia nikahi nanti. Apa pekerjaannya? seperti apa status sosialnya? dan seberapa banyak uang dalam buku tabungannya?


Rani tidak ingin mengandalkan semuanya pada suaminya kelak. Karena ia tidak akan memaksa memiliki rumah jika memang suaminya belum mampu.


Untuk itu Rani meminimalkan pengeluarannya setiap bulan agar ia memiliki tabungan yang cukup untuk membeli rumah ketika ia sudah menikah nanti. Karena ia ingin memiliki rumah yang nyaman untuk anak-anaknya kelak.


Jadi, bisakah saat ini Rani mengucap syukur?


Karena, meskipun Raja tidak menginginkan pernikahan ini, tapi tanpa sadar pria itu mewujudkan mimpi Rani untuk memiliki rumah sendiri setelah menikah. Bahkan dihari pertama pernikahan mereka.


Tak peduli rumah ini atas nama siapa. Bukankah tadi Raja mengatakan jika rumah ini 'rumah kita'?


Rani mengipas kedua pipinya yang terasa panas dengan kedua tangan. Mengingat Raja mengucapkan dua kata tadi kembali membuat wajahnya bersemu.


Beruntung Raja sudah lebih dulu pergi kekamar dan membiarkannya berkeliling seorang diri.


Rumah ini benar-benar membuat Rani jatuh hati. Tak hanya dari tampilan luar, tapi dalamnya semakin membuatnya terpesona. Sekaligus ngeri.


Bagimana tidak. Raja membuat ruang tamu yang begitu luas yang bisa digunakan untuk anak-anak bermain bola. Apa mereka harus berteriak ketika mengobrol diruang tamu?


Tapi mengingat teman-teman Raja yang begitu banyak tadi, membuat Rani bisa mengerti tujuan Raja membuat ruang tamu seluas itu.



Masuk kedalam, Rani mendapati ruang keluarga yang lebih masuk akal. Tak begitu lebar tapi tak juga sempit. Terasa pas dan nyaman. Ada tangga juga yang menuju lantai dua disana. Dari bawah terlihat koridor yang menghubungkan sisi kanan dan kiri dilantai dua. Ada toilet juga didekat tangga.



Tak ingin langsung menuju lantai dua, Rani lebih memilih untuk melihat ruang makan yang sebagian terlihat dari ruang keluarga. Ada mini bar disana, dan langsung mendapat view kolam renang jika tirainya dibuka.



Bersebelahan dengan ruang makan ada dapur yang bersih dan nyaman. Rani yakin bisa betah memasak disana.



Raja benar-benar memanfaatkan luas bangunan untuk memaksimalkan setiap ruang tanpa kamar tamu satu pun.


Mengintip kehalaman belakang, Rani melihat kolam renang, dan entah ruang apa yang cukup besar disebelahnya.



Dengan pencahayaan yang maksimal dan penataan yang pas. Rumah Raja benar-benar terlihat indah.


Rani menghela napas. Sudah saatnya ia naik ke lantai atas. Meniti tangga satu persatu dilambatkan.


Rani memilih berbelok kekanan dan menemukan dua pintu. Salah satunya ternyata ruang kerja dengan rak buku sebagai dinding mirip perpustakaan. Dan pintu satu lagi membuatnya terkejut-meski ia sudah terkejut berkali-kali setelah memasuki rumah. Ada bioskop mini disana. Koridor didepan dua ruangan itu langsung mendapat view ruang keluarga dibawahnya.


Menutup pintu Rani kembali dan berbelok kiri kearah koridor yang satunya. Sekali lagi ia melihat ruang keluarga secara keseluruhan sebelum ia memasuki pintu yang sudah jelas kamar. Karena hanya itu satu-satunya ruang yang tersisa. Tapi sebelum masuk kedalam kamar, Rani mengikuti arah koridor yang ternyata menuju balkon.


Ia kira balkon langsung terhubung dengan kamar. Ternyata tidak. Jendela kamar yang dapat dibuka bahkan hanya bagian atas. Karena sisi bawah hanya berupa dinding kaca besar.


Rani meregangkan tangannya keatas. Tubuhnya yang belum sempat istirahat terasa begitu lelah. Ia berbalik untuk kembali masuk dengan mengeratkan outer yang ia kenakan karena udara malam cukup terasa dingin.


Dengan kembali memberanikan diri, Rani membuka pintu kamar setelah mengetuknya beberapa kali.



View yang langsung ia dapat adalah sofa yang langsung menghadap ke televisi. Dibelakangnya ada tempat tidur besar dimana Raja tengah bermain ponsel dan sudah berganti dengan piyama.



"Sudah house tour-nya?" tanya Raja tanpa mengalihkan tatapannya dari layar persegi ditangannya itu.


"Mm." gumam Rani. "Rani baru tahu kalau kak Raja suka kemewahan seperti ini?" jemarinya menyusuri kepala sofa dari ujung keujung.


Ada juga mini bar super mini lengkap dengan gelas dan coffee maker, lemari pendingin kecil berisi minuman dingin didalamnya, lemari yang berisi biji kopi, teh dan gula, bahkan minuman beralkohol.



"Memanjakan diri." bela Raja acuh tak acuh.


Rani mengedik dan melanjutkan tournya kearah ruangan yang langsung terhubung dengan kamar. Penghubung tanpa pintu.



"I-ini ke-kenapa tidak ada pintunya?" Rani syok melihat bathup yang langsung terlihat dari tempat tidur tanpa penghalang apa pun.


Pria yang ia tatap dengan syok meletakan ponselnya dipangkuan dan beralih menatapnya.


"Sebelumnya saya berniat tinggal sendiri. Jadi saya tidak membutuhkan pintu."


Rani mengerang mendengar jawaban Raja. "Terus Rani gimana? Kak Raja kan tahu kita akan menikah dari beberapa minggu yang lalu? kenapa tidak dipasang pintu dulu sebelum kita pindah kesini?"


"Kamu berisik sekali." Raja memprotes dengan menggosok salah satu telinga. Padahal ia tak berteriak. "Saya sudah menghubungi pihak desain interior. Mereka belum bisa untuk saat ini. Paling cepat minggu depan."


"Terus Rani mandinya gimanaaaa." rengeknya.


Raja terlihat menghela napasnya. " Nanti saya keluar kamar kalau kamu mandi." ucapnya mengalah.


"Kalau begitu keluar sekarang! RANI MAU MANDI!"


Raja terbengong dan menatapnya dengan tatapan bingung. Rani yakin pria itu syok mendengar ia berteriak.


*


*


*


pictures by pinterest